Feb 192015
 

tni

Pendahuluan

Sepertinya artikel blog selalu pespur saja, karena itu penulis mencoba melontarkan gagasan lain terkait dengan AD, yaitu peningkatan firepower regu senapan. Sebagai satuan terkecil infanteri, logis kalau kita mulai dengan regu senapan (rifleman squad).

Sedikit Tentang Konsep Raider

Sebelumnya baik kita melihat pendidikan & pelatihan raider AD yang sepertinya telah menjadi wajib dilaksanakan setiap tahun. Berapa lama dan besar biaya yg dibutuhkan untuk melatih kurang lebih 300.000 prajurit, kalau setiap pelatihan hanya dilatih 350 orang?

Sejak pemberontakan RMS sampai sekarang, dimana kita kagum terhadap kehebatan Baret Hijau ex KNIL, TNI terutama AD belum bisa lepas dari kultur pasukan khusus. Pada pemberontakan PRRI/ Permesta, Trikora dan Dwikora pasukan khusus menjadi alat yg menentukan untuk mendobrak/ mengobrak-abrik musuh sebelum pasukan reguler diturunkan. Sehingga makin tertanam di kultur AD pasukan khusus yg tidak lagi menjadi khusus tapi berubah menjadi reguler berbentuk Resimen seperti Cakrabirawa dan RPKAD/ Kopasus, dan akhirnya menjadi alat penguasa/ diktator dalam mempertahankan kekuasaannya. Sifat khususnya sudah hilang berbalik menyedot pembiayaan dan sumberdaya sehingga pasukan reguler terlupakan.

Pada masa pemberontakan DI/TII batalyon-batalyon Siliwangi yang ditugasi telah secara intuitif meresap konsep yg dikenal sebagai “adu bako” dan menggunakannya secara efektif untuk memberantas DI/TII. Dimanapun ditugaskan, contoh peristiwa Kahar Muzakar dan GAM, batalyon-batalyon Siliwangi selalu menggunakan konsep “adu bako” secara berhasil. Kemungkinan besar konsep “adu bako” ini adalah cikal bakal konsep “Sandhi Yudha” yang sekarang dikenal. Namun sepertinya AD lupa karena dalam penerapannya, seperti pada pendidikan Raider, terlalu menekankan “Yudha” dan mengabaikan “Sandi”.

Kembali kepada konsep raider ”meningkatkan profesionalisme prajurit Yonif menjadi prajurit yang memiliki kualifikasi Raider, yaitu prajurit yang memiliki kemampuan untuk bergerak di segala bentuk medan maupun cuaca dengan mengutamakan unsur pendadakan melalui operasi Raid. Adapun tiga kemampuan yang harus dikuasai oleh prajurit Raider meliputi kemampuan sebagai pasukan anti teror, kemampuan gerilya, dan kemampuan kontra gerilya untuk mengatasi pemberontakan atau gerakan separatis.” Tidak ada tertulis di situ kemampuan untuk menghadapi infanteri reguler lawan kalau ada perang terbuka. Zaman sekarang, anti teror sudah merupakan tugas utama Kepolisian RI; kemampuan gerilya, dan kontra gerilya adalah pikiran yang pesimis, kuno dan defeatisme. Justru kita harus berpikir bagaimana pelatihan infanteri reguler kita untuk melawan infanteri reguler musuh yg menginvasi kita. Kalau toh sampai pada tahap gerilya, kita sudah punya cukup pasukan khusus baik Kopasus maupun Kostrad sebagai inti plasma yang akan memimpin dan melatih perang gerilya. Pelatihan kualifikasi Raider untuk semua Yonif tidak tepat sasaran, makan waktu lama dan biaya besar menyedot sumberdaya dan anggaran kita yg terbatas.

Jangan salah, pasukan khusus tetap diperlukan, tetapi seperti namanya, bersifat khusus, bukan dalam formasi reguler.

Regu Senapan

Karena itu sebaiknya energi dan sumberdaya yang ada dikonsentrasikan untuk melatih dan melengkapi Yonif reguler yang mungkin bisa dimulai dari satuan terkecil yaitu regu senapan. Salah satu pertanyaan yang mungkin timbul, apakah regu senapan kita sudah efektif dalam fire power? Ingat bahwa Yonif kita mungkin akan sering beroperasi tanpa bantuan Armed, heli tempur, AU atau AL; atau bantuan fire power yang diharapkan tidak tersedia pada waktu yang diperlukan. Ada tren yang menarik yang perlu disimak : US Army dan British Army telah mengkombinasikan kaliber 7,62 mm NATO dan kaliber 5,56 mm dalam unit infanteri terkecilnya yaitu regu senapan sesuai pengalamannya di Afghanistan. Sedangkan Rusia baru-baru ini telah memilih senapan barunya dalam 2 kaliber, yaitu 5,45×40 mm dan 7,62×39 mm (kembali ke AK-47 dan RPD). Apakah artinya ini? Artinya bahwa dalam pengalaman operasi pertempuran kaliber kecil banyak kekurangannya, antara lain hanya mampu melukai/ menewaskan lawan dalam jarak terbatas maksimum 300 m. Pada medan terbuka, seperti gurun, laut, pantai, sawah, perkebunan, savana menjadi tidak efektif lagi.

Pada medan tertutup pun seperti hutan bambu atau hutan lebat, kaliber kecil akan lebih mudah terdefleksi oleh dedaunan daripada kaliber besar. Pada perang kota, dimana sebelumnya pada regu yang lama tidak ada, GPMG dan RPG akan menjadi base of fire dan sisa regu akan menjadi elemen manuver.

Gambar 1 Satu pantai bisa berkilometer jauhnya

Gambar 1 Satu pantai bisa berkilometer jauhnya

Gambar 2 Satu area sawah bisa berkilometer jauhnya

Gambar 2 Satu area sawah bisa berkilometer jauhnya

Gambar 3 Satu area kebun bisa berkilometer jauhnya

Gambar 3 Satu area kebun bisa berkilometer jauhnya

Oleh karena itu, disini ada usul untuk menambah fire power regu senapan tanpa menambah anggota regu namun dengan mengubah senjata untuk anggota regu tertentu, sebagai berikut :

DanRu SS-1/2 kal 5,56 mm
WaDanru SS-1/2 kal 5,56 mm

Penembak SMR GPMG SM-2 7.62mm
Pembantu SMR SS-1/2 kal 5,56 mm

Penembak RPG RPG-7 + 3 roket
Pembantu RPG SS-1/2 kal 5,56 mm + 3 roket
Pembantu RPG SS-1/2 kal 5,56 mm + 3 roket

Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm
Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm
Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm

Catatan : SS-1/2 dan GPMG SM-2  telah diproduksi Pindad. Untuk RPG-7, harganya murah dan konstruksinya sederhana, Pindad pasti tidak kesulitan untuk produksi termasuk roket granatnya. Setahu penulis, TNI AD telah membeli Carl Gustav M2/3 (dan juga Javelin?) anti tank tapi pasti lebih mahal dari RPG-7, karena itu jumlahnya sedikit dan hanya diberikan pada satuan tertentu.

Gambar 4 GPMG SM-2 Pindad

Gambar 4 GPMG SM-2 Pindad

Gambar 5 RPG-7V + PGO-7 telescope sight + granat PG-7VM

Gambar 5 RPG-7V + PGO-7 telescope sight + granat PG-7VM

Gambar 6 PG-7VL HEAT granat

Gambar 6 PG-7VL HEAT granat

Gambar 7 PG-7VR tandem (dual-warhead) HEAT granat

Gambar 7 PG-7VR tandem (dual-warhead) HEAT granat

Gambar 8 TBG-7V Thermobaric (FAE) granat

Gambar 8 TBG-7V Thermobaric (FAE) granat

Gambar 9 OG-7V fragmentation antipersonnel granat

Gambar 9 OG-7V fragmentation antipersonnel granat

Penutup

Dengan perubahan seperti diusulkan di atas, fire power regu senapan dan selanjutnya Yonif akan meningkat berlipat ganda, di medan terbuka atau tertutup, dan yang paling penting dengan biaya yang cost effective. Regu senapan yang baru akan memberikan peningkatan mampu bertempur dalam segala medan, dan dalam skala tertentu mampu menghancurkan kendaraan lapis baja musuh serta menggantikan peran senjata bantuan mortir dan Armed. Kerugiannya logistik bertambah, tapi toh amunisi GPMG juga diperlukan bagi Kompi Markas/ Bantuan.

(by Antonov).

  52 Responses to “OPINI : REGU SENAPAN”

  1.  

    pertamax..!

    •  

      Untuk ATGM, Pindad sudah bisa buat atau masih direncanakan?

    •  

      Yg pegang arhanud bung
      ..main task nya arhanud tni ad aja ada 2
      Lindung udara utk pasukan manuver(infantri.kavaleri dll).. juga lindung udara utk obyek vital nasional..(pln.pertmina.bandara.dll)
      Pasukan arhanud hny dilibatkan apabila pergerakan 1 brigade utk melindungi selama konvoi atau perpindahan serta selama manuver dalam serangan juga pertahanan..

    •  

      RPG-7 bisa dipakai menjatuhkan heli, sdh terbukti di Somalia dan Afghanistan.

    •  

      TERUS TERANG AKU INI PRAJURIT TNI, BIYAYA LATIHAN UNTUK JATAH UANG SAKU DAN UANG MAKAN PERAJURIT AJA DI KORUPSI SAMA KOMANDAN NYA APALAGI YG JUMLAH ANGGARAN NYA YG BESAR,… JANGAN NGOMONG MASALAH PERANG DAN PERANG AJA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP” TNI DARI DULU SAMPE KE DEPAN GAK BAKALAN MAJU KALAU PARADIGMA NYA YG DI ATAS MASIH SEPERTI INI.

  2.  

    sip

  3.  

    Pindad Pasti Bisa !

  4.  

    Untuk ATGM, Pindad sudah bisa buat atau masih direncanakan?

  5.  

    mudah-mudahan para petinggi TNI terus mengikuti strategi perang modern,,termasuk jenis2 alutsistanya,,,

  6.  

    Wah menambah pengetahuan artikel bung Antonov…salam bung

  7.  

    salam kenal bung Antonov…Usulnya mantap, semoga mendapat pantauan dari pemegang kebijakan di TNI dan dipertimbangkan… bahkan diterapkan…

    Peguatan elemen terkecil akan memberikan pengaruh besar pada kekuatan yang lebih majemuk…

  8.  

    minat bawa RPG suittttttttttt blarrrrrrr

  9.  

    Perkembangan yg dinamis.. Keep Move

  10.  

    tapi kalau menurut saya komposisi nya gini. dalam satu regu misal nya 12 orang. 2 orang pemegang SMR 1 orang penembak jitu/sniper. 1 orang penembak RPG dan sisanya pemegang senapan serbu semisal ss1/2…cuman angan angan saya..maaf kalau oot.

    •  

      Sniper itu biasanya tdk utk regu..tp utk kompi bung..krn selain kill dia juga scout..jd info utk manuver psukan blkg bsa dr sniper..klo dlm regu lbh bgusnya di tmbh sharpshooter..senapan tp dg modif telescope wlaupun tdk sejauh sniper
      Ttpi ttp bsa mlumpuhkan dr jauh krn daya jangkau tmbakan dan penglihatan pst lbh jauh

  11.  

    jadi ingat film The Pasific

  12.  

    Optimis pasti bisa..

    Mantap

  13.  

    jadi ingat film black hawk down, gi, senjata canggih, tehnologi satelit, kalah sama pejuang gerilya yg minim tehnologi, tapi punya RPG, senapan AK,

  14.  

    Untuk daya tembak dibagi 3:
    – amunisi kecil 5, 56
    – amunisi sedang 7,62
    – amunisi besar 12,7

    Untuk daya jangkau
    – marksman 300-400 meter
    – Sniper 7,62 dibawah 900-1000 meter
    – Sniper 12, 7 cm hingga 2 km.

    Untuk daya serang lengkung ada
    – granat tangan
    – pelontar granat
    – mortar

    Anti tank personel
    – RPG
    – Bazooka

    Untuk daya ledak/handak
    – dinamit
    – claymore
    – C4

    Silahkan di ramu sendiri fire power infantrinya.

    •  

      Biasanya formasi tentara itu kalo:
      – 4 orang jadi 1 tim
      – 3 tim jadi 1 regu (12 personel)
      – 3 regu jadi 1 peleton (36 personel)
      – 3 peleton jadi 1 kompi (108 personel)
      – 1 batalyon punya 5 kompi dengan spesialiasiñya seperti: kompi senapan A, B, C, kompi bantuan dan kompi markas.

      Kompi bantuan dapat berupa personel atau daya tembak (mortar). Sedanhkan kompi markas dapat berisi peleton khusus seperti staf komando, intelijen, medik, logistik dll.

      Lain yonif lain yonmek laiñ pula susunananya. Opo ga nambah mumet….

  15.  

    saat ini setiap kodam memiliki 1 batalyon rider,dan kalau tidak salah setiap batalyon rider telah di bagi dalam satuan2 kecil,di antaranya satuan sniper,rpg,mereka dilatih untuk perang kota dan perang gerilya dan anti gerilya mereka ahli untuk melakukan penyusupan dan penetrasi sampai ke garis belakang musuh,sesuai dengan slogan mereka “cepat,tepat dan senyap”

  16.  

    artikel yang mantab bung antonov…menurut saya tiap regu juga harus ada pembawa pelontar granat saya kira pindad sudah bisa bikin

  17.  

    Lalu yang bawa radio alkom mana bung antonov qo belum ditulis? Entar kala ada “perjumpaan” minta bantuan ke pasukan induk atau ke kompinya susah bung..

    •  

      Di yonif reguler skrg utk alkom..pst komandan regu bawa bung..dan terhubung dg komandan pleton yg membawahi 3 regu..komandan pleton pun trhubung dg komandan kompi yg membawahi 3 pleton..mereka tdk bergerak sndiri..tdk 1 regu jalan2 sndiri bung prgerakan minimal 1 pleton..di dlm pleton ada 1 org yg brtugas sbg pelayan komunikasi..agr ttp trhubung dg komandann kompi

  18.  

    Mantap bung antonov,,,, mudah2 an TNI kita makin maju dalam konsep perang modren,,,,,

  19.  

    tpi lebih utama sniper nya itu…buat merusak mental lawan…kebayangkan tiba tiba teman disebelah anda jatuh tersungkur dengan jidat bolong tertembus peluru yang tidak diketahui darimana datangnya…terkencing kencing di celana itu udah pasti sambil berdo’a sebelum malaikat pencabut nyawa datang menghampiri.. 😀 😀

  20.  

    setiap penempatan dan pergerakan misi tempur … satu yon musti di lindungi satu Pantsyr … buat tangkal misil/rudal musang dan jg yg skrg sangat ditakuti prajurit se dunia … hujan MLRS !!!

  21.  

    Jadi jngat kala mahasiswa dulu pernah ikut latihan infanteri di Cipatat , nama latihan lupa, terdiri dari : parit pelindungan, 50 m medan dengan kawat berduri 0,5 m di atas tanah. Mulai berlindung di parit perlindungan sudah dihujani tembakan peluru tajam GPMG di atas tripod lintasan peluru 0,5 m di atas tanah, kadang2 peluru mampir di bibir parit. Dengan aba2, kita mulai keluar parit merangkak sepanjang 50 m melalui kawat berduri. Selama itu dihujani tembakan dan ledakan yg telah dipasang di medan. Kalau ada yg panik, bangun atau lari akan terkena peluru tajam. Latihan ini memperkenalkan kepada calon prajurit desing peluru tajam dan simulasi ledakan mortir.

    Apa sekarang masih ada latihan semacam itu ya?

    •  

      kelihatannya sudah tidak ada bung. mungkin sekarang hanya menwa saja. dulu sebelum masuk kuliah teman2 di poltek di kirim dulu seminggu ke kamp tentara.

    •  

      ya itu bagus bung Antonov, seharusnya bisa dihidupkan kembali Latihan Tempur Dasar bagi setiap WNI sebagai program bela negara dan juga sebagai Kekuatan Pasukan Cadangan Nasional. Sebab dalam eskalasi politik global saat ini, dunia mengarah kembali pada peperangan antar negara. Jadi sekarang ini sudah tidak jamannya lagi pemberontak apalagi terorist. Jelas sekali terlihat gambaran kawasan yang sudah mulai memanas, begitu juga lingkungan kanan kiri kita yang sudah mulai menebar provokasi dan saling mengancam dalam diplomasi.

  22.  

    Saya setuju dgn penulis perhatikanlah hal hal kecil dahulu untuk tni kita seperti untuk prajurit reguler jangan melulu yg gede2 seperti pesawat,kaprang etc sudahkah ada disetiap koramil manpads 1 unit plus amunisinya, atgm1 unit + amunisinyaserta rompi anti peluru g muluk2 cuma pemikiran sales obat

  23.  

    Mantap bung Antonov ulasannya …
    Mungkin kita bisa berpikir ulang cara bangsa ‘besar’ amerika yang ‘kurang JANTAN’ melakukan penyerbuan yang ‘identik’ melakukan serangan udara besar besaran pada objek vital musuhnya, sekiranya objek vital musuh dianggap hancur dan tidak mempunyai daya deteran lagi, maka pasukan Tank dan genk nya menyisir musuh yang tersisa. Dan terakhir pasukan infantri yang beraksi … Itu dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban manusia … IMHO
    suatu pertempuran balik lagi pada doktrin ‘perang’ suatu negara …
    Yang begini bung Wehrmach jagonya neh …
    Salam Tabik …

    •  

      Terima kasih dan salam kembali. Infanteri itu julukannya Queen of the battlefield. Kemenangan ditentukan oleh infanteri yg menduduki medan lawan. Contohnya perang melawan Isis tidak akan pernah dimenangkan sampai pasukan infanteri merebut dan menduduki daerah Isis. Bantuan udara tidak akan pernah memenangkan perang, kecuali dilanjuti dikombinasikan dengan serangan infanteri. Contohnya di kota Kobani, prajurit/ infanteri Kurdi mendudukinya setelah Isis dilemahkan dengan serangan udara.

  24.  

    Keren

    Saya rindu artikel sperti ini

  25.  

    itulah salah satu kegunaan rider,musuh bisa saja melakukan serangan udara besar besaran ke sejumlah objek vital tapi akan sangat sulit untuk melakuksn pendaratan di sejumlah pantai indonesia,seandainyaa bisa mereka akan mendapatkan teror yang luar biasa sampai personil mereka habis,,,,

    •  

      Raider memang berguna, tetapi apakah kita terus menerus melatih kurang lebih 300.000 prajurit menjadi raider?

      Zaman saya dulu, KemHan pernah menerbitkan buku “Taktik Kesatuan Kecil” untuk yonif reguler yg isinya bagus sekali, seingat saya mencakup persenjataan, gerakan siang/ malam, penyergapan, anti gerilya dll yang kurang lebih sama dngan pendidikan raider sekarang. Sayang bukunya sudah hilang.

      Mengapa tidak dicetak dan dijadikan doktrin kembali? Tidak selamanya yg baru itu lebih bagus dari yg lama.

  26.  

    Coba diperhatikan efektifitas pasukan dari ISIS berhasil menggempur lawan dengan cepat, senjata beragam termasuk membawa mortar

  27.  

    Bikin pasukan yg ghoib juga
    Peluru ghoib
    pesawat ghoib
    thank ghoib
    kapal ghoib
    rudal ghoib
    pasti menang tpi menangnya di ghoibkan saja…

  28.  

    salam tabik bung antonov..meniru pergerakan regu biasanya 1 orang tracker sebagai pandu tempur regu juga dilengkapi senapan smoothbore 12 gauge, di TNI ini tidak umum. Seorang demolisi kelihatannya di sini diskenariokan memanggul rpg 7 atau Nlaw tergantung konstelasi konfliknya, untuk mengurangi beban mestinya ia malah hanya membawa sub machine. Begitu juga radio man, praktis ia mengandalkan sub machine juga untuk memangkas beban.
    Kalau mengacu marksman dari penggelaran regu amrik dengan sr-25, pilihan untuk taifib malah hk 416 (cmiiw)..entah untuk regu TNI apa menggunakan ss 2 v2 yang memang sudah didedikasi sebagai “kategori” senapan runduk semiautomatic..(cmiiw).
    Terakhir sebagai supresor pilihannya memang paten m 249 minimi atau ultimax.
    salam tabik bung antonov….

  29.  

    Salam kembali Bung blaze.
    Pembahasan artikel dibatasi pada senjata regu senapan reguler. Sniper, komunikasi, taktik kesatuan kecil belum dibahas, mungkin lain kali, meskipun semuanya berhubungan.
    Minimi itu masih kaliber 5,56 mm jadi sbaiknya diganti dengan GPMG SM-2 7.62 mm buatan Pindad.
    GPMG SM-2 itu lisensi dari FN MAG yang terkenal reliabilitynya dan digunakan oleh dunia, termasuk AS.
    Ultimax itu bisa kaliber 5,56 mm atau 7.62 mm, tapi kan made in Singapur.

  30.  

    Ada lagi barangkali. Pasukan yg perlu di bangkitkan yaitu pasukan yg memiliki mental brani mati!! Yg gak terlalu mikir dunia dan keluarga, namun memiliki mental spiritual yg tinggi!!! Seperti didikan psantren indonesia atau budhisu di jepang!!

  31.  

    Sebagian besar batalyon tni tidak punya rpg7 atau senjata anti tank.,maka jika di medan tempur akan berhadapan dgn tank maka akan kalah atau kabur

 Leave a Reply