Jan 272019
 

JakartaGreater.com – FLIR Systems mengumumkan bahwa pihaknya telah mendapatkan pesanan senilai $ 39,6 juta untuk menyediakan Sistem Pengintai Pribadi (PRS) yang di sebut Black Hornet dalam mendukung Angkatan Darat AS, seperti dilansir dari rilis pers perusahaan.

Menurut perusahaan, sistem kendaraan udara nano nirawak (UAV) berkemampuan tinggi berdasarkan kontrak tersebut akan mendukung peleton dan unit pengintaian tingkat kecil dan kemampuan pengintaian sebagai bagian dari Program Soldier Borne Sensor (SBS).

Black Hornet PRS buatan FLIR Systems © FLIR

Juga mencatat bahwa Angkatan Darat AS (US Army) telah memberikan kontrak fase SBS pertama pada Juni 2018 kepada FLIR untuk batch awal Black Hornet PRS. Sistem ini yang telah dikirim ke Angkatan Darat AS untuk integrasi awal ke dalam pasukan.

“Kami bangga dipilih oleh militer AS untuk Program Rekam SBS. Kontrak ini merupakan tonggak penting penyebaran skala besar nano-UAV ke dalam Angkatan Darat paling kuat di dunia”, kata Jim Cannon, CEO FLIR Systems.

“Kontrak ini merupakan kemenangan terbesar bagi divisi bisnis Unmanned Systems & Integrated Solutions yang baru didirikan di FLIR Systems dan juga menunjukkan permintaan yang kuat dan mendesak untuk teknologi nano-UAV yang ditawarkan oleh FLIR. Melindungi prajurit AS dengan solusi tak berawak kami adalah tujuan utama FLIR”, tambahnya.

Kontrak ini memperluas penggunaan PRS Black Hornet FLIR untuk pengwaas militer dan program pengintaian. FLIR telah mengirimkan lebih dari 8.000 unit dari nano-UAV Black Hornet di seluruh dunia.

Selain untuk Angkatan Darat AS, Badan Pengadaan Pertahanan Prancis (DGA) juga telah memesan nano-UAV Black Hornet 3 dan PRS untuk mendukung operasi militer Prancis.

Total pesanan Angkatan Bersenjata Prancis adalah senilai $ 89 juta.