Nov 282016
 

armed

Pembangunan kekuatan pertahanan oleh TNI AD mutlak harus dilaksanakan agar mampu melaksanakan tugas pokok yang diembannya. Dalam realisasinya, pembangunan tersebut termasuk di dalamnya modernisasi alutsista armed diarahkan guna tercapainya kekuatan pokok MEF dan mampu menjamin kepentingan strategis bangsa.

LATAR BELAKANG

Pembangunan kekuatan TNI AD dilaksanakan atas dasar konsep pertahanan berbasis ke mampuan (based defence capabilities), kekuatan dan gelar satuan dengan mengutamakan kemampuan melaksanakan tugas pokoknya dalam menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah darat dan menyelamatkan segenap Bangsa Indonesia. Pembangunan kekuatan tersebut diarahkan untuk tercapainya kekuatan pokok Minimum Essential Force (MEF), terhadap ancaman yang timbul dan tuntutan tugas pokok dengan sasaran tingkat kekuatan yang mampu menjamin kepentingan strategis pertahanan aspek darat.

Fokus tercapainya MEF dengan menitikberatkan pem bangunan dan modernisasi Alutsista beserta teknologinya dalam menghadapi ancaman aktual di beberapa flash point. Diantaranya, permasalahan perbatasan wilayah negara, terorisme, separatisme, pengelolaan pulau terluar serta keinginan negara lain dalam penguasaan sumber energi Indonesia. Kesuksesan pembangunan kekuatan pada Renstra II (2015 – 2019) akan membuat postur pertahanan Indonesia mandiri setara dengan negara lain dan semakin berwibawa.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh TNI AD guna tercapainya kemampuan tersebut adalah dengan memodernisasi Alutsista termasuk didalamnya Satuan Armed. Memperhatikan kondisi Alutsista yang dimiliki Satuan Armed saat ini dalam menjawab tuntutan tugas pokok memerlukan sentuhan teknologi modern dalam rangka memodernisasikan dan gelar satuan dengan pembentukan satuan baru khususnya di wilayah perbatasan darat dengan negara tetangga, daerah rawan konflik dan pulau-pulau terluar. Kehadiran Satuan Armed dengan Alutsista yang modern tentunya akan mampu mendukung semua operasi yang dilakukan oleh TNI AD dan juga memberikan deterrent effect.

POKOK MASALAH

Pertama, trend perkembangan perang.

Sifat dan karakeristik perang saat ini telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi, perebutan sumber energi dan tuntutan kepentingan kelompok tertentu telah menciptakan perang dengan berbagai modus operasi, diantaranya perang Asimetris, perang Hibrida dan perang Proxy.

Perang Asimetris sering di sebut sebagai perang ge nerasi keempat yang diilhami dari per juangan geril ya wan dengan menggunakan taktik teror, karena ketidakmampuannya menghadapi persenjataan yang lebih canggih. Contoh perebutan hegemoni di Timur Tengah.

Perang Hibrida merupakan perang yang menggabungkan teknik perang konvensional, perang Asimetris dan perang informasi untuk mendapatkan kemenangan atas pihak lawan. Perang ini juga menjadi sebuah strategi militer yang memadukan antara perang konvensional, perang tidak teratur dan ancaman Cyber Warfare baik berupa serangan nuklir, senjata kimia, alat peledak improvisasi dan perang informasi.

Perang Proxy merupakan sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konfl ik langsung pada kehancuran fatal.

Kedua, kondisi geografi s dan gelar Satuan Armed

Pelaksanaan modernisasi Alutsista juga di pengaruhi oleh:

1. Kondisi geografis.
Bila memperhatikan kondisi geografi s Indonesia yang meliputi 17.504 pulau dan 10 perbatasan dengan negara lain (7 perbatasan laut dan 3 perbatasan daratan), maka hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap stabilitas keamanan negara. Belum lagi letak Indonesia berada pada posisi strategis dan jalur perekonomian/perdagangan antar negara, akan membutuhkan keberadaan satuan satuan pengamanan yang lebih besar dalam melindungi kepentingan negara.

2. Gelar Satuan Armed.
Kondisi gelar Satuan Armed dinilai belum ideal dalam mendukung kemampuan kesiapan operasional dan kesiapsiagaan yang optimal dihadapkan pada dislokasi Satuan Armed saat ini. Hal tersebut dilihat dari dislokasi Satuan Armed apabila dikelompokkan dalam tiga wilayah Indonesia, gelar Satuan Armed saat ini masih belum merata tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar terpusat di wilayah Indonesia bagian barat, kemudian wilayah tengah dan di wilayah timur belum tergelar Satuan Armed.

Ketiga, kemampuan Alutsista Armed saat ini

Kemampuan Alutsista yang dimiliki Satuan Armed cukup memadai dalam memberikan bantuan tembakan. Kondisi Alutsista yang dimiliki masih menggunakan sistem manual dan membutuhkan sentuhan teknologi persenjataan yang ada, seperti peningkatan jarak capai meriam, peningkatan kecepatan penembakan, peningkatan akurasi penembakan, peningkatan daya hancur sasaran dan mobilitasnya. Bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, Alutsista Satuan Armed perlu dimodernisasi dan pengadaan senjata yang memiliki seperti kemampuan di atas. Persenjataan Satuan Armed masih menggunakan meriam kaliber ringan seperti meriam 76 mm/Gun dan meriam 105 mm/ Tarik dan meriam 105 mm/GS.

Keempat, perkembangan Alutsista negara tetangga

Perkembangan teknologi persenjataan di kawasan regional serta menguatnya kemampuan militer negara tetangga yang secara signifikan melebihi kemampuan pertahanan militer Negara Indonesia telah melemahkan posisi tawar dalam ajang diplomasi internasional. Sebagai perbandingan, kekuatan Alutsista Armed negara-negara tetangga antara lain:

Malaysia. Satuan Armed Negara Malaysia menggunakan meriam kaliber 105 dan 155 mm, diantaranya: 130 pucuk meriam 105 mm M-56 Pack, 32 pucuk meriam 155 mm sebagai Bantem taktis. Sedangkan kekuatan Bantem strategis Tentara Diraja Malaysia berupa Roket Astros II 18 pucuk dengan jarak capai lebih dari 200 km.

Singapura. Satuan Armed Negara Singapura dilengkapi dengan Bantem taktis berupa meriam kaliber 105 mm 37 pucuk dan 160 pucuk meriam 155 mm dengan berbagai jenis. Sedangkan Bantem strategisnya berupa 18 unit MLRS M142 (HIMARS) kaliber 227 mm yang dilengkapi 32 unit XM31 Unitary HE GMLRS Pod dengan kemampuan jarak capai maksimal 70.000 meter dan daya hancur massal di atas radius 10.000 m².

Thailand. Satuan Armed Negara Thailand menggunakan meriam kaliber 105 mm 321 pucuk dengan berbagai jenis meriam, 15 pucuk kaliber 130 mm dan 211 pucuk kaliber 155 mm dengan berbagai jenis serta MRL 130 mm sebagai Bantem taktisnya. Saat ini, sedang mengembangkan MBRL (Multi Barel Rocket Launchers) DTI- 1.

Australia. Australia menggunakan meriam kaliber 105 mm 234 pucuk berbagai jenis dan 36 pucuk meriam 155 mm M-198. Saat ini, menggelar sistem pertahanan peluru kendali di Pine Gap meliputi rudal Joint Air to Surface Stand off Missile (JASSM) dengan jarak capai 400 km mampu menembak ke wilayah Indonesia, Rudal jelajah jenis KEPD dengan jarak capai 350 km dan Rudal anti kapal selam SLAM-ER dengan jarak capai 250 km sebagai Bantem strategisnya.

Tiongkok. Negara ini menggunakan meriam GUN 120 mm 200 pucuk berbagai jenis, 14.000 pucuk yang terdiri dari meriam Towed berbagai jenis dan tipe. Self Propelled 1200 pucuk dengan berbagai jenis dan tipe sebagai Bantem taktis. Sedangkan Bantem strategis menggunakan Rudal Balistik DF-5A Nuklir 260 pucuk, MLRS 2.400 pucuk dan Artileri mobile 6.246 pucuk.

ANALISA MASALAH

Dari uraian pokok masalah di atas, konsep memodernisasi Alutsista Satuan Armed dalam mewujudkan pembangunan kekuatan pertahanan yang andal harus dibangun secara profesional dalam bidangnya. Menurut TB Silalahi bahwa militer profesional adalah well organized, well managed, well equiped well paid (diorganisir, diatur, dilengkapi dan dibiayai dengan baik) sehingga terbentuknya prajurit Armed yang profesional, efektif, efisien dan modern. Sebagai jati diri TNI untuk menjadi tentara profesional harus dilengkapi dengan peralatan militer secara baik. Demikian pula dengan Korps Armed sebagai salah satu kecabangan TNI AD, agar dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan optimal serta diharapkan dapat memberikan deterrent effect kepada negara lain maka Satuan Armed juga perlu memodernisasi Alutsistanya.

Dengan tetap mengacu kepada trend perkembangan perang, kondisi geografi s dan gelar Satuan Armed, kemampuan Alutsista Armed saat ini dan perkembangan Alutsista negara tetangga, maka dimungkinkan modernisasi yang dilakukan mampu mendukung kelancaran tuntutan tugas pokok. Disisi lain, dapat menjadikan sebuah power/kekuatan bagi Indonesia dalam hal ini TNI AD dalam menjaga “stabilitas keamanan” di kawasan.

Berkaitan dengan latar belakang dan pokok masalah di atas, perlu adanya pembahasan rumusan permasalahan untuk melaksanakan modernisasi Alutsista Armed guna mewujudkan pembangunan kekuatan pertahanan matra darat yang andal yaitu: bagaimana pengadaan Alutsista skala prioritas?, bagaimana perimbangan Alutsista sendiri dihadapkan dengan perkembangan Alutsista negara tetangga?, bagaimana penataan gelar serta operasionalnya dihadapkan dengan kondisi ancaman?, dan bagaimana peningkatan pembangunan teknologi Alutsista Armed.

PERTIMBANGAN MODERNISASI ALUTSISTA ARMED

Teknologi Alutsista Armed diarahkan untuk mempermudah, mempercepat dan menambah akurasi pemberian bantuan tembakan terhadap berbagai bentuk dan kekuatan sasaran. Selaras dengan hal tersebut, maka pembangunan Satuan Armed yang modern harus memenuhi kriteria pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, peningkatan kemampuan jarak capai meriam (extended range). Faktor kemampuan jarak capai merupakan faktor utama dalam penentuan kemampuan meriam Armed. Semakin jauh jarak capainya, maka akan semakin tinggi nilai kemampuan meriam tersebut.

Kedua, peningkatan akurasi (high precision). Tujuannya untuk meminimalisasi kerugian non tempur (collateral damage) dengan Alutsista meriam yang memiliki CEP (Circular Error Probability) kecil.

Ketiga, peningkatan persentase daya hancur terhadap sasaran dengan berbagai jenis dan karakteristik proyektil. Persentase daya hancur yang tinggi berpengaruh besar terhadap efektivitas penggunaan sarana Bantem.

Keempat, peningkatan mobilitas deployment memudahkan dalam kegiatan taktis, operasional maupun strategis (tactical, operational and strategic mobility). Dengan daya gerak yang tinggi maka pelaksanaan taktik hit and run yang memungkinkan satuan-satuan Armed menembak dengan cepat dan berpindah kedudukan untuk menghindari counter attack musuh.

Kelima, peningkatan interoperability Alutsista Armed dengan satuan manuver lainnya. Interoperabilitas antar kecabangan dan angkatan mempengaruhi jalannya pertempuran.

Keenam, berkembangnya dimensi peperangan menuntut semua persenjataan dapat beradaptasi dengan medan pertempuran yang mungkin akan dihadapi. Dapatnya pelibatan dan penggunaan Alutsista Armed untuk pertempuran di wilayah pemukiman/perkotaan (urban) maupun pertempuran jarak dekat seperti Operasi Lawan Insurjensi maupun pertempuran kota.

MODERNISASI ALUTSISTA ARMED YANG DIHARAPKAN

Satuan Armed diharapkan memiliki kapasitas untuk melaksanakan tugas secara optimal dengan didukung Alutsista yang berkemampuan teknologi persenjataan saat ini, sehingga mampu dioperasionalkan untuk segala medan di Indonesia maupun medan tugas dibawah naungan bendera PBB. Diantaranya:

PERTAMA, MODERNISASI ALAT UTAMA

Modernisasi alat utama diharapkan mampu menjawab ancaman kedepan dan menjamin perimbangan di kawasan. Alat utama Armed tersebut adalah:

1. Teknologi Multiple Launcher Rocket System (MLRS). Merupakan tipe peluncur rudal/roket yang berbentuk Ranpur dengan jumlah laras yang banyak dan kaliber yang beragam, mudah mobilisasi dan dapat menembakkan roket bersamaan sehingga dampak kehancuran (Lethal impact) lebih besar. Dapat menembak secara independen (tidak tergantung sistem Armed pada peninjau-Pibak-pucuk) serta mampu bergerak dan menentukan posisi tidak tergantung pada tim Pengukuran medan (Kurmed). Melalui teknologi ini dengan memiliki daya jangkau yang jauh serta daya hancur yang begitu dahsyat membuat MLRS begitu spesial dikarenakan setiap roketnya terisi Improve Submunition yang mampu menghancurkan daerah seluas sampai dengan 5,2 Ha dengan waktu yang cukup singkat.

2. Teknologi meriam Armed GS (Self Propelled Artillery). Teknologi meriam GS dengan roda ban yang cepat dalam perpindahan dan mampu melayani permintaan tembakan ketika bergerak serta memiliki adaptabilitas terhadap cuaca dan medan geografi s Indonesia. Meriam dengan teknologi modern ini memiliki jarak capai tembakan sampai dengan 40 km.

3. Light Gun teknologi. Memiliki bobot ringan dan berteknologi tinggi sehingga dapat diangkut mengunakan helikopter dan pesawat udara untuk mendukung Operasi Mobud dan Operasi Linud.

KEDUA, MODERNISASI SISTEM SENJATA

Suatu sistem senjata yang mendukung alat utama yaitu meriam menjadi suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan. Modernisasi unsur sistem senjata diharapkan dapat memenuhi tuntutan tugas dan perkembangan jaman serta prediksi ancaman kedepan adalah:

1. Pencari dan penemu sasaran. Modernisasi alat peninjauan sudah selayaknya menyertai penggantian meriam. Penggunaan teknologi LRF, GPS dan UAV sehingga memperoleh data-data tentang sasaran secara akurat meliputi disposisi, komposisi dan kekuatan serta kegiatan.

2. Pengendalian dan pengorganisasian tembakan. Perubahan terhadap proses pengendalian dan pengorganisasian tembakan, yang meliputi:

a. Pusat pimpinan penembakan (Puspibak). Puspibak sebagai otak dalam proses penem bakan mampu mengolah data menjadi data siap tembak dengan cepat dan akurat.

b. Koordinasi bantuan tembakan (Korbantem). Dalam Badan Korbantem, seluruh unsur yang ada baik antar kecabangan maupun antar angkatan memiliki kesamaan terminologi dalam menentukan data tembak untuk mempermudah dan mempercepat proses dalam pengolahan data tembak.

c. Pengukuran medan (Kurmed) dilengkapi dengan peralatan yang modern berupa GPS yang menggunakan satelit sendiri sehingga akurasi dan kerahasiaan akan lebih terjamin.

d. Meteorologi. Sistem observasi menggunakan radiosonde/radiowind dan pilot balon. Dilengkapi dengan radar cuaca (weather radars) untuk mendapatkan data meteorologi di permukaan dan sipnotik udara atas yang lebih detail untuk mendukung informasi dalam skala dan waktu sesuai yang dibutuhkan dalam pertempuran.

e. Komunikasi. Alkom memiliki kemampuan enscripted radio communication dan networking communication agar dapat bertahan dari perang elektronika yang dilancarkan musuh dan memperlancar komando dan pengendalian unsurunsur penembakan.

f. Angkutan. Memiliki teknologi meriam Armed GS (Self Propelled Artillery) dan Teknologi High-Mobility Artillery Rocket System (HIMARS).

g. Logistik. Memiliki sistem logistik yang responsif, kesederhanaan, fleksibilitas, ekonomis, daya dukung dan ketahanan logistik.

h. Munisi. Memiliki daya hancur lebih luas, jarak capai lebih jauh serta ketepatan yang akurat.

i. Organisasi. Memiliki persyaratan organisasi yang modern berbasis kemampuan/kapabilitas, memiliki kecepatan dalam pelaksanaan tugas, profesional, fleksibel serta ramping.

j. Taktik. Taktik Armed harus menjamin selalu tersedianya bantuan tembakan yang responsif dan efektif bagi satuan manuver.

integrasi-tembakan

LANGKAH-LANGKAH MODERNISASI ALUTSISTA ARMED

Modernisasi Alutsista Armed saat ini sangat mendesak dihadapkan ancaman dan kondisi geografi s agar Satuan Armed mampu mendukung optimal semua operasi yang dilakukan oleh TNI AD sebagai upaya mewujudkan kekuatan pertahanan negara. Langkahlangkah modernisasi Alutsista Satuan Armed yang harus dilakukan, sebagai berikut:

Pertama, pengadaan Alutsista. Keberadaan Satgas pengamanan perbatasan belum mampu mengamankan seluruh wilayah Indonesia sehingga perlu pengadaan Alutsista Satuan Armed yang ditempatkan di daerah flash point. Dengan demikian pengadaan Alutsista Armed dengan mempertimbangkan sebagai berikut;

1) Pengadaan Alutsista skala prioritas. Dihadapkan kondisi anggaran pertahanan yang terbatas maka pengadaan Alutsista menggunakan skala prioritas di daerah rawan/ perbatasan dikaitkan dengan kemungkinan ancaman dan kondisi geografi s Indonesia sehingga efektif dan efi sien memberikan daya tangkal.

2) Mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Pengadaan Alutsista Armed hendaknya dengan mempertimbangkan kondisi geografi s wilayah Indonesia dan kemungkinan ancaman yang dihadapi. Disamping itu juga mempertimbangkan track record dari Alutsista yang dibeli atau dengan istilah pengalaman perang dari negara yang menggunakan. Sebagai contoh Negara Brazil dalam penggunaan Roketnya guna melaksanakan pertahanan dan Negara Perancis dalam penggunaan meriam kaliber 155 mm GS di Lebanon guna melindungi pasukan manuver dan menetralisir serangan roket Katyusha.

Kedua, perimbangan Alutsista di kawasan. Kondisi persenjataan dan postur kekuatan militer negara tetangga yang ada di kawasan seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Tiongkok dan Australia, memiliki kemampuan Alutsista dari jenis meriam kaliber ringan sampai dengan berat bahkan memiliki roket maupun rudal. Dalam hal ini modernisasi Alutsista Armed perlu mempertimbangkan kondisi Alutsista negara kawasan baik dari segi kualitas, kemampuan, jarak capai maupun teknologi. Penambahan Alutsista Armed jenis Roket akan memberikan daya tangkal di kawasan, karena memiliki daya hancur dan jarak tembak hingga 300 km.

Ketiga, penataan gelar Satuan Armed. Penataan gelar dihadapkan dengan kondisi ancaman dan kondisi geografi s dimana penataan gelar Satuan Armed saat ini masih belum merata. Gelar Satuan Armed perlu penataan kembali agar mampu melaksanakan tugas dengan optimal, mampu memberikan bantuan secepat mungkin dan diharapkan mampu memberikan deterrent effect kepada negara tetangga, maka gelar Satuan Armed sebagai berikut:

1) gelar Satuan Armed terpusat. Gelar Satuan Armed secara terpusat ini dibawah komando Kostrad yang memiliki jenis kaliber varian setingkat Batalyon yaitu kaliber 76 mm/105 mm, kaliber 155 mm GS dan Roket.

2) Gelar Satuan Armed tersebar. Penataan gelar Satuan Armed tersebar di Kotama memiliki kaliber campuran/komposit yaitu kaliber 105 mm dan 155 mm sehingga perlu adanya validasi dan pembentukan satuan Armed baru.

3) Gelar Satuan Armed di daerah rawan dan pulau terluar. Penataan gelar disini lebih baik menggunakan Alutsista Armed yang mempunyai jarak capai jauh, daya hancur dan mobilitas tinggi, seperti jenis Roket.

armed-2

Keempat, pengoperasionalan Alutsista. Dalam pengoperasionalan Satuan Armed harus disesuaikan dengan ancaman/sasaran dan tuntutan tugas yang dihadapi. Pelibatan dalam membantu satuan manuver, Satuan Armed tidak hanya dioperasionalkan mulai tingkat Resimen sampai dengan Baterai namun dapat dioperasionalkan setingkat seksi bahkan 1 pucuk dapat dioperasionalkan dengan tetap berpedoman kesisteman persenjataan Armed tergantung dari tugas yang dihadapi. Dihadapkan dengan trend perang saat ini bahwa musuh yang dihadapi bukan saja dalam jumlah yang besar namun bisa kelompok kecil yang mempunyai nilai strategis. Pengoperasionalan Satbak terkecil lebih efektif dalam melaksanakan operasi tersebut.  Di sisi lain dalam pengoperasionalan Satuan Armed dikelompokkan menjadi empat sebagai berikut:

1) Meriam ringan adalah meriam yang memiliki kaliber 76 dan 105 mm.
2) Meriam sedang merupakan meriam yang memiliki kaliber 155 mm.
3) Meriam berat merupakan meriam yang memiliki kaliber 210 mm.
4) Roket merupakan meriam yang menggunakan roket.

Kelima, pembangunan teknologi Alutsista. Peningkatan pembangunan Alutista ini dapat dilaksanakan melalui kerjasama Militer-sipil dalam penelitian dan pengembangan teknologi Alutsista Armed dengan melibatkan kalangan akademisi dan kalangan Industri pertahanan untuk dapat bekerjasama dengan TNI AD. Peningkatan kerja sama tersebut dalam modernisasi Alutsista Armed berupa: Pengalih GPS, Hologram stelling tipuan, modifi kasi meriam di atas kendaraan khususnya meriam 76 mm, rancang bangun alat pengendali tembakan dan alat peninjau multirotor.

PENUTUP

Pembangunan kekuatan pertahanan oleh TNI AD mutlak harus dilaksanakan agar mampu melaksanakan tugas pokok yang diembannya. Dalam realisasinya pembangunan tersebut termasuk di dalamnya modernisasi Alutsista Armed diarahkan guna tercapainya kekuatan pokok MEF dan mampu menjamin kepentingan strategis bangsa. Dengan demikian modernisasi Alutsista Armed yang dilakukan nantinya mampu menjawab tuntutan tugas dan mampu melindungi seluruh wilayah Indonesia terutama daerah perbatasan/pulau-pulau terluar dalam mewujudkan kekuatan pertahanan matra darat yang andal.

 

brigjen-yudi-s

Penulis : Brigjen TNI Yudi Satriyono, S.H

Sumber : Jurnal Yudhagama

Bagikan:

  40 Responses to “Modernisasi Armed : Mewujudkan Pembangunan Kekuatan Pertahanan Matra Darat yang Andal”

  1.  

    MANTAB

    •  

      pak-pak, judulnya aja yang bombastis “Modernisasi Armed : Mewujudkan Pembangunan Kekuatan Pertahanan Matra Darat yang Andal” tapi belum sesuai dengan ekspektasi, lihat tu negara tingkok dah punya DongFeng-26 dan rudal lainnya. supaya jelas lihat video ini https://www.youtube.com/watch?v=W5nBY4LCSLs, gak kasihan anakbuah kamu yang dilapangan kalau perang sungguhan, gak kasihan dengan istri dan anak2x mereka. ya semoga aja petinggi tni cepat sadar karena nyawa itu gak bisa dinilai dengan uang apalagi nyawanya pejuang. tinggal belu s400 atau s300 aja kok sulit. apa nunggu dirudal dulu baru beli. kamu perbanyak tank, arteleri dkk lak belum punya buat payung buat melindungi mereka kayak s400 atau s300 ya percuma karena akan jadi sasaran empuk.

      •  

        Kita harus cerdas dalam memahami sikap pimpinan TNI. Kalo selama ini belum mau beli arhanud jarak jauh, karena tidak ingin keseimbangan militer di asia tenggara ini berubah drastis sebab akibatnya akan ada perlombaan senjata baru di asteng . Coba saja kalau kita beli S300, maka Singapura dan Malaysia akan merasa terancam dan akibatnya merekapun akan berupaya mengimbanginya pula sehingga akan terjadi perlombaan senjata. Tapi saat ini masalahnya bisa lain, kita punya alasan keamanan LCS seperti halnya Vietnam, jadi nantinya rudal itu nanti ditempatkan dulu di Natuna baru secara perlahan nanti dipindah ke Sumatra atau tempat yg lain.

        •  

          “karena tidak ingin keseimbangan militer di asia tenggara ini berubah drastis”. statement ini mas yang dari dulu di gema gemakan. makanya indonesia tertinggal. kiblatnya perkembangan militernya masih ke malaysia sama singapura. seharusnya tni tu kiblatnya ke cina, rusia sama usa, karena pusat teknologi tu disana “untung jenderal nurmantyo sadar dengan usa yang naruh pasukan di australia pasti dia juga tahu rudal apa saja yang ditaruh disana dan teknologi apa saja yang pasti juga ada disana”. kita tu negara nonblok lak semisal singapura, malaysia dirudal cina pasti mereka dibackup sama usa, lak kita ya tinggal berdoa saja lak tetep gak mau bergerak cepat seperti vietnam.

          •  

            Lucu, mikirin perasaan negara lain kok terus-terusan

            Bilang saja kalau gak mampu beli atau pola pikirnya belum sampai kesana

            Sekalian saja tanamkan terus bambu runcing bisa usir penjajah, mati satu tumbuh seribu

            LUCU KOK TERUS

        •  

          kalau saya cuma bisa sabar. semoga cina segera naruh DongFeng-26 di spratly islands tar lak tni baru beli s400 karena di artikel ini dah jelas statementnya. “Jika ada ancaman dari luar, TNI pasti akan langsung menyerang”, lak belum naruh ya jangan berharap lebih untuk s300 atau s400 lah. tapi ya gimana mau nyerang masak mau nyerang cina yang senjatanya serba rudal, kita aja rudal aja belum lengkap lak ya kasihan yang dilapangan. jenderal segera tiru gerak cepat vietnam ya, sedia payung sebelum hujan.

        •  

          lak semisal mau main game buat simulasi perang sama cina, usa, atau rusia bisa pakai C&C Generals Zero Hour Peace Mission MOD, untuk previewnya bisa buka youtube https://www.youtube.com/watch?v=bFR6Y3EGvaM atau http://www.moddb.com/mods/rise-of-the-reds, supaya punya gambaran gimana kalau perang beneran terus kita gak punya rudal atau hanut sekelas s300 atau s400.

        •  

          Pantas lah RI selalu berada dibawah singaporno dkk, ……… rupanya disengaja ya, demi keseimbangan kawasan, …… konyol amat !!!

    •  

      Darurat NKRI

      SEGERA KEMBALI KE UUD 45 TANPA AMANDEMEN.

  2.  

    moncer dah analisanya

  3.  

    yang dari matra laut dan udara di cantumin jg dong

  4.  

    Omong tok dibanyakin, belinya kagak pernah….vietnam sedikit omong, belinya bejibun, yg dibeli ga main2 lg, produk rusia yg dikenal gahar dan sangar….klo kita paling banter rudal sky dragon milik musuh kita sendiri dibeli….anehkan!!,..gmn mau menang lawan china, beli alutsistanya yg kecil2, rongsok dan sering rusak lg macem rudal china yg meluncurnya telat hahaha…memalukan, barang rongsok dibeli, dpt tawaran bagus dr rusia dan swedia dicuekin….kebijakan yg bener2 aneh….!!,, ga pernah dgrin apa keinginan rakyatnya…vietnam dan rusia stroongggg…!!,

  5.  

    shrsx indonesia itu poros udara dunia bkn poros maritim dunia, krn garis terdepan pertahanan adlh matra udara, berbeda dg singaporn yg sadar bkn negara maritim justru memilih poros udara dunia, mk jgn heran FIR masih di kuasai puluhan tahun krn punya jumlah pespur yg cukup byk entah di negarax atau di titipin kenegara taiwan atau ausy, mk jg heran kalau byk negara hendk flight ke indonesia HARUS ke singaporn dulu, utk itu Indonesia ke depan hrs menyiapkan 1JUTA Pilot pesawat komersial/logistik & Pespur

    •  

      @tukang tebak, wkwkwk aneh poros udara.

      poros maritim itu bagus karena banyak aspek di kemaritiman contoh, mulai dari kekayaan nabati sampai kekayaan alam(minyak & gas) wajib di lindungi, lah kalo udara apa????udara kedaulatan? laut juga kedaulatan.

  6.  

    Nah ini…ini….baru jurnal yang mengikuti kaidah. metodologi dan analisa penulisan yang benar

    Mantab Pak Jendral…!!!

  7.  

    Darurat NKRI

    SEGERA KEMBALI KE UUD 45 TANPA AMANDEMEN.

  8.  

    H>

  9.  

    Indonesia darurat s300 s400 s500

  10.  

    menurut saya .

    tni ad terlalu di serakah untuk sistem menejement nya . semua alutsista dari darat laut dan udara di pegang semua . kita lihat saja dari alutsista tni ad seperti kri pengankut tank , rudal pertahanan udara jarak pendek , dan lainnya .

    ini malah menjadi beban untuk tni ad sendiri akhirnya . berimbas alutsista yg seharusnya memang ditujukan untuk tni ad malah terpecah belah ke berbagai arah.

    contohnya kita lihat seperti meriam 155mm , tank , roket astro , senapan mesin gatling gun dan lain lain dengan jumlah yg sedikit.

    di jaman modern dan maju satu kesatuan harus berpedoman pada kodratnya sendiri bahwa dia harus yg mengurusi wilayah . jika pun membutuhkan bantuan . kesatuan ad akan bisa meminta bantuan di wilayah dan tetap fokus terhadap yg terpenting untuk bawahannya.

    ingat . di medan pertempuran kita bersatu antara ad , au , dan al . bukan bergerak sendiri sendiri yg menjadi bumerang kelak.

    janganlah mengambil kepentingan lain bila kepentingan kita sendiri terlupakan dan kurang memadai . sekian

  11.  

    @KW
    Setuju bung KW…
    Untuk alutsista armed,hanud,miliki adiknya tni ad nih mesti diulas jg artikelnya. Marinir dan paskhas yg juga membengkak personelnya jg memerlukan alutsista yg gahar dan modern walau tak sebesar saudara tuanya tni ad,paling tidak kombinasi gabungan alutsista darat ketiga matra bersaudara nih bisa menjadi nilai tambah efek deteren bagi nkri.

  12.  

    panjang juga membacanya 😉

  13.  

    Pertahanan yg benar itu :
    Punya alutsista yg bisa me’laku’kan tembakan mencapai negara” ter’dekat…

    Maksud’x:
    se’blm negara tetangga punya niat menyerang, kita sdh bisa utk melumpuh’kan persiapan negara tersebut….

    Bukan sekedar punya alutsista yg hanya bisa memukul ketika negara lain sdh dlm wiliyah kita sndr…

    se’Harus’x punya kekuatan alutsista + personil yg bisa menyelamat’kan/men’jemput warga negara sndr yg berada di’negara lain…
    Dgn catatan negara itu dlm keadaan kacau-balau…

  14.  

    tunggu dicaplok lagi kedaulatan ini, tunggu pasukan koalisi masuk lg kebumi pertiwi, tunggu jiwa dan raga TNI-POLRI gugur dlm bertugas baru semua akan,dikaji,dipertimbangkan,negosiasi ulang,ubah proposal,sedang dalam pembahasan, pemotongan anggaran,perubahan anggaran..
    muak..muak.. mau muntah dengan kebijakan pemerintah yg tidak pernah 100% mendukung pertahanan dalam negri. semua dianggap remeh jika perut sudah kenyang, terima gaji dan uang sampingan,cewek hiburan kiri-kanan treak2 kegirangan.

    sdh jenuh lihat colibri treak-treak minta alutsista gahar, pasukan beruk masuk pagar hanya bisa lempar pake pisang.
    su-35 gagal maning sales gripen jingkrak2

  15.  

    Mau modernisasi mau bikin pabrik senjata kok tepo sliro yg gak ada batasnya…lihat tetangga kek stabilitas kaqasan kek..buat apaan..

    Emang kenapa kalo punya rudal rudal canggih jarak jauh..tetangga pada protes..??

    Emang tetangga beli senjata canggih masih punya rasa tepo sliro..

    Emang kalo ekonomi dan teritorial kita ancur mereka simpati..malah mereka yg berpesta pora..

    Prinsip selalu didepan kenapa….dari dulu cuma setengah tengah…

    Apa apaan..

  16.  

    Siapa Sosok Suyadi? Tokoh Indonesia yang Muncul di Doodle Google Hari Ini

    Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/siapa-sosok-suyadi-tokoh-indonesia-yang-muncul-di-doodle-google-hari-ini/

  17.  

    .

  18.  

    INTINYA NKRI ITU KETINGGALAN ALUTSISTANYA SAMA TETANGGA APALAGI SAMA NEGARA MACAM CHINA,INDIA…BURUAN BORONG SENJATA GAHAR.. DALAM JUMALAH BANYAK..

  19.  

    Artikel yg bagus karena ditulis oleh tokoh armed sendiri, maaf ane yg awam berpendapat :

    secara doktrin dan planning, paparan diatas sdh lengkap dan jelas, hanya paparan tsb lebih ke perencanaan sistem tempur utk maju ke medan perang, kalo diperhatikan lebih teliti, gelar armed di medan tempur blm dilengkapi system senjata pertahanan diri, sebaiknya armed membuat planning utk pengadaan minimal punya canon + rudal setara pantsir utk menangkal rudal dan minimal punya rudal shorad utk menahan serbuan udara.
    sejarah perang memposisikan armed di garis belakang satuan tempur garis depan, mutlak armed pun harus mampu melindungi diri dari serbuan rudal musuh yg diluncurkan dari udara, darat, laut.
    semoga di masa depan armed kita punya kelengkapan modern semisal drone intai, alkom satellite … dalam jumlah dan kualitas yg mampu meng cover seluruh NKRI …

  20.  

    Udah panjang lebar, ternyata rudal favorit sy ga ada. Sebel

 Leave a Reply