Obama: Jatuhnya Kota Ramadi Bukan Kekalahan AS

Presiden Barack Obama (Reuters)
Presiden Barack Obama (Reuters)

Washington — Presiden AS Barack Obama menggambarkan kejatuhan Ramadi, ibu kota Propinsi Anbar di Irak, sebagai kekalahan taktis. Namun AS belum kalah.

“Saya tidak berpikir kita kalah,” ujar Obama dalam wawancara dengan malajah The Atlantic yang dipublikasikan, Kamis (21/5), tidak lama setelah Ramadi jatuh.

“Tidak diragukan lagi ada kemunduran taktis, kendati Ramadi rentan untuk waktu sangat lama,” lanjutnya.

Sejak Agustus 2014, atas perintah Obama, koalisi pimpinan AS melancarkan pemboman ke sekujur wilayah yang dikuasi ISIS. Sampai hari ini, AS diperkirakan telah membom 6.000 sasaran di Irak dan Suriah, dengan target melemahkan ISIS.

Semula, banyak petinggi militer AS yakin ISIS melemah, yang memungkinkan Irak dan milisi Muslim Sunni melakukan perlawanan darat. Yang terjadi justru sebaliknya.

AS dan sejumlah negara Eropa telah mengirim pasukan untuk melatin tentara Irak. Di Anbar, provinsi yang kini sepenuhnya jatuh ke tangan Irak, pasukan yang dilatih AS gagal total.

Meski demikian Obama tetap menolak gagasan mengirim pasukan tempur AS ke Irak. Ia tidak ingin AS terlibat lagi dalam perang brutal seperti saat menggulingkan Saddam Hussein.

Menjawab pertanyaan siapa yang harus dipersalahkan atas kejatuhan Ramadi, Obama mengatakan; “Kurangnya pelatihan dan penguatan pasukan Irak.”

“Pasukan Irak telah ditempa dsar kemiliteran yang cukup,” lanjutnya. “Namun ada indikasi sistem perintah dan kontrol tidak berjalan. Pelatihan yang diberikan juga tidak tepat, terutama untuk pasukan di wilayah Muslim Sunni.”

Ramadi adalah jatung Muslim Sunni, dan sangat dekat dengan Baghhdad — ibu kota Irak. Pengamat militer yakin sebanyak apa pun pemboman ke Ramadi dan jalur menuju Baghdad, tidak akan menghentikan ISIS menuju ibu kota Irak dan merebutnya.

Di sisi lain, Washington dan Baghdad sepakat tidak menggunakan Milisi Shiah untuk melawan ISIS, karena hanya akan memicu konflik sektarian di sekujur Irak.

Persoalan menjadi rumit ketika Washington dan Baghdad juga menolak memberi senjata kepada milisi suku-suku Muslim Sunni. Kejatuhan Ramadi dan Anbar lebih disebabkan oleh yang terakhir ini.

Ada alasan lain yang mendasari keputusan Baghdad tidak menyalurkan senjata kepada Muslim Sunni, yaitu dominasi Shiah di pemerintahan dan militer.

Inilah.com

Tinggalkan komentar