Nov 202015
 

nasa

Pemerintah Amerika sebaiknya mencabut larangan bagi badan antariksa (NASA) untuk bekerjasama dengan Cina agar tidak ketinggalan dalam berbagai program baru menjelajah ruang angkasa. Sejak tahun 2011, Kongres Amerika melarang kemitraan NASA dengan Cina karena alasan kondisi HAM di negara komunis itu dan demi melindungi keamanan nasional Amerika.

Dalam konferensi International Astronautical Congress baru-baru ini yang dihadiri kepala badan antariksa dari seluruh dunia, kepala NASA Charles Bolden mengungkapkan keyakinannya bahwa larangan tersebut hanyalah sementara.

“Saya yakin larangan ini bersifat sementara karena, jika tidak, di masa depan kita mungkin hanya jadi penonton … siapapun yang berambisi mengirim manusia ke antariksa akan bermitra dengan siapapun yang mampu melakukannya,” kata Bolden.

China tidak termasuk dalam 15 negara pemilik sekaligus operator Stasiun Antariksa Internasional, sebuah laboratorium riset yang terletak sekitar 400 kilometer diatas Bumi.

China menyambut baik komentar Bolden itu.

“Jelas kami berharap jangka waktu larangan ini akan dipersingkat,” kata Xu Dazhe dari Badan Antariksa Nasional China (CNSA). “China tidak punya masalah dalam kebijakan untuk bermitra dengan badan antariksa manapun.”

China adalah satu-satunya negara selain Amerika dan Rusia yang telah mampu mengirim manusia ke antariksa. China juga sedang mengembangkan stasiun antariksa sendiri, meski masih tahap prototipe, dan telah meluncurkan sejumlah pesawat ke bulan.

Xu mengatakan negaranya sedang bersiap mengirim lagi misi ke bulan untuk mengambil sampel tahun 2017. China, katanya, juga sedang mencari mitra untuk misi perjalanan ke sisi terjauh bulan dari Bumi pada tahun 2019.

Di pihak NASA, badan itu sedang mengembangkan sebuah roket bermuatan lebih besar dan kapsul yang bisa mengangkut astronot hingga ke planet Mars.

Kerjasama dengan Cina bisa dimulai dengan proyek-proyek sederhana, misalnya menetapkan sistem melabuhkan (docking) pesawat-pesawat antariksa, kata kepala badan antariksa Uni Eropa Johann-Dietrich Woerner.

“Yang penting adalah tidak bersikap kompetitif. Kita semua harus bekerjasama untuk mengatasi berbagai jenis hambatan dalam proyek bersama ini,” lanjut Woerner.

Layaknya Amerika Serikat, militer China yakin luar angkasa akan menjadi elemen penting dalam perang di masa depan. China selama ini mengklaim program antariksa-nya bertujuan damai. Namun klaim tersebut dimentahkan usai militer negeri tirai bambu itu menggunakan rudal untuk menghancurkan salah satu satelitnya di orbit bumi. Beijing mengabaikan suara protes dari dunia internasional karena aksi tersebut dinilai bisa membahayakan satelit lain di orbit yang sama.

 Posted by on November 20, 2015

  10 Responses to “NASA Ingin Bermitra Dengan Cina”

  1.  

    bisa kah lapan , roket nya dipercepat biar gak ketinggalan dengan negara laen. 2030an baru meluncur roket pembawa satelit. berharap nya sih bisa bawa muatan 5ton keatas.

  2.  

    bisa kah lapan , roket nya dipercepat biar gak ketinggalan dengan negara laen. 2030an baru meluncur roket pembawa satelit. berharap nya sih bisa bawa muatan 5ton keatas. jgn micro satelit lagi,

  3.  

    wo i ni

  4.  

    mau mempersunting cina……inilah cinta segitiga paman sam rebut cici panda dari papa bear

  5.  

    Ane saranin bung Birin periksa ke dokter, siapa tau ada kabel yg konsleting !!… wkwkwkwk..

    #kabuuuuuur… takut disetrum bung Birin….. wkwkwkwk…

  6.  

    Hahaa.. Mama minta pulsa, papa minta saham, ponakan minta …..?

  7.  

    asu mulai ketinggalan dgn tiongkok dibidang satelit..

    stasiun luar angkasa bisa menjadi basis baru buat peluncur rudal nuklir..

  8.  

    Jakarta greater ini beritanya kok bila di buka yg muncul berita lama terus….emang sekarang sudah nggak pernah apdet ya