Mar 102014
 
Pertamina bangun pabrik pelumas atau grease plant dan Lube Oil Blending Plant modern di ASEAN

Pertamina bangun pabrik pelumas atau grease plant dan Lube Oil Blending Plant modern di ASEAN

PT Pertamina mengklaim tengah membangun pabrik pelumas atau grease plant dan Lube Oil Blending Plant modern di ASEAN. Pabrik yang berlokasi di Tanjung Priok ini total menghabiskan biaya pembangunan mencapai Rp 1,3 triliun.

“Untuk grease plant investasinya Rp 500 miliar sedangkan lube oil blending plant investasinya Rp 800 miliar,” ujar Direktur Utama Lubricants Pertamina, Supriyanto, dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (9/3/2014).

Supriyanto mengungkapkan potensi pasar pelumas di dalam negeri per tahunnya mencapai Rp 20 triliun. Sejauh ini, Pertamina telah menguasai 60 persen pasar di dalam negeri dengan pendapatan sekitar Rp 12 triliun per tahun. “Dan keuntungan Rp 2,4 triliun per tahun,” tuturnya.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya, mengatakan pembangunan pabrik pelumas tersebut akan selesai pada Juni mendatang. Nantinya, pabrik tersebut mampu berproduksi sekitar 9.000 metrik ton pelumas per tahun.

“Dan akan menjadi termodern di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sementara, lube oil blending plant memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun. Ini merupakan fasilitas lube oil blending plant ketiga yang dimiliki Pertamina.

“Kita akan menjadi salah satu produsen dengan kapasitas tertinggi di Asia Tenggara. Kalau ini selesai kapasitasnya menjadi 600.000 ton per tahun,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Hanung, Pertamina juga akan berekspansi dengan mengakuisisi fasilitas produksi pelumas di Thailand. Sejauh ini Pertamina telah menancapkan kukunya di 25 negara dunia.

“Sekarang proses akuisisi fasilitas produksi di Thailand yang sudah mendekati final. Ini akan menjadi basis produksi untuk pemasaran di Indonesia-China. Kita akan agresif pemasaran juga ke China dengan bekerja sama dengan perusahaan pelumas di sana,” katanya. (Merdeka.com).

Bagikan Artikel :

  50 Responses to “Pabrik Pelumas Pertamina, Termodern se-Asia Tenggara”

  1. RUGI TERUS……. TAPI BIKIN PERTAMINA TOWER

    • “Pertamina telah menguasai 60 persen pasar di dalam negeri dengan pendapatan sekitar Rp 12 trilyun per tahun. Dan keuntungan Rp 2,4 trilyun per tahun.”
      Di mana yng rugi………!!!!!!!

      • Rugi karena pertamina kalau mau jual beli dipaksa harus pakai broker disingapore, padahal kalau pertamina tidak menggunakan jasa broker singapore untungnya lebih banyak. πŸ˜€ (ini yg ngomong orang pertamina sendiri dimedia)

        • Singapore sebagai hub minyak Dan broker, Malaysia gak lama gak perlukan broker seperti Singapore ,Selepas siapnya pengerang johor tempat penapisan minyak bbm terbesar asian, apa rancangan Indonesia untuk atasi broker bbm Zionist di Singapore itu telah ikat tangan pertamina

    • Pertamina rugi terus? Kabar baru atau jadul ya? Atau mungkin salah profile company? Tahun ini Pertamina mencatatkan keuntungan terbesar sepanjang sejarah, dan mencatatkan diri dalam kelompok 500 perusahaan terkaya di dunia. Yang biasa terdengar rugi biasanya PLN dan Merpati. Terima kasih Bung..!

    • Rugi ….yg dimaksud rugi itu dibisnis tertentu spt LPG….tetapi overall…pastilah untung…bbm subsidi itu untungnya tipis tapi dgn volume sgt banyak..untung gede…kan setorang Pertamina ke negara termasuk yg ‘gajah’…..he5x…..

      • Iyah, Pertamina rugi di gas subsidi 3kg. Makanya gas 3kg skrg stop produksi, cukup gak cukup ya segitu. Skrg pertamina genjot produksi Bright Gas yg harganya tanpa subsidi.

        • Itu juga masih belum menunjukan sebuah kerugian, Bung. Karena kita tahu bahwa gas subsidi diproduksi berdasarkan permintaan pemerintah melalui kuota subsidi, bukan atas dasar permintaan pasar. Jika Pertamina memaksakan diri memproduksi LPG tabung 3kg melebihi kuota yang ditentukan, maka jelas Pertamina akan kebobolan.

    • Bung angel eyes,lebih baik ganti nama nick aja jd ngeyel eyes,lebih cocok soalnya,sesuai sama orangnya yg suka ngeyel.apa nama yg dulu aja,neng oke lah.
      Ha ha ha ha
      Santai aja bro

    • Ada yg setuju,,??

    • maksud dari rugi itu seharusnya kita jual 10 tp disuruh jual 6
      rugi 4 dong kita
      tp kalo jualnya di nilai BEP mungkin 4 itu udah balik modal

      makna rugi dari berjualan itu bukan rugi dari gk dpt untung secara keseluuhan bung angel

      coba googling pendapatan perusahaan thun 2013 brp
      mencapai 30T lebih
      tp etap devisit perdagangan karna 1 hr impor bisa ratusan ribu barel yg di expor cuma 30% dari impor

      kita tetep exportir minyak karena kilang kita cuma 600rb barel
      kita impor dari singapura maknanya minyak orng2 timtengah dibawa kapal ke singapura dan di taro di kilang2 mreka
      trus kita beli dari kilang singapura di bawa ke INA
      singapur cuma jadi HUB doang bukan murni beli dari singapur

      coba sharing2 ama orng2 yg kerja di pertamina
      pasti banyak yg kita gk tau karna kita cuma memelajari dari pemberitaan yg notaben 80% isinya mengkeritik pemerintah tanpa memecahkan masalah

  2. Lanjut!!!!!!! Setelah tankker sekarang pabrik oilnya

  3. Invest Pabrikasi Rp.1,3 T dgn Margin 2,4 T/tahun..??

    Bener2 Licin nih bisnis pelumas… 7 bln operasional dah balik modal tuh.
    wew….jomplang banget dgn garapan yg membagi BEP di 60 bulan (5 thn-an)
    πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    jika angka2 itu, real semoga z bisa menambah serapan lapangan kerja yg maksimal, mengalihkan budget subsidi BBM ke pendirian usaha super likuid model begini lebih banyak lagi.

  4. Saya sgt mendukung sekali jika pertamina bisa mengambangkan asset dan sumber daya yg mereka miliki. Jika pertamina hanya disuruh utk mengebor minyak saja tanpa kita tahu kapan sumur itu berproduksi, sedangkan utk ngebor minyak saja butuh biaya yg tdk sedikit maka pertamina akan rugi dan tdk bisa nutup biaya operasinya.

    Dgn diversifikasi usaha ini, pertamina bisa mensubdisi lininya yg rugi disektor elpiji dgn usaha lain yg lbh menguntungkan. Pertamina utk saat ini adalah pembayar pajak terbesar bagi negara. Dgn pertumbuhan bisnis pertamina ini tdk hanya pajak yg didpt negara, juga lowongan kerja dan bisnis2 lainnya turut berkembang spt supliernya.

    Saya jg mendukung pembangunan menara pertamina, krn pasti kita akan bangga punya gedung tertinggi di dunia, yg bisa menarik wisatawan, sbg landmark kemajuan ekonomi kita, disisi lain semoga bisa membuat pertamina sbg leader di kawasan, terintegrated semua lini usahanya, dan branded name utk memuluskan diplomasi bisnisnya diseluruh dunia.

  5. Salute Pertamina..! Langkah pertama, membangun pabrik sejenis, joint dengan Korea di Dumai. Sekarang udah bisa jalan sendiri. Ada suatu kebanggaan apabila kita menemukan produk dalam negeri di oversea. Apalagi di Australia, bukan cuma produknya, tapi juga outletnya. Wow, Pertamina..! Ada rasa gimana gitu lho..!

  6. pertamina pada 2013 meraup untung sekitr 25 T, tetapi jika blok mahakam jadi dinasionalkan maka keuntungan pertamina akan melonjak menjadi sekitar 175 T ( kata karen agustiawan saat ditelpon dahlan iskan) maap lupa linknya

    • yg lebih parahnya kalau g salah petinggi kementrian ESDM sendiri yg bilang bahwa kita akan rugi jika mengelola blok mahakam.

      semoga ke depan presiden terpilih bisa menempatkan orang” yg betul kredibel di bidang ESDM dan BUMN untuk menduduki ke 2 pos kementrian yg menurut saya merupakan salah satu titik krusial pembangunan Indonesia kedepan.

    • sebenarnya pemerintah bisa tegas untuk tidak memperpanjang kontrak di blok mahakam seperti yang terjadi di PT inalum, meskipun jepang sangat gencar melobi bahkan mengamcam akan membawa ke arbitrase intenasional, tetapi pemerintah tetap teguh pada pendirian maka hasinya inalum pun sekarang berada pada pangkuan ibu pertiwi, apakah hal ini bisa tejadi pada blok mahakam? let’s see

    • saya dukung blok mahakam mjd milik pertamina

  7. bisnis pelumas sebenarnya menguntungkan karena demand yang besar, khususnya di indonesia saja, misal pelumas motor R2 all type kira-kira butuh 90 juta liter/bulan atau 1,1 milyar liter/tahun. perbotol rata-rata harga Rp. 32.000,- jadi pasarnya sampai 33 T/tahun. ini belum kelas R4, truk besar hingga kapal laut. makanya kalo mw bangsa untung besar, minimal kebutuhan pelumas motor pake produk pertamina, kualitas internasional dan produksi dalam negeri.

    • kalau tidak salah banyak pabrikan oli asing di indonesia yang menggunakan oil base dari pertamina. selanjutnya baru diproses lebih lanjut di unit produksi mereka sesuai spesifikasi yang telah mereka tentukan. untuk produk r2 olie kelas enduro termasuk berkategori bagus untuk ukuran harganya. sedangkan untuk r4 kelas bensin bisa menggunakan oli fastron (semi sintetik maupun full sintetik) yang sudah go international.

      • #benar bung @alugoro, saya setuju dengan anda

        # setahu saya yang bernah bekerja di bengkel dan pernah mendapat training dasar masalah pelumas, memang pelumas yang digunakan oleh beberapa vendor besar seperti Ho*Da mobil menggunakan oilbase dari type fastron Gold, dan type ini pula memiliki batas ketahanan hingga 10.000km bila dibandingkan dengan type fastron biasa yang 7000km apalagi bila dibangdingkan dengan Oli artis yang made USA itu, deposit hasil pembakaran jauh lebih rendah. (testimoni customer pribadi saya yang mencoba fastron)

        #dan rio haryanto pembalap formula asia dan ananda mikola pembalap rally yang pernah podium di relly corsica jg konon menggunakan fastron gold (SAE 0 w – 30 ) ini

        # beberapa produk nya bisa dilihat dari link ini http://www.pertaminaracing.com/produk/

        # sungguh membanggakan NKRI ini, bila dikelola dengan benar

        #mohon koreksi bila salah,salam

  8. Pertamina dengan produk oli merk mesran dan enduro harusnya bisa menjadi gajah dinegeri sendiri.
    Keuntungan pasar domestik yang besar harusnya dimanfaatkan maksimal oleh pertamina,
    Asing memperebutkan pasar Indonesia yang seperti gudang harta karun ini,

    kita butuh SERTIFIKASI NASIONALISME atau PATRIOT di setiap produk kita. Sertifkasi yang dikeluarkan oleh lembaga/Komisi Independent di negara ini. Masyarakat akan membeli produk yang mempunyai sertifikasi Nasionalisme /Patriot untuk menunjukan bahwa mereka peduli dengan kemandirian bangsa ini (walaupun aslinya banyak yang kurang peduli) dan akan menimbulkan fenomena tersendiri dalam perdagangan di Indonesia yang tentunya untuk MEMACU kemandirian bangsa ini.

    Bila selama ini ada SNI standart Nasional Indonesia yang melabelli produk produk yang beredar di pasar nasional kita menunjukan bahwa produk tersebut sudah memenuhi standart yang ditentukan oleh regulasi kita. MAKA Kita perlu SPI (Standar Patriot Indonesia) yang harus dicantumkan di semua produk lokal yang beredar di pasar kita.

    SPI menunjukan bahwa produk tersebut hasil dari produk dalam negeri dan kandungan lokal bahannya lebih dari 75 persen. Dengan adanya sertifikasi ini dan diberi Logo SPI misalkan memakai logo burung garuda menunjukan mana mana saja produk yang sudah asli buatan kita sendiri, maka akan Timbul Fenomena di tengah masyarakat kita” Gak pakai produk yg ada lambang garudanya berarti gak cinta produk Indonesia”.
    Mungkin ide di atas bisa MENGGUGAH rasa nasionalisme seluruh lapisan masyarakat kita dan mau membeli barang barang produk kita dengan alasan nasionalismenya yang tinggi, atau malu kalau dibilang kurang rasa nasionalismenya, atau sekedar untuk GENGSI saja.

    ulasan lengkapnya bisa dibaca disini
    http://jakartagreater.com/embargo-diri-sendiri-menuju-kemandirian-by-satrio/

    • waaah stuju banget bung πŸ™‚

    • benar banget bung Satrio kita harus bangga untuk memakai produk Indonesia. saya pribadi sudah selama 7 tahun ini menggunaka oli produk pertamina.

      saya pernah ditawarkan oleh teman saya oli produk dr luar dgn embel” nilai plus yg sngat banyak,tp sy menolak dan mengatakan bahwa saya lbh memilih memakai oli pertamina dengan alasan bahwa itu adalah salah satu sumbangsih kecil saya terhadap negara dan pertamina agar negara kita bisa makin maju,namun ternyata teman saya tertawa dan mengatakan buat apa berpikir meningkatkan keuntungan pertamina dan negara jika akhirnya uang itu akan dikorupsi lagi,kemudian saya jawab itu bukan urusan saya lagi yg penting sy telah berikhtiar untuk membantu negara ini sesuai dengan kemampuan saya.

      suka atau tidak,diakui ataupun tidak memang masih banyak rakyat yang menganggap bahwa Pertamina masih belum tepat dalam pengelolaan keuangan dan masih banyak terdapat kebocoran,tantangan yg harus dijawab oleh pertamina dengan cara yg tepat.

      • +1 jempol. senang hidup sejaman denganmu

      • # stuju, sepatu saya selalu pake garsel atau pakalolo asli cibaduyut, Hp pakai polytron rakitan semarang, tas eiger/export bandung, kaos pake archer Semarang, Oli mobil fastron diesel, sayang mobil nya jepun belum pakai merk local( mimpinya pakai komodo versi sipil ya pindan,heheheehe)

    • Sebetulnya tidak harus begitu bung Satrio,

      membuat label/logo khusus dikemasan item, membuat pabrikan mencetak 2x variance kemasan, dan menimbulkan ekses yg tidak perlu di grassroor, lebih efektif membuat turunan hukum dari UUD 45, ” setiap hal yg menyangkut hajat hidup masyarakat banyak, diatur oleh negara”

      essensi nya bisa begini :
      a. di wil.nkri hanya berlaku prod.Pertamina.pasti 100% tuh share marketnya.
      b. Prod.import dibolehkan dgn harga konsumen diatas prod.pertamina dgn setiap grade volume import dikenakan pajak masuk yg bertingkat pula.

      sebetulnya kalo rakyat itu akan ngikutin z qo,aturan yg dibuat wakilnya di Dewan.
      imho- bukan hilir yg diurus, tapi hulu nya.
      kalo pun product import sejenis dilarang masuk, lha rakyat mau beli prod.import gimana..? pastinya kan beralih ke produk pertamina sendiri, jadi pertamina akan menyedian berbagai variance yg dibutuhkan masyarakat.

      • Hehehe..! Ini yang disebut skema semi proteksionisme. Cara inilah yang sekarang digunakan Malaysia dalam melindungi industri otomotifnya. terlihat bagus, tapi tidak demikian kenyataannya. Skema ini hanya akan sedikit mendorong industri luar untuk mendirikan pusat produksinya di dalam negeri. Dengan keterbatasan bahan baku, maka mereka pun akan terpaksa import. Bisa dibayangkan, semakin tinggi permintaan sebuah produk, maka akan semakin tinggi pulalah import bahan baku kita. Akhirnya industri kita hanya akan menimbulkan defisit perdagangan, padahal tanpa dibebani oleh industri sektor ini pun, defisit neraca perdagangan kita yang disebabkan oleh tingginya import minyak mentah kita sudah sangat besar.
        Membangun nasionalisme tidak harus mengorbankan prinsip fairplay, malah hal itulah yang akan semakin menjauhkan nasionalisme dan sangat tidak mendidik. Di tengah masyarakat kelas menengah yang kian tumbuh, dimana kemampuan mereka dalam memilih produk semakin cerdas, maka sudah menjadi kewajiban perusahaanlah untuk menciptakan produk yang sesuai permintaan pasar. Tidak semua persaingan buruk. Selama persaingan ditujukan untuk merebut kepercayaan pasar, maka persaingan akan menciptakan kualitas dan memberikan benefit bagi konsumen. Saya khawatir, dengan perlindungan yang salah kaprah hanya akan menenggelamkan industri dalam negeri sendiri. Hasrat hati ingin melindungi produk dalam negeri dengan kebijakan harga yang selalu lebih rendah, hasilnya malah justru memenjarakan produk sendiri dengan kebijakan yang kita buat sendiri. Hal inilah yang menimpa Proton di Malaysia saat ini. Diawal peluncurannya, Proton adalah sebuah symbol kebanggaan nasional. Tapi di akhir kehancurannya, Proton telah menjelma menjadi symbol kebangkrutan nasional. Sangat ironis, inilah buah proteksionisme yang berlebihan dan salah kaprah. Kasus ini juga menimpa MAS. Di era Mahathir Muhammad, Proton, MAS dan Petronas adalah BUMN Malaysia yang mendapat perlakuan khusus. Laba perusahaan diciptakan tidak melalui proses sebenarnya. Laba dibuat melalui system monopoli. Ketika rezim berubah, maka rezim monopoli pun berakhir. Disaat itulah, kelemahan perusahaan mulai terlihat. Membiarkannya mati akan rugi, dan mempertahankannya juga setengah mati. Pindahnya Air Asia ke Indonesia, adalah buah dari kebijakan pemerintah kerajaan Malaysia yang berkeras untuk melindungi MAS yang semakin payah. Sedangkan nasib Petronas tinggal menunggu waktu, mungkin karena di situ masih ada Dr. M..! Hehehe..! Nasionalisme harus lahir dan tumbuh dengan akarnya..!

        • @ yayan

          cuma nanya

          benar apa ngak sih bila indonesia ingin berusaha dan maju cukup dengan CHINA DAN INDIA..karena sudah mewakili lebih dari separuh penduduk dunia..dan pangsa pasar (semua produk) yang bagus bagi indonesia,
          sedangkan yang lainnya eropa ,rusia ,america ,australia bisanya hanya ngerecokin asia saja. mereka tak ingin ASIA jadi negara super power,yang nantinya menyaingi mereka,..YUAN,RUPEE,RUPIAH,.

          • Bekerja sama dengan China dan India adalah hal yang penting. Tapi menjalin kerjasama dengan negara di belahan dunia lainnya juga adalah hal yang tidak kalah penting. Jika kita merasa sudah mampu memasuki era globalisasi, mengapa masih harus berpikir lokalisasi? Hehehe..! Maaf ini istilah buatan sendiri, jangan berpikir jorok dulu. Mungkin kita bisa maju dengan menguasai separuh dunia, tapi akan kalah oleh mereka yang menguasai seluruh dunia. Jangan pernah menaruh telur di satu keranjang yang sama. Itu adalah pepatah yang mengajarkan kita untuk tidak menjadi bangsa atau generasi yang suka bergantung. Hal yang perlu diingat adalah bahwa ada banyak bangsa lain selain bangsa kita. China dan India adalah dua negara dengan jumlah penduduk hampir separuh dunia, tapi bukanlah sesuatu yang bijak apabila kita menggantungkan hidup dan masa depan bangsa ini pada dua negara tersebut, sementara pada bangsa lain kita harus mengabaikannya? Hehehe..! Maaf saya tidak setuju. Bangsa kita tercipta sebagai bangsa yang inklusif, bukan bangsa yang ekslusif. Soal bangsa lain masih suka merecoki kita, mari kita introspeksi dan berbenahlah. Mereka bersikap demikian karena mereka masih melihat kelemahan pada diri kita. Saya tidak akan pernah sudi menjadi bangsa yang manja dan kolokan. Mencari kekuatan jangan untuk menyembunyikan atau melindungi kelemahan, tapi carilah kekuatan untuk membenahi kelemahan. Itulah prinsip lelaki sejati, bangsa Indonesia sejati..! Hehehe..! Salam hangat Bung..!

          • ooppsss…sorry mas baru dibalas……tadi lg di brifing sama yang lagi kumpul di jatim…tuhhhh
            yang saya maksud..MENGUTAMAKAN china dan india…,jadi tidak ada istilah menutup diri dengan negara lain..,?
            karena 2 negara itu sangat potensial.,untuk produk barang made in indonesia….bahkan block 3 negara ini INDONESIA,CHINA,INDIA.( ICI )bisa menguasai dunia dan bahkan terbesar .,menggantikan posisi USA,,RUSIA,EROPA,..baik dari ekonomi ,politik maupun militer…
            betul apa ngak sih..?

          • Bung Angel Eyes, saya bisa mengerti maksud anda. Apa yang anda utarakan tidak salah. Baik China, India, dan Indonesia, masing-masing punya potensi untuk menjadi yang terbesar. Bisa saja suatu saat ketiganya disatukan, semua akan sangat bergantung pada momentum. Ibarat teori kebakaran. Faktor penyebab terjadinya kebakaran ada 3, sumber api, material yang bisa terbakar dan oksigen. Meskipun ketiga faktor ini sudah ada, kebakaran hanya akan terjadi apabila ada momentum. Bisa berupa faktor human error, atau juga mungkin faktor alam.Bisa saja ide ICI yang anda sebut itu terwujud, bahkan mungkin buian hanya ICI tapi bisa juga RICI, apabila Rusia, India, China dan Indonesia sama-sama saling menemukan satu dasar pemikiran yang sama, satu kepentingan yang sama atau mungkin menghadapi ancaman yang sama, maka aliansi itupun bisa terbentuk. Semua akan terwujud selama semesta masih mendukung. Great idea Bung..!

          • @ mas yayan..

            met pagi.

            RICI bagus juga sih,, tetapi yang R nya ,sudah keluar jalur dari “ASIAN THE NEW SUPER POWER”..karena letak geografi nya yang bukan dari asia,…,ide pembentukan seperti itu ,sih cuma contekan sydari “alm gus dur”
            kalau dia sih JICI..,.j nya itu jepang..cuma sayang belum terwujud karena ,ada yang LATIHAN PERANG DI MONAS.,pada saat itu,.
            jadi ALIANSI ITU TAK AKAN PERNAH TERBENTUK..karena raja dunia USA tak ingin ada saingan…
            balik lagi pertamina,..,menurut mas yayan..pertamina sekarang masih banyak “sangkutan” apa tidak..? dengan kontrak2 pada waktu jaman “ibnu sutowo”..? yang saya maksud hutang yang harus di tanggung negara….? akibat ulahnya dan broker “tong joe”..?
            cuma nanya nih…thx

        • Hai bung Donnie, apa kabar? Hehehe..! Saya setuju dengan penguasaan pasar sampai 100%. Excellent, selama hal itu ditempuh melalui cara yang wajar, tanpa ikut campur rezim dalam pemerintahan. Penerapan kebijakan pajak bertingkat bagi produk import, dengan motif untuk melindungi produk lokal dari ekses kompetisi, di mata saya itu bukanlah langkah bijak. Tidak selamanya penguasaan pasar harus melalui strategi harga. Bagi konsumen yang bijak, kadang harga bukan lagi sebuah prioritas. Mendorong penguasaan market share di level 100%, saya pikir itu bukan hanya impian, tapi juga igauan semua pihak. Tadi saya menggaris bawahi usaha yang bung Donnie sodorkan untuk menjadikan produk lokal selalu lebih murah dari produk import. Saya khawatir, hal ini justru akan mengkebiri potensi produk lokal yang ada. Akan menjadi lebih bijak apabila harga sudah menjadi cerminan kualitas. Lingkup dan parameter pembentuk kualitas inilah yang seharusnya perlu segera dipetakan. Meskipun produk import dijual dengan harga mahal, tapi kalau mereka menjanjikan kualitas yang lebih baik, apakah akan menjamin penguasaan pasar kita tetap utuh? Jangan sampai produk lokal yang dengan sengaja diciptakan lebih murah, menemui ajalnya dengan stigma barang murahan. Itulah point kekhawatiran terbesar saya yang sebenarnya, bung Donnie. Hehehe..! Salam bung..!

        • Baik Bung Yayan trimakasih, gimana dgn Perantauannya, bung Yayan termasuk yg beruntung bisa keliling dunia dan dibayar lagi…
          beda dgn kita2 nih..malah merogoh kocek lebih dalam lagi πŸ˜€

          melanjut obrolan ya.

          Justru Negara ini salah urus bung Yayan, amanat UUD 45 banyak yg dikangkangin, so beginilah jadinya.

          Opsi A dan B, adalah pilihan, bisa ambil ramuan lain hehe..
          jika masalah perbedan qualitas itu variable lain, disini diasumsikan qualitas, jenis fungsi variance sama baiknya (malah mungkin lebih baik jika head to head).
          Jika ada jenis2 tertentu yg belum mampu dibuat didalam negeri, maka larikan ke line trading, bisa minta langsung dikemas sesuai permintaan Pertamina (biar seragam), bisa juga bebas, yg penting 1 pintu, masuk via Pertamina, Hak monopoli di negara sendiri oleh Bumn sendiri, untuk kepentingan negara sendiri, why not..??

          Bulog pun harusnya begitu menerapkan regulasi yg ketat (Bahan poko/ pangan), Telekomunikasi, entah knapa bisa lepas ke tangan swasta, bahkan satelite yg dibuat oleh uang rakyat qo bisa dijual ya..? ANEH.!

          Bukannya kita ingin merdeka itu biar regulasi ada ditangan kita..?

          Ok untuk masalah harga memang tergantung kondisi , jika ketahanan pangan atau item2 yg menyangkut hajat hidup orang banyak sudah over produksi, membuat harga domestic lebih tinggi dibandikan versi ekspor (negara lain), knapa tidak ? tentu setelah daya beli rakyat juga meningkat setara nilai. justru kondisi begini negara kita sudah dikatakan maju.

          # Harus kembali ke Pakem yaitu Pancasila dan UUD’45, baru bener.
          # maaf jika terlalu semangat πŸ˜€

        • Berbicara Margin / Keuntungan,

          Teorinya sederhana z, Bagaimana bisa margin yg dishare (dibagi) bisa melebihi atau lebih besar dg Margin/keuntungan mutlak..?

          defisit tidak akan terjadi selama selisih margin adalah surplus terhadap bea operasional, jadi menuntut Harga Jual memiliki selisih yg cukup dibanding Harga pokok, entah mau import atau produksi sendiri, ga jadi masalah.
          Mau produk sendiri atau produk luar yg dititipkan, tapi jelas memonopoli itu adalah sesuatu yg dicari jika kita bicara trading.

        • ini bukan masalah mungkin atau tidak mungkin, tapi mau atau tidak mungkin itu lebih tepat.

          Melarang produk asing masuk.? jelas bisa, jangankan yg berbentuk pisik Barang yg terlihat, berbentuk isme z bisa.!
          “Komunis” kan dilarang di NKRI, bentuk budaya pun bisa, paling tidak diatas kertas Kitab Hukum
          hadehhhh….:D

          # semoga Nkri lebih baik lagi.

        • Seneng banget masih bisa bertemu dengan orang Indonesia seperti bung Donnie. Setidaknya, harapan untuk melihat perubahan Indonesia yang lebih baik masih ada cukup besar. Mari kita sama bergandeng tangan, bahu membahu untuk mengawal perubahan itu. Jangan mudah kecewa, karena perjuangan tidak berujung pada titik air mata, bahkan dengan tetes darah dan nyawa sekalipun, perjuangan belum tentu menemukan noktahnya. Perjuangan adalah sebuah petualangan abadi, dia terlahir jauh disaat kita lahir.

          Soal perantauan saya, hampir semua teman yang saya temui, bilang bahwa saya orang yang beruntung. Hehehe..! Alhamdulillah, baik banget ya Tuhan kita, masih mau ciptakan doorprize alias keberuntungan. Saya bukan orang ngoyo sebenarnya, bahkan waktu sekolahpun, termasuk anak yang malas dan nakal, setidaknya itulah penilaian ibunda saya. Di rumah saya gak pernah menghapal dan ngerjaiin PR, karena dari kecil saya memaksa diri saya untuk fokus belajar saat dalam kelas, dan menyelesaikan tugas sebelum pulang. Bukan karena rajin, tapi karena di rumah saya ingin bermain, berenang atau bersepeda. Pokoknya gak mau repot deh. Kebiasaan ini terbawa-bawa sampai dewasa. Ternyata di mata orang Barat dan Jepang, kebiasaan saya ini dianggap baik. Buktinya saya masih bisa nego gaji. Kalau di Indonesia, saya gak laku. Hehehe..! Sedih juga, karena hampir semua keluarga saya berada di luar Indonesia. Saya termasuk paling akhir merantau. Pasca bentrok Jakarta di akhir 1999, saya hengkang dan melanjutkan pendidikan ke Australia, soalnya mau kerja di Indonesia juga gak ada yang mau terima. Maaf jadi curhat nih. Terima kasih. Selamat malam Bung..!

        • sama2 bung Yayan, seneng bisa bersahabat dgn bung Yayan walaupun via media social, it’s ok, silaturahim skrg begini ya, silaturahim digital. πŸ˜€
          bukan ga laku bung Yayan, tapi terlalu mencolok besarannya untuk taraf gaji di sini..hehe.
          sukses terus dgn petualangan nya, itu cara menjalani hidup yg keren

  9. Ayo budayakan memakai produk-produk Indonesia. Saya sudah hampir 3 tahun ini sudah berusaha ketat mem-puasakan diri memakai produk asing. Setiap saya belanja apapun di Hipermart, dll saya selalu melihat dulu produk buatan apakah itu, biasanya kalau Made In Indonesia, langsung melayang mulus ke keranjang, (yah walaupun terkadang belanja jadi lebih lama), bahkan sampai ke permen maupun Chiki-chiki sekalipun. Saat ini banyak sekali produk makanan buatan luar yg beredar di pasar2 kita, dari Malaysia, Taiwan, Selandia Baru, Australia, dll, dan pastinya tetap buatan China yg merajai pasar kita.

    Logikanya, masa sampai permen, chiki maupun makanan ringan lainnya kita harus beli buatan asing juga?? Keterlaluan banget namanya.

    Yang paling tidak saya suka adalah produk tekstil seperti baju dll, dulu kita terkenal sebagai produsen tekstil terbesar didunia, tetapi sekarang buatan China yg kualitas sampah yg banyak beredar. Apalagi 2015 nanti, dengan dibukanya pasar bebas ASEAN. Akankah kita jadi pecundang di negeri sendiri melawan serbuan produk2 asing.??

    Ayo kita mulai dari hal kecil untuk mencintai produk2 buatan bangsa kita sendiri.

  10. Lebih bagus pembuatan kilang minyak yang lebih dijadikan prioritas oleh pertamina dan negara…

  11. yang paling penting…kuatkan cadangan bbm kita…jangan cuma dalam hitungan hari.minimal hitungan bulan….

    buat kilang-kilang minyak baru.cost nya mungkin menakutkan….tapi kalau tidak dari sekarang kapan lagi….kita tidak tahu kondisi geopolitik tahun-tahun ke depan.bbm adalah urat nadi ekonomi.banyak negara berperang hanya untuk minyak. so…kita harapkan semua pihak berpikir ke depan. tentunya jangan lupa mencari sumber-sumber energi alternatif terbarukan..sehingga kita tidak serasa dinina bobokan dengan minyak yang hampir habis ini

  12. Membuat pertamina. Di ejek di negeri sendiri oleh dahlan iskan

    http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/04/01/membuat-pertamina-tidak-diejek-ejek-sepanjang-masa/

 Leave a Reply