Oct 052012
 

TNI AD akhirnya memesan juga Anti-Tank Guided Missile untuk melengkapi modernisasi Alutsista AD yang sedang dibangun KASAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo.  Salah satu jenis ATGM yang sedang dipesan adalah NLAW (Next Generation Light Antitank Weapon) buatan SAAB Bofors Dynamics, Swedia bekerjasama dengan Inggris.

ATGM sistem fire and forget ini  secara resmi digunakan  Inggris sejak  tahun 2009.  Inggris memesan 20.000 NLAW untuk pasukan:  Darat, Royal Marines and Royal Air Force Regiment.

ATGM ini dipilih Indonesia karena praktis dan ringan, cocok untuk postur prajurit Asia/ Indonesia. ATGM NLAW cukup dioperasikan  seorang prajurit, untuk menghancurkan berbagai jenis main Battle Tank modern, dengan  sekali tembak.  Dengan bobot  12,5 Kg NLAW memiliki kemampuan: Predicted Line of Sight,  Attack modes Selectable,  Overfly Top Attack atau Direct Attack.

ATGM NLAW

Namun kelemahan ATGM ini adalah jarak tembaknya yang cukup pendek,  20 hingga 600 meter. Pendeknya jarak tembak ATGM NLAW dianggap tidak masalah jika dikaitkan dengan kondisi geografis Indonesia yang relatif lebih banyak menyediakan tempat perlindungan, berupa bukit dan gunung serta hutan dan rawa.

Anti Tank NLAW termasuk ATGM lightweight yang lebih menekankan kepada aspek mobilitas operatornya.  ATGM ini juga dianggap cocok untuk perang kota  di mana NLAW bisa diluncurkan dari ruang ruang tersembunyi dan sempit.

Tentu tidak lucu jika postur tentara Asia yang badannya lebih kecil daripada tentara Eropa harus membawa-bawa ATGM yang berat.  Sama halnya tidak mungkin pasukan PARA Indonesia menggunakan parasut ukuran prajurit Eropa, karena bisa jadi tidak akan mendarat-darat karena payungnya terlalu besar, kontras dengan badan prajurit yang kecil.

Meski demikian TNI AD tetap berkeinginan mendatangkan ATGM Javelin, karena memiliki kemampuan yang tidak tergantikan oleh ATGM NLAW.  ATGM Javelin buatan Amerika Serikat ini memiliki jarak tembak efektif lebih jauh yakni 2,5  kilometer.

ATGM Javelin

Jika ATGM NLAW Swedia hanya berbobot 12,5 Kg, maka Javelin memiliki bobot jauh lebih berat yakni 50 Kg, nyaris seberat tubuh prajurit itu sendiri.  Untuk itu ATGM Javelin, hanya digunakan untuk keperluan-keperluan khusus. Kelebihan ATGM Javelin, selain bisa mengancurkan main battle tank, ATGM ini juga bisa menghancurkan tembok pertahanan musuh serta helikopter. Dibutuhkan waktu hanya 30 detik untuk menghidupkan dan memanaskan sensor ATGM Javelin. Begitu sensor telah siap, ia  segera mengunci sasaran dan menembaknya dengan hulu ledak ganda.

ATGM Javelin

Walau harganya mahal namun ATGM Javelin dianggap mumpuni, sehingga harus dimiliki TNI AD.  Kemungkinan besar TNI AD akan mengkombinasikan penggunaan ATGM NLAW dan JAVELIN, untuk mendapatkan military balance dibandingkan dengan kekuatan tempur di kawasan. (JKGR).

  34 Responses to “ATGM NLAW dan Javelin”

  1.  

    Kalau iya, hanya satu kata : “bongkar”

  2.  

    Wess TNI AD akan semakin mantap, diikuti dengan TOT ga ya..??

    •  

      Yang ini tampaknya tidak Ada embel embel tot-Nya. TNI membeli alutsista berprinsip dasar karena kebutuhan. Syukur-syukur bisa ToT. Jadi pertimbangan pertama untuk membeli alat bukan tot, melainkan kebutuhan.

  3.  

    Dikasih nggak ya sama pakde Sam kalau TNI AD ingin membeli Javelin, terus kalau diembargo gimana?
    India saja ditolak mentah – mentah!

  4.  

    klo dibolehkan membeli ya bagus, pertahanan TNI AD akan semakin kuat

  5.  

    apakah ATGM NLAW bisa juga dipakai untuk anti personil?

    •  

      ATGM NLAW bukan untuk soft target, melainkan untuk hard target seperti kendaraan lapis baja. Untuk soft target ada: Mortir, Roket Rhan, MLRS Astros II, Meriam Caesar 155 mm, atau TP Anti Personel

      •  

        Betul, walau tidak tertutup kemungkinan suatu regu infanteri dengan ATGM ‘tergoda’ melakukan overkill (not worth doing) dan menembak 1 truk militer bak terbuka yang mengangkut belasan tentara lawan…

  6.  

    Perlu dihitung dulu jumlah personil yang akan dijadikan sasaran, salah2 tidak ‘balik modal’ 🙂

  7.  

    Sumbernya darimana ?ªª kok release dephankam gakk ada,,gakk kedengeran

  8.  

    apa tdk ada rencana utk memakai missil anti tank KORNET…apa kemahalan atau kurang canggih kok tdk dipertimbangkan oleh TNI AD…?

  9.  

    saya sebenarnya berharap TNI AD ini menjauhi pikiran membeli senjata dari USA…krn rawan embargo….krn itu…seharusnya KORNET dan Mattis…perlu dipertimbangkan dlm shopping lists th depan…tappi yaa…pengguna lebih mengerti kebutuhan mereka sendiri….

    •  

      Kita pernah di EMBARGO Rusia/Uni Soviet !!!
      Hasilnya sama dengan embargo AS, LUMPUUUHH.
      Tahun 60-an Angkatan kita disegani, besar dan kuat, namun setelah diembargo Uni-Soviet kita Lumpuh.

      yang benar adalah berimbang, kita beli dari Rusia, AS, Eropa, Afrika, bahkan Elien sekalipun.

      dan yang superbenar adalah : PRODUKSI SENDIRI

      •  

        Ada baiknya kalau kapan2 kita ini mendirikan akademi riset tekhnologi militer….
        Agar bisa mengurangi ketergantungan dan jauh dari kekuatiran embargo militer…

    •  

      tapi saya lebih setuju jika indonesia berkiblat penuh dengan rusia ! alasannya ya karena keharmonisan yang erat di era soekarno 🙂

  10.  

    stuju kalo kita perlu mengurangi produk dari us krn us bermuka dua dan mungkin bermuka tiga

  11.  

    Rudal Anti tank tidak perlu yang mahal yang penting teknologinya bisa kita tiru
    Karena kedepan konsep perang ?d?lah perang jarak jauh
    Maka kapal kombatan dan armada pswt tempur pemukul dan juga pesawat awacs ,,sam jarak menengah dan radar militer merata on 24 jami tu diutamakan dahulu

    Kita kadang sering dikadalin oleh produsen hanya diberi rudal jarak pendek..pertahanan titik ataupun sistim pengindraan yang sudahh out of date diberikan kpd kita agar anggaran kita terserap habis tapi mendapatkan teknologi kelas dua ataupun yang gampang dijaming dan dipatahkan

    Kekuatan pemukul udara dan laut superior diperlukan indonesia..
    Agar pola perang asimetris dengan tetangga tidak harus kita gunakan

    •  

      benar, semua produsen pasti melakukan DOWN-GRADE bagi ekspor alutsista,baik AS, Rusia, China, dst. dan TNI tau itu. maka diperlukan ToT dalam semua pembelian oleh TNI meskipun agak mustahil.

    •  

      Mungkin perlu thread diskusi baru terkait Apache / Super cobra ini, apakah memang urgent?
      Karena dengan akuisisi Leopard saja TNI sudah unggul kualitas dan kuantitas dari MBT sebelah, ditambah Maverick (yang barusan berlatih menembak dengan AGM ini adalah skadron Hawk dari lanud Supadio, yang paling dekat dengan ‘sasaran’, seandainya terjadi), plus akuisisi ATGM plus Mi 35 walaupun katanya berisik tapi lumayan gahar sebagai back-up.
      Apakah tidak lebih baik memperbanyak pengadaan Maverick, 18 biji terlalu tanggung?

      •  

        > “apakah memang urgent?”

        >> TNI AD akan mengutamakan peruntukan anggaran pada keperluan yang lebih penting dan mendesak.

        Ya udah, cuoocok kalau gitu. Tadinya saya duga masih mikirin MBT sebelah sehingga akan beli Apache (karena DNA Apache, sama seperti saudara misannya A-10, memang ‘tank killer’). Untuk peran CAS dan air escort ada opsi lebih murah.

        Berhubung ini demi TNI dan RI, saya janji gak akan nulis ‘gua bilang apa’.

        Wah, kok malah nulis – bwahaha…

  12.  

    buat ribuan roket R HAN….buat bombardir…sy kra udh kelabakan…tuh msh

  13.  

    lumayan laah jadi baikan dengan jevelin…
    kemaren2 pleton yonif raider 500 klo jogging
    sering bawa2 5 biji launcher PF-98 120mm norinco

  14.  

    Ada yang masih harus dipenuhi dan urgent untuk kedepannya, mengingat Indonesia berada di silang negara 2 yang memiliki potensi pertikaian ( pertempuran ) baik karena ekonomi maupun perebutan claim wilayah, untuk menjaga NKRI yang begitu luas kira nya TNI perlu untuk memiliki;
    1. SU PAK FA T-50 mini 50 units,
    2, rudal SS300 min 20~40 units,
    3. Kapal Selam dalam berbagai class dari German atau Rusia min 12 units,
    4. Kapal Permukaan berbagai class dari Fregat min 60 units.
    5. untuk Ranpur Pindad, BTR 50 dan AMX 13 yang sudah di retrovit harus di lengkapi Misille Spike SR atau Milan, Juga untuk Marder 1A3 atau Medium Tank Pindad sebaik nya delengkapi misille Spike LR.
    6. Untuk kerjasama Rudal C705, sebaik dicari padanan nya bisa dekati Turki atau Ukrainia, Brazil atau langsung Rusia dan Francis kelihatan nya china kurang tulus alias keberatan ngasih ilmu nya. Bravo TNI

  15.  

    saya menyayangkan bahwa TNI AU masih di anak tirikan. Buktinya alutsista-alutsista yang di datang kan TNI AD dan AL lebih berkualitas di banding alutsista TNI AU yang hanya menonjol lewat sukhoi familly,selebihnya supertucano cs cuma buat ngisi kekosongan aja(kuantitas). TNI AD membeli alutsista nomer wahid dikelasnya dan moderen: leopard,ifv marder,Javelin,NLAW,MLRS Astros2 MK6. TNI AL: rudal yakhnot,fregat(baik pembelian dari dalam maupun luar negeri) buat alutsista atas laut,alutsista bawah laut lebih ajib lagi^_^. Sedangkan AU cuma alutsista sukhoi familly n rudalnya aja yang bisa di banggakan dan bergigi. Klo MEF tahap 2 (2015-219) TNI AU mengakuisisi s300 sama su35 bm baru seimbang sama TNI AD dan AL.

  16.  

    Bukan di-anak tirikan om,TNI AU selain mendapatkan jatah pespur,om jangan lupa SEPIDOL,PULPEN,sama PINSIL-nya juga termasuk alutsista lho om,dan jumlahnya pasti tidak sedikit amat..hehe peace

  17.  

    javelin beratnya 50kg,berat sekali. Itu sma sja satu karung gabah padi. Saya rasa untk ukuran tentara indonesia kurang cocok krn terlalu berat dan bisa mempengaruhi arah tembakan walaupun jauh tpi klo tembakannya meleset yg percuma, bisa membahayakan prajurit itu sendiri. Klo yg 12kg itu bagus beratx sedang cocok untk prajurit kita walaupun jarak jangkaunya 600m dan leluasa dibawa prajurit saat bertempur

 Leave a Reply