Mirip Yunani, Prancis Bisa Secepatnya Pasok Kroasia dengan Rafale Bekas

Jakartagreater – Menyusul keberhasilan penjualan Rafale ke Yunani – yang terdiri dari 12 Rafale bekas dan enam baru – Prancis bisa melakukan skema yang sama dengan menawarkan selusin Rafale bekas dalam tender untuk Kroasia.

Kroasia sudah lama ingin mencari pengganti 12 jet tempur MiG-21 bisD / UMD yang saat ini dioperasikan (beberapa yang masih operasional) oleh skuadron tempur ke-191 dari pangkalan Pleso, lansir Defense24.

Amerika Serikat sebenarnya menyarankan Zagreb agar tidak mengakuisisi pesawat tempur, dengan alasan bahwa negara dapat menggunakan anggaran keuangannya (yang relatif terbatas) secara lebih efektif, misalnya dengan berinvestasi di Angkatan Darat dan pasukan khusus. Sementara itu, wilayah udara Kroasia dapat dilindungi oleh sekutu NATO, termasuk jet tempur Eurofighter Italia.

Namun Kroasia ingin mempertahankan skuadron udara karena alasan politik dan ketakutan akan serangan udara dalam kemungkinan perang dengan Serbia, dimana dalam Perang Saudara di Yugoslavia, jet tempur MiG-21 menjadi pahlawan.

Informasi tentang penawaran Rafale bekas milik Angkatan Udara Prancis (Armée de l’Air et de l’Espace Francais)e dikonfirmasi pada 14 Oktober oleh Kepala Staf Prancis, Jenderal François Lecointre. Jika Zagreb memutuskan untuk membeli jet tempur Prancis, jet akan dikirim dalam waktu yang sangat singkat – mungkin 6-12 bulan dengan mempertimbangkan jadwal yang terkait dengan pesawat Rafale bekas untuk Yunani.

Kemampuan untuk mengirimkan pesawat kelas tinggi dengan secepat mungkin menjadi keuntungan terbesar dari tawaran Prancis, apalagi dengan mempertimbangkan keadaan armada MiG Kroasia yang menyedihkan, dan lamanya waktu yang dibutuhkan apabila membeli pesawat tempur baru – mungkin baru bisa dikirim dalam waktu 3-5 tahun sejak penandatanganan kontrak.

Ini bukan pertama kalinya Prancis menang justru karena kemampuannya untuk mengirimkan jet tempur dengan cepat. Sama juga dengan kasus kontrak untuk 24 pesawat Rafale untuk Mesir, ketika enam pesawat pertama dikirim hampir “di tempat”, karena jet tempur sudah diproduksi untuk Angkatan Udara Prancis, dan dialihkan ke pelanggan ekspor Mesir.

Hal yang sama juga terjadi pada kontrak dengan Yunani, diharapkan akhir tahun ini, untuk 12 Rafale bekas, ditambah enam yang baru. Meskipun di sini juga ada dukungan politik Yunani oleh Prancis dalam perselisihan dengan Turki dan masalah perangkat IFF yang dapat dikonfigurasi, yang tidak secara otomatis akan mengklasifikasikan pesawat Turki sebagai sekutu, seperti halnya dengan IFF pada pesawat tempur buatan AS.

Namun distribusi murah hati dari jet-jet “bekas” Angkatan Udara Prancis juga memiliki kekurangan. 12 jet bekas untuk Yunani mencakup 12 persen dari armada 102 Rafale yang dioperasikan di Armée de l’Air et de l’Espace Française. Menyerahkan segera dua belas Rafale lainnya berarti mengurangi jumlah Rafala Prancis hampir seperempatnya.

Terlepas dari semua itu, Rafale bekas Prancis masih harus menghadapi pesaing dari jet tempur Gripen, F-16V baru serta F-16D / C bekas dari Israel.

Tinggalkan komentar