‘Monster Laut’ Militer Indonesia – Naga Asia III

oleh: Ayoeng Von Karawang

Konflik Laut China Selatan bila tidak dikelola dengan bijak dapat berakhir dengan perang. Perang memang merupakan cara terakhir untuk mengakhiri perselisihan/konflik yakni dengan cara kekerasan militer. Sekalipun perang dilalui dengan cara brutal dan pasti akan menelan korban jiwa baik di kalangan sipil maupun militer namun masing-masing pihak dapat memancing dan menunggu pihak mana yang akan memulai duluan. Secara hukum seolah-olah pihak yang diserang akan dianggap benar karena melakukan aksi bela diri (Self Defence) sementara pihak yang terlebih dahulu menembak akan disebut si penyerang/pembuat onar (Aggressor).

Dengan pertimbangan hal seperti itu maka diplomasi militer yang dilakukan adalah dengan menggelar Operasi Patroli sekaligus melakukan Aksi Intelijen mengumpulkan peta/medan pertempuran, data kekuatan dan kelemahan lawan dan kalaupun bertemu dengan pihak lawan biasanya hanya akan melakukan “aksi tabrakan kapal tak sengaja” dengan alasan kerusakan sistem navigasi.

Scorpene Class (ilustrasi Naval Group)

Klaim sepihak China atas wilayah Laut China Selatan yang ditandai dengan sembilan garis putus-putus (Nine Dash Lines) dikabarkan telah diajarkan di sekolah-sekolah China sejak tahun 1940an. Penyelesaian konflik Klaim Laut China Selatan ini pihak China dengan tegas menolak diselesaikan melalui peradilan Arbritase Internasional. Belajar dari kesalahan fatal yang dilakukan Indonesia dalam penyelesaian sengketa pulau Sipadan dan Ligitan yang dibawa ke peradilan Arbritase Internasional di mana pihak Indonesia dikalahkan oleh Malaysia dan tentu saja dengan dukungan Five Power Defence Arrangements (FPDA).

Cara yang dilakukan Malaysia tatkala pihak Indonesia menganggap Status Quo pulau Sipadan dan Ligitan harus tidak boleh dihuni/dikosongkan karena masih dalam status sengketa sementara pihak Malaysia secara diam-diam membangun Resort yang sangat bagus, membangun pelestarian taman laut dan tempat wisata air lainnya dan juga memasukkan kedua wilayah pulau itu ke dalam peta nasional Malaysia secara sepihak. Akhirnya peradilan Arbritase International memutuskan bahwa Malaysia sebagai pemilik yang sah atas pulau Sipadan dan Ligitan dengan alasan pihak Malaysia memiliki perhatian atas pengelolaan pulau dimaksud.

Dengan strategi yang sama tatkala China kini semakin kuat maka serta merta mereklamasi dan membangun pos serta pangkalan militer di karang (rocks or reef), daratan yang menyembul (low tide elevation) hingga pulau tak berpenghuni (Inhabited Islands) sekalipun berada pada jarak yang terlampau jauh dari ketentuuan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 nm atau kurang lebih 370km yang ditetapkan UNCLOS. Di area yang diklaim China dengan batas 9 garis putus-putus jelas terkandung kekayaan alam yang melimpah baik kandungan minyak, gas hingga sumber daya hayati. Pulau Natuna tidak berani diklaim masuk 9 Dash Line karena secara de facto dihuni oleh penduduk Indonesia sehingga secara hukum UNCLOS jelas milik Indonesia. Negara-negara yang justru dekat dengan “Pijakan Daratan” yang diperebutkan tentu saja meradang namun sudah pasti mereka akan kalah jauh secara militer dengan China.

Industri Militer China kini bukan saja mampu memproduksi peralatan perang namun juga mampu melakukan “kloning” atas teknologi militer terkini yang dimiliki musuh. Kekuatan militer China saat ini telah berkembang cukup pesat dan setidaknya empat dari enam satuan tempur kapal induk China yang direncanakan telah beroperasi pada tahun 2035 diperkirakan mengunakan tenaga nuklir. Dengan kebangkitan militernya secara paralel China langsung membangun pos dan pangkalan militer di area yang dipersengkatan dengan melakukan reklamasi.

Amerika kini baru saja sadar bahwa negara adidaya yang selalu bergaya Cowboy dan menjadi Sheriff ternyata telah kecolongan oleh langkah China. Maka demi memperebutkan kekayaan alam yang tak terbarukan pihak Amerika mencoba menggalang kekuatan dengan negara-negara yang bersengketa dengan China atas konflik laut China Selatan. Kekuatan militer Amerika yang sebelumnya banyak disebar di negara timur tengah kini mulai dilakukan rotasi ke wilayah konflik Laut China Selatan (US Rebalance to Asia Pacifik).

Belum lama ini pihak China mulai menguji kekuatan Indonesia dengan menggelar aksi kelompok kapal nelayan yang dibackup China Coast Guard menerobos batas laut Laut Natuna Utara. Belajar dari kejadian dimaksud seharusnya pihak pemerintah mulai segera memordenisasi kapal Indonesian Coast Guard & TNI AL dengan kapal yang besar dan modern.

Size Does Matter, untuk menunjukkan kekuatan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka mutlak Indonesia harus memiliki kapal-kapal Ocean Going dan memiliki Deterrent Effect yang benar benar mumpuni. Cikal bakal industri karoseri militer dari PT PAL tidak terlepas dari Proyek 3D (DSNS, DSME dan DCNS/Naval Group).

Industri galangan kapal Indonesia telah dapat membuat berbagai jenis kapal seperti kelas light frigate Sigma Class, LPD hingga lapal selam. Alih teknologi (ToT) yang belum dikuasai hanyalah terkait pembuatan LHD dan teknologi AIP. Khusus kapal selam Chang Bogo Class memang memiliki kelemahan di unit baterai dan AIP sehingga daya gerak dan daya tahan menyelam menjadi terbatas.

Lompatan teknologi kapal selam yang wajib dikuasai saat ini adalah pada daya tahan baterai, AIP, kemampuan melepaskan rudal anti pesawat/helikopter, rudal ke sasaran permukaan serta kemampuan Ocean Going untuk menyusup & menetralisir kemampuan musuh di sarangnya. Pihak DCNS pernah menawarkan Scorpene 1000 dengan panjang kurang lebih sama dengan Chang Bogo dan Type 214 Reis yang masih berada pada kisaran panjang 60-70an meter.

Untuk memiliki daya gentar yang mumpuni sebaiknya diambil SMX Ocean atau kelas Barracuda versi diesel besutan Naval Group yang memiliki panjang 100an meter. Untuk memajukan industri galangan kapal nasional maka kapal untuk Indonesian Coast Guard dapat menggunakan produksi dari Sigma Class yang dapat difungsikan sewaktu-waktu sebagai alutsista militer dalam kondisi perang. Adapun pengadaan kapal frigat dapat dilakukan melalui skema ToT Iver Huitfeldt Class.

Tot pembuatan Kapal Induk Helikoper (LHD) Mistral Class sebaiknya mulai dipertimbangkan untuk segera diakuisisi dengan memanfaatkan momentum drama di teater Laut China Selatan. Cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia hanya akan diakui dan dihormati bila memliki Armada Monster Laut. Semoga para pengambil kebijakan pertahanan negara dapat segera merealisasikannya. Ditulis oleh : Ayoeng Von Karawang.

18 pemikiran pada “‘Monster Laut’ Militer Indonesia – Naga Asia III”

  1. Nahhh….!!! ini ulasan yg logic.nggak usah ditunggu,ditimbang dgn berjuta2 analisis.musuh paling potensial kita 20 taon kdepan adalah singkek rakus.diplomasi kita bisa kekiri-kanan.perkuat segera otot militer kita….kalo perlu pererat kerjasama militer dgn taiwan.biar singkek tambah berasap kepalanya.

  2. Indonesia sebenarnya sudah bisa menjadi macan asia dilautan Krn Indonesia sudah mampu membuat kaprang berbagai ukuran termasuk class sigma, hanya saja TDK ada kemauan.
    Sebagai contoh : sejak dikobarkannya MEF sudah berapa kaprang termasuk KCR yg dibuat? Masih sedikit dan ketika kaprang sudah dibuat, senjata yg disematkan ecek2.
    Sekarang ketika China mulai beraksi baru mulai terasa pantat kita semua, sibuk mencari alat perang. Yang seharusnya sudah dilakukan sejak dahulu.

  3. Coba KL para korup kita pada di dorr.
    Pasti negara kita akan cepat maju.
    Saat ini para korup kita Sudah tidak punya rasa malu.
    Ini bisa dilihat saat para koruptor di tangkap dan di sorot media si koruptor malah tersenyum dengan bangga.

  4. Kata para juragan instansi terkait ndak gitu, epriting ow ke dan kita bersaudara dengan cina bak kakak adik biasa2 sajalah kalau rebutan makanan ndak perlu dikhawatirkan, santai saja, cool, bla bla bla, tenang sajalah walau moncong senjata sudah didepan muka

  5. “Industri galangan kapal Indonesia telah dapat membuat berbagai jenis kapal seperti kelas light frigate Sigma Class, LPD hingga kapal selam”.

    Tolong di koreksi, apakah benar kita benar2 dapat full TOT dari SIGMA class atau PT PAL hanya sekedar sub kontraktor saja ?? atau mungkin sumber berita di link berikut adalah Hoax.

    https://www.hobbymiliter.com/10184/pkr-disebut-karya-anak-bangsa-ternyata-pt-pal-hanya-sebagai-subkon-dengan-jatah-pekerjaan-senilai-43-saja/

    • HATI2 SAAT INI ADA USAHA DARI MAFIA IMPORT TUK BERUSAHA MENYEBAR PEMBENARAN IMPORT UNTUK ALUTSISTA YANG SEBENARNYA MAMPU KITA PRODUKSI,,,Gk bener link ntu, andai pun bener moso pt.pal kagak bisa jiplak habis sigma class??? Yg ngerakit sigma class yg terakhir ntu pt.pal’ hey ntu link berusaha memunculkan alasan pembenaran tuk import korvet lg, jangan lupa bahwa pt.pal bukanlah galangan kapal abal2 sebab pt.pal itu sudah memproduksi dan menjual kapal 50.000 ton’ hati2 mafia import berkeliaran dibelakang wowo mengincar fee dr negara produsen tuk import alutsista, kalau tuk alutsista yg bener2 kita tidak mampu tuk produksi no problem import ntu rejeki si mafia import tp kalau alutsista yg sebenarnya kita mampu memproduksinya sendiri jangan pernah setuju dengan alasan apa pun sebab ntu jelas modus dr mafia import, contohnya satu lg ambil scorpen yg class nya sama dengan changbogo/u209′ hey korsel ntu seleranya tinggi dan changbogo ntu hasil modernisasi dr u209 yg jg dipakai militer korsel jd gk bener bila scorpen lebih baik dr changbogo untuk kelas yg sama, kalau ambil scorpen dengan teknologi aip no problem ntu rejeki si mafia import,,hati2, momen peningkatan belanja militer ni akan dimanfaatkan mafia import.

      • Kalau utk kapal perang light frigate sekelas pkr dan kapal2 support indonesia bisa…
        Tapi kalau harus bikin dan merakit secara independen Kelas striker Heavy Frigate seperti Iver, De Zeven, Sachen, Freem saya rasa masih belum mampu, apalagi destroyer dan cruiser..
        Karna kalau berbicara kapal perang utk multirole apalagi apalagi yg dijadikan standart dan skema lawan militer china, Sangat butuh standar teknologi yg ditinggi dan paradigma militer yg jauh kedepan..
        Sigma class secara sensor, fire power, ews, tecnologi akuistik dll apabila dibandingkan dengan kapal2 frigate china sangat jauh tertinggal…
        Sensor Kapal2 china jangkauannya lebih jauh dan canggih, senjata2nya jangkauannya lebih jauh dan lebih cepat, EWS nya juga lebih canggih..
        Jadi memang sangat tepat kalau Indonesia membeli kapal perang yg lebih besar dan modern dari segi teknologi dan fire powernya dan multirole (AAW, ASW, ASUW, LAW)
        Termasuk Changbogo Class yg sekarang sangat kurang kapabel kalau diadu dg kapal selam tetangga seperti vietnam dg Kilo Clas 363 black hole, the invicible 218 clas singapore dan soffrin barracuda class milik aussie.. Apalagi menghadapi china yg nobel punya seabrek kapal kelas kilo dan nuklir.

  6. Changbogo dah sangat lumayan bisa kita miliki apalagi kita mampu buat sekarang dan Korsel pun sampai buat 8 unit, kapal selam jadul Whiskey Class Korea utara saja mampu tenggelamkan korvet modern Korsel apalagi Changbogo bukti bahwa sehebat apapun kapal perang permukaan tetaplah sulit memburu kapal selam. Misal batch ke 3 Changbogo yg lebih canggih seri terbaru 3000 ton kita pilih pun menurut saya bukan pilihan yg buruk apalagi Korsel dah selesai buatnya, dan mungkin harga masih bisa terjangkau pula dan yang paling penting penguasaan teknologi kapal selam Indonesia juga makin meningkat. Jangan lupa kiblat teknologi Korea adalah Amerika dan Jerman.

  7. Jangankan membangun kapal induk helikopter’ kapal induk pesawat tempur pun sebenarnya pt.pal mampu’ tp pernahkah pemerintah khususnya kemenhan bener2 memberi kepercayaan pada pt.pal untuk mengembangkan dan membangunnya’ padahal pt.pal udah punya ilmu dr lpd dan membangun kapal kargo 50.000 ton yg lambung kapalnya sama dengan kapal induk untuk menerapkan ilmunya dalam pengembangan kapal induk helikopter???? Ok lah iver class gk masalah kita import karena pt.pal butuh belajar bagaimana menata sistem perangkat dan wepons yg digunakan kapal combatan besar setara destroyer, tp kalau sampai import korvet dan opv ni dah gk bener karena aku yakin 100% pt.pal emang mampu, hati2 para sales mafia import saat ini lg membangun narasi untuk membenarkan import alutsista yg sebenarnya kita mampu membangunnya, untuk import alutsista yg emang kita tidak mampu tuk memproduksinya no problem dan emang harus import.

  8. Saat ini yg mendesak adalah penguatan matra laut dan udara. Kalo darat sementara cukuplah. apalagi kita masih Hankamrata. Matra laut mendesak kasel dg jumlah dan kualitas yang baik. kita perlu tot AIP kasel. bisa dari jerman atau nerusin dari teknologi Korsel. kita sdh butuh kasel yg mampu mengusung rudal permukaan maupun anti kapal spt Kalibr punya rusky. saya sependapat dlm perang modern kasel masih sulit dilacak dan efek gentarnya terasa. Sejalan dg itu kita sdh mendesak kapal destro biarpun sedikit. korvet kita sesuaikan jumlahnya dg catatan full armament.
    untuk udara mungkin kita msh bisa mengandalkan su35 minimal 2 ska plus viper 4 ska tambahan sambil nunggu KFX. baru kita benahi radar kita. Rudal jarak sedang dan jauh juga. yg terpenting penguatan inhan dalam negeri yg transparan. salam

  9. dari dulu kita liat perkembangan alutsista negara2 di dunia, perang irak menghadapi 34 negara nato terakhir peperangan di suriah, kenapa america beli produk alutsista rusia, spt SU-27 dari ukraina, mig-29 fullcrum krn menreka sadar teknologi rusia lebih maju mereka contek, SU-35 dari 2012 gk datang2 di,suriah kapal selam kapal perang rusia dan S-400 sehingga america dan,sekutu mundur.

  10. tidak usah beli alutsista az sekalian mumet berita nya az yg rame dari dulu rakyat indonesia,di php mau beli ini mau beli itu pespur, kapsel, kaprang, arhanud pantsir, S-400. negara lain tanpa banyak berita begitu barang datang baru masuk berita. kita banyak2 berhayal saja tidak tidak jelas roadmap 50 tahun ke depan, australia punya radar jarak endus 3000 km, pespur siluman F-35 100 biji, singapure negara kecil alutsista ok. beli F-35. china, india, turki beli S-400. coba berita kita buat ketapel az.

  11. Kalau utk kapal perang light frigate sekelas pkr dan kapal2 support indonesia bisa…
    Tapi kalau harus bikin dan merakit secara independen Kelas striker Heavy Frigate seperti Iver, De Zeven, Sachen, Freem saya rasa masih belum mampu, apalagi destroyer dan cruiser..
    Karna kalau berbicara kapal perang utk multirole apalagi apalagi yg dijadikan standart dan skema lawan militer china, Sangat butuh standar teknologi yg ditinggi dan paradigma militer yg jauh kedepan..
    Sigma class secara sensor, fire power, ews, tecnologi akuistik dll apabila dibandingkan dengan kapal2 frigate china sangat jauh tertinggal…
    Sensor Kapal2 china jangkauannya lebih jauh dan canggih, senjata2nya jangkauannya lebih jauh dan lebih cepat, EWS nya juga lebih canggih..
    Jadi memang sangat tepat kalau Indonesia membeli kapal perang yg lebih besar dan modern dari segi teknologi dan fire powernya dan multirole (AAW, ASW, ASUW, LAW)
    Termasuk Changbogo Class yg sekarang sangat kurang kapabel kalau diadu dg kapal selam tetangga seperti vietnam dg Kilo Clas 363 black hole, the invicible 218 clas singapore dan soffrin barracuda class milik aussie.. Apalagi menghadapi china yg nobel punya seabrek kapal kelas kilo dan nuklir.

Tinggalkan komentar