Obligasi Ritel Sebagai Alternatif Pendanaan Pembelian Alutsista

Indonesia berencana membeli SU-35

Obligasi Ritel Sebagai Alternatif Pendanaan Pembelian Alutsista 1

Di forum-forum militer tidak henti-hentinya kita menyimak keinginan dari masyarakat Indonesia untuk memodernisasi militer Indonesia, banyak yang mengusulkan peremajaan alat utama sistem senjata (alutsista) milik TNI yang rata-rata sudah cukup tua baik di matra darat, laut dan udara.

Namun hampir semua para penggemar militer di Indonesia paham dan maklum adanya ketika dihadapkan kepada kenyataan bahwa keuangan negara Republik Indonesia sangat minim yang berdampak kepada terbatasnya anggaran negara untuk modernisasi peralatan militer Indonesia. Minimnya keuangan negara Republik Indonesia disebabkan sumber penerimaan utama yaitu dari sektor pajak belum maksimal, penyebabnya bermacam-macam mulai dari masalah internal pemerintahan maupun dari luar pemerintahan, sangat kompleks dan rumit.

Ada baiknya Pemerintah dan Parlemen kita mulai memikirkan cara lain pemenuhan anggaran militer Indonesia terutama untuk pembelian peralatan perang, yaitu dengan cara menerbitkan Obligasi Ritel oleh Pemerintah RI. Obligasi adalah surat berharga yang merupakan pengakuan hutang dari yang menerbitkan dan dapat diperjualbelikan di pasar sekunder (bursa efek), pembeli obligasi mendapat keuntungan dari bunga (kupon) pada saat jatuh tempo pembayaran bunga.

Jenis-jenis obligasi dari sudut pandang penerbit obligasi yaitu :

  1. Obligasi perusahaan (corporate bond) yaitu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan baik swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN).
  2. Obligasi Pemerintah (Government Bond) yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat
  3. Obligasi Pemerintah Daerah (Municipal Bond) yaitu obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah.

Jenis-jenis obligasi dari sudut pandang nilai nominal obligasi yaitu :

  1. Obligasi Konvesional (Konvensional Bond) yaitu obligasi yang biasanya diperdagangkan dalam satu nilai nominal Rp 1 milyard per satu lot ( kurang lebih 500 lembar obligasi)
  2. Obligasi Ritel (Retail Bond) yaitu obligasi yang biasa diperdagangkan dalam satuan nominal kecil.

Jenis-jenis obligasi dari sudut pandang imbal hasil obligasi yaitu :

  1. Obligasi Konvensional yaitu obligasi yang memberikan imbal hasil berupa bunga (kupon).
  2. Obligasi Syariah obligasi yang memberikan imbal hasil berdasarkan perhitungan bagi hasil berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

Penulis mengusulkan untuk pemenuhan anggaran pembelian alutsista dengan menggunakan instrument keuangan obligasi sebaiknya digunakan obligasi ritel baik konvesional maupun syariah yang diterbitkan oleh Pemerintah, tujuannya agar masyarakat luas dapat ikut berpartisipasi sekaligus mengajak masyarakat untuk aktif berinvestasi jangka panjang demi masa depan yang lebih baik.

Potensi Obligasi Ritel

Untuk menggambarkan betapa Obligasi Ritel adalah instrument keuangan yang bisa diandalkan untuk pendanaan negara mari kita tengok penjualan Obligasi Ritel Seri 010 (ORI010) yang ditargetkan oleh Pemerintah laku terjual Rp 20 Triliun pada tahun 2013. Pemerintah menawarkan ORI010 bertenor tiga tahun dengan tingkat kupon 8,50%, lebih tinggi dari ORI090 tahun lalu yang memiliki tingkat kupon 6,25%. Pembayaran kupon akan dilakukan pada 15 setiap bulan dan pembayaran kupon pertama kali pada 15 November 2013. Obligasi ritel yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2016 dapat didapatkan masyarakat umum dengan minimum pemesanan Rp5 juta dan maksimum mencapai Rp3 miliar. Masa penawaran akan berlangsung pada 20 September 2013 hingga 5 Oktober 2013. Sejarah mencatat ternyata ORI010 laku keras alias oversubscribe. (http://investasi.kontan.co.id/news/permintaan-ori010-bisa-capai-rp-28-triliun ).

Kendala

Potensi memang besar namun jika dibarengi dengan imbal hasil yang cukup tinggi, sementara imbal hasil yang tinggi jelas merupakan “biaya” yang harus ditanggung Pemerintah dalam penerbitan Obligasi Ritel ini, semakin tinggi tingkat imbal hasil semakin tinggi pula biaya yang harus ditanggung; namun jika dibandingkan dengan pembayaran bunga utang luar negeri Republik Indonesia per tahun yang mencapai Rp 300 triliun per tahun maka “biaya” obligasi tersebut termasuk amat rendah, apalagi yang menikmati imbalan adalah rakyat Indonesia sendiri bukan pemerintah negara asing yang memberikan pinjaman.

Sejarah

Tercatat Amerika Serikat pernah membiayai pembelian peralatan perang dalam perang dunia kedua dengan menjual obligasi.

“The last time the United States issued war bonds was during World War II, when full employment collided with rationing, and war bonds were seen as a way to remove money from circulation as well as reduce inflation.”
(http://www.u-s-history.com/pages/h1682.html)

oleh : Masjanto

Leave a Reply