No More Mr Nice Guy

No more Mr Nice Guy. Pesan ini tampaknya akan menjadi cara pandang pemerintah Indonesia dalam merespon setiap tindak tanduk dan perilaku negara tetangga yang dianggap mengganggu kedaulatan Indonesia.

Basa basi dan ramah-tamah dalam berdiplomasi sudah dikubur dalam-dalam sejak terjadinya peristiwa ketegangan di laut Ambalat, antara Indonesia dan Malaysia.

Sejak itu pula Indonesia terus memperkuat pasukannya di perbatasan dengan Malaysia. Perlahan tapi pasti, pasukan pemukul seperti Kostrad dan Marinir ditempatkan di perbatasan. Begitu pula dengan mesin perangnya yang terus ditingkatkan secara kualitas dan kuantitas.

Indonesia sedang fokus memperkuat pertahanan, menghadapi ancaman dari arah utara. Penguatan pasukan dilakukan di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sulawesi dan Laut Sulawesi.

Di saat Indonesia menata kekuatan militer di utara, tiba tiba saja Amerika Serikat mulai menempatkan pasukannya di Australia. Pasukan AS pun sudah berdatangan ke Darwin, Australia.

Hal ini menuntut Indonesia harus berbenah dan menata pertahana di wilayah selatan, terutama di Nusa Tenggara Barat dan Papua. Namun hal ini belum sempat dilakukan, karena penataan kekuatan militer di utara Indonesia, juga belum rampung.

Untuk wilayah Papua, Indonesia baru mengaktifkan radar Master T di Merauke. Penambahan pasukan belum ada. TNI AL baru berencana membentuk Brigif Marinir di Papua. Hal ini tampaknya tidak bisa cepat terealisasi, karena Pasmar III yang menjaga wilayah Sumatera juga masih embrio.

Brigif Marinir di Papua dibutuhkan untuk mengantisipasi modernisasi Angkatan Laut Inggris dan juga penempatan militer AS di Darwin.

Belum lagi, Amerika pun segera menempatkan kapal perangnya secara bergiliran di Singapura mulai tahun 2013. Sementara di Filipina, AS akan menyimpan skuadron UAV/Drone untuk patroli. Drone RQ-4 Global Hawk, AS
Ancaman Kompleks
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, tantangan dan ancaman terhadap negara saat ini sangat kompleks dan perlu diantisipasi oleh militer Indonesia. Hal itu dikatakan Presiden SBY di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (12/7).

Menurut Presiden, tantangan pertahanan dan keamanan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain mulai munculnya aktor-aktor bukan negara yang berpotensi sebagai ancaman. Selain itu, konflik antar-negara di kawasan tertentu, juga berpotensi menggangu stabilitas nasional. Peningkatan kemampuan belanja militer negara-negara tetangga juga memiliki arti tersendiri. “Hal itu telah mengubah konstelasi militer di kawasan,” ujar Presiden SBY.

Indonesia akan terus melakukan modernisasi alutsista dan membangun minimum essensiaal force yang bisa menjalankan tugas operasional di masa damai dan perang. Untuk itu Indonesia terus meningkatkan anggaran belanja militer sehingga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas alat utama sistem persenjataan.

Saat ini TNI juga sedang mempelajari dan mengkaji konsep perang Asimetris, yakni perang dengan kekuatan yang tidak berimbang. Dalam konsep ini, Indonesia diposisikan sebagai pihak yang lemah.

Proyeksi itu menunjukkan Indonesia bukan saja disiapkan untuk menghadapi ancama dari tetangga terdekat, tapi juga dari negara yang memiliki kemampuan militernya jauh lebih tinggi (asimetris).

Konsep perang asimetris membutuhkan, satuan satuan khusus yang handal yang bisa melakukan aksi militer extra ordinary, jauh di atas kemampuan militer reguler. Meski sebentar lagi Australia mendatangkan kapal perang terbaru, namun mereka dipaksa tetap berhitung, jika hendak memasuki wilayah laut RI.

Dengan konsep perang asimetris tersebut, Indonesia tetap memposisikan doktrin bertahan dari serangan asing. Pembangunan militer Indonesia tidak mengarah, untuk membawa perang ke luar wilayah Indonesia.

Jika doktrin ini disadari negara tetangga, maka mereka tidak perlu takut dengan Indonesia, karena tidak akan menyerang keluar teritori RI. Akan tetapi mereka harus mencatat, Indonesia tidak lagi menganut paham Zero Enemy. No More Mr Nice Guy. Dengan demikian Indonesia akan terus menata dan dan memodernisasi angkatan perangnya, untuk merespon perkembangan militer di kawasan.(Jkgr).

Tinggalkan komentar