Nov 102018
 

Desain Future Frigate Indonesia (FFI) © Damen via Navy Recognition

Dalam ajang Indo Defence 2018, pameran pertahanan tri matra yang diadakan di Jakarta, Indonesia, grup pembuatan kapal asal Belanda, Damen meluncurkan desain baru fregat “Omega” berkapasitas 6.000 ton, seperti mengutip dari tulisan Xavier Vavasseur, Kepala Editor media Navy Recognition.

Ketika berbicara dengan Navy Recognition pada acara tersebut, Bob De Smedt, salah satu arsitek angkatan laut yang bekerja pada proyek “Omega”, menjelaskan bahwa model skala yang dipamerkan itu mewakili konsep awal untuk pengganti Fregat M di Angkatan Laut Belanda dan Belgia.

Namun alasan utama fregat baru Omega-Class diresmikan pada Indo Defence dan bukan pada Euronaval yang diadakan dua minggu lalu adalah karena Damen sekarang telah siap untuk menjawab kebutuhan potensial Indonesia untuk fregat besar dan oleh karena itu kode FFI pada gambar Damen, merujuk pada Future Frigate Indonesia.

Desain Future Frigate Indonesia (FFI) di Indo Defence 2018 © Navy Recognition

Omega sebenarnya ditetapkan untuk menjadi keluarga baru atau lini produk oleh Damen, yang akan menjadi tambahan dan berada di atas lini produk Sigma yang terkenal. Namun perbedaan utamanya adalah tidak akan ada lini “Omega” standar, dimana desain Omega akan selalu sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Untuk alasan ini, desain fregat Omega untuk TNI AL kemungkinan akan terlihat berbeda dengan pengganti Fregat M di masa depan, kecuali pihak Indonesia bersedia dan mampu bekerjasama sesuai dengan pesanan Belanda dan Belgia.

Belanda dan Belgia bersama-sama akan menyediakan sepasang fregat (masing-masing), untuk menggantikan armada Fregat M mereka. Menurut Navy Recognition, belajar dari berbagai sumber selama Indo Defence bahwa TNI AL memiliki “kebutuhan baru” untuk fregat kelas 6.000 ton sejalan dengan PKR ketiga dan keempat yang juga dirancang oleh Damen dari keluarga Sigma.

Sementara desain yang ini bisa diusulkan ke angkatan laut lainnya seperti Selandia Baru, Damen menekankan bahwa ini bukanlah desain yang mereka tawarkan untuk MKS 180 Jerman. Damen pun tidak dapat menjelaskan lebih lanjut tentang MKS 180.

Desain Future Frigate Indonesia (FFI) (tampak depan) di Indo Defence 2018 © Navy Recognition

Fitur desain Omega

Damen menjelaskan bahwa frigat Omega(FFI) didasarkan pada bentuk lambung kapal fregat kelas LCF/De Zeven Provincien yang sudah terbukti. Ini memiliki sistem propulsi hibrida yang terdiri dari mesin diesel 4x (dua dapat digunakan untuk kecepatan ekonomi, empat untuk sprint) ditambah 2x mesin listrik.

Mesin diesel dipisahkan ke bagian depan dan buritan untuk meningkatkan survivabilitas. Pembangkit listrik di atas kapal memperhitungkan komposisi sistem senjata masa depan termasuk senjata energi laser.

Fregat Omega memiliki dua teluk multi misi berukuran besar, satu berada di tengah dan satu di buritan. Seperti halnya tren dengan fregat generasi terbaru (Tipe 26 dan FTI atau Belharra) teluk multi misi tengah melintasi port ke sisi kanan dengan sistem penanganan overhead, memuat dan memindahkan kontainer atau meluncurkan dan memulihkan RHIBS atau USV/UUV.

Teluk multi misi bagian tengan cukup besar untuk menampung kontainer 4×20 kaki dan teluk multi misi belakang dapat menampung kontainer 2×20 kaki. Perhatikan bahwa ada ruang tambahan di dek atas, di samping peluncur rudal anti-kapal untuk 2x kontainer tambahan.

Desain Future Frigate Indonesia (FFI) (tampak belakang) di Indo Defence 2018 © Navy Recognition

Radar Thales S/X

Desain futuristik tampak hampir seperti Zumwalt-Class di bagian atas fregat Omega ini terutama karena suite radar generasi terbaru yang disediakan oleh Thales Belanda bahwa itu terdiri dari suite radar S-band SeaMaster 400 dan radar multi-fungsi X-band APAR Block II, dimana keduanya menggunakan teknologi gallium nitride (GaN).

Menurut Thales, solusi radar S-band panel tetap terbaru adalah jawaban yang tepat untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh drone udara atau permukaan, amunisi presisi dipandu, atau rudal kapal selam, yang biasanya menyerang tepat di atas permukaan laut (elevasi rendah, sea skimming) atau dari sudut elevasi tinggi (high diving).

APAR Blok II membela terhadap serangan saturasi dalam skenario ancaman tinggi dan dengan mendukung banyak keterlibatan AAW dan ASuW secara bersama-sama dengan bimbingan aktif dan semi-aktif menggunakan ICWI.

Thales SeaMaster 400 menawarkan jangkauan 450 km sementara APAR Block II dapat menggantikan iluminator untuk secara langsung memberikan panduan pada misil ESSM dan SM-2.

Fregat Omega juga tersedia dengan konfigurasi radar lain. Sebuah versi yang dilengkapi dengan radar berputar seperti Thales NS200 juga dapat dipasangkan oleh Damen.

Desain Future Frigate Indonesia (FFI) bersanding dengan KRI RE Martadinata (331) © Damen via Navy Recognition

Senjata dan sensor lainnya

Senjata dan suite sensor seperti biasa tergantung kepada kebutuhan pelanggan. Namun model skala yang dipamerkan di Indo Defence menunjukkan fregat Omega dilengkapi dengan senjata utama 127 mm buatan Leonardo, senjata sekunder 76 mm (varian non penembus) oleh Leonardo di atas hanggar helikopter, Millenium CIWS dari Rheinmetall, 2x RWS Hitrole dari Leonardo, 8x rudal anti-kapal NSM dari Kongsberg, 4x peluncur umpan MASS dari Rheinetall, sonar lambung Kingklip dari Thales serta sonar variabel kedalaman Captas-4, 4x antena satelit dan 2x sistem Elektro-Optik Mirador dari Thales.

Untuk pertahanan udara, model skala menunjukkan 24 sel VLS, kemungkinan VL MICA NG untuk varian Indonesia atau ESSM Blok 2 untuk varian Belanda dan Belgia.

Spesifikasi Awal Fregate Omega (FFI):

  • Panjang: 144 meter
  • Lebar: 18,8 meter
  • Bobot: 6.100 ton
  • Max. kecepatan: 29 knot
  • Jangkauan: 5.000 mil laut @ 18 knot
  • Daya tahan: 30 hari di laut
  • Stabilisasi: Roll kemudi (mirip dengan LCF)
  • Kru: 122 pelaut (akomodasi untuk hingga 160)
  • Ruang penyimpanan untuk RHIB 3×12 meter
  • Ruang hangar untuk 2x helikopter angkut medium dan atau UAV.

  27 Responses to “Omega 6000 Ton, Inikah Fregat Masa Depan Indonesia?”

  1.  

    wah Kumpeni jualan design dan lisensi lagi tapi emang mantap sih

  2.  

    galangan kapal damen juga ada dibeberapa belahan dunia, wajar jika mereka jadi pesaing naval group.
    klo iver rasanya sudah agak sulit, apalagi jika damen sudah mulai serius……

  3.  

    Bukan yg ini yg dipilih

  4.  

    Harusnya nyari tot armamentnya kalo kasing tinggal Martadinata class di bawa ke mak erot kan sdh bisa jangan impor terus paket yg sudah bisa dibuat sendiri

  5.  

    Terimakasih bung diego udah di angkat artilel nya..

    Design nya futuristik.. Mirip kapal visby Class saab swedia.. Lebih stealth dari sigma kyk nya..

  6.  

    Mantap jg, kabar iver gmn ya dulu heboh diisukan akan diakuisisi TNI AL?

    •  

      Kalau damen sudah masuk Dan ikut tender ..biasa nya yang lain jadi kesulitan. .terutama yang dari Europa Dan Russia ..tapi kalau Korea justru Tidak terlalu kesulitan…mungkin karena kedua nya itu langganan rutin DepHan …

  7.  

    Tambah puyeng2 dah…pak menhan di sodorin maenan baru. 😀

  8.  

    By the way harganya piro ya klo untuk efek deteren its ok biar mahal asal bentuknya kaya begini rakyat pasti ok2 aja

  9.  

    Indonesia butuh fregat ketimbang destroyer, lebih lincah lebih murah, kalau mau gahar tinggal install rudal yg top dan peralatan yg canggih

    😎

  10.  

    Harganya mahal ini, bisa sampai $600+ juta, yg jadi pertanyaan adalah dananya ada nggak? Kalau beli 1 unit aj nanggung lah, kalau dananya belum ada beli fregat kelas 4000 ton dlu aja

    •  

      Tahun depan ada info anggaran militer naik, moga aja lancar. Optimis juga perlu

      •  

        Moga aj bung, tapi indonesia saya rasa darurat replacement buat ahmad yani class. Saya rasa beli 2 ato nggak 4 kapal fregat kelas 4000 ton secepatnya.

      •  

        rencana kenaikan cuma 70 trilyun, berarti total 200 trilyun yah…

        ini adalah rencana awal anggaran 2018, tapi baru mau implementasi 2019, terlambat 1 tahun gara2 banyak tol sama rel harus dibangun. untung asian games kemarin lumayan dapet chuan, minimal beban penyelenggaraan gak sebesar perkiraan semula

    •  

      klo beli ya 1 aja dulu bung, “yg penting punya” krn harganya bisa mendekati US $ 800 juta 😀 merujuk ke harga fregat LCF (pengganti fregat Type M) sekitar €600 juta, yg dijadikan acuan desain untuk Omega-Class (FFI)

      •  

        Makanya bung, saya bilang kalau indonesia lebih tepat beli frigate sekelas 3000-4000 ton. Lafayette class frigate mempunyai harga dasar $450 juta, kyknya indonesia lebih cocok beli ini deh, atau kalo enggak bisa nego dengan turkiye yg lagi bikin i-class frigate nya, kan lumayan klo dapet fregat sekelas i-clsss dengan harga $350 juta, selain itu armaments nya juga udah mumpuni: 2 x 8 atmaca AShM bung!!! 16 cell mk.41 for 32 rim-162 essm.
        Nah kan klo udah dapat harga segini bisa dong beli 2 ato kalo bisa 4 unit?

      •  

        lebih plong iver bung kita butuh ilmu kemandirian utk membangun fregat bertonase 5000 ton keatas sendiri kan bukan cuma utk tni Al

        damen cuma jualan design

  11.  

    harga mahal kalo mau dituker sama sawit n karet juga ngak masalah…kalau mau lho…

  12.  

    Saingan berat Iver dan yang lain, peluang bagus buat Dephan untuk manas manasi para produsen agar bisa maksimal di ToT dan dapat Harga yg Valuable

 Leave a Reply