Sep 282018
 

Personel marinir AS menerbangkan drone DJI Mavic Pro di Timur Tengah pada 25 May 2017 © Cpl.Shellie Hall / US Marine Corps

JakartaGreater.com – Angkatan Udara AS ingin memperoleh 35 unit pesawat udara tanpa awak (drone) komersial Mavic Pro Platinum yang telah dikembangkan oleh perusahaan DJI China, seperti dilansir dari situs The Drone Girl. (24/9/2018)

Amerika Serikat boleh saja menyombongkan diri dan mengklaim bahwa militernya adalah yang terhebat karena didukung oleh teknologi canggih dari perusahaan ternama berkelas dunia yang banyak tersebar di negaranya, namun dalam beberapa hal, ternyata mereka juga masih menggunakan platform buatan Tiongkok yang mereka juluki sebagai negara seribu replika.

Wahana udara tanpa awak kecil (SUAS) Mavic Pro buatan DJI, China © www.dji.com

Salah satu contohnya adalah Angkatan Udara AS (USAF) berencana untuk membeli satu set drone baru. Dan sebagai bagian dari persyaratan federal, maka mereka harus memberi penjelasan mengenai alasan untuk pembenaran apabila meminta item merek tertentu, menurut pemberitahuan yang telah dirilis pada situs Federal Business Opportunities, bulan lalu.

“Persyaratan misi adalah perhatian utama kami ketika memilih platform wahana udara tanpa awak kecil alias SUAS (Small Unmanned Aircraft System) atau drone”, menurut sebuah dokumen tertanggal 17 Agustus 2018.

“Platform lainnya seperti Tiny Whoop, Ebee dan 3DR solo tidak memiliki kemampuan serbaguna untuk bisa melakukan beragam tugas karena keterbatasan cuaca, resolusi kamera serta waktu penerbangan yang kami butuhkan”, tulis dokumen itu.

Dokumen tersebut juga menyebutkan faktor-faktor lain termasuk efektivitas biaya pembelian, penggunaan dan pemeliharaan yang menjadi alasan lain untuk memilih DJI daripada merek lainnya.

“Sejauh ini, kami belum menemukan perangkat lain yang layak yang memenuhi persyaratan untuk efektivitas biaya selain DJI Mavic Pro”, tulis dokumen tersebut.

Unit Operasi Taktik Khusus Angkatan Udara AS saat ini menggunakan total 15 unit Mavic Pro drone buatan DJI yang ada di delapan Special Tactics Squadrons. Untuk Pembelian baru menetapkan bahwa Angkatan Udara AS kali ini menginginkan versi Platinum dari Mavic Pro.

Drone canggih, DJI Mavic Pro Platinum © www.dji.com

Menurut keterangan yang ada pada situs perusahaan DJI, Mavic adalah serial drone quadcopter kompak yang dikendalikan dari jarak jauh, hingga 7 km untuk fotografi udara pribadi dan komersial serta penggunaan videografi.

DJI Mavic Pro Platinum adalah model baru dari versi Mavic Pro yang revolusioner, menawarkan perbaikan termasuk waktu penerbangan hingga 30 menit dan pengurangan daya kebisingan hingga 60% yang dimungkinkan karena penggunaan driver FOC sinusoidal baru ESC dan baling-baling 8331. Harga per unitnya sekitar US $ 1.299 atau lebih kurang Rp. 19 juta-an.

Dan sebagai perbandingan, drone eBee RTK seharga US $ 25.000 atau sekitar Rp. 370-an juta per unitnya.

  9 Responses to “Militer AS Mau Beli 35 Drone China, Serius?”