JakartaGreater.com - Forum Militer
Jun 302018
 

JakartaGreater.com – Militer AS mengetahui telah kehilangan pilot untuk pengusaha sipil, namun metode untuk melacak ada berapa banyak pilot dan mengapa mereka menambil pilihan tersebut, sayangnya masih kurang, menurut laporan terbaru lembaga pengawas puncak di Kongres AS.

Seperti dilansir dari Sputnik, Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) telah menerbitkan laporan pada hari Kamis yang mengkritik Angkatan Bersenjata AS karena hanya memiliki pemahaman yang buruk tentang alasan di balik tren dalam hal retensi pilot serta tingkat kerugiannya.

Laporan GAO mencatat bahwa Angkatan Udara, Korps Marinir dan juga Angkatan Laut AS menderita kekurangan pilot, terutama pilot pesawat tempur, di antaranya layanan hanya memiliki 73 persen dari kebutuhan staf yang sebenarnya.

Laporan ini berfokus pada pesawat sayap tetap dan dengan demikian mengesampingkan dampak pada Angkatan Darat AS, yang pesawat sayap tetapnya kurang dari 7 persen dari kekuatan penerbangannya.

Sementara cabang-cabang layanan melacak retensi dan juga tingkat kehilangan mereka, namun mereka tidak melacak mengapa pilot meninggalkan militer atau berapa banyak dari para pilot itu yang pergi secara khusus untuk bekerja di perusahaan penerbangan sipil.

Pejabat Departemen Pertahanan mengatakan kepada GAO bahwa ada asumsi bahwa pilot militer yang menundurkan diri memilih bergabung dengan maskapai penerbangan utama, namun tidak ada data untuk mendukungnya.

Sementara RAND Corporation mencatat dalam sebuah studi tahun 2016 lalu mengenai korelasi tertentu antara pengunduran diri pilot Angkatan Udara AS dan Pilot maskapai penerbangan utama antara tahun 1996 hingga 2013, mereka tak pernah mengumpulkan data para petugas yang menjadi pilot untuk maskapai besar atau pesawat yang mereka terbangkan, menurut catatan laporan GAO.

Dengan memahami lebih baik para perwira yang akan pergi, mengapa dan kemana mereka pergi, militer AS dapat menyesuaikan insentifnya untuk pilot agar menjaga jumlah retensi mereka.

Sebagai contoh, tahun lalu, Komando Mobilitas Udara AS, Departemen Angkatan Udara AS yang menangani operasi logistik seperti pesawat angkut dan pesawat udara, menguji program baru di mana penerbang diberikan lagi stasiun kerja di rumah dalam upaya untuk menjaga mereka dalam layanan.

Program ini memungkinkan pilot untuk tinggal di stasiun rumah mereka selama tiga hingga empat tahun, bukan cuma dua atau tiga tahun. Program insentif lainnya yang mungkin termasuk kenaikan gaji, dengan bonus setinggi mungkin hingga $ 35.000 per tahun.

Mobilitas Angkatan Udara mungkin yang paling banyak kehilangan pilot untuk maskapai penerbangan, karena banyak dari pesawat yang mereka terbangkan sudah dikonversi seperti model pesawat yang dimodifikasi untuk penggunaan militer.

Misalnya, pesawat KC-135 Stratotanker dan 707 diana keduanya diproduksi oleh Boeing dan berasal dari desain prototipe yang sama. KC-10 Extender adalah modifikasi langsung dari jet penumpang DC-10.

Lebih jauh, transisi secara hukum juga cukup mudah. “Pilot militer pun dapat mengajukan permohonan sertifikasi airman berdasarkan kualifikasi pilot militernya. Seorang pilot militer yang lulus tes pengetahuan kompetensi militer dan memiliki dokumen yang sesuai akan dikeluarkan sertifikat pilot komersial dan atau sertifikat instruktur penerbangan”, menurut Departemen Transportasi AS.

Namun, sebagian besar pilot dalam industri penerbangan berasal dari latar belakang sipil, menurut catatan USA Today. Militer AS biasanya menuntut lebih dari 10 tahun ikatan dinas setelah para pilotnya lulus, membuat transisi sebelum usia paruh baya menjadi sulit.

Bagikan:

  One Response to “Militer AS Tak Punya Data Pilot yang Pindah ke Maskapai Penerbangan”

  1.  

    Pilot militer berorentasi bisnis jd lbh enak jd pilot sipil dgn gaji yg lbh baik dan lbh jauh dr bahaya perang.he3. Ikatan dinas jg pendek padahal dana untuk menghasilkan pilot dgn kualifikasi militer/tempur sangat besar.

 Leave a Reply