“Mission Impossible” Pasukan Khusus Anti Nuklir Korea Selatan

Pada akhir September 2015, Pasukan khusus Korea Selatan (ROKA SF) mengungkapkan rencananya untuk membentuk Brigade Pasukan Khusus baru. Pasukan terbaik ini akan dilatih secara khusus untuk menetralisir fasilitas nuklir, fasilitas senjata kimia dan situs peluncuran rudal nuklir Korea Utara.

Tapi pensiunan pasukan khusus Korea Selatan, Jung Jin-man, Kim Sung-kap dan Jang Ji-hun telah mengecam keras rencana tersebut dan mengatakan Pasukan Khusus anti serangan nuklir ini tidak akan berhasil melakukan misinya di Korea Utara.

“Sangat tidak logis membentuk brigade baru sementara Komando Pasukan Khusus sendiri telah gagal menyediakan kebutuhan dasar bagi pasukan,” kata Jung Jin-man, mantan pasukan khusus dan saat ini menjadi seorang peneliti di Jaringan pertahanan Korea.

“Banyak orang membayangkan bahwa Pasukan Khusus Korea Selatan, yang dilatih di bawah kondisi yang keras, akan mudah menyusup ke belakang garis pertahanan yang dijaga ketat dan membasmi pasukan musuh ,” kata Jung.

Namun, operasi khusus yang modern telah berubah drastis dan misi utama pasukan khusus adalah menjadi tak terlihat, tidak terdengar dan tidak diketahui pasukan Korea Utara. Pasukan Khusus mengintai , memata-matai dan memberikan informasi kepada induk pasukannya.

Korea Selatan biasanya tidak hanya menerjunkan satu tim dalam misi pengintaian di daerah yang di duduki musuh, ada beberapa tim yang dikerahkan di daerah operasi misi yang sama, namun tim-tim tersebut bekerja secara rahasia bahkan tanpa mengetahui tim-tim rekan yang diterjunkan didekatnya.

Misi penyusupan di belakang garis musuh sebenarnya dirancang untuk bertahan selama satu sampai dua minggu, atau bahkan lebih pendek tergantung pada karakteristik misi.

“Sementara membawa perlengkapan perang yang beratnya hingga 55 kg, kami diterjunkan ke bawah di daerah operasi. Setelah tim ini berkumpul di titik pertemuan, tim akan segera menggali atau menyembunyikan peralatan perang berat mereka dan langsung melakukan pengintaian, “kata Jung.

Setelah tim menemukan target ancaman, seperti fasilitas nuklir atau fasilitas peluncuran rudal, tim akan mengirimkan hasil pengintaiannya kepada Komando Tertinggi yang akan mengkoordinasi serangan udara.

“Ada saat-saat dimana serangan udara saja tidak cukup,” kata Jung, Tim bisa saja diperintahkan untuk menyusup dan menyerang fasilitas musuh apabila serangan udara gagal untuk menghancurkan target.

Serangan udara ke fasilitas nuklir kadang juga berbahaya karena bisa menyebabkan ledakan gas beracun dan radiasi, yang berarti pasukan khusus harus melakukan serangan terbatas untuk menghancurkan struktur fasilitas nuklir yang berteknologi tinggi. Hal itu juga mengharuskan sebagian anggota pasukan khusus adalah juga seorang ilmuwan nuklir.

Menurut Kim, tingkat keberhasilan pasukan khusus ini bisa hanya 0,1 persen. Sebagai perbandingan satu gardu kecil pertahanan Korea Utara dijaga oleh satu unit pasukan bersenjata lengkap, bisa dibayangkan bagaimana penjagaan pada fasilitas nuklir korea Utara di masa perang. Diperkirakan satu fasilitas penting Korea Utara dijaga setidaknya tiga sampai enam lapis pertahanan yang berbeda.

Dan dimasa perang, semua pasukan penjaga musuh akan memiliki kesiagaan tinggi dan ditempatkan di dalam bunker-bunker yang dilengkapi dengan senapan mesin berat dan beberapa tank.

“Itulah sebabnya saya mengatakan tingkat keberhasilan hanya 0,1 persen,” kata Kim. Apalagi dengan perlengkapan militer saat ini yang dirasa Kim masih kurang bagi pasukan khusus anti fasilitas nuklir.

Pasukan khusus akan diterjunkan dengan menggunakan helikopter atau pesawat angkut ke daerah operasinya, namun tidak ada pesawat militer Korea Selatan yang cocok untuk operasi khusus karena terlalu besar, terlalu lambat atau sebenarnya hanya dirancang untuk mengangkut tentara reguler.

Pasukan khusus Korea Selatan sebenarnya menginginkan fasilitas seperti yang dimiliki Pasukan Khusus AS. Navy Seal dan Rangers didukung dengan helikopter multi-misi V-22 Osprey yang dirancang khusus untuk misi penyusupan cepat, yang tidak dapat dipenuhi oleh Pemerintah Korea Selatan karena keterbatasan anggaran.

Jadi disaat Pasukan Khusus Korea Selatan mempunyai misi yang jauh lebih berat, mereka masih kekurangan perlengkapan tempur yang memadai.

Bersambung

Leave a Reply