National Ship Design and Engineering Center (NasDEC)

39
108
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)

Kementerian Pertahanan akan mendukung penuh proyek National Ship Design and Engineering Center (NasDEC) atau Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional. Proyek tersebut merupakan hasil kerjasama Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) dengan Kementerian Perindustrian.

Selain kapal-kapal sipil, rencananya proyek ini juga mengembangkan desain kapal perang. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan sangat mendukung proyek tersebut saat ditemui JMOL di kantornya, Jumat 16/1/15 lalu.

“Pengembangan industri pertahanan dalam negeri merupakan bagian dalam memperkuat pertahanan kita, kita memang mengharapkan kepada BUMN maupun BUMS untuk mengembangkan apa yang mereka mampu buat untuk pertahanan kita,” ujar Ryamizard.

“Kita apresiasi ITS yang sudah mampu membangun proyek tersebut, tentunya kita akan dukung penuh proyek itu, dan saya sangat bangga jika ada anak bangsa ini yang mampu mengembangkan teknologi pertahanan,” ungkap Menhan.

Mantan Kasad di era Presiden Megawati tersebut juga mengharapkan pembangunan-pembangunan teknologi yang berkaitan dengan pertahanan terus meningkat guna menciptakan kemandirian bangsa.

Pihak ITS saat dikonfirmasi mengaku akan terus menunggu arahan berikutnya dari Kemhan mengenai pembangunan proyek NasDEC ini.

“Kita akan menunggu arahan dari pihak Kemhan dalam realisasi program ini, kita berharap semua dapat berjalan lancar untuk kemajuan bangsa dan negara,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Eko Budijatmiko.

“Sejauh ini sudah ada Prancis, Kroasia, dan Swedia yang akan bekerjasama dengan kita dalam program ini, dari situ akan ada yang namanya transfer teknologi, ke depan kita berharap akan ada banyak negara lagi yang akan menawarkan kerjasama kepada kita,” katanya.

Mengenai jenis kapal perang yang akan didesain dalam proyek ini, Eko menjelaskan semuanya akan bertahap sesuai dengan waktu dan kemampuan.

“Tentunya akan bertahap, mulai dari kapal patroli hingga kapal besar seperti Frigat dan Korvet bahkan kapal selam, semuanya tergantung pada transfer teknologi yang terjadi, cuma kita optimis ke depannya, di tempat ini akan bermunculan SDM yang ahli dalam mendesain kapal perang,” ucapnya.

Sementara Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo mengharapkan “National Ship Design and Engineering Center” (NasDEC/Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional) di ITS tidak hanya mengurusi program kemaritiman dalam bidang desain dan rekayasa kapal. ITS juga diharapkan bisa menjadi pusat integrasi radar, karena pencarian AirAsia dengan cepat berkat peran ITS dalam mengintegrasikan radar milik TNI AL, Perhubungan Laut, dan sebagainya.

Ia menegaskan iptek dan inovasi merupakan kunci untuk mandiri, maju, dan kuat yang berbasis maritim. “Karena itu, Presiden menetapkan tekad Indonesia untuk menjadi Poros Maritim Dunia agar tingkat pendapatannya meloncat kepada 10 ribu dolar perkapita, karena itu kita menyusun empat agenda besar kemaritiman,” katanya.

Menteri Indroyono menjelaskan empat agenda besar yakni kedaulatan maritim, sumberdaya alam dan jasa, infrastruktur maritim, serta sumberdaya manusia dan budaya maritim.

“Saya minta para ahli desain dan rekayasa kapal serta ahli integrasi radar dari ITS untuk memajukan program kemaritiman dengan empat agenda besar itu”.

Pemerintah juga berencana membangun sembilan bandara baru di perbatasan, seperti Seibati, Rote, Nunukan, Miangas, Saumlaki, dan sebagainya. Dalam kaitan bandara, pelabuhan baru juga akan dibangun, karena itu ITS bisa berperan dalam desain dan rekayasa kapal melalui NasDEC-ITS.

“Saya sudah melapor Presiden bahwa ITS mampu merancang radar yang terintegrasi, misalnya radar perhubungan laut, radar TNI AL, radar TNI AU, radar pelabuhan, radar bea cukai, dan sebagainya akan terkoneksi,” katanya.

Dengan koneksi lewat radar itulah, katanya, akan memudahkan kinerja pengawasan “Negara Kepulauan”. “Kalau sekarang masih sifatnya laporan dari pangkalan di pulau tertentu, ke Armatim, ke Mabes TNI AL, ke Menko, lalu ke Presiden. Itu terlalu lama, karena itu perlu radar,”.

Keppres tentang Badan Keamanan Laut sudah terbit. “Dengan teknologi radar yang terintegrasi, maka Bakamla akan bekerja lebih efektif, karena jika ada gangguan, maka tinggal kirim kapal AL, kirim pesawat AU, atau lainnya untuk mengusir pengganggu”.

Untuk sumberdaya manusia, sedang siapkan beasiswa untuk riset kemaritiman, termasuk riset yang bekerja sama dengan negara lain, seperti ITS yang sudah bekerja sama dengan sejumlah universitas di Jerman. ( sumber: Jurnal Maritim dan JurnalSumatra).

39 KOMENTAR

    • Bukan meremehkan bung/mas klewang gersik itu kata “semua tergantung pada tranfer teknologi yg terjadi” dari negara2 yg bekerjasama. Nah itu jd pertanyaan, selain itu mungkin tepatnya bukan pusat desain tapi hanya rekayasa atau modifikasi saja.

  1. untuk urusan industri kapal Indonesia udah banyak dan boleh di andalkan, tapi untuk industri udara kok cuma satu doang apakah ngaa pingin nambah lagi, jgn korupsinya aja yg pingin di tambahin, bangun lagi industri kapal terbang untuk anak bangsa berkarya

  2. JAYALAH PRODUK2 NASIONAL INDONESIA, AYO DUKUNG INDONESIA JADI BANGSA YG MANDIRI, CERDAS DAN BERKEPRIBADIAN. JADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI KEKAYAAN HASANAH INDONESIA, JANGAN JADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI JURANG PEMISAH ANTAR SESAMA ANAK BANGSA, KARENA BANGSA INI EMANG DIDIRIKAN DG SEGALA PERBEDAAN DAN KEKAYAAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA. NKRI HARGA MATI.

  3. Slogan ITS CUK.,maksudnya itu Cerdas.,Ulet.,Kreatif.,Gawe opo ae mesti iso.,pokoknya ada dana.,kepercayaan., dn kemauan., Insya Allah Lancar.,
    Waktu sya msih krja jdi tki di mlysia sbg tukang las kapal.,Lbih 70 prsn pkrjanya org Indonesia.,mulai kuli smpk bgian elektriknya.,jg fiter gambar krja.dan tak satupun yg pernah kuliah.,pling tinggi. Sma po stm.,jdi ITS mesti Lbih baik.

      • tanya juga kenapa CUK, kok LEN, BPPT dan lembaga risetnya dari tahun jebot dikasih dana sampai sekarang jangankan sistem kendali yang lebih komplek yang sub sistem seperti gyroscope kok belum bisa bikin sendiri ? karena otomatis rudal sekelas c705 juga pakai itu alat.

        • Dari riset itu tidak bisa serta merta langsung masuk menjadi industri. Ada tahapan-tahapannya.

          Di ITS ada juruan Kimia dan juga Teknik Kimia (selain juga ada Farmasi), jurusan Fisika dan juga Teknik Fisika. Science dan Engineering itu ada ilmu yang overlap dan ada yang berbeda.

          Itu urusan implementasi dari riset ke industri, belum termasuk soal manajemen dan kebijakan yang di dalamnya ada unsur politis, dll.

          Mungkin pernah tahu certia di mana akhirnya APC Anoa dibeli TNI-AD? Padahal Pindad sebenarnya sudah mampu membuat Anoa, bertahun-tahun sebelumnya?

    • Welder itu termasuk pekerjaan technician, tentu beda dengan engineer, dan keduanya saling membutuhkan dan tidak serta merta yang satu dapat dengan mudah menggantikan yang lain karena memang beda ilmunya. Aircraft engineer tentu tidak serta merta bisa menggantikan pilot atau bahkan technician.

  4. ini bukannya kapal perang …yang stealyh ala ITS itu ya…?
    dg menggunakan material anti radar berbasis pasir besi….yang sdi olah sedemikian rupa.

    tapi kok gambar diatas itu PKR 10514 yg di tangani oleh PT PAL, berbasis design dari SIGMA damen…?

    kasih dong gambar design kapal ITS nya..?

    atau jangan2 desainnya kolaborasi antara PT PAL + Damen + ITS nih…? dan tetap menggunakan basis SIGMA….sbg final desainnya..

  5. Modul V mungkin berisi sensor-sensor seperti radar dll.
    Nah bagaimana dengan Modul III? Apakah mesin dan propulsi?

    Senjata dan sistem manajemen ada di modul yang dibuat di PT PAL?

    Dengan Modul I, II, IV, dan VI (4 dari 6 modul) dibuat di PT PAL, berarti sebenarnya sudah terlihat PT PAL akan mampu membuat kapal perang yang lebih besar.