Modernisasi Alutsista, Singapura Bangun Angkatan Bersenjata Next Generation

20210701 172840 e1625136402797

Militer – Angkatan Bersenjata Singapura / Singapore Armed Forces (SAF) terus bergerak membangun militernya dari Tentara Generasi ke-3 menjadi Tentara Next-Generation.  Militer diproyeksikan memiliki kemampuan indera (memahami situasi), serangan yang lebih kuat dan  lebih cepat.

Sebagai bagian dari upaya ini, Markas Besar Sense & Strike (HQ SS) Singapura diresmikan pada November 2020 lalu, untuk menyatukan kecerdasan taktis dan kemampuan menembak Tentara Singapura.

Markas Besar Sense & Strike (HQ SS) yang baru merupakan hasil reorganisasi dari Markas Besar Army Intelligence dan Markas Besar Singapore Artilery, di bawah Divisi ke- 6 Singapura (6 Div).

Terkait program itu, Menteri Pertahanan Singapura Dr Ng Eng Hen mengunjungi Markas Markas Besar Sense & Strike (Divisi ke-6) yang baru didirikan di Mandai Hill Camp pada 28-6- 2021.

Sebagai bagian dari kunjungannya, Menteri Pertahanan Singapura meresmikan beroperasinya: radar mobile reaksi cepat TPQ-53 Weapon Locating Radar (WLR) dan mortir mobile Belrex Protected Combat Support Vehicle (PSCV) with Advanced Mortar System, ungap Kementerian Pertahanan Singapura, 30-6-2021.

Menhan Singapura juga meluncurkan pesawat tanpa awak Veloce 15 (V15) mini-Unmanned Aerial Vehicle (mUAV), yang sedang menjalani uji coba.

Aset-aset ini merupakan bagian dari rangkaian kemampuan indera (sense) dan serangan terbaru militer Singapura.

Menteri Pertahanan Singapura Dr Ng menandai beroperasinya Mortir mobile Belrex PSCV setelah menempelkan plat kendaraan pada platform tersebut.

Setelah kunjungan itu, Menteri Pertahanan Singapura mencatat bahwa Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) terus berada di jalur yang tepat untuk transformasi menjadi Tentara Next Generation: “Bahkan saat kami menangani COVID-19, kami ingin memastikan SAF terus berkembang.

“Secara keseluruhan kami akan menggunakan lebih banyak kecerdasan buatan, robotika (dan) analitik data”, ujar Menhan Singapura.

20210701 173856 e1625136441297

Radar Sistem TPQ-53 WLR Singapura. (@Mindef Singapore)

Tentara Next Generation yang Kuat

Komandan Divisi ke-6 Singapura, Brigadir Jenderal (BG) Lee Yi-Jin mengatakan kemampuan memahami situasi / peninderaan (sense) dan serangan (strike) adalah kemampuan Angkatan Darat untuk mengumpulkan dan memahami informasi, dan  melaksanakan tanggapan yang kuat.

Dengan pasukan yang lebih ramping, Anda akan membutuhkan lebih banyak kekuatan tempur untuk dikirim ke garis depan.

Kemampuan memahami situasi (sense) dan serangan merupakan elemen kunci dari gudang kekuatan tempur itu,” katanya.

Mereka akan menjadi pendorong utama bagi Angkatan Darat yang bersiap menjadi kekuatan yang lebih ramping dan lebih dinamis, kata Komandan Div ke-6 Singapura, Brigadir Jenderal (BG) Lee Yi-Jin.

“Bagaimana Anda mengirimkan kekuatan tempur itu…juga akan menjadi lebih kompleks, melalui intelijen yang lebih baik, lebih tepat waktu, atau tembakan yang lebih responsif,” tambahnya.

Untuk membangun kemampuan indra dan serangannya, Angkatan Darat akan memanfaatkan teknologi sebagai pengganda kekuatan.

Aset penginderaan seperti radar mobile TPQ-53 WLR dan pesawat tanpa awak mUAV memungkinkan Divisi ke-6 / Markas Besar Sense & Strike untuk “melihat lebih baik” melalui deteksi dini dan memberikan peringatan dini terhadap ancaman.

Alutsista Ini memberi unit manuver kesadaran situasi waktu nyata yang lebih baik, memungkinkan serangan balik yang cepat.

Radar kemampuan reaksi cepat TPQ-53 meningkatkan jangkauan radar militer, dengan kemampuannya untuk mendeteksi, mengklasifikasikan, melacak dan menentukan lokasi roket musuh, artileri dan ancaman mortir.

Alat Ini memiliki jangkauan hingga 60 km dalam arah tetap dan pemindaian rotasi, sementara pendahulunya TPQ-36 dan TPQ-37 WLR dibatasi hingga 50 km dalam arah pemindaian tetap.

Sementara itu, pesawat tanpa awak V15 mUAV akan menggantikan mini-UAV Skyblade III dalam memenuhi kebutuhan intelijen taktis, pengawasan dan pengintaian militer Singapura.

“Ringan. Mudah dipasang di lapangan. Memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal yang cocok untuk ruang sempit yang menurut kami harus dioperasikan oleh unit kami,” kata BG Lee.

Pesawat tanpa awak Veloce 15 atau V15 mUAV memiliki berat lepas landas maksimum 17,5 kg. Ini dapat dikendalikan dari jarak hingga 15 km, 87 persen lebih jauh dari pendahulunya.

Hal ini memungkinkan Angkatan Darat untuk melakukan pengawasan udara jarak jauh yang efektif, terutama di daerah-daerah di mana sulit untuk mengerahkan pasukan darat.

Kerja sama tanpa awak seperti itu juga berarti bahwa Angkatan Darat mampu menjadi kekuatan yang lebih mematikan, dengan fleksibilitas operasional yang meningkat.

Angkatan Darat Singapura juga akan menjadi lebih mobile dan beroperasi pada tempo yang lebih cepat, untuk mendukung sifat operasi yang dinamis dan berkembang.

Aset serangan seperti Sistem Mortir Lanjutan 120 mm yang dipasang pada Belrex PCSV (Mortir), bersifat otomatis dan, memungkinkan 6 Div/HQ SS untuk “menembak lebih cepat” dan meningkatkan responsnya untuk mendukung operasi tempo tinggi.

Mortir mobile Belrex PCSV akan menggantikan Mortir Derek 120 mm. Mortir ini menyebarkan amunisi 80 persen lebih cepat dari pendahulunya dan memiliki tingkat tembakan 67 persen lebih tinggi.

Karena otomatisasi dan kemampuan menembak yang ditingkatkan, maka hanya dibutuhkan awak 3 orang untuk beroperasi, setengah dari pendahulunya.

Kemitraan teknologi pertahanan Memastikan bahwa semua sistem terintegrasi dengan baik dalam Komunitas Teknologi Pertahanan.

“Semua (sistem kami) perlu terhubung ke jaringan dan mereka harus beroperasi dengan lancar… DSTA (Defence Science and Technology Agency/Badan Sains dan Teknologi Pertahanan), khususnya, adalah integrator sistem dan mereka memainkan peran penting,” kata BG Lee.

Salah satu pengembangan Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (DSTA) Kemhan Singapura adalah Sistem Komando, Kontrol, dan Komunikasi Robot (RC3), perpanjangan dari sistem C3 Angkatan Bersenjata yang ada untuk memasukkan kemampuan tak berawak. “(C3) membantu operator dengan cepat memahami dan memutuskan bentuk tindakan selanjutnya…

RC3 adalah hub yang memungkinkan kontrol dan pemantauan simultan dari beberapa sistem tak berawak untuk membentuk gambaran situasional terkonsolidasi untuk misi terkoordinasi,” kata Cai Jialing, Direktur (Cap Dev), Sistem Darat di DSTA.

Aplikasi RC3 mencakup identifikasi target otomatis dan perencanaan rute cerdas, dengan yang pertama terlihat di aplikasi seluler Tactical-Intelligence Processing (Ti-Pro).

Aplikasi, yang dikembangkan oleh DSTA (Defence Science and Technology Agency) dan Markas Besar Army Intelligence, menerapkan kecerdasan buatan dan analisis data untuk mengotomatiskan identifikasi target taktis, seperti kendaraan musuh.

Pasukan pengintai di darat hanya perlu menggunakan aplikasi di perangkat seluler mereka untuk menangkap gambar target. Laporan kemudian akan dibuat secara otomatis, dengan identifikasi target dan lokasi yang diberi tag geografis dikirim ke markas taktis.

Bergerak Maju dari Tentara Generasi ke-3

Teknologi dan perkembangan ini menandakan perpindahan Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) dari Generasi ke-3 menjadi Angkatan Bersenjata Next Generation.

Angkatan Bersenjata Generasi ke-3 Singapura dimulai pada tahun 2004, dengan fokus pada pengembangan kemampuan militer dalam informasi presisi, penembakan, dan manuver.

Maret ini, Angkatan Darat Singapura melakukan latihan “capstone” yang melibatkan prajurit aktif dan Prajurit
Operationally-Ready National Servicemen dari Divisi ketiga Singapura dan unit pendukungnya, untuk menguji kemampuan Divisi Senjata Gabungan (CAD) Generasi ke-3.

Latihan Ini mencapai Kemampuan Operasional Penuh untuk Divisi Senjata Gabungan CAD Generasi ke-3, memvalidasi kemampuannya sebagai kekuatan yang presisi dan dan networking yang handal.

Dengan selesainya transformasi ini, Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) akan terus mengembangkan Militer Next Generation untuk mengatasi tantangan keamanan yang baru dan semakin kompleks, ungkap Menhan Singapura.

Restrukturisasi Next-Generation Singapore Armed Forces (SAF) sedang berlangsung untuk memastikan bahwa SAF tetap relevan, responsif dan efektif untuk pertahanan nasional Singapura terhadap lingkungan keamanan yang berkembang.

*Foto: Mortir Mobile Belrex Protected Combat Support Vehicle (PSCV) with Advanced Mortar System. (@Mindef Singapore)

Leave a Reply