Dec 282016
 

Pilot Rusia terlibat dalam perang di Suriah

Jakarta – Meskipun sampai tahun lalu campur tangan asing di Suriah masih berada di bawah bayang-bayang, namun banyak pengulas yang sudah berbicara tentang “perang perwalian”.

Perang perwalian masih berlangsung hingga 2015, tapi pada 2016 negara adidaya memperlihatkan keterlibatan secara pribadi dalam konflik hampir enam tahun di Suriah.

Sejak awal krisis Suriah, Turki telah memperlihatkan keberpihakan pada kelompok perlawanan. Belakangan Ankara memainkan peran penting dalam mendukung gerilyawan dengan tujuan menggulingkan Pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Sepanjang waktu, Ankara mendukung gerilyawan dari jauh, dengan mengizinkan senjata dan petempur asing dikirim melalui wilayah itu, selain membantu mendirikan kamp pelatihan untuk gerilyawan.

Tapi pada 2016, kondisinya berbeda! Ankara mulai mengirim tentara ke Suriah untuk mendukung sebagian kelompok gerilyawan yang telah lama didukungnya.

Ada banyak alasan di balik pengiriman pasukan khusus dan tank Turki ke dalam wilayah Suriah.

Alasan nyatanya ialah mendukung kelompok gerilyawan Tentara Suriah Bebas (FSA) dalam perang melawan kelompok IS, yang berlindung di balik kegiatan yang disebut Tameng Kekhalifahan.

Alasan kedua, yang menjadi alasan utama, ialah mengizinkan FSA mengisi kekosongan di daerah yang direbut dari IS guna memotong jalan sebelum petempur Kurdi dapat mengambil-alihnya. Sebab, garis merah Ankara ialah peningkatan pengaruh Kurdi di Suriah Utara dan perbatasannya.

Itu semua adalah sasaran pertama yang diumumkan secara nyata di balik kegiatan Ankara sampai Presiden Recep Tayyip Erdogan diberitakan belum lama ini mengatakan Tentara Turki memasuki Suriah untuk mengakhiri Presiden Bashar al-Assad.

Erdogan menuduh Bashar melakukan aksi teror dan mengakibatkan kematian ribuan orang! “Kami masuk (ke Suriah) untuk mengakhiri kekuasan … (Bashar) al-Assad, yang meneror dengan memanfaatkan negara. Kami tidak masuk karena alasan lain apa pun,” kata Presiden Turki tersebut –yang dikutip harian Hurriyet pada November.

Osama Danura, seorang pengulas politik, mengatakan kepada Xinhua campur tangan internasional di Suriah telah menjadi lebih penting dan lebih jelas dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

“Negara semacam itu telah mulai terlibat secara langsung setelah kelompok yang didukungnya gagal mencapai rancangannya dalam menjatuhkan pemerintah dan negara Suriah,” katanya. Namun ia memperingatkan campur tangan semacam itu akan meningkatkan risiko terorisme di wilayah tersebut.

“Tak diragukan bahwa campur tangan Turki lebih nyata tahun ini,” kata Danura. Campur tangan Turki telah menjadi lebih mencolok dibandingkan dengan kapan pun, terutama setelah masuknya pasukan dan tank Turki ke dalam wilayah Suriah.

Sementara itu, Danura –yang memegang gelar PhD dalam bidang Ilmu Politik dan salah satu perunding pemerintah dalam pembicaraan Suriah di Jenewa– tidak menyembunyikan kemungkinan mengenai bentrokan langsung pada satu tahap antara militer Suriah dan pasukan Turki.

Namun, katanya, bentrokan semacam itu mungkin masih jauh.

Sementara itu Amerika Serikat juga telah berulangkali menyerukan penggulingan Bashar, dan selama bertahun-tahun perang di Suriah, tampaknya Washington sedang mencari sekutu kuat yang bisa diandalkan di lapangan.

Pentagon pada Sabtu (10/12) menyatakan Amerika Serikat akan menggelar sebanyak 200 prajurit tambahan AS ke Suriah dalam aksi militer militer melawan IS.

Menurut satu pernyataan Pentagon, tambahan tentara AS tersebut akan meliputi personel pasukan operasi khusus, pelatih, penasehat dan tim penjinak peledak.

AS telah melatih beberapa kelompok gerilyawan dan bahkan memperlihatkan standard ganda dalam menangani mereka. Sekarang Washington mendukung kelompok gerilyawan yang bertikai, FSA –yang didukung Turki, dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), pimpinan Kurdi.

Tetap saja kehadiran AS di Suriah, yang dimulai pada penghujung 2014 –saat serangan udaranya mulai ditujukan ke posisi IS, juga menjadi makin jelas pada tahun ini.

Pada September, bendera AS dikibarkan di satu pangkalan Kurdi Suriah di Suriah Utara di dekat perbatasan Turki.

Di Tal Abyad di pinggiran utara Kota Raqqa di Suriah Utara, bendara garis dan bintang dikibarkan oleh Satuan Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Pada bulan yang sama, kantor berita Kurdi –Kurdistan24– menyatakan satuan militer yang diduga adalah Marinir AS mendirikan beberapa pos pemantauan di Tal Abyad dan mengibarkan beberapa bendera AS di dekatnya.

Masalah bendera tersebut muncul empat bulan setelah beberapa laporan mengatakan 150 personel pasukan khusus AS memasuki Kota Rmailan, yang dikuasai Kurdi di Kota Hasakah di bagian timur-laut Suriah.

Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Suriah menanggapi dengan satu pernyataan, “Kami telah menerima laporan mengenai masuknya 150 prajurit AS ke dalam wilayah Suriah di Daerah Rmailan.” Ditambahkannya, tindakan tersebut “gelap, tidak sah, dan dilakukan tanpa izin dari Pemerintah Suriah”.

Sementara itu Presiden AS Barack Obama pada April malah mengumumkan pengiriman tambahan 250 personel pasukan operasi khusus ke Suriah, dalam “upaya menghambat pengaruh dan penyebaran IS”.

Namun, keinginan Amerika Serikat sejak dulu telah dipertanyakan, dan Pemerintah Suriah menyampaikan keraguan mengenai sasaran sesungguhnya di balik aksi AS terhadap IS.

Dua pendapat Pemerintah Suriah memang menganggap campur tangan AS sebagai aksi berbahaya, dan tindakan Rusia sebagai perbuatan baik. Tapi kebenaran adalah kebenaran bahwa Rusia juga telah makin terlibat belakangan ini dalam perang melawan gerilyawan dukungan Barat.

Sejak memasuki Suriah untuk membantu pasukan Pemerintah di Damaskus, Rusia telah memasukkan makin banyak perangkat militer dan sekarang sedang mempertimbangkan untuk mendirikan pangkalan jangka-panjang di Suriah.

Tahun ini saja, Moskow menggelar sistem kekuatan udaranya S300 dan S400, yang tangguh, di pangkalan udara yang digunakannya di Humaiman di Kota Pantai Latakia untuk membela pasukan Suriah dan Rusia.

Ketua Komite Dewan Federasi Rusia mengenai Pertahanan dan Keamanan Viktor Ozerov dilaporkan mengatakan Moskow menandatangani kesepakatan dengan Pemerintah Suriah untuk mendirikan pangkalan Angkatan Laut permanen di Kota Pantai Tartus.

Menurut kesepakatan itu, Moskow akan menggunakan pangkalan Humaiman tanpa biaya, dan kesepakatan tersebut juga mengizinkan Rusia mengangkut senjata apa saja, amunisi atau perlengkapan ke Suriah tanpa pajak atau bayaran.

Meskipun banyak negara terlibat dalam krisis Suriah, namun beberapa pengulas percaya pembicaraan mengenai “Perang Dunia III” terkait kemelut Suriah “tidak logis”.

Mereka mengatakan setiap negara besar saling memiliki kepentingan yang lebih besar ketimbang keterlibatan dalam perang langsung di Suriah.

Maher Ihsan, seorang pengulas politik, mengatakan kepada Xinhua kemajuan militer Suriah di banyak medan, terutama di Kota Aleppo di Suriah Utara, adalah yang penting saat ini.

Ia menyatakan kemenangan militer Suriah di Aleppo dan daerah sekitarnya berarti kendali pemerintah atas kota besar utama di negeri tersebut, yang akan mendukung pendirian Suriah dalam setiap dialog mengenai penyelesaian.

Ia menambahkan negara adidaya akhirnya akan mencapai konsensus guna menyelesaikan perang Suriah setelah mencapai kepentingan mereka tanpa terjerumus ke dalam bentrokan langsung.

Antara

Berbagi

  11 Responses to “Negara Asing Semakin Terlibat Konflik di Suriah”

  1.  

    OM …. PERTAMAX … OM

  2.  

    APAKAH BENAR SAAT YANG ITU HAMPIR DATANG…
    APAKAH BENAR PD 3 SEDANG BERAWAL….
    JIKA BENAR….MAKA SUNGGUH MENGERIKAN…

  3.  

    spy ramai tdk sepi komentar sy kasih saran tambahin menunya yaitu Kriminalitas baik pidana atau perdata

  4.  

    Hidup NKRI, aman damai sejahtera…. Paling perang di medsos. Itu saja sekarang di batasi.

  5.  

    Semoga krisis suriah cepat selesai, aman dan damai, rakyat nya hidup rukun. …….. !!!

  6.  

    Perang Besar campur tangan negara” besar pimpinan rusia “bangsa rush” blok timur dengan pimpinan USA “amiriki” blok barat ( perang akhir jaman ) berawal dari negeri syria, Proses sedang berjalan.
    ( Menandakan turunnya DAJJAL di antara perbatasan syria-israel )

    •  

      Iya ini mah hasil kerja zionis sob…bikin Arab spring dng proxy war sunni syah…false flag…biar Arab jadi boneka zionis plus tdk usik isroil…kuncinya zionis isroil yg harus di delete…IMHO y bung

  7.  

    sudah kelietan para proksi kecapekan dalam sdm dan lelah panjang dalam perang 6tahun disuriah,saatnya para pemainan regional dan besar turun tangan ke medan sesungguhnya.

    bagi turki operasi dilwilayah selatan sebenar mencegah kekuatan kurdi semakin kuat dan separatisme diuatara suriah membentang dr iraq dan suriah,bagi turki isis merupakan ular mengebuk lawannya,karena ular skrg bisa membALAS,sekalian operasi memgebuk sambil minum ai: kurdi dan isis,sedangkan fsa kehilangan moralitas mental kekalahan diallepo misi utama berat untuk menjatuhkan rezim al assad.(isis jual minyak kemana,jual artefak lewat mana,selentingan berita berapa tahun lalu petugas perbatasan pernah menangkap truk berupa logistik senjata milik hehehehe cr sendiri infonya)

    bagi rusia kapan lagi mencari panggung dunia sekalian memantap kan pangkalan diselatan nato(laut medinetarnia)sekalian mendayung dua tiga pulau tercapai(titik regional memantapkan geopolitik,sekalian memamerkan alussita senjata rusia,sekalian menghajar terorisme banyak dr daerah selatan rusia)

    bagi iran inilah memantapkan peran regional sekalian,sekalian proksi2 berhasil atau tidak,pengalam2 tempur darat khususnya ircg inilah merupakah ujung tombak kalo terjadi perang antar negara2 berkepentingan,dengan berhasil diiraq,suriah,lebanon juga membantu yaman akan datang,iran merupakan negara regional dihitungkan.

    bagi israel musuh bertikai dengan musuh baginya itu kepentingan tidak usah ikut campur terlalu dalam,kalo menjatuhkan rezim alassad sepertinya akan membuat musuh didepan perkarangan depan,sekarang musuh2 lagi musuh2an,cukup berjaga2 saja(rezim alasad,hizbulah iran lagi perang lawan fsa,pemberontak belum tentu sekutu israel)

    bagi amrik serikat memasukkan pasukan kembali seperti buah silamakama,tapi membiarkan iran dan rusia memgambil alih sangat2 membahayakan sekutu dekatnya,sekalian memantapkan kukunya perlu pendukung salah satu adalah kurdi,ini proksi dijalankan oleh amrik serikat.

    sedangkan qatar dan arab saudi hampir tidak mengirimkan pasukan atau sdm,cm memainkan diplomatik dan bantuan logistik dll,kurang greget dalam menyelesakain kasus suriah

    sedangkan eropa kurang lebih kene efek tidak langsung teror sepanjang tahun,belum pengungsi berjumlah hampir 1juta jiwa lebih.

    opini pribadi saja,kalo salah dimaafkan saja(dalam dirty war anak asuh proksi tidak PENTING LAGI kadang dikorbankan dan dibiarkan itu sudah ada disejarah militer dunia silakan membaca dirty war world baik perang regioanal,teror,narkotika,oil,sda)

    salam damai selalu

 Leave a Reply