Mar 262019
 

Parade Hari Angkatan Bersenjata Pakistan pada 23 Maret 2019 © Valentina Shvartsman via Sputnik

JakartaGreater.com – Pakistan akan mengesampingkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir dan melihatnya sebagai “metode pencegahan” untuk mencegah perang sebenarnya, kata juru bicara Angkatan Darat Pakistan Mayjen Asif Ghafoor seperti dilansir dari laman Sputnik pada hari Minggu.

“Karena kita telah memiliki senjata nuklir secara terbuka, sama seperti halnya India, pada tahun 1998, pendirian kita adalah bahwa kemampuan nuklir kami untuk menghilangkan kemungkinan perang konvensional antara kedua negara. Jadi bisa dikatakan, ini adalah senjata pencegah dan pilihan politik. Negara tidak waraslah yang memiliki kemampuan ini serta berbicara tentang menggunakannya”, kata Ghafoor.

Pejabat itu mencatat bahwa meskipun perlindungan negara adalah yang paling penting, itu akan menjadi “gila” untuk membahas penggunaan senjata nuklir. Dirinya menunjukkan bahwa keinginan Pakistan untuk mengambil langkah-langkah menuju non-proliferasi atas senjata nuklir, tetapi hanya akan dilakukan jika India juga melakukannya.

“Pakistan akan melaksanakan apa pun yang didasarkan pada kesetaraan. Anda tak dapat mengikat tangan Pakistan tapi menjaga India tetap terbuka. Apa pun yang terjadi harus terjadi untuk kedua negara”, kata Ghafoor.

Ujicoba rudal balistik jarak pendek Nasr buatan Pakistan pada Januari 2019 © ISPR

Tentang Kerjasama Dengan Rusia

Pakistan sedang menegosiasikan kerjasama industri pertahanan dengan Rusia di bidang penerbangan, sistem pertahanan udara dan rudal anti-tank, kata juru bicara Asif Ghafoor kepada Sputnik dalam sebuah wawancara.

“Kami memiliki industri dirgantara, kami memiliki pertahanan udara, dan kami memiliki domain anti-tank, yang kami negosiasikan dengan Rusia. Dan itu akan menjadi negosiasi yang positif”, kata Ghafoor.

Namun, juru bicara itu menolak untuk mengklarifikasi item mana yang ada dalam agenda pembicaraan, walau mencatat bahwa Pakistan terbuka untuk berbagai tawaran dari Rusia. Dan mengatakan bahwa “tidak ada yang keluar. Apa pun dan segala sesuatu yang mungkin bisa dibeli oleh Pakistan, maka akan dilakukan”, kata Ghafoor.

Pejabat lebih lanjut mencatat bahwa Pakistan akan menyambut baik peranan Rusia dalam memediasi ketegangan yang baru-baru ini merebak antara Pakistan dan India. “Kami akan menyambut setiap mediasi pihak ketiga, yang dapat membawa perdamaian di kawasan itu. Dan Rusia lebih dari sekedar disambut”, kata Ghafoor.

Menurut juru bicara itu, Pakistan menghargai peranan Rusia dalam proses penyelesaian Afghanistan dan mengakui pentingnya peranan Moskow dalam proses regional.

“Kami sangat menghargai relevansi dan pentingnya Rusia di kawasan ini, terutama peran Rusia akhir-akhir ini terhadap rekonsiliasi Afghanistan. Rusia memandang keseimbangan kekuatan dan multipolaritas di dunia. Kami menilai suara Rusia sebagai suara akal dan kami akan senang jika Rusia, memainkan perannya yang memungkinkan dapat membawa perdamaian di Asia Selatan dan sekitarnya. Dan kami berharap Rusia akan melakukannya, karena upaya yang dilakukan oleh Rusia ternyata membuahkan hasil yang baik”, katanya.

Jet tempur F-16D Fighting Falcon Blok 52+ Angkatan Udara Pakistan © US Air Force via Wikimedia Commons

Dugaan Penggunaan F-16 Buatan AS

Pejabat senior tersebut menolak klaim India bahwa Pakistan menggunakan F-16 dari AS untuk menembak jatuh pesawat tempur India di akhir Februari, yang menyatakan bahwa pesawat tempur PAC JF-17 Thunder yang dikembangkan bersama China yang digunakan pada waktu itu.

“Pesawat yang dilibatkan waktu itu adalah JF-17. Mengenai cara menggunakan F-16, dari konteks apa digunakan atau tidak – karena pada saat itu seluruh Angkatan Udara kami di udara – sekarang tetap antara Pakistan dan AS untuk melihat bagaimana MoU tentang itu (penggunaan F-16) telah dipatuhi atau sebaliknya”, kata Ghafoor.

Dia mencatat bahwa Islamabad sedang mendiskusikan penggunaan JF-17 dengan senjata buatan Amerika Serikat dengan menyebut “hubungan persahabatan” dengan Washington, dan menekankan bahwa negara itu akan menggunakan apa pun yang dianggapnya “perlu” untuk “membela diri secara sah”.

Puing-puing jet tempur MiG-21 India yang tertembak jatuh di Pakistan © Farooq Khan via Flight Global

Dia menambahkan bahwa Pakistan memiliki rekaman operasi ini.

Sebelumnya pada bulan Maret, media melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang mencari kemungkinan pelanggaran ketentuan penggunaan F-16 yang dipasok ke Pakistan, karena India mengklaim bahwa pesawat itu telah digunakan dalam pertempuran udara melawan pesawat-pesawat India pada akhir Februari.

Ketegangan antara India-Pakistan semakin meningkat bulan lalu, setelah militer Pakistan menembak jatuh 2 jet tempurIndia di wilayah Kashmir yang disengketakan, menanggapi serangan udara sebelumnya oleh jet tempur India yang diklaim New Delhi sebagai kamp kelompok Jaish-e-Mohammad, yang dianggap sebagai teroris oleh India dan terletak di wilayah perbatasan Pakistan dengan India.

Serangan udara India terjadi setelah serangan mematikan oleh Jaish-e-Mohammad pada pasukan polisi paramiliter India di Kashmir pada pertengahan Februari. Sementara India menuduh Pakistan ikut mendukung para militan dan memiliki “keterlibatan langsung” di dalam insiden itu, namun Pakistan dengan tegas menolak tuduhan tersebut.

  2 Responses to “Militer Pakistan: Senjata Nuklir untuk Mencegah Perang Sebenarnya”

  1.  

    Itulah salah satu keuntungan memiliki senjata nuklir,untuk mencegah perang.
    Tapi akan lebih baik lagi kalau setiap negara tidak memiliki senjata nuklir.