Jun 222018
 

JakartaGreater.com – NATO pada hari Selasa meluncurkan strategi Joint Air Power (JAP) baru yang memungkinkan pasukan udara sekutu untuk lebih fleksibel dalam membela diri terhadap sesama pesaing dan setiap kontingensi dengan fokus pada pertumbuhan peran aset berbasis cyber dan ruang angkasa.

Dilansir dari laman Sputnik, strategi terbaru membayangkan “pendekatan yang seimbang dan inovatif” untuk JAP dalam menyediakan kapasitas militer yang koheren, meningkatkan pengembangan postur NATO yang lebih kredibel dan fleksibel.

“Pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dingin, aliansi NATO harus mampu melakukan operasi terhadap setiap aktor negara-sejawat. Akibatnya, lingkungan operasional masa depan dapat menjadi salah satu dimana keunggulan udara tidak dapat dijamin pada awal operasi atau, saat digunakan menjadi kondisi yang bertahan lama”, menurut isi dokumen tersebut.

Dalam hal ini, strategi tersebut menekankan semakin pentingnya kemampuan dunia maya dan berbasis ruang angkasa dari kekuatan-kekuatan sekutu.

“Meningkatkan ketergantungan pada kemampuan berbasis ruang angkasa dan siber oleh pasukan aliansi ini menghadirkan kerentanan bagi musuh untuk meniadakan kemampuan kritis NATO melalui degradasi, penolakan atau penghancuran, sementara itu memberikan kesempatan bagi aliansi untuk mengintegrasikan kemampuan tersebut dengan JAP demi efek kinetik dan non-kinetik”, tulis strategi itu.

Dan menambahkan bahwa oleh sebab itu, ketahanan dan juga eksploitasi kemampuan semacam itu merupakan persyaratan penting yang harus ditangani oleh pembangunan kekuatan NATO di masa depan.

Sebelumnya, NATO memulai latihan tahunan Ramstein Alloy. Manuver termasuk latihan kebijakan udara, di wilayah udara Estonia, Latvia dan Lithuania. Latihan ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, NATO telah meningkatkan kehadiran militernya di Eropa Timur dan juga negara-negara Baltik, mengatakan bahwa mereka melindungi diri dari apa yang disebut sebagai “agresi Rusia”.