Jan 302018
 

Jet tempur Su-30SM Rusia (photo : Alex Beltyukov / Russianplanes.net via commons.wikimedia.org)

JakartaGreater.com – Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Heather Nauert berkata dalam sebuah pengarahan tanggal 25 Januari 2018 bahwa Rusia harus menghentikan penjualan 6 (enam) Su-30 ke Myanmar, seperti dilansir dari laman DFNS.net.

“Kami mendesak pemerintah Rusia dan Burma untuk mempertimbangkan kembali penumpukan senjata lebih lanjut dan sepenuhnya berusaha keras untuk menemukan solusi yang damai dan stabil terhadap krisis tersebut”, katanya.

Sementara itu, juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov menolak permintaan dari Departemen Luar Negeri AS tersebut keesokan harinya. Mengatakan kepada wartawan bahwa Rusia telah mengamati semua norma-norma, peraturan maupun prinsip hukum internasional dibidang kerjasama teknik militer dan akan terus berlanjut dimasa depan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rusia akan memasok 6 (enam) jet tempur multiperan Su-30 untuk Angkatan Udara Myanmar, menurut kesepakatan yang telah dicapai saat kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu ke negeri tersebut.

Pada tanggal 20-22 Januari, Shoigu mengunjungi Myanmar dalam sebuah kunjungan resmi. Sebuah kesepakatan antar pemerintah mengenai entri yang efisien untuk kapal perang Rusia dan Myanmar telah ditandatangani pada saat kunjungan tersebut.

Selain kesepakatan pembelian 6 jet tempur Su-30, pemerintah Myanmar juga tertarik untuk membeli sejumlah alutsista lain untuk kebutuhan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Myanmar.