Ngapain Loe di Papua ?

69
101
image
Thomas Dandois, warga Prancis yang menjadi tersangka dan ditingkap di Wamena, Papua

Kepolisian Indonesia mengatakan, dua orang warga Prancis yang ditangkap di Wamena, Papua, Kamis (07/08), telah ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar aturan keimigrasian.
Menurut polisi, Thomas Dandois, berusia 40 tahun, dan Valentine Bourrat, 29 tahun, datang ke Indonesia dengan visa kunjungan, namun mereka disebut melakukan kegiatan lain, termasuk jurnalistik.

Polda Papua mengatakan, Kantor Keimigrasian di Papua telah menetapkan dua orang itu sebagai tersangka. “Tersangka untuk pelanggaran kasus keimigrasian yaitu menyalahgunakan dokumen perjalanan yaitu paspor dan visa,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (14/08), sore.

Sampai Kamis sore, menurutnya, dua orang warga Prancis itu masih ditahan di Kantor Imigrasi Jayapura. Polda Papua, masih mendalami kemungkinan dugaan keterlibatan dua orang jurnalis Prancis itu dengan kelompok separatis di Papua.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan, dua warga Prancis yang bekerja untuk Stasiun TV Arte di Prancis ini semula mengaku sebagai turis, tetapi setelah dimintai keterangan mereka mengaku sebagai wartawan.

Keterangan polisi menyebutkan, mereka bertemu, mewawancarai, dan mengambil gambar sejumlah orang di Papua yang belakangan disebut sebagai anggota kelompok separatis.

Graffiti di Jayapura yang menuntut pemisahan Papua dari Indonesia
Graffiti di Jayapura yang menuntut pemisahan Papua dari Indonesia

Menuntut dibebaskan
Kelompok pembela wartawan, Reporters Without Borders, RWP telah mengecam penangkapan dua orang jurnalis tersebut dan menuntut agar mereka segera dibebaskan.

Menurut RWP, Thomas Dandois sebagai wartawan memiliki “integritas dan kejujuran”. Dia juga pernah ditahan di Nigeria pada 2007 karena meliput aktivitas kelompok separatis Tuareg.
Dandois dikenal pula sebagai wartawan yang pernah meliput di wilayah konflik seperti Somalia, Burma, Kosovo, Darfur dan jalur Gaza.

Anggota Dewan Pers, Nezar Patria mengatakan, pihaknya telah dihubungi Kedutaan Prancis di Jakarta dan RWP yang menyatakan bahwa dua orang itu adalah wartawan.

Kekerasan di Papua ada yang mengaitkan dengan isu separatisme.
“Kita juga sudah mengirim surat untuk meneruskan pemberitahuan dari Kedutaan Prancis, RWP dan juga dari kantor mereka bekerja, yang menyatakan keduanya adalah jurnalis,” kata Nezar Patria kepada BBC Indonesia.

Dewan Pers, menurut Nezar, juga menuntut agar mereka segera dibebaskan. “Dan kalau ada pelanggaran UU Keimigrasian, sebaiknya dia dipulangkan dan tidak ditahan,” katanya.
Sejumlah kasus kekerasan kembali muncul di Papua belakangan ini, yang korbannya meliputi pihak sipil, anggota polisi dan TNI serta kelompok separatis bersenjata.

Pemerintah Indonesia melarang jurnalis asing meliput di wilayah Papua dengan alasan keamanan mereka sendiri. (BBC Indonesia).

69 KOMENTAR

  1. Ngapain loe di papua..??? Merakbal ni orang,ngaku turis padahal wartawan, lagian ape yg dicari emang nih negara lagi keadaan perang ape, mendingan loe ke gaza noh banyak pelanggaran HAM, antek” asu mulai bergrilya nih, bagusnye di sniper biar headshoot..!!!

    …..NKRI HARGA MATI….

  2. Bagaimana kalau seandai nya situasi untuk membebaskan kedua wartawan ini di persulit dengan ada nya dukungan rakyat melalui pergerakan2 massa? Ormas2 Nasionalis digerakan dijalan2 diseluruh Indonesia untuk melakukan aksi demonstrasi (damai) dan menuntut hukuman mati atas kedua wartawan perancis ini, jadi skenarionya, pemerintah mendapat tekanan politis dari dalam negeri sehingga mempersulit pemerintah untuk mengambil kebijakan sesuai permintaan Perancis. Nah setelah itu baru ajukan deal2 belanja alutsista yang menguntungkan Indonesia yg selama ini sulit didapat dengan mengikutsertakan kedua wartawan ini didalam klausul nya hehe.. ngayal.com.

  3. Melakukan penyalahgunaan ijin tinggal menurut saya sudah seharusnya dihukum dan ditangkap spt yg lainnya. Harus ada persamaan hukum disini. Bila negara kita mau dihormati, maka kita harus tegas kepada siapa saja tanpa pandang asal negaranya. Contohlah cina, rusia, apalagi amerika, seorang yang nulis di twiternya sbg pendukung isis disana saja ditangkap.

  4. mungkin yang lebih baik adalah dengan melakukan tindakan balasan secara politis, dimana kita bisa membeberkan sepak terjang negatif mereka selama di indonesia kepada media dalam & uar negeri. spt: mungkin kasus pedophile atau pun kasus tindak asusila atau penyalahgunaan visa kunjungan. bisa pula dengan mempersulit warga perancis yang diindikasi sebagai “tamu” ke indonesia.

    sehingga pihak perancis akan berpikir ulang untuk melakukan tindakan serupa kepada indonesia di masa depan.

    maaf, cuma pikiran penonton drama politik melo ala amrik….