Jan 112015
 

Sejumlah menteri Kabinet Kerja di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat tertutup. Rapat ini membahas tindak lanjut rencana pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW yang ditargetkan Presiden.

Rapat yang dilaksanakan  di Ruang Rapat Kepala BPPT tersebut berfokus pada peningkatan kandungan lokal untuk pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Kandungan lokal dalam proyek pembangkit listrik 35 ribu MW ini penting dibahas. Tujuannya untuk mengembangkan industri dalam negeri.
?”Kita rapat dalam rangka meningkatkan kandungan lokal dalam rencana pembangunan pembangkit 35.000 MW,” ungkap  Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, kala membuka jumpa pers.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto  yang menyampaikan paparannya menyebutkan bahwa BPPT siap untuk mendukung sepenuhnya program Presiden RI ini. “Kita sanggup mengerjakan. Manufaktur boiler sudah siap. Trafo kabel dan piping bisa. Jadi minimal bisa 40 prsen tingkat kandungan dalam negerinya,” jelas Unggul.

Pada paparan yang berjudul “Optimalisasi Peran Industri Kelistrikan Nasional dalam Pembangunan Pembangkit Listrik, Unggul juga mengutarakan bahwa tingginya penggunaan barang impor di Indonesia, mengakibatkan rendahnya kinerja dan utilitas industri nasional. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya upaya yang menyeluruh dan bersifat terpadu dari berbagai pihak terkait, baik masyarakat, pemerintah dan pengusaha, maka industri nasional tidak akan pernah mampu bersaing dengan industri luar negeri. “Saya juga harapkan ada dukungan kebijakan fiscal dari Kementrian Keuangan khusus untuk manufaktur pembangkit listrik,” tambahnya.


Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan, pemerintah bakal memberikan komitmen penuh untuk mendorong industri dalam negeri memasok kebutuhan pembangunan pembangkit tersebut.

“Kita komitmen mendukung supaya konten lokal dalam industri ini bisa semaksimal mungkin. Kita cari mana yang lebih siap, kita dorong,” tuturnya.

Sebagai informasi rapat ini juga dihadiri Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago, dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro. Selain itu, hadir pula Direktur PT PLN (Persero) Murtaqi Syamsudin. (SYRA/Humas)

Sumber : BPPT


Perizinan Satu Pintu Dorong Proyek Pembangkit

JAKARTA – Pemerintah optimistis proyek pembangkit listrik 35.000 Megawatt (MW) bisa diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Percepatan pembangunan megaproyek itu akan didorong melalui perizinan satu pintu.

Pusat pelayanan perizinan satu pintu akan diberlakukan mulai 15 Januari 2015 di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Salah satu layanan yang diberikan pusat layanan itu adalah perizinan kelistrikan. “Karena itu, kami optimistis pembangunan pembangkit 35.000 MW akan tercapai,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di Jakarta kemarin.

Sudirman menegaskan, butuh upaya kolektif dalam pembangunan pembangkit 35.000 MW. Selain pemerintah, peran serta swasta dalam megaproyek ini juga amat menentukan. Dari total kapasitas 35.000 MW yang akan dibangun, tercatat hanya 10.000 MW yang akan dikerjakan oleh PT PLN (Persero).

Sisanya akan dibangun oleh produsen listrik swasta (indepent power producer /IPP). Dengan demikian, Sudirman meminta pengambang swasta yang telah mempunyai pembangkit listrik dipersilakan mengajukan proposal kepada Kementerian E S D M untuk mengikuti penunjukan langsung tanpa proses lelang. “Mereka yang sudah mempunyai proyek listrik tinggal ajukan proposal saja, tidak perlu tender karena akan ditunjuk langsung,” ungkapnya.

Terkait aturan mekanisme pembelian listrik PLN kepada pengembang swasta, Sudirman menyebutkan hal itu sedang dalam tahap finalisasi. Menurut dia, akan ada patokan yang tinggi dalam penentuan harga pembelian PLN kepada pengembang swasta supaya mereka terpacu dalam mengembangkan pembangkit listrik yang dibutuhkan negara ini.

Dia menambahkan, pemerintah juga akan menciptakan transparansi dalam seleksi para pengembang swasta, mengurangi waktu proses negosiasi, dan mendorong PLN mempercepat kontrak mengikat terhadap IPP. Lebih lanjut Sudirman mengatakan, proses percepatan proyek pembangkit listrik 35.000 MW telah mendapatkan dukungan penuh dari menteri koordinator perekonomian dan menteri koordinator kemaritiman. Proyek ini juga didukung penuh oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Tidak hanya itu, saya juga telah bicara dengan TNI AD. Mereka memberikan back up dengan melakukan pendekatan khusus saat penyediaan tanah, khususnya bagi daerah yang sulit ditembus,” katanya. Pemerintah akan membentuk tim percepatan pembangkit listrik 35.000 MW yang terdiri atas Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agraria, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Dalam Negeri, serta Bappenas.

Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi PLN Murtaqi Syamsudin mengatakan, PLN telah menyiapkan investasi Rp50 triliun tahun ini untuk pembangunan berbagai proyek kelistrikan, mulai dari pembangkit listrik, jaringan transmisi, hingga jaringan distribusi listrik. Menurut Murtaqi, dengan porsi sebanyak 10.000 MW sesuai dengan rencana pembangunan pembangkit listrik 2013-2022, dan ditambah 3.000 MW proyek yang sudah berjalan, PLN secara total akan membangun pembangkit berkapasitas 13.000 MW dalam lima tahun ke depan.

Dalam megaproyek ini pemerintah bertekad meningkatkan kandungan lokal. Untuk itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo meminta PLN tidak bergantung pada komponen impor dalam pelaksanaan pembangunan pembangkit. Di sisi lain, industri nasional pun akan ikut didorong semaksimal mungkin untuk berperan memenuhi komponen yang dibutuhkan dalam proyek ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, dalamwaktudekat pemerintah akan mengeluarkan kebijakan dan aturan baru.

Nanang wijayanto

(bbg)

Sumber : Sindo

 Posted by on January 11, 2015

  46 Responses to “Nasib Pembangunan Pembangkit Listrik 35000 MW??”

  1. pertama

  2. kedua…..boss ……horrrreeeeeee

  3. di tunggu realita ijin satu atapnya

  4. Mungkin bisa di diskusikan, ini data saya ambil dari outlook Energi 2014…

    3.4 Ketenagalistrikan

    Pada tahun 2015, kapasitas total pembangkit listrik nasional diprediksi akan mencapai 55,6 GW (skenario dasar) dan 56,7 GW (skenario tinggi), serta dapat menghasilkan listrik total sebesar 252 TWh (skenario dasar) dan 256 TWh (skenario tinggi). Untuk skenario dasar, pada tahun 2015 tersebut diperkirakan program 10.000 MW tahap I sudah selesai, dan membuat PLTU batubara akan makin mendominasi dengan kapasitas total 26 GW (47%), serta membutuhkan bahan bakar batubara sekitar 72 juta ton.

    Pada tahun 2019, kebutuhan batubara akan meningkat 31% menjadi 94 juta ton, untuk mensuplai PLTU batubara sebesar 46 GW. Pada skenario tinggi, kebutuhan batubara akan naik lebih tinggi dibanding skenario dasar, yaitu dari 74 juta ton (2015) menjadi 106 juta ton (2019). Selanjutnya, pembangkit EBT skala besar, seperti PLTP dan PLTA, untuk kedua skenario besarnya relatif tetap, yaitu masing-masing sebesar 1,38 GW dan 4,57 GW untuk kondisi tahun 2015.

    Pada tahun 2019, kapasitas PLTP dan PLTA tersebut diprediksi naik cukup signifikan, berturut-turut menjadi 4,1 GW dan 7,6 GW. Kemudian, kapasitas total pembangkit EBT lainnya (PLT bayu, PLTS, PLT sampah, PLT biomasa, PLT kelautan, serta PLT biofuel), untuk skenario dasar, diprediksi penerapannya akan terus meningkat, dari 0,45 GW pada tahun 2015 menjadi 1,1 GW pada tahun 2019. Sedangkan untuk skenario tinggi, kapasitas total EBT lainnya tersebut akan sedikit lebih tinggi, yaitu dari 0,48 GW menjadi 1,24 GW tahun 2019.

    Dari sisi pemanfaatan tenaga listrik total, pada skenario dasar, laju pertumbuhannya akan mencapai 8,3% per tahun, dari 222 TWh (2015) menjadi 305 TWh (2019). Untuk skenario tinggi, laju pertumbuhannya naik signifikan, mendekati 10%, yaitu dari 225 TWh menjadi 325 TWh pada tahun 2019. Sektor industri, baik untuk skenario dasar maupun skenario tinggi, diprediksi akan mendominasi pemanfaatan listrik dengan pangsa dikisaran 40%-44%, diikuti kemudian oleh sektor rumah tangga dengan pangsa sekitar 35%. Sedangkan sektor transportasi merupakan konsumen listrik terkecil, sekitar 0,1% s.d. 0,2% untuk kedua skenario, karena hanya digunakan pada angkutan kereta api, khususnya di wilayah Jabodetabek.

    • Ketersediaan listrik yang cukup untuk kebutuhan RT dan pemenuhan industri DN adalah mutlak, senang mendengar rencana BPPT tersebut semoga cepat terealisasi krn RI sudah dalam taraf krisis listrik dan distribusi kurang merata krn blm adanya interkoneksi nasional.
      Dalam rencana BPPT tersebut kita masih mengandalkan pembangkit tenaga fosil, bgm Bung tentang PLTN apa masih sulit diwujudkan? Saya pernah baca dlm artikel sebelumnya hitung2annya masih lebih untung secara nasional membangun PLTA sambil sekaligus memajukan industri pertanian yg selama ini Terbengkalai dg makin rusaknya pengairan teknis. Salam

      • Iya benar bung, PLTN kayaknya sulit untuk di realisasikan mungkin karena negara kita masih banyak alternatif lain. PLTN sendiri masuk dalam kategori energi baru dan terbarukan, dan rencana untuk skala riset dulu atau PLTN mini, nanti dilihat lagi manfaatnya.

        Untuk PLTA, menurut data PLN potensi tenaga air yang ada di Indonesia mampu memproduksi tenaga listrik sekitar 70.000 MW. Tetapi hingga sekarang baru sekitar 6 persen atau mencapai 3.529 MW tenaga listrik yang telah dimanfaatkan berasal dari 203 unit bendungan air. Dari jumlah itu, kontribusi terhadap pasokan listrik ke sistem hanya sebesar 14,2 persen.

        PLTA sendiri terbagi 2 yakni berdasarkan Tinggi Terjun PLTA yang didalamnya ada terusan air (water way), DAM /bendungan, dan campuran (terusan dan DAM). Sedangkan yang satunya lagi Berdasarkan Aliran Sungai yang didalamnya ada PLTA jenis aliran sungai langsung (run of river), PLTA dengan kolam pengatur (regulatoring pond), Pusat listrik jenis waduk (reservoir) dan PLTA Jenis Pompa (pumped storage).

        Sayang sekali kita potensi sumber energi air yang ada dan belum termanfaatkan dengan maksimal. Selama ini 86 persen listrik berasal dari energi minyak dan batu bara yang selalu memerlukan biaya cukup besar.

        Contoh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. PLTA ini memiliki konstruksi power house di bawah tanah dengan kapasitas 8×126 Megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang 1.008 Megawatt (MW) dengan produksi energi listrik rata-rata 1.428 Giga Watthour (GWH) pertahun yang dislaurkan melalui jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali).

        untuk masalah memajukan industri pertanian, memang benar kita bisa menggunakan PLTA salah satunya jenis Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air. Untuk biaya pembuatan PLTMH dapat ditanggulangi oleh usaha swadaya masyarakat, koperasi atau unit usaha swasta kecil dan menengah lainnya.

    • Mengikuti nasib supply and demand bung Jalo. Kalau project plannya belum merencanakan konsumsi pasti dari produksi energinya, hemm ya ditunda lagi. Apalagi pertimbangan PJB dan PLN berbeda di satu fihak.
      Beberapa kasus klasik juga terjadi, bagaimana infrastruktur penyaluran energi listrik tersebut di banyak tempat masihlah usang. Dapat ditemui pada gardu induk mengenai trafo-trafo tua, jaringan yang belum terdedikasikan pada daerah titik perpecahannya.
      Restrukturisasi PLN meninggalkan kecamuk dualisme serikat pekerja, juga pemisahan intern PLN menjadi haleyora dan icon , telah meninggalkan urusan baru di dapur PLN sendiri.
      Bagaimana pun rencana 35000 MW tersebut mestilah dicapai. Perlu diperhatikan juga dengan seksama darimana sumber daya pembangkit tersebut belajar dari kasus pembangkit panas bumi di kalbar yang terbengkalai…imho..cmiiw…salam tabik bung Jalo…

      • Yup bener bung, sebenarnya Trafo sudah bisa kita produksi sendiri dan kalau sudah bisa produksi sendiri yah pastinya untuk perawatan tidaklah masalah. Yang memang masalah nasib supply dan demand juga, apalagi selama ini PLN selalu mengaku rugi meski sudah disubsidi.

        Faktor rugi menurut mereka adalah :

        1. biaya produksi atau biaya yang harus dikeluarkan oleh PT. PLN lebih besar disbanding harga yang dibayar masyarakat,
        2. untuk peremajaan PLN membutuhkan dana sebesar Rp 6,9 triliun setiap tahunnya
        3. Pertumbuhan pelanggan setiap tahunnya mencapai 11 persen per tahun secara nasional,
        4. Tugas utama PLN hanya menjual listrik, tetapi banyak hal yang bisa terjadi di pasar listrik, antara lain pencurian listrik, pemerasan, penipuan, serta pemasangan jaringan tidak resmi.
        5. masyarakat tidak menempuh prosedur yang seharusnya.sebagian masyarakat menggunakan jasa pihak ketiga (instalatir yang terdaftar maupun instalatir liar alias tidak terdaftar) dan melakukan transaksi di luar kantor PLN, karena mereka ingin mendapatkan pelayanan yang cepat. Akibatnya, selain biayanya menjadi tinggi karena instalatir meminta jasa pelayanan tambahan dan tidak sedikit aliran listrik masyarakat yang tidak terdaftar di PLN alias tidak resmi (illegal).

        Dan juga ditambah masalah dualisme diatas, mungkin saat ini alahkah baiknya melakukan restrukturisasi systeman dan manajemen agar bisa menguntungkan. Agar nantinya kalau 35000 MW ini bisa tercapai projectnya bisa berkesinambngan tidak teriak rugi lagi.

        Untuk panas bumi Kalbar, itulah. Semestinya harus ada penelitian lebih lanjut untuk masalah ini, bukan hanya Kalbar beberapa daerah lainnya mengalami hal yg sama, banyak investor yg mundur. Di negara besar lainnya meski sudah yakin mereka bisa mengelola panas bumi ini, tapi mereka belum berani bereksplore karena mereka tetap mencari penelitian pengolahan dengan nilai yg lebih efisien. Pernah saya kasih contoh, seperti di Amerika dan swiss. Saya takutkan, kepercayaan investor masalah panas bumi ini akan hilang dan akhirnya energi terbarukan ini malah menjadi masalah di kemudian hari.

        Makanya saya tunggu janji Menko Perekonomian.

        “Kita cari mana yang lebih siap, kita dorong”

        • Salute bung Jalo, salam tabik, ternyata Anda update betul dengan masalah energi kelistrikan Kita…saban-saban jargon perang susut energi listrik selalu didengungkan dan selalu menjadi prioritas manajemen. Kehilangan sekian persen dari penyaluran saja bisa heboh luar biasa!!..ndak tau kalau dari “perang susut” itu kehilangan salah satu konsonannya ??..imho bung Jalo, ..cmiiw..

          • Hehehehehe, saya cuman suka dengan masalah2 pembangunan negeri aja bung. Dan tenaga listrik merupakan sarana produksi maupun sarana kehidupan sehari-hari yang memegang peranan penting dalam upaya mencapai sasaran pembangunan nasional. Maaf kalau ada salah2 kata, mohon dikoreksi.

        • Utk daerah remote area yg punya sungai memadai Pemerintah sebaiknya menyumbangkan dana/peralatan utk pembangunan PLTM utk swasembada rakyat setempat utk mengejar jumlah rumah yg terlistriki …kalo ditunggu PLN ujung2nya semua dihitung dari hitungan ekonomi….dan proyek tenaga Surya atau angin harus melibatkan rakyat setempat jangan spt dulu yg hanya bagus dikonsep implementasi gagal..krn berbau proyek yg sarat ‘fee’..

  5. Kenapa PLTN nggak di lirik…kemarin menolak bantuan Rusia untuk pengembangan PLTN sebagai sumber energi yg maha dahsyat yg bisa menggerakan industri nasional secara melimpah

    • Mungkin belum waktunya bung, denger” sih kita mau mencari investor dibidang panas bumi bung belom berani ngambil yang PLTN. atau masih dipikir dengan jernih maklum bung masyarakat kita masih awam tentang Nuklir. dibenak mereka nuklir itu sayang berbahaya dan tidak aman.

    • bung rangga,

      jawabnya udah tertera gamblang di tabel 5 di atas (yang udah pernah ditampilkan bung Jalo),

      mulai dari harga dasar ($/kw) + semua baris dibawahnya yang mengandung kata ‘cost’, untuk PLTN lebih tinggi, kecuali line item ‘fuel cost’…

  6. maaf OOT , disaat harga bbm naik harga TDL LISTRIK juga ikut naik , akan tetapi saat harga BBM turun pada saat ini kenapa harga TDL LISTRIK juga tidak ikut turun ???

    WHY ?

  7. Pakai pltn beres

  8. sy sarankan untuk didaerah jawa cukup lah…(maaf bukan sara) tp coba tengoklah ditempat lain yg msh mendapatkan giliran pemadaman, tegangan yg msh turun naik, atau mungkin msh memakai lampu teploks

    • Ya bung, dan wilayah yang belum tersentuh juga perlu diperhatikan,,…

      Kalau mau Indonesia Swasembada Listrik, harus ada keinginan kuat dari pemerintah. Tanpa itu 1000 th yang akan datang juga tidak akan bisa merata. CMIIW

  9. bung bedo@..saya liat d berita listrik nonsubsidi tidak jadi d naikan,,
    Coba klik d web nya PLN biar terang,supaya tdk ad kata WHY ?

  10. Saya berharap pemerintah mau berfikir lebih jauh,,..

    Tidak hanya untuk mmenuhi kbutuhan wilayah yang sudah tersalur jaringan listrik untuk 5-10 th kedepan, tpi harus untuk mmulai perluasan Jaringan dan sekaligus berfikir 5-10th kedepan untuk wilayah trsb.

    Kita berharap Listrik tidak hanya berorientasi kpd bisnis, tpi juga digunakan untuk menjaga kedaulatan NKRI,,..
    Karena kita tahu wilayah Indonesia masih bnyak yang belum tersentuh jaringan,,..

    Bangun ssebesar2nya Listrik, karena Listrik sudah menjadi Makanan pokok untuk mmperkuat perekonomian negeri ini,…

    ^^

    • Lebih baik Kelebihan Listrik daripada hanya pas2an, karena seumur hidup hanya akan berfikir mmbangun PLT daripada perluasan jaringan,,..

      Prioritaskan 5-10th untuk mmbangun PLT sebesar dan sebanyak apapun,….

  11. ayo usaha bikin mikro hidro
    lumayan loh listrik di beli PLN 1100/KWh
    hehe

  12. SDM kita banyak yang pinter, tapi sedikit banget yang mampu sebagai implementator.

    SDM yg mampu berlaku dan bertindak selaku implementator justru di “kandang”-kan atau bekerja di bawah ancaman dan tekanan para SDM pinter.

    Mengapa, ? Karena buah implementasinya, mengakibatkan kerugian pada “kantong” para SDM pinter.

    He…he…..he………. opo tumon???

    rapopo, karena bukan urusan saya.

    • jelasnya sih gini aja bung, proyek listrik 10,000 MW yang pertama diimplementasikan di jaman wapres X, setelah itu 5 tahun vakum dibawah wapres Y, malah pengerjaan sejumlah proyek pembangkit dari paket pertama molor sangat panjaaaang hingga hari ini belum selesai…

      sekarang baru akan dikebut paket 35,000 untuk mengejar ketertinggalan akibat vakum 5 tahun tsb, karena indikasi krisis listrik udah muncul di berbagai daerah…

    • Ya sekarang solusi Anda apa? Jgn cuma sinis n negative thingking gitu dong Bung bole ?! Apa gak senang bila negara sendiri maju??

  13. Sebetulnya gx usah rempong..klo pltn di akuisisi rebes semuanya..tinggal bikin jaringan untuk distribusi..
    moga aza kputusan nolak pltn adlh kputusan yg bner..dan ada solusi lain yg lbih baik..
    semoga..

  14. Tidak semua tempat bisa d dirikan PLTN,,terutama daerah yg rawan gempa.
    Baru batam,bangka belitung,dan mungkin jepara yg menyatakan siap program PLTN.
    Selain berbiaya mahal pemahaman masarakat terhadap nuklir sangat rendah,d dalam benak rakyat awam konotasi kata nuklir itu hal yg menyeramkan.

  15. dalam hal ini saya sepakat dengan anda mas…menunggu bukti bukan janji

  16. Lokal sdh bisa buat turbin nggak ya?

    • Untuk saat ini, komponen yang sudah dibuat di dalam negeri adalah kondensor, bailer, travo dan turbin. Kondesor sudah bisa dibuat di cilegon dan sudah diekspor ke negara lain, jadi tidak ada lagi yang mendatangkan dari China. Pabrik boiler yang di Surabaya, pabrik turbin yang di Cilegon, pabrik turbin yang di Bandung, lalu generator dan trafo. Memang lisensinya masih eropa, tapi komponennya menggunakan hasil dalam negeri.

  17. sabar mas,,APBN-perubahan 2015 baru d kirim ke DPR,masih d godok blum d ketok palu.
    Target yg d bidik sudah siap tinggal tunggu anggaran d apbn-p itu.
    Memangnya pemerintah kita tukang sulap,magician.bimsalabim adakadabrah jadi…dlm sekejap infrastruktur jd tanpa ngluarin biaya.

  18. meningkaty kebutuhn listrik akbt meningkaty pertumbuhan penduduk,ekonomi dll pemerintah mmg hrs tanggap seblm terjadi krisis listrik yg parah , bung jalo@ sy mau tanya ni bkn komen .. diatas di uraian bung jalo sy liat begitu bxk batubr yg dibutuhkn seberapa besar cdgn batubr dn berapa thn? dn bgmn dgn gas apa gak di lirik?? dn tuk energi nuklir apa ramah lingkungn ?? bung ank kapuas@ klu tw bg ilmuy ats pertanyaan sy
    salam

    • Sebagian besar batubara itu diproyeksikan untuk kebutuhan listrik sisanya untuk industri. Konsumsi batubara untuk pembangkit listrik diproyeksikan akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 8,2% per tahun, sehingga kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik meningkat dari hampir 53 juta ton pada 2012 menjadi 321 million ton pada 2035. Sementara itu dalam periode waktu yang sama, konsumsi batubara untuk industri meningkat dengan pertumbuhan lebih rendah 7,4% per tahun, atau meningkat dari 29 juta ton ke 151 juta ton. Cadangan batubara sebesar 28,9 miliar ton berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2012.

      Untuk Gas, berdasarkan data KementerianESDM tahun 2012 cadangan terbukti gas bumi sebesar 103,35 TCF. Ini dilirik kok, dan masuk dalam program jangka panjang. Untuk PLTN Guru Besar Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Prof. Dr. Eri Barlian, MS mengatakan, penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) lebih ramah lingkungan dibanding dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

      Di beberapa negara teknologi pengolahan limbah radioaktif telah diterapkan pada PLTN dengan prinsip pengurangan volume, imobilisasi dengan sementasi dan penyimpanan lestari di tempat yang aman dengan sistem pengungkung radiasi.

      Limbah radio aktif dari PLTN yang berupa bahan bakar bekas hanya muncul dalam waktu yang lama atau lebih kurang satu tahun sehingga penanganannya lebih efisien. Ini lebih berdampak positif pada masalah pemanasan global pada bumi dibanding penggunaan fosil.

  19. Malaysia bakal selesaikan PLTN sebelum 2020 tapi Indonesia malah batal buat pltn. KENAPA YA? bukanya lbh irit bahan bakar??

    • Nanti kita lihat progress kedepan bung, rata2 engineernya adalah putra bangsa. Mungkin di negara kita PLTN belum masuk dalam skala prioritas, Singapura sendiri ada rencana akan mulai membangun pada 2020.

      • Klo sampe tidak diterapkan untuk PLTN di Indonesia apalagi sampe tertinggal sama Upil & Sonora ini bikin saya miris bung Jalo, padahal kita sudah mengelola Nuklir dari zaman Presiden RI ke1, dan udah banyak mencetak ilmuwan2 nuklir handal,, manfaat yg dihasilkan dibanding kerugian juga lbh banyak manfaat(sudah pernah ada artikelnya jg).. Jgn sampe putra-putri terbaik kita malah dimanfaatkan sama luar lg bung, lebih2 yg pake tenaganya Upil sama Sonora.. Salam kenal bung Jalo, Salam Persatuan,, NKRI JAYA..

  20. Untuk teman-teman di PLN atau stake holder terkait, atau mereka yg berkepentingan saya mohon dan mungkin permohonan seluruh rakyat indonesia, tolong dipublikasikan tiap tahun,
    1. Berapa total produksi PLN dan non PLN (atau produksi listrik nasional pertahun nya) tiap tahun.
    2. Berapa pendapatan dari tarip dan penjualan PLN, Non PLN (nasional) tiap tahunnya, bila
    perlu Per Golongan harga (pemakai). setiap tahunnya.
    3. Berapa Kehilangan produksi atau potensi pendapatan yang tidak dapat di uangkan sebagai
    penerimaan. (Total Loss).
    Ini penting agar para pelaku dan pejabat PLN dan pejabat terkait serta stake holder menyadari dan berpikir untuk mengatasi persoalan yang di hadapi.
    Siapa tahu diluar PLN diluar pemerintahan dan diluar sana ada banyak alternatif dari publik yg dapat membantu menyelesaikan masalah ini secara tepat dan jitu.

    Namun diluar itu semua yg penting mereka yg terlibat atau para pelaku, jangan sampai menganggap seolah-olah tidak ada masalah.

    Nah yang paling celaka lagi adalah dibiarkan kacau, dibiarkan berantakan, dibiarkan tidak jelas, atau sengaja dibuat kacau sengaja dibuat tidak jelas demi mengeruk keuntungan pribadi dari masalah tersebut.

    Karena kalau kasus pencurian, mungkin bisa belajar dari kasus air PAM jaya, selama berpuluh-puluh tahun merugi dan selalu hampir bangkrut, dan selalu terjerembab dalam berbagai masalah pencurian yg sangat besar, bahkan hampir 40% dari total produksi,. Karena menyadari hal itu maka PAM melakukan berbagai cara agar bisa mengatasi masalah tersebut.
    Lalu apa yg kita petik dari pelajaran tersebut, adalah. Bahwa mereka berusaha mati-matian untuk mengatasi berbagai kasus pencurian. Bahkan tidak segan-segan menggunakan teknologi yg sangat canggih, bahkan pertama di kawasan Asia bahkan dunia. Yaitu teknologi Helium.

    Nah mungkin PLN bisa mencoba.

  21. jas 39@ seperti yg d katakan bung jalo@ pemerintah bukan membatalkan proyek PLTNtp lebih mngejar yg prioritas dan mendesak prihal defisit listrik.
    Bangun PLTN butuh waktu 8-9 tahun,sedang PLTU,PLTA,LISTRIK PANAS BUMI antara 3- 4-5 tahun,
    Malah pemerintah akan memanfaatkan semua bendungan yg sebelumnya hanya utk irigasi,agar bisa d pasangi turbin.
    Saya yakin pemerintah ad kearah sana hanya soal prioritas saja.
    PLTN MINI saja butuh waktu 5 tahun lebih dan rencana BATAN bangka belitung daerah pertama

  22. salam hormat untuk bung Jalo yang memberikan pencerahan secara terstruktur dan sistematis. Saya harap beginilah setidaknya diskusi di warjag. informasi Data dan fakta dibabar shg mencerdaskan dan mengajak kita berfikir kritis menelusuri substansi suatu masalah

  23. Sudahlah Bung, kapan majunya Bangsa ini kalo warganya gak kompak..

    Baru bikin rencana yg bagus aja udah dkritik. Mengkritik jg tolong yg cerdas, jgn terlalu General dan Luas. Kalo cm kritik “Kebanyakan omong omong…dst” itu jg tukang becak bisa..

    Mending Bung catat smua Janji Pemerintah skrg beserta Deadlinenya, atau catat smua dan lihat 4 taun lg kalo tdk terwujud baru boleh dimaki2..

    Baru aja kerja udah dtuntut yg muluk2, orang yg ngasih janji juga kasih tau dalam waktu “5 tahun” bukan sehari semalam, emangnya pake “pasukan jin”….

  24. Listrik…. kasiannya kalimantanku tiap malam kami di kalimantan selatan listrik padam, padahal kami punya Batubara melimpah, tapi batubaranya dikeruk hanya untuk menerangi malam di pulau jawa dan sedikit untuk kalimantan ku

  25. Mana kesiapan PLN untuk program 35.000MW ini ?
    Peraturan Menteri sudah diterbitkan, akan tetapi PLN sampe skrg masih blom ada pergerakan untuk penandatanganan Kontrak antara PLN dengan Pengembang

 Leave a Reply