Jan 102019
 

KRI Keris 624, salah satu Kapal Cepat Rudal (KCR) milik TNI AL Β© TNI AL via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Akhir bulan lalu, Indonesia dilaporkan menyelesaikan pesanan baru untuk Kapal Cepat Rudal (KCR) yang sebelumnya telah dipertimbangkan. Kesepakatan itu menyoroti upaya berkelanjutan Jakarta untuk meningkatkan kemampuan maritim meski ada sejumlah tantangan yang tersisa, menurut The Diplomat pada hari Rabu.

Republik Indonesia telah lama terlibat dalam upaya memperkuat kemampuan maritimnya dan mengakui kenyataan serius bahwa diperlukan lebih banyak kapal dan pesawat terbang untuk sepenuhnya memantau garis pantai terpanjang kedua di dunia. Prioritas itu pun terus berlanjut dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi [Joko Widodo – red], dengan fokus pada aspek-aspek seperti meningkatkan industri pertahanan negara yang baru berkembang.

Salah satu aspek dari modernisasi yang terlihat adalah pengadaan Fast Attack Craft (FAC) alias Kapal Cepat Rudal (KCR) dari berbagai jenis, termasuk KCR-60M yang dibangun oleh produsen kapal milik negara, PT PAL.

Para pejabat Indonesia sebelumnya mengatakan bahwa Kapal Cepat Rudal ini akan menjadi pendorong bagi kemampuan negara, dengan kecepatan dan persenjataan yang mematikan menjadikannya berguna diberbagai fungsi termasuk untuk perang kepulauan.

Peluncuran KCR-60M KRI Kerambit-627, Surabaya, 27/2/2018.

TNI Angkatan Laut saat ini mengoperasikan 4 kapal KCR-60M yang ditugaskan sejak tahun 2014, dengan kapal ke-4 yang diharapkan akan dikirimkan setelah peluncuran pada bulan Februari 2018. Ada juga indikasi bahwa pekerjaan PT PAL untuk militer Indonesia semakin meningkat pada 2018 dan seterusnya, termasuk hingga empat KCR-60M tambahan.

Pekan lalu, aspek rencana modernisasi TNI AL ini menjadi sorotan dengan konfirmasi lebih lanjut beserta rincian yang diungkap tentang pesanan tambahan untuk Kapal Cepat Rudal. Pada akhir Desember 2018, sebuah kontrak teah ditandatangani Kementerian Pertahanan RI untuk pesanan empat kapal cepat rudal kelas KCR-60M.

Seorang pejabat senior dari PT PAL telah mengkonfirmasi kepada IHS Jane bahwa kontrak senilai Rp 2.800 triliun atau sekitar $ 195 juta adalah untuk kapal yang akan dibangun oleh PT PAL di fasilitasnya di Surabaya, dengan pekerjaan konstruksi fitted-for-but-not-with aka FFBNW untuk efektor tempur seluruh kapal perang, termasuk senjata, sensor dan sistem penanggulangan. Kemenhan RI diperkirakan akan mengeluarkan kontrak terpisahnya untuk sistem ini di kemudian hari.

Beberapa rincian tambahan telah diungkap tentang kapal dan kesepakatan baru, meskipun ada indikasi bahwa kapal pertama yang baru dipesan diharapkan dikirim mulai tahun 2021. Dan para pejabat pertahanan Indonesia sendiri dengan tepat telah memperingatkan bahwa meskipun terjadi peningkatan tambahan, negara masih membutuhkan lebih banyak untuk dapat memenuhi persyaratan TNI AL yang telah ditetapkan dalam rencana modernisasi.

Meskipun demikian, upaya pemerintah Indonesia untuk melakukan apa yang dapat dibuat pada front ini tetap menarik untuk disaksikan pada tahun 2019 dan memasuki tahun-tahun berikutnya juga.

  14 Responses to “Modernisasi TNI AL Kini Fokus ke Pesanan KCR Baru”

  1.  

    KCR 60 yang sudah Ada … Kenapa Kok Tidak di install senjata yang memadai…? Bongkar Pasang cannon and missile tapi Tidak jelas yang mana.

  2.  

    Yg ada dulu d lengkapi persenjataanya….biar ga ompong gt…..pesanan selanjutnya harus dg persenjataanya skalian

  3.  

    195 juta us ?? itu masing2 sekitar 45juta us harusnya sudah dipersenjatai dengan biaya segitu

  4.  

    bagus dipasang rudal brahmos

  5.  

    Admin ngambil sumbernya dari the diplomat dan dari Jane’s.

    Tapi keterangan dari Kumparan lebih terinci karena disebutkan pemasangan senjatanya.

    (awal kutipan)

    “Kita dapat kontrak 4 unit, untuk pembangunan dan pemasangan senjata,” Corporate Secretary PT PAL Indonesia Rariya Budi Harta kepada kumparan, Senin (7/1)

    (akhir kutipan)

    Sumber :

    https://m.kumparan.com/@kumparanbisnis/pt-pal-menangkan-kontrak-4-kapal-perang-tipe-kcr-60-untuk-tni-al-1546865629481050158?utm_source=msnid&utm_medium=Aggregator

    Jadi usd 195 juta atau 2,8 triliun rupiah itu sudah termasuk ada senjatanya, walaupun membangunnya FFBNW tapi beli senjatanya beli terpisah lalu dipasang sekalian oleh PT PAL.

  6.  

    Saya setuju klo soal senjata bisa belakangan..perbanyak KRI itu yg lebih penting…klo dalam keadaan Perang belu rudal bisa cepat..tapi klo beli kapal gak mungkin langsung jadi..masa kapal nelayan digotongin Rudal Ya tenggelam donk hahhahahhahaha

  7.  

    Senjata nya belakang an gak papa. . asalkan persenjataan nya seperti karakurt. . haha