Mar 052018
 

Peluncuran KCR-60M KRI Kerambit-627, Surabaya, 27/2/2018.

JakartaGreater.com – Pada hari Selasa, Indonesia secara resmi meluncurkan kapal yang keempat dalam seri Kapal Cepat Rudal (KCR) buatan lokal. Acara yang di jadwalkan itu menandai kemajuan Indonesia dalam upaya membangun kapabilitasnya, dan sekaligus mengisi kesenjangan secara signifikan.

Indonesia telah lama berkecimpung dalam upaya memperkuat kemampuan maritim akan realita yang menyita perhatian sehingga dibutuhkan lebih banyak kapal dan juga pesawat untuk memantau sepenuhnya garis pantai terpanjang kedua di dunia.

Jakarta juga ingin meningkatkan industri pertahanan dalam negeri yang kian tumbuh dan juga membangun kemampuannya, yang menimbulkan banyak tantangan.

PT PAL, perusahaan pembuat kapal milik negara di Indonesia telah menjadi bagian dari upaya tersebut, terlepas dari berbagai tantangan yang terus dihadapi hingga kini. Pada tahun 2018, PT PAL mengerjakan pesanan untuk militer Indonesia, selain untuk ekspor, diharapkan mencakup konstruksi kapal kapal selam, platform pendarat dan juga empat kapal cepat rudal KCR-60 tambahan, selain permintaan perbaikan dan pemeliharaan rutin lainnya.

Pada tanggal 27 Februari 2018, PT PAL meluncurkan kapal KCR-60M keempat pesanan TNI Angkatan Laut Indonesia. Kapal yang dikenal sebagai KRI Kerambit dengan nomor lambung 627 itu diresmikan di fasilitas PT PAL di Surabaya, sekitar setahun setelah baja untuk platform tersebut dipotong.

Kapal tersebut tidak diragukan lagi menandai kemajuan bagi militer Indonesia dan juga PT PAL. Seperti yang telah dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.AP., KCR-60M merupakan dorongan bagi kemampuan negara karena kecepatan serta mematikan, membuat kapal tersebut berguna dalam berbagai fungsi, termasuk untuk peperangan mempertahankan nusantara.

Laksamana TNI Ade Supandi menambahkan, bahwa Indonesia membutuhkan minimal 20 kapal lagi pada tahun 2024,  untuk memperkuat TNI Angkatan Laut sesuai dengan target Minimum Essential Force (MEF).

Tulisan lengkap dari artikel diatas dapat dilihat pada situs The Diplomat.

Bagikan:

  29 Responses to “Modernisasi Angkatan Laut Indonesia Terus Berlanjut”

  1.  

    Lanjutkan!
    20 kapal lagi

  2.  

    Mirisnya.. Indonesia butuh Kapal Kapal Induk sedang pengangkut helikopter.

    •  

      Tepat bung, itu emang sangat dibutuhkan,,,,
      tapi mungkin saat ini TNI AL berpatokan pada MEF dulu sih.

      •  

        Kalo gitu MEFnya yg harus direvisi. Membuat pangkalan armada gabungan seperti Pearl Harbour saat ini dirasa kurang tepat karena beberapa musuh potensial yg akan kita hadapi sudah ahli dalam strategi Anti Denial/Anti Access. Perlu perkuatan armada mobile yg bisa digerakkan dg cepat dan meliputi payung udara. Kelengkapan armada juga menuntut satelit militer, Destroyer dan AWACS/AEW&E.

        •  

          Mgkn terkendala di dana bung. Baik operasional dan pengadaan alutsista nya. Jd simalakama, kapal induk heli klu pun pt. pal ataupun perusahaan galangan kapal dlm negeri ada yg bisa bwt otomatis dlm hal harga lbh mahal blm lg utk pengadaan helinya. Yg plg sakit ntar biaya operasional nya ga ada atau pun minim ya sama aja sayang. Dl saya pernah baca artikel ttg jk kita perang cm tahan dlm hitungan hari krn cadangan BBM utk alutsista kita minim selain itu jg hutang TNI kpd Pertamina jg membengkak. Klu ini ga cpt di tanggulangi saya pikir sama aja bohong. Alutsista banyak tp ga pny minyak. Jd anak nongkrong yg ada alutsistanya.

  3.  

    Kapal perang IVER yg dari denmark itu jadi di beli ga ka agato?

  4.  

    Kapal tersebut tidak diragukan lagi menandai kemajuan bagi militer Indonesia dan juga PT PAL. Seperti yang telah dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana TNI Ade Supandi, S.E.,M.AP., KCR-60M merupakan dorongan bagi kemampuan negara karena kecepatan serta mematikan, membuat kapal tersebut berguna dalam berbagai fungsi, termasuk untuk peperangan mempertahankan nusantara.

    ini type hit n run yg pake c705 atau c802 atau rudal skandinavian ya kok hebat banget mematikan katanya

  5.  

    Jgn dilanjutkan lagi pengadaan kcr krna kapal tsb buat kapal cepat dikategorikan tidak membuat lawan gentar atau lemah, bagusan beli second bremen class 10 biji atau yg kecilan dikit 80 m kelas harun class made in inggris boleh juga

  6.  

    1 gugus tugas armada USPACOM

    (correct me if i’m wrong)

    1 unit kapal induk
    1 unit cruiser
    1 unit LHD
    4 unit destroyer ( jika cruiser tidak tersedia maka jadi 6 unit destroyer)
    2 unit LPD
    8 unit fregate
    2 unit kapal logistik
    4 unit kapal selam

    1 + 1 + 1 + 4 + 2 + 8 + 2 + 4 = 23 unit
    Atau
    1 + 1 + 6 + 2 + 8 + 2 + 4 = 24 unit

    Jadi 1 gugus tugas USPACOM terdiri dari 23 – 24 unit

    Bagaimana dengan RI ?

    Untuk Minimum essential force :

    kapal induk diganti pulau yang dijadikan pangkalan induk
    Cruiser belum ada, misinya bakal diambil alih oleh heavy fregat atau destroyer 1 atau 2 unit per pangkalan induk
    LHD belum ada (kemungkinan akan diambil dari versi mini sepanjang 140 meter)
    Misi destroyer seperti pada USPACOM akan diambil alih oleh PKR plus Van Speijk class (kalau belum pensiun)
    Misi fregat seperti pada USPACOM akan diambil alih oleh korvet dan opv.
    Kedudukan LPD akan diambil juga oleh LPD.
    Kedudukan kapal logistik akan diambil oleh BCM.
    Kapal selam kemungkinan ada 3 unit plus 1 midget.

    Jadi jika ada 4 pulau dijadikan pangkalan induk maka dibutuhkan setidaknya :

    4 unit mini LHD 140 meter
    4 – 8 heavy fregat atau destroyer
    16 PKR atau 10 PKR + 6 Van Speijk
    32 Korvet + opv
    8 LPD
    8 BCM.
    12 kapal selam (bisa ditambah 4 midget)

    Apa peran KCR di sini ?

    KCR 60 bisa berperan sebagai pelindung LST dan pangkalan.
    KCR 40 bisa berperan sebagai pelindung pangkalan.

  7.  

    Butuh 20 KCR lagi…bagus itu….desainnya sangat cucok buat wilayah perairan di Indonesia, gesit dan lincah. Modernisasi persenjataan sangat di butuhkan. Kalau 6 tahun lagi sudah terwujud 20 KCR lengkap dengan persenjataan, wahh bukannya ndak mustahal, Armada 3 akan terwujud. Saya paling bangga melihat KRI Martadinata 331, kelas fregat sigma, tapi kok cuman punya satu saja, mestinya tambah lagi. Jika semua di bikin di dalam negeri, artinya lebih bagus kualitasnya dari pada beli baru/bekas dari luar.

  8.  

    Kepala Dinas Pengadaan Angkatan Laut (kadisadal) Laksamana Pertama TNI Prasetya Nugraha meninjau Perkembangan Pembangunan Kapal Perang LPD 124 Meter di PT PAL Indonesia (Persero), Selasa Siang (13/02).

    Ditemui langsung Direktur Utama Budiman Saleh dan Direktur Pembangunan Kapal Turitan Indaryo serta Jajaran Manajenen di rupat PIP Kantor Pusat. Kunjungan Kadisadal untuk melihat secara langsung perkembangan progresif pembangunan LPD, kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan.

    Direktur Utama Budiman Saleh menuturkan perkembangan proyek kapal perang yang dikerjakan telah sesuai rencana dan bahkan melebihi (ahead) dari perencanaan. “Kemampuan Insan PAL dalam mengerjakan proyek untuk bangsa sangat terkontrol dan sesuai dengan perencanaan” ujarnya. Kompetensi inilah yang menghasilkan produk berkualitas serta berteknologi tinggi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

    Kadisadal Prasetya Nugraha mengarahkan Progres yang sedang berjalan harus dipastikan sesuai dengan rencana yang telah disampaikan.

    “Segala Kendala dan Permasalahan dilapangan harus diselesaikan secepatnya melalui keputusan bersama, Satuan Tugas (Satgas) Proyek sebagai perwakilan mabesal harus melaporkan Progres secara berkelanjutan” ujarnya.

    Prasetya menambahkan proyek strategis pemenuhan Alat Utama Sisitem Senjata (alutsista) yang dibangun harus menjadi fokus dan perhatian utama PT PAL Indonesia (Persero).

    Budiman menjawab peluang dan kesempatan Itu menjadi sebuah challenge yang membangun. “Para Insan PT PAL memiliki strategi serta way out yang selalu dinamis dan praktis, sehingga solusi yang dijalankan telah terverifikasi dengan sempurna” imbuhnya.

    Budiman menjelaskan segala proses perkembangan dapat terpantau lolos QCD.

    Penambahan LPD dengan Panjang 124M dan Kapal Modifikasi dari seri sebelumnya..

    Jaya Indonesia
    Jaya TNI
    Jaya PT PAL

  9.  

    Penjelajah Kelas Ticonderoga USS San Jacinto.
    Tidak banyak negara yang memiliki kapal penjelajah, dan Amerika adalah salah satunya. Angkatan Laut Amerika memiliki kapal kombatan besar yang dikenal sebagai Kelas Ticonderoga.

    Kelas Ticonderoga telah berkembang selama bertahun-tahun menjadi kapal perang paling canggih yang pernah ada. Desainnya didasarkan pada lambung kapal penjelajah kelas Sprayer. USS Ticonderoga pada awalnya ditunjuk sebagai destroyer, namun desainnya didesain ulang sebagai kapal penjelajah pada tahun 1980.

    Rencana awal sebanyak 28 kapal akan dibangun. Jumlah ini meningkat menjadi 30 pada masa pemerintahan Ronald Reagan tetapi kemudian dipangkas kembali menjadi 27. Kapal pertama USS Ticonderoga (CG 47) ditugaskan pada tahun 1983 dan yang terakhir adalah USS Port Royal, yang mulai beroperasi pada tahun 1994.

    Ticonderoga adalah kapal tempur permukaan pertama yang dilengkapi dengan sistem senjata AEGIS yang merupakan sistem pertahanan udara yang paling disegani di dunia. Jantung AEGIS adalah radar SPY-1A. Dua radar paired phased array secara otomatis mendeteksi dan melacak kontak udara hingga 322 km (200 mil).

    AEGIS dirancang untuk mengadang rudal lawan dengan memberikan senjata bereaksi cepat dan tahan melawan jamming yang diperkirakan akan dihadapi oleh kelompok tempur kapal induk Amerika.

    Sistem AEGIS dapat mengendalikan pesawat teman serta menyediakan pengawasan simultan, deteksi target dan pelacakan target. Sistem ni juga menyediakan platform komando dan kontrol terpadu untuk semua kapal di kelompok tempur.

    Lima kapal pertama memiliki dua peluncur rudal kembar Mk 26 yang menembakkan rudal Standard SM2-MR. Rudal ini dirancang untuk mengatasi serangan besar-besaran rudal udara maupun yang diluncurkan kapal lawan.

    Dari USS Bunker Hill (CG 52) dan seterusnya, Mk 26 digantikan dengan dua vertical launcher Mk 41. Shell 127 VLS dapat menembakkan rudal Standard, Harpoon, ASROC dan Tomahawk, sehingga memberi kapal kemudian kemampuan untuk menyerang target di udara, darat, permukaan laut serta bawah air.

    Sejak 2006, 22 kapal kelas Ticonderoga yang masih bertahan diperbaiki dan akan menerima rudal permukaan ke udara Standard SM-2 Mod 4 yang baru, dua peluncur rudal RAM dan juga radar baru.

    Kapal penjelajah kelas Ticonderoga dibangun untuk mendukung dan melindungi kelompok tempur kapal induk, kelompok amfibi dan untuk melakukan misi serangan. Kapal kelas ini telah terlibat di sebagian besar operasi Angkatan Laut Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir.

    Kini kapal-kapal tersebut akan segera memasuki masa pensiun. Secara bertahap mulai 2020, kapal akan dinonaktifikan secara bertahap. Tetapi mereka akan tetap menjadi kapal terbaik dan sulit dilawan sampai menjelang kematiannya.

    Bagus Jika dihibahkan ke Indonesia minimal 2 unit

  10.  

    Apakah pembelian Gowind 2500 tidak jadi?

  11.  

    Masih ada yg minta kapal induk gak ya?
    Sampai sebel klo yg koment minta kapal induk..
    Negara kita 17rb pulau s.d. saat ini ada 230 lebih bandara dan akan bertambah.. ada 300an lebih pelabuhan.. jadi g perlu kapal induk yah.. tinggal kuatin arhanud aja misal 100an bandara di pasang short range defence n pasif radar jd murah meriah.. udah pusing tu yg mau nyerang.. mo hancurin bandara segitu banyak.. tinggal banyakin kcr,kpr, LPD.. n artileri yg mobile..

  12.  

    kapal induk itu penting supaya kapal anak gak kehilangan induknya. dan kapal telur ada yang ngerami

  13.  

    Berlanjut 1000tahun lagiya setelah kiamat

  14.  

    Abang2 yg udh senior di sini, boleh numpang tanya. Apakah bnr PT PAL bs membuat kapal jenis destroyer? Sy liatnya dri link sni: https://m.detik.com/finance/industri/d-3120802/keren-pt-pal-perkenalkan-kapal-perang-perusak-pertama-made-in-ri . Apkh it bnr? Bila demikian, mengapa Indonesia tdk membeli dri PT PAL sj, sehubungan TNI AL tdk memiliki kapal kelas destroyer berdasarkan Global FirePower?

 Leave a Reply