Jul 152012
 


No more Mr Nice Guy. Pesan ini tampaknya akan menjadi cara pandang pemerintah Indonesia dalam merespon setiap tindak tanduk dan perilaku negara tetangga yang dianggap mengganggu kedaulatan Indonesia.

Basa basi dan ramah-tamah dalam berdiplomasi sudah dikubur dalam-dalam sejak terjadinya peristiwa ketegangan di laut Ambalat, antara Indonesia dan Malaysia.

Sejak itu pula Indonesia terus memperkuat pasukannya di perbatasan dengan Malaysia. Perlahan tapi pasti, pasukan pemukul seperti Kostrad dan Marinir ditempatkan di perbatasan. Begitu pula dengan mesin perangnya yang terus ditingkatkan secara kualitas dan kuantitas.

Indonesia sedang fokus memperkuat pertahanan, menghadapi ancaman dari arah utara. Penguatan pasukan dilakukan di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sulawesi dan Laut Sulawesi.

Di saat Indonesia menata kekuatan militer di utara, tiba tiba saja Amerika Serikat mulai menempatkan pasukannya di Australia. Pasukan AS pun sudah berdatangan ke Darwin, Australia.

Hal ini menuntut Indonesia harus berbenah dan menata pertahana di wilayah selatan, terutama di Nusa Tenggara Barat dan Papua. Namun hal ini belum sempat dilakukan, karena penataan kekuatan militer di utara Indonesia, juga belum rampung.

Untuk wilayah Papua, Indonesia baru mengaktifkan radar Master T di Merauke. Penambahan pasukan belum ada. TNI AL baru berencana membentuk Brigif Marinir di Papua. Hal ini tampaknya tidak bisa cepat terealisasi, karena Pasmar III yang menjaga wilayah Sumatera juga masih embrio.

Brigif Marinir di Papua dibutuhkan untuk mengantisipasi modernisasi Angkatan Laut Inggris dan juga penempatan militer AS di Darwin.

Belum lagi, Amerika pun segera menempatkan kapal perangnya secara bergiliran di Singapura mulai tahun 2013. Sementara di Filipina, AS akan menyimpan skuadron UAV/Drone untuk patroli.

Drone RQ-4 Global Hawk, AS


Ancaman Kompleks
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, tantangan dan ancaman terhadap negara saat ini sangat kompleks dan perlu diantisipasi oleh militer Indonesia. Hal itu dikatakan Presiden SBY di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (12/7).

Menurut Presiden, tantangan pertahanan dan keamanan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain mulai munculnya aktor-aktor bukan negara yang berpotensi sebagai ancaman. Selain itu, konflik antar-negara di kawasan tertentu, juga berpotensi menggangu stabilitas nasional. Peningkatan kemampuan belanja militer negara-negara tetangga juga memiliki arti tersendiri. “Hal itu telah mengubah konstelasi militer di kawasan,” ujar Presiden SBY.

Indonesia akan terus melakukan modernisasi alutsista dan membangun minimum essensiaal force yang bisa menjalankan tugas operasional di masa damai dan perang. Untuk itu Indonesia terus meningkatkan anggaran belanja militer sehingga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas alat utama sistem persenjataan.

Saat ini TNI juga sedang mempelajari dan mengkaji konsep perang Asimetris, yakni perang dengan kekuatan yang tidak berimbang. Dalam konsep ini, Indonesia diposisikan sebagai pihak yang lemah.

Proyeksi itu menunjukkan Indonesia bukan saja disiapkan untuk menghadapi ancama dari tetangga terdekat, tapi juga dari negara yang memiliki kemampuan militernya jauh lebih tinggi (asimetris).


Konsep perang asimetris membutuhkan, satuan satuan khusus yang handal yang bisa melakukan aksi militer extra ordinary, jauh di atas kemampuan militer reguler. Meski sebentar lagi Australia mendatangkan kapal perang terbaru, namun mereka dipaksa tetap berhitung, jika hendak memasuki wilayah laut RI.

Dengan konsep perang asimetris tersebut, Indonesia tetap memposisikan doktrin bertahan dari serangan asing. Pembangunan militer Indonesia tidak mengarah, untuk membawa perang ke luar wilayah Indonesia.

Jika doktrin ini disadari negara tetangga, maka mereka tidak perlu takut dengan Indonesia, karena tidak akan menyerang keluar teritori RI. Akan tetapi mereka harus mencatat, Indonesia tidak lagi menganut paham Zero Enemy. No More Mr Nice Guy. Dengan demikian Indonesia akan terus menata dan dan memodernisasi angkatan perangnya, untuk merespon perkembangan militer di kawasan.(Jkgr).

  8 Responses to “No More Mr Nice Guy”

  1. Menarik sekali konsep baru yang sebenarnya lawas, no more nice guy, sebenarnya hanyalah perubahan penjabaran bunyi konsep lama sejak zaman Bung Karno. Jika kita mau menilik sejarah konsep tersebut lebih didasarkan pada rasa tekanan ancaman psywar atau pra perang psikologi yang sebenarnya. Dan jika kita secara jujur mau mengakui konsep terdahulu lebih mapan dan mengena serta mudah terhujam dalam setiap pribadi insan Indonesia jika diaplikasi dilapangan dengan install sangat instan dengan apa yang diamantkan oleh Bung Karno dengan istilah : “JADIKAN NEGERIMU RUMAH PATRIOT DAN JADIKAN MARTABAT BANGSA SEBAGAI KEDAULATANMU”

  2. perang asimetris ….mantap tuch

  3. diperkirakan bberapa tahun mendatang pihak tetangga akan minta indonesia menarik pasukannya dari perbatasan…

    • Alasannya apa bro tetangga nyuruh kita tarik pasukan dari perbatasan. itu kan rumah kita ada urusan apa dengan tetangga? Niat kita kan hanya ingin mengamankan NKRI, dan kalo ada yang macem2 tinggal di dooorrrrr aja.

  4. mereka nggak akan berani!

  5. Aku menunjunjung tinggi harga diri Bangsaku
    Aku bangga akan pemimpin Bangsaku
    Aku bangga akan angkatan bersenjata Negeriku
    Namun kurasa tuk efisiensi penyebaran pasukan&alutsista, dengan lantang kumandangkan lagi lagu “Madjulah Sukarelawan”
    Masih banyak Jiwa Nasionalis Negeri ini
    Yang selalu siap & tak ragu untuk digerakkan, serta akan merasa lebih bangga untuk diikutsertakan mempertahankan Negeri ini
    Jiwa Nasionalis Negeri ini siap menjawab panggilan itu
    GARRRUDAAAAA !!!

  6. Kalau sudah tidak menjadi Mr Nice Guy apakah akan menjelma menjadi Mr Badass (a tough, aggressive, or uncooperative person) ? 🙂

    Otot perlu lebih gede.

    Sekedar ilustrasi: jumlah approx. F-16 yang akan diterima TNI-AU
    http://theaviationist.com/wp-content/uploads/2013/03/F-16-TuAF.jpg

 Leave a Reply