Jul 162019
 

F-35 Israel. (U.S. Embassy Tel Aviv via commons.wikimedia.org)

Tel Aviv, Jakartagreater.com  –  Sebelumnya, sekretaris Jenderal Hizbullah memperingatkan bahwa Israel berada dalam jangkauan Rudal kelompok militan Lebanon, ketika perdana menteri Israel mengatakan kepada sekutu Teheran itu bahwa wilayah Iran berada dalam jangkauan pesawat tempur Israel, dirilis Sputniknews.com,  Minggu 14-7-2019.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi klaim pemimpin gerakan Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah baru-baru ini bahwa Israel akan berada di “ambang lenyap” jika terjadi perang baru dengan kelompok militan.

Menyebut komentar Nasrallah “kata-kata sombong,” Netanyahu memperingatkan bahwa jika Hizbullah “berani melakukan sesuatu yang bodoh dan menyerang Israel, kami akan memaksakan pukulan militer yang menghancurkan pada Hizbullah dan Libanon.” Netanyahu membuat komentar pada pertemuan kabinet pada hari Minggu 13-7-2019, Jerusalem Post melaporkan.

Mengatakan dia tidak akan menjelaskan secara terperinci untuk “menguraikan rencana kami,” Netanyahu mencatat bahwa “sudah cukup untuk mengatakan bahwa selama bertahun-tahun Nasrallah menggali terowongan teror, yang kami hancurkan dalam beberapa hari.”

Peringatan perdana menteri Israel itu disampaikan di tengah pernyataan baru-baru ini dari Nasrallah, yang memperingatkan bahwa Israel akan “dimusnahkan” jika mendapati dirinya terlibat dalam perang antara AS dan Iran.

“Iran dapat membombardir Israel dengan keganasan dan kekuatan,” kata Nasrallah, berbicara kepada saluran televisi Libanon Al-Manar. “Ketika Amerika memahami bahwa perang ini dapat melenyapkan Israel, mereka akan mempertimbangkan kembali,” tambahnya.

Pekan lalu, Netanyahu menanggapi peringatan seorang anggota parlemen Iran bahwa “masa hidup Israel” akan dipersingkat jika sekutu Tel Aviv AS menyerang Iran, mengatakan pesawat tempur Israel, termasuk pesawat tempur F-35 yang baru, dapat “mencapai mana saja di Timur Tengah, termasuk Iran.”

Militer Iran mengecam Netanyahu atas pernyataan tersebut, mengatakan Iran memiliki hak yang sah untuk pertahanan diri berdasarkan Piagam PBB, “ajaran Islam” dan strategi pertahanannya sendiri.

Israel dan Hizbullah terakhir bentrok di Libanon pada tahun 2006, dengan pasukan Israel menyerang negara Mediterania setelah Hizbullah menculik 2 tentara Israel dalam serangan lintas perbatasan. Konflik, yang berlangsung selama 34 hari, merenggut nyawa lebih dari 1.300 orang, dan menyebabkan miliaran dolar kerusakan infrastruktur Lebanon, dihentikan setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB.

Hubungan bilateral antara Israel dan sekutu Iran Hizbullah telah buruk selama beberapa dekade, dengan kedua kekuatan memutuskan hubungan diplomatik formal setelah Revolusi Iran 1979.

Israel secara intens melobi Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan perjanjian nuklir Iran 2015, dengan Perdana Menteri Netanyahu membuat presentasi media tentang dugaan upaya Iran untuk menyembunyikan kegiatan nuklirnya dari dunia hanya beberapa hari sebelum Trump mengumumkan bahwa AS akan membatalkan kewajibannya di bawah perjanjian dan menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Para pemimpin dan pejabat militer dari kedua negara telah berulang kali mengancam satu sama lain, dengan Israel juga menuduh Iran menjalankan kampanye proksi anti-Israel di negara-negara tetangga, termasuk Lebanon dan Suriah. Iran telah membantah klaim tersebut, dan mengatakan bantuan Suriahnya ditujukan untuk menghilangkan teroris di negara yang dilanda perang.

  2 Responses to “Netanyahu dan Nasrallah Saling Mengancam”

  1.  

    isroil selalu licik.dulu dlm perang kl tdk di bantu mamarika ig sdh hangus di telan bumi.
    di ceritakan dlm sejarah perang dgn arab waktu itu pswt isoil yg jatuh di tembak selalu dpt ganti dri mamarika

    •  

      Pada 13 Mei 1967, Soviet memberikn informasi kpd mesir bahwa Israel mengumpulkan pasukan di perbatasan mereka dengan Suriah, dan hendak melancarkan serangan.
      Tpi tdk ditanggapi mesir & koalisinya arab utk menyerang israel lbh dulu,
      sehingga Israel meluncurkan serangan kejutan 5 Juni terhadap pangkalan udara Mesir dan menghancurkan angkatan udaranya, sudh sulit bagi mesir pd saat itu utk brtahan, seharusnya mesir & koalisi arab lbh dulu menyerang israel,
      Sprti kata khrushchev kami tidak mengalahkan lalat dengan lubang hidung kami!” :lol: yang berarti, Kami tidak membuang waktu kami.

      Israel menyerang lbh cepat krna israel tau kualitas pesawat yg dibawanya tdk bisa menandingi pesawat buatan soviet jk bertarung udara ke udara.
      Jadi begini jika seandainya mesir & arab menyerang israel timteng atas dasar informasi soviet lbh cepat? Maka amerika otomatis akan memilih netral & brupaya mndamaikn sj karna amerika sudh memohonkn fakta detente ke soviet, lagian soviet sudah mncermati poltik amerika ditimteng lbh memihak arab, krna amerika kapitalis, inggris & francis tdk akn mmbantu israel langsung krna soviet sudh mengultimatum inggris & francis akan diserang soviet sprti yg prnah diucapkan khrushchev dahulu
      :lol: :lol: