Over Acting Su-35

58
8

Su-35 (photo :: Free Repubilc)

Rusia menerjunkan Su-35, sebuah pesawat tempur multirole terbaik yang dimilikinya di perang Suriah. Su-35 bertugas memborbardir basis-basis pertahanan ISIS yang tidak dilengkapi dengan senjata anti pesawat canggih. Selain itu ISIS juga tidak memiliki armada pesawat tempur dan armada tank yang bisa dijadikan target yang empuk bagi Su-35.

Sebenarnya lebih tepat jika operasi pemboman dilakukan oleh helikopter serang, pesawat serang anti gerilya atau serangan darat yang kuat dengan armada lapis baja.

Rusia tentu memiliki sejumlah strategi dan pertimbangan dengan menyebarkan Su-35 di Suriah, meski nampak seperti “senjata yang berlebihan” dalam operasi pemboman di Suriah. Lalu apa tujuan dan keuntungan yang didapatkan Rusia dengan aksi Su-35 di Suriah?

Pertama, Su-35 terjun di medan perang Suriah untuk mengimbangi aksi Amerika Serikat dan Barat, dengan semakin meningkatnya eskalasi pertempuran di SUriah kala itu, dan setelah ditembak jatuhnya pesawat serang Rusia oleh Turki, kehadiran Su-35 diperlukan untuk membentengi pergerakan pesawat tempur musuh.

Kedua adalah menguji fitur dan kemampuan tempur Su-35 di medan perang yang nyata. Selain menguji kemampuan Su-35, operasi tersebut sekaligus juga meningkatkan kemampuan tempur pilot-pilot Su-35 Rusia.

Ketiga, penyebaran Su-35 juga ditujukan untuk meyakinkan sekutunya, Suriah. Rusia sekarang memiliki banyak kepentingan di Suriah, seperti mempertahankan pengaruh militer untuk bisa mengontrol navigasi di Laut Mediterania dan mengamankan jaringan pipa gas Rusia yang melintasi wilayah Suriah.

Dan yang keempat adalah bisnis, atau mempromosikan Su-35 ke pasar internasional. Ini adalah teknik Rusia yang dipelajari dari Perancis. Serangan pesawat tempur Rafale Prancis yang mengesankan di Libya telah membuatnya banyak menerima pesanan setelah sebelumnya Rafale sangat sulit menemukan pelanggan internasional.

Saat ini Su-35 telah mendapatkan pesanan dari China dan Indonesia, dan kemungkinan masih ada beberapa negara lain yang tertarik membelinya.

58 COMMENTS

  1. lha pesawat seperti f 22, b 1b, bahkan f 15e sekalipun menurut saya jauh lebih mubazir ketika ditempatkan di suriah ketika sebenarnya hanya dibutuhkan heli apache, a 10 atau ac 130.
    dliuar itu semua, membayangkan alasan mereka menurunkan senjata canggih untuk menguji potensi sekaligus promosi peralatan mereka. itu semua adalah manusia yang mereka gunakan sebagai obyek/target yang mereka harus mempertanghungjawabkan semuanya di akherat nanti.

  2. Australia will have F35 soon. SU 35 is multirole fighter, without steath availability, SU 35 just rely on pilot, speed, and agility for maneuver avoid F22 or F35 attack. We hope Air to Air missile is not stealth. With F35 0r F22 Australia remains superior than Indonesia. Indonesia must make an effort to compensate for this gap. How? we can accuisition steath radar and anti air missile.

    • Saya nggak ngerti teknisnya bung.
      “over” yang saya maksud adalah JkGr banyak banget artikel tentang Su-35. Jumlahnya sudah over banyaknya. Makanya saya tambahin link nya juga biar overdosis sekalian.
      HaHaHaaa……..

  3. Ya wajarlah….namanya jg utk kepentingan sertifikasi betel prupen. Agar bisa disematkan label “Multirole fighter” disertifikat itu
    Gunanya utk mengetahui yg terdeteksi diinstrumen kokpit apa sesuai dng target di darat pada kondisi real. Utk mengasah kemampuan pilot dlm menganalisa dan memutuskan utk nenggunakan persenjataan dng tepat dan presisi. Utk melihat rekam jejak hasil serangan yg dilakukan apakah akurasinya terjaga.
    Setelah proses itu semua berjalan sesuai yg diharapkan, barulah si Jimmy dan teamnya bekerja koar2 mempromosikan klo SU-35 itu benar2 kecap no. 1 dikelasnya…..benar begitu toh bung jimmy.?….xixixi

    Lahhh…rangkaian tahapan itu semua yg gak bisa didapatkan pespur Gripen, yg hanya menang di teori saja cap nya sbg multirole figter. Gripen adalah pesawat yg dilahirkan oleh negara nonblok yg tidak punya musuh. Jadi mau dapat sertifikat betel prupen di palagan peperangan kesulitan. Secanggih apapun pespur Gripen nenurut salesnya gak akan dpt sertifikasi betel prupen.
    Masih bagus F/A-50 nya korea, sdh pernah diuji di palagan marawi sehingga dpt sertifikat betel prupen. Jd sdh benar pilihan TNI mengakuisisi F/A-50 walaupun saat itu blom teruji. Tapi insting penentu kebijakan sdh sangat tepat dlm pemilihan pesawat tempur ringan demikian jg dng pemilihan F-16…xixixi

    Makanya makin songong aja tuh si Jimmy begitu dagangannya dpt sertifikasi dan dibeli Indonesia. Makin berani aja tuh dia debat head to head dng suhu sekaligus seniornya bung Tukang Ngitung, Phd yg berbekal jualan Gripen yg menang di radar Aesa dan teknologi data link yg sdh network centris tp gak ada serifikasi betel prupennya.

    Iki ngomong opo toh…..panjang lebar gak jelas juntrungannya koyo wong mabuk….xixixi
    Salam damai warjag. Sekedar obrolan ngelantur doank gak perlu diperdebatkan….xixixi

    • Setahu saya, itu senjata yang disuplay ke kelompok2 militan suriah sudah lumayan gahar kok… banyak tuh di video di youtube… dan lawan dari pemerintah Suriah itu tidak hanya ISIS, bahkan FSA pun juga merupakan lawan… belum lagi kenakalan dari koalisi sebelah yang tiba2 menusuk dari belakang meskipun sudah minus Turki yang menyerah dan memilih berkolaborasi dengan Rusia…terbukti kok, dipasang yang gahar2, langsung pada nahan, dan bandingkan situasi sebelum kehadiran Rusia dan sekarang…itupun bertingkat dari hanya menggunakan jet tua sejenis SU-24 dan SU-25, ada insiden terus ditambah SU-27/30 akirnya gongnya SU-35… kalau tidak begini usaha kerja keras Rusia dinakali terus sama koalisi sebelah…

  4. Sebutan Multirole SU35 yang sangat membedakan dengan Pespur yang “pura-pura” multirole JAS39 adalah Payload yang sangat besar.
    Payload sangat besar dari SU35 yang sering di ejek oleh Sales gripen bahwa Pespur itu bawa rudal hanya perlu setengah dari payload SU35 jadi “ngapain pay load nya BESAR ???” …
    Ini sangat menggelikan “ejekannya” berarti belum mengetahui sejatinya Multirole.

    Pespur yang “sok sokan Multirole” mengklaim bias bisa bawa rudal misi serang darat, laut dan BVR, tatapi karena payload nya kecil (single engine) semua “rule” itu dilakukan bergantian dalam misi yang berbeda. Balik kandang dulu baru jalankan misi selanjutnya.

    Perpur yang “real multirole” akan melakukannya dalam satu sorti , karena payloadnya besar. Dalam satu misi , di tanpa khawatir membawa 3 jenis rudal yang berbeda misi dalam jumlah yang lebih dari cukup sehingga tidak perlu balik ke kandang.
    Hal ini juga disukung range dan ceiling yang jauh/tinggi … sehingga beberapa misi yang biasanya berbeda tempat dan scenario tidak mengharuskan kembali ke kandang.

    Dan Sales yang menjadikan Payload pesawat lain yang Besar adalah sia-sia/kelemahan …. hanya modal kuota internet dan baca google.

  5. “Dalam hal karakteristik, radar ini mirip dengan yang di F-22. Irbis dapat mendeteksi target yang mendekat dari jarak 350 – 400 kilometer. Di jarak tersebut, Su-35 juga dapat melihat kapal induk, di jarak 150 – 200 kilometer dapat melihat jembatan kereta api, di jarak 100 – 120 kilometer perahu motor, dan di jarak 60 – 70 kilometer sistem misil taktis yang bergerak atau sejumlah kendaraan lapis baja dan tank,” kata Kozyulin. “Dan ia (Su-35) dapat menyerang mereka semua.”

    gak salah kita akuisisi neh layangan ,…apalagi kalo di tambah su57 setengah losin ,…mantap jiwa………

    • Aku malah geregeten kepingin TNI punya SU-34/32… dg daya jelajahnya yg jauh biarlah TNI-ALyg mengoperasikan untuk patroli maritim untuk menghajar kapal2 perang yg nyelonong masuk k perairan Indonesia yg kalo d kejar pake KRI msh bisa kabur… d kejar pake CN-235 malah 235 g bisa ngeles kalo d bales krn kegedean body…

LEAVE A REPLY