Agu 132018
 

Pesawat tiltrotor MV-22 Angkatan Laut AS uji-coba mendarat dan lepas landas di USS George W. Bush (CVN-77) © Spc. 3rd Class Roland John via US. Navy

JakartaGreater.com – Pada Agustus 2018, pilot Osprey berhasil menguji pendaratan dan lepas landas dengan bobot lebih dari 25 ton di dek penerbangan kapal induk USS Goerge H.W. Bush (CVN-77). Kemampuan utama ini memungkinkan Osprey untuk mengangkut lebih berat daripada C-2A, yang terbatas pada 22 ton seperti dilansir dari laman situs Angkatan Laut AS (US Navy).

Pengujian di USS Goerge H.W. Bush (CVN-77) termasuk mengintegrasikan MV-22 ke dalam operasi dek penerbangan dengan berat kotor untuk mendarat dan lepas landas.

“Saya memulai penerbangan Greyhound untuk pengiriman ke kapal induk (COD) dan saya menyukai platformnya”, kata Letnan Steven Tschanz, dari Libertyville, Illinois, seorang pilot penguji di Air Test and Evaluation Squadron (HX) 21. “Dengan itu, tidak ada yang abadi dan Angkatan Laut datang dengan solusi untuk memindahkan kita ke masa depan dengan CMV-22 Osprey”.

CMV-22 Osprey, varian MV-22 untuk Angkatan Laut AS, memadukan kecepatan serta jangkauan pesawat bersayap tetap (fixed-wing) dengan kemampuan angkat vertikal dari platform bersayap putar (rotary-wing), menjadikannya COD kapal induk yang ideal dan platform pengiriman vertikal (VOD) di kapal induk untuk mendukung pasokan logistik.

Awak COD Angkatan Laut yang mengemudikan pesawat CMV-22 akan mendarat dan lepas landas seperti pesawat terbang, yang memungkinkan penerbangan dengan bobot yang jauh lebih besar.

Pesawat rotorcraft V-22 Osprey buatan Bell-Boeing, AS. © Peter Gronemann via Wikimedia Commons

Osprey telah membuktikan kemampuannya dalam bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana, serangan amfibi dan misi evakuasi medis. Evolusi berikutnya CMV-22 akan menggunakan kemampuan tersebut untuk menyelesaikan misi COD tradisional.

Letnan Gavin Kurey, dari Albuquerque, New Mexico, dan juga ditugaskan pada HX-21, adalah pilot Angkatan Laut AS pertama yang mendaratkan MV-22 di kapal induk.

“Yang sedang berlangsung adalah peristiwa bersejarah bagi US Navy”, kata Kurey. “Saya tidak pernah berpikir saya akan menjadi bagian dari sesuatu seperti ini sebagai seorang anggota COD. Ada banyak keengganan untuk bergabung dengan platform baru yang sangat berbeda pada awalnya, tapi untuk menjadi bagian dari gelombang pertama yang membantu transisi itu terjadi adalah pengalaman yang luar biasa”.

Keuntungan utama dari Osprey adalah kemampuannya untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal seperti helikopter, sehingga ini membutuhkan landasan jauh lebih pendek daripada Greyhound. Bagi pilot Osprey, peluang untuk menerbangkan pesawat baru yang ada di garis depan untuk memperluas misi logistik US Navy adalah suatu kebanggaan.

Tschanz sangat gembira perubahan tersebut akan meningkatkan jangkauan operasional grup tempur kapal induk dan memperluas kemampuan guna mendukung misi di banyak lingkungan.

CMV-22 Osprey diperkirakan akan mencapai Kemampuan Operasional Awal (IOC) pada tahun 2021. Dibandingkan dengan MV-22B, varian Angkatan Laut telah memperpanjang jangkauan operasional, radio HF yang melampaui batas, dan meningkatkan kemampuan pembuangan bahan bakar, serta peningkatan sistem pencahayaan untuk memuat kargo.

Bagikan:

 Leave a Reply