Sep 212014
 
PAK FA T-50 Rusia

PAK FA T-50 Rusia

Praktis seluruh ideologi pesawat tempur generasi kelima telah diejawantahkan dalam wujud Su-35S. Hal ini memberi Rusia potensi untuk memulai upaya menciptakan pesawat tempur generasi kelima dengan mendahului semua negara lainnya.

Pesawat aviasi canggih PAF FA (T-50) dalam proses menyelesaikan fase tes wajibnya dan terlihat sukses. Pesawat tempur generasi kelima tersebut diharapkan mulai dapat digunakan oleh militer pada tahun 2017. Namun demikian di saat yang sama, pesawat tempur unit garis depan sudah dilengkapi dengan produk imbangan yang hampir serupa yakni pesawat tempur multiperan Su-35S.

Singkatnya, bersamaan dengan pembuatan konsep virtual pesawat tempur generasi kelima – sedari awal pesawat ini didesain dalam wujud digital – komponen yang siap digunakan untuk pesawat tempur masa depan ini diimplementasikan dan dikembangkan pada platform Su-35S. Maka Su-35S generasi 4++ pun praktis menjadi setara dengan pesawat tempur generasi kelima di semua karakteristiknya kecuali apa yang disebut teknologi siluman, sampai jenis ini masuk produksi massal.

Su-35S mampu mencapai kecepatan hingga 2.400 km/jam dan memiliki jangkauan jarak hingga 3.600 km. Pesawat ini mumpuni baik sebagai pesawat tempur, interseptor jarak jauh, maupun pembom pembawa misil.

SU 35

SU 35

Lebih lanjut lagi dalam hal karakteristik tertentu, Su-35S sudah melampaui satu-satunya pesawat tempur generasi kelima yang telah digunakan hingga sekarang, yaitu F-22 Raptor buatan Amerika. Oleh karena itu, sistem kendali radar ‘Irbis’ yang dipasang di Su-35S mampu mendeteksi sasaran di udara pada jarak hingga 400 km yang merupakan rekor saat ini, dan melacak hingga 30 sasaran serta menyerang 8 di antaranya secara simultan.

Sistem radar di F-22 lebih lemah: jangkauan deteksi maksimumnya hanya 300 km. Di samping itu, ‘Irbis’ memungkinkan pendeteksian dan pelacakan aktif terhadap hingga empat sasaran di darat secara simultan. Su-35S juga dilengkapi dengan sistem navigasi yang mampu menunjukkan lokasinya sendiri dan parameter pergerakannya secara mandiri tanpa harus melalui navigasi satelit atau komunikasi dengan stasiun di darat. Dengan kata lain, jika GPS atau GLONASS dimatikan, pesawat ini tidak akan menjadi ‘buta’.

F-22 Raptor AS

F-22 Raptor AS

Angkatan Udara Rusia dijadwalkan menerima 48 pesawat Su-35S sebelum akhir 2015. Itu praktis sama dengan 50 buah pesawat generasi kelima karena Su35S hampir identik dengan PAK FA dalam hal perangkat elektronik onboard, sistem kendali, dan persenjataan. Oleh sebab itu, tidak akan sulit bagi pilot untuk beralih ke pesawat tempur generasi kelima dengan teknologi silumannya yang niscaya: setiap pilot yang telah mahir mengendalikan Su-35S dapat dengan mudah beralih ke T-50. Artinya peralihan ke pesawat tempur generasi kelima tidak akan dimulai pada tahun 2017 – proses itu sudah berlangsung saat ini di Angkatan Udara Rusia.

Ideologi pesawat yang akan mendominasi langit di paruh kedua abad ke-21 sedang ditentukan saat ini. Apakah ini akan berupa robot terbang atau pesawat tempur klasik berawak dengan perangkat elektronik yang semakin mutakhir dan persenjataan yang baru tidak begitu penting. Yang utama adalah industri pesawat Rusia telah memulai terlebih dahulu pengembangan pesawat generasi keenam. Semakin cepat Su-35S mulai digunakan dalam unit garis depan dan semakin besar jumlahnya, usaha menciptakan pesawat tempur generasi baru akan semakin sukses.(RBTH Indonesia).

Bagikan:

  118 Responses to “PAK FA dan F-22, Catch the Wind”

  1.  

    Mantap

  2.  

    nyimak

  3.  

    premium… 🙂

  4.  

    Tiga

  5.  

    sip

  6.  

    Wajib beli nich Indonesia buat mengimbangi perkembangan kawasan yg ekskalasinya semakin meningkat..

  7.  

    10 besar je

  8.  

    Siipppp ,,,

  9.  

    di udara dan di dalam laut …….rusia masih di atas US

  10.  

    mudah-mudahn kita secepatnya punya salah satunya

  11.  

    ada satu article, Menhan bilang 2020 tidak ada beli sukhoi lagi, dg asumsi IFX sdh produksi masal dan ada skuad TNI AU dg IFX, tapi sejauh mana kematangan IFX pada saat itu, personally, untuk melengkapi.. PAK-FA ini bisa sebagai pelengkap dan penggetar dari salah satu arsenal TNI-AU.. ma’af hanya pendapat newbi …. salam hormat buat warga JKGR dan para sesepuhnya 🙂 cheers..

  12.  

    SU35S tidak untuk diekspor,Versi ekspor SU35BM.Radar IRBIS_nya itu loh yg bikin cetar.Akankah Indonesia menjadi negara Asia tenggara pertama membelinya.

  13.  

    Pilih yang gambar pertama. Mutlakkkk.

  14.  

    yang di bawah perut buat panas dingin

  15.  

    AssaLamu ALaikum SaLam semua ALL Warjager & Para Sesepuh Berikut Oom Admin, ArtikeL ini kayaknya ada hubungan KoreLasi dengan ArtikeL F22 intercept Jet Rusia,,,,Mungkinkah SU35S Lagi Ngetes SkiLL Radar & KesiLuman Avionik dan Air Frame Mereka (Para AhLi Engineer Rusia)

  16.  

    Su 30 rasa 35 mmm… mantap

  17.  

    Saya jarang bnget nntn teve, dan baru tahu ada film kartun bahasa RUSIA…yg ada beruang merahnya…dan langsung suka…

    Banyak warjager yg lebih suka produk rusia, mengapa y?

  18.  

    SU35 lagi…… he he he harap2 sudah ada yg ngumpet di hanger nya kita

  19.  

    smoga SU35 n pakfa bergabung dlm skuadron kita,.. aamiin..

  20.  

    absen,

  21.  

    Semoga pemerintahan baru meng acc pengajuan pesawat ini

  22.  

    saat ini seriusin pengadaan su-35s jangan hanya jadi khayalan para warjager saja, sambil persiapan untuk pengadaan t-5o pak fa, untuk mendampingi kfx, …….

  23.  

    Sy ada pertanyaan yg mengganjal..dng kemampuan Radar yg luar biasa jangkauannya hingga ratusan kilometer & di imbangi roket yg mumpuni untuk pesawat Generasi akan datang msh di perlukan ga y kemampuan Tarung jarak dekat (dog fight) dan Manuver2 yg ekstrim seperti skill yg harus di punyai untuk pilot Generasi lama..gimana menurut agan2..?

    •  

      ahh ribet,nih ane copasin buat ente :mrgreen:

      Masih Perlukah Senjata Jenis Kanon dan Rudal Jarak Pendek
      Menurut sejarah pertempuran udara, senjata udara ke udara jarak pendek berupa kanon dan rudal jarak pendek merupakan suatu perlengkapan standar pesawat tempur. Namun perkembangan teknologi rudal udara ke udara serta sistem radar udara canggih telah menggeser senjata utama pesawat ke rudal dengan jangkauan lebih jauh. Jadi, pertanyaan masihkah senjata udara ke udara jarak pendek kita butuhkan ? Jawabannya memerlukan analisis mendalam tentang sejarah duel udara, prinsip perang udara modern, kemajuan teknologi rudal jarak jauh modern, serta prediksi yang akurat tentang bagaimana situasi pertempuran udara masa depan.

      Meskipun perkembangan teknologi makin memungkinkan penembakan senjata jarak jauh diluar jarak pandang (Beyond Visual Range) serta teknologi siluman (stealth) antiradar, namun masa depan akan didominasi konflik intensitas rendah yang secara politis akan dibatasi aturan bertempur (Rules Of Engagement) yang cukup ketat. Pembatasan ini akan mengurangi keunggulan dari teknologi siluman dan rudal BVR. Sehingga akan memaksa penerbang bertempur dalam jarak dekat, di mana lawan terpaksa dibidik secara visual dan mengakibatkan senjata udara jarak pendek lebih praktis digunakan.

      Dalam buku Fighter Combat Tactics and Maneuvering karya Robert L Shaw, disebutkan bahwa kemampuan air combat dibutuhkan untuk bisa mengendalikan angkasa (control of the skies) yang memungkinkan misi serangan udara strategis dan taktis, close air support, suplai udara, pengintaian udara dan misi lainnya yang sangat vital untuk keberhasilan operasi militer apapun. Hal ini sudah terbukti selama abad lalu dan kiranya akan tetap demikian di abad ke 21 ini.

      Dalam PD I pesawat tempur mengandalkan senapan mesin dan kanon untuk menembak jatuh lawan. Kelincahan pesawat dan kemampuan taktik penerbang dipadukan dengan keandalan senjata menentukan keberhasilan air combat khususnya dogfight. PD II tetap mengandalkan kanon pesawat meskipun pesawat tempur dapat terbang lebih cepat dan lebih tinggi. Penerbang tetap harus memaksimalkan keunggulannya untuk bermanuver pada posisi terbaik dan menembakkan kanon dalam jarak dekat.

      Perang Korea mulai mengenal pesawat tempur jet seperti F-86 Sabre dan MiG-15 yang mampu mencapai kecepatan 600 knot dan ketinggian 35 ribu kaki. Namun senjata andalan yang digunakan untuk duel udara masih mengandalkan kanon kaliber 12,7mm sesuai dengan kemampuan identifikasi pesawat lawan yang masih secara visual. Setelah era perang ini diakhir 1950-an senjata peluru kendali (rudal) mulai dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan menembak lawan pada jarak lebih jauh dari jangkauan tembakan kanon, atau bahkan pada jarak diluar jarak pandang (BVR) di mana pembidikan menggunakan radar pesawat.

      Kecanggihan rudal jarak dekat dan jarak sedang serta kemampuan terbang supersonik saat itu dianggap sudah meniadakan keharusan melakukan dogfight “kuno” jarak dekat, membuat para perancang pesawat mendesain pesawat tempur jenis F-4 Phantom tanpa dilengkapi kanon. Hal yang sangat fatal karena terbukti dalam Perang Vietnam tahun 1960-an terbukti teknologi rudal udara ke udara masih belum bisa diandalkan. Sekitar 50% tembakan rudal dipastikan gagal mengenai sasaran karena masalah detecting, tracking, dan fuzing. Identifikasi pesawat lawan secara positif tetap harus menggunakan mata penerbang (visual) karena akurasi identifikasi oleh pengendali radar masih kurang baik.

      Keharusan untuk secara positif mengenali pesawat sasaran sebagai pesawat lawan (agar tidak salah tembak) mengakibatkan seringkali penerbang masuk ke situasi jarak pesawatnya dan pesawat lawan cukup dekat sehingga rudal tidak efektif lagi digunakan. Penerbang F-4 mampu bermanuver ke posisi menguntungkan untuk menembak. Namun yang sering terjadi adalah mereka terpaksa harus meninggalkan duel udara dan segera kembali ke daerah aman karena pesawatnya tidak memiliki kanon seperti pesawat tempur lawan, MiG-21. Situasi ini memaksa semua pesawat F-4 akhirnya dilengkapi gunpod di bawah perut pesawat sebagai substitusi dari rudal jarak dekat AIM-9 Sidewinder dan rudal jarak sedang AIM-7 Sparrow yang menjadi senjata standarnya.

      Pelajaran berharga tentang betapa berharganya kanon akibat keterbatasan dari rudal canggih ini, membuat desain pesawat generasi ketiga dan keempat yang dirancang era 1970-an seperti F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon tetap dilengkapi kanon multibarel sebagai jaminan agar pesawat bisa survive dalam sebuah dogfight.Hal ini terbukti dalam perang Yom Kippur tahun 1973 antara Arab-Israel. Sekitar 70% kemenangan dalam air combat hasil dari penggunaan kanon. Dalam perang ini Israel masih mengandalkan pesawat F-4 Phantom dan Mirage IIIC yang juga rentan terhadap tembakan kanon dan rudal antipesawat milik negara Arab.
      Kemajuan teknologi menentukan lain, terbukti hasil pertempuran mulai berubah pada konflik berikutnya saat Israel sudah dilengkapi pesawat generasi keempat yaitu F-15 dan F-16. Serangkaian duel udara melawan pesawat AU Suriah di atas Lembah Bekaa tahun 1982 menghasilkan fakta bahwa 93% kills dihasilkan oleh rudal udara ke udara. Meskipun demikian kebanyakan masih ditembakkan pada jarak pandang mata namun pada jarak jauh di atas jarak tembak kanon.

      Pada Perang Teluk 1991, saat pasukan Koalisi mengadakan kampanye militer mengusir Irak dari Kuwait, penggunaan pesawat mengalami revolusi besar-besaran. Air Power digunakan untuk menghancurkan kemampuan militer Irak untuk bertempur dengan pemboman presisi dan pengendalian ruang udara di atas Irak. Teknologi stealth, peralatan GPS dan bom presisi serta rudal jelajah digunakan secara luas. Hal ini terbukti sukses untuk meminimalkan penggunaan pasukan darat untuk meraih tujuan operasi mengusir Irak dari Kuwait. Duel udara jarak dekat tidak terjadi dan untuk pertama kalinya rudal jarak sedang atau BVR digunakan sepenuhnya dalam kampanye militer yang terkenal dengan nama operasi Badai Gurun (Desert Storm). Untuk pertama kalinya sejak manusia mengenal perang udara tak ada satupun senjata kanon digunakan dalam air combat.

      Desain pesawat generasi ke lima yang dirancang akhir 80’an menghasilkan pesawat super sejenis F-22, baik kemampuan super maneuverability (kelincahan), supersonik jarak jauh, siluman (stealth), radar super (radar phased array), komunikasi super, dan senjata super. Namun pesawat tetap dilengkapi kanon karena tidak ada jaminan semua keunggulan ini akan berhasil menghindarkan pesawat dari keharusan untuk duel udara jarak pendek.

      Semua penerbang pesawat F-22 dan F-35 serta pesawat generasi ke lima lainnya saat ini tetap harus berlatih menggunakan senjata jarak pendek dalam simulasi pertempuran udara jarak pendek atau dogfight. Pada akhirnya prinsip pertempuran udara moder, aturan bertempur (rules of engagement) dan jenis missi tetap mengarahkan bahwa kanon dan rudal jarak pendek teta[ menjadi bagian tak terpisahkan dari senjata pesawat tempur abad ke-21.

    •  

      one of the most valuable things called “Human Instinct”. ini yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun sampai kapanpun. 🙂

      •  

        Kalau artificial inteligent alias AI dimasa depan mungkin gak bung papa?

        •  

          hmm kawan Wehrmacht.. nope, never. robots still made by humans. selama ga ada “hearts” dan “bloods” human inteligent and instinct still dominan. hmm tapi ngga tau ya kalau soal “kloning” but, still we can’t play God here kawan Wehrmacht 😉
          just IMHO correct me if i’m wrong kawan

        •  

          maaf mungkin saya salah menterjemahkan pertanyaan bung Wehr.. kalau dibilang AI dapat menggantikan manusia sepenuhnya dalam arti sesungguhnya, I said No. tapi kalau AI dapat diciptakan dimasa depan..saya berpendapat mungkin saja.. science+technology selalu dapat menciptakan inovasi. imho

  24.  

    ya memang F22 raptor lebih inferior dari SU35 dan PAK FA,tapi lihat si raptor dibuat tahun berapa? 😆

    •  

      Nah yang jadi pertanyaan lanjutan adalah, Apakah US sudah memproduksi F-22 Raptor terbaru dan memilikinya? Nah kalau masih belum berarti tetap saja F-22 inferior, kecuali sudah memiliki F-22 Raptor terbaru (kalo emang udah di produksi)

      •  

        amerika adalah negara yg sgt cepat dlm menciptakan teknologi2 tinggi militer yg bahkan negara lain blm terfikirkan,bs jd amerika sdh merancang pesawat2 tempur yg jauh lbh hebat dr f22 raptor,sementara negara lain msh berkutat dlm memproduksi pesawat tempur siluman cm utk mengimbangi teknologi raptor yg mungkin tdk lama lg sdh dijadikan amerika sbg besi tua

  25.  

    Ngidam pentol. Pentol super generasi ke 5.
    Pengen dunk ikutan jaga di udara RI.

  26.  

    Salah satu kelemahan/ penyakit TNI AU adalah banyaknya tipe dan jenis pespur sehingga merupakan logistical nightmare: Hawk (2 tipe), F-5, T-50, F-16 (2 tipe) dan Flanker (3 tipe), serta Super Tucano. Belum lagi akan kedatangan KFX/IFX. Super Tucano adalah anomali, tidak bisa digunakan untuk melawan negara lain, hanya untuk domestic threat saja.

    Langkah yg logis yaitu membiarkan Hawk + F-5 sampai pensiun, sehingga pada th. 2020-2022 saat KFX/IFX tiba, hanya ada 4 jenis: IFX, Flanker, F-16 dan T-50.

    Apakah selama itu tidak tambah pespur lagi? Dan apa pespur yg cocok? Sebetulnya kondisinya sdh mendekati ideal: kira2 separuh blok Barat dan separuh blok Timur, tinggal nambah SU-35.

    Berapa jumlahnya? IFX kayaknya 20% dari total produksi, jadi kira2 2 skadron @16 pespur. Sudah cukup? Untuk 30 th kedepan saya rasa kita butuh parity saja dengan S’por atau Ossie, jadi usulnya adalah :

    – 3 skadron IFX @ 16 = 48 pespur
    – 2 skadron SU-35 @ 16 = 32 pespur
    – 1 skadron campuran SU-27/30 @ 16 = 16 pespur
    – 2 skadron F-16 @ 16 = 32 pespur (yg ini sudah mulai pensiun 10-15 th yad)
    – 1 skadron T-50 @ 16 = 16 pes latih tempur.

    SU-35 adalah pengembangan dari SU-27, jadi persenjataan dan ground handling eqp bisa dibilang sama. Pada akhirnya kita akan punya hanya 3 jenis pespur.

    Ada caveat-nya: Barat harus bersedia menjual persenjataan (AAM AIM120C/D) dan avionik/ ECM/ AESA radar, kalau tidak buat apa kita ikut KFX/IFX? Mendingan langsung nambah SU-35 saja atau sekalian PAKFA/FGFA.

    •  

      Lalu bagaimana dengan Typhoon dan Rafale? Baiknya dilupakan saja, kalau nggak kita kembali mbulet dengan logistical nightmare.

    •  

      Susah mas kalo beli SU-35 atau PAK FA sebab kalo belinya ngirit jelas kagak mungkin dapet ToT. Beli banyak pun belum tentu dapet ToT yang dijanjikan, secara Rusia terkenal pelitnya untuk ToT.

      •  

        Sebaiknya dipikirkan kalau untuk pespur ToT nya diperingan. Bisa diganti dengan depo maintenance misalnya. Kalau nggak kita hanya ToT untk KFX/IFX saja lantas kita nggak bisa beli/ gunakan pespur lain ?

        •  

          Itulah mas, makanya Indonesia ngambil jin Rafa dan si topan karena ada Tot yang bisa kita kembangkan di IFX walaupun tanpa harus beli borongan.

        •  

          Kita beli T-50 dan Viper bekas juga ngga pakai ToT. Kalau dipasung oleh ToT, lantas nantinya kita hanya punya IFX dan campuran SU-27/30 yg hanya 16 biji, wah rancu.

          30 th mendatang, gabungan IFX dengan SU-35 atau PAKFA itu sudah sangat komplementer saling melengkapi, yg satu heavy fighter dan yg lain light fighter. IFX sekarang jadi punya 2 mesin itu adalah bonus.

          ToT adalah bagus namun kalau diberlakukan untuk semua pespur jadi malah merugikan. Kan kita sudah ToT untuk IFX?

          •  

            30 th mendatang, gabungan IFX dengan SU-35 atau PAKFA itu sudah sangat komplementer saling melengkapi, yg satu heavy fighter dan yg lain light fighter. IFX sekarang jadi punya 2 mesin itu adalah bonus.
            Ane setuja bingitszzz bung Antonov, gak pusing karena mikir banyaknya model/jenis/varian juga tujuan asasinya cukup terpenuhi mengkover udara Indonesia. Mungkin jumlahnya aja yang perlu dibanyakin

    •  

      Untuk maritim strikenya bagaimana bung, tidak ada full back krn negara kita adlh negara maritim dgn luas lautan lbh besar. Harus ada bantuan serangan udara bagi kapal musuh yg mendekat selain kapur dan kasel kita.

  27.  

    Rusia sendiri menggunakan su 35 utk mengisi kekosongan pesawat genre 5 sampai pakfa di buat massal,,

    Apa kita juga akan mengisi kekosongan pesawat menuju genre 5, sementara IFX masih di rencanakan genre 4.5 , apa tidak ingin langsung membeli/ buat genre 5. Biar ga nanggung,

    Karena 20 thn kemudian saya yakin pespur genre 6 sdh muncul, dan klo kita masih di genre 4,5 seperti nya akan makin tertinggal lagi,,

    Tp bukan nya pesimis,, segini aja udah hebat sih di bandingkan sonora, yang hanya bisa beli, itu pun klo lg ga krisis ke uangan,, klo krisis,, ya pinjam dulu, hehehehe

    •  

      yg dikejar mandiri bung, bukan jenisnya.

    •  

      Pespus gen 6 .?? Kayak apa ya? Atokah pespur yang bisa menjadi robot seperti decepticon? 😀

      •  

        Kayak pespur di film Star Trek :v

      •  

        Genre 6 denger2 kecepatan nya yg hypersonic
        Teknologi siluman nya power full,
        Lincah dan mampu melakukan manuver extrim,
        Tp kyk nya bentuk nya drone, soal nya pd kecepatan hypersonic jarang manusia yang mampu menahan G force nya, mungkin juga bs klo perlahan2 mencapai kecepatan tsb,

        Bentuk kemandirian memang yg kita cari, tp bukan berarti kwalitas nya tidak di pikirkan,

        Utk menjadi sejajar dgn negara maju, bukan kah kta juga harus mempunyai kualitas yang sama minimal nya dgn negara maju,

        Lompatan teknologi harus dilakukan,
        misalkan IFX dgn type C103iA itu saya rasa termasuk pespur genre 5. Dgn weapon in bay,
        Yg kita buat saat ini type C103.

  28.  

    Kok warna moncongnya kaya moncong tni?

  29.  

    Rasa percaya rusia terhadap indonesia apa masih ada???

    Secara saat ini pembelian alutsista dan perpolitikan kita lebih condong atau didikte barat

  30.  

    yang penting duit,russia lunak kok asal duitnya banyakkk

  31.  

    ini bung antonov yg girang, piss bung, hehe, penganut rusia rusia strong mana suaranya??

  32.  

    Maaf pendatang baru

  33.  

    Pak-Fa dan F-22 sama-sama memakai thrust vectoring [ arah knalpotnya bisa diatur ]. Tapi F-22 arah knalpotnya hanya bisa serong atas bawah, sedangkan Pak-Fa arah knalpotnya bisa serong ke segala arah [ kiri, kanan, atas, bawah, kiri-atas, kiri-bawah, kanan-atas, kanan-bawah / 360 derajat ].

    Pak-Fa dan F-22 bisa mencapai kecepatan supersonic tanpa afterburner [ walaupun punya ], kalau afterburner dipakai bisa lebih cepat lagi tapi boros bbm. Afterburner = tambahan injeksi bahan bakar di bagian belakang mesin jet [ biasanya setelah bagian turbin ].

  34.  

    Kapan ya….?

  35.  

    kedepan mungkin pespur jarang digunakan karena BBM yang terbatas …sehingga dikrmbangkan senjta pintar dengan bahan bakar bukan konvensional…..tidak terdeteksi dan tepat sasaran meminimalkan korban sipil…..

  36.  

    Saya baca di salah satu blog militer ASU lumayan independent, pernah pilot Australia gabung ke squadron aggressor USAF, pakai superhornet dogfight dengan F 22 Raptor, pilot Australia bilang dia bisa melihat F 22 di luar cockpit tapi instrument f 18 nya ngga lihat apa2 alias buta, tapi dengan mata telanjang bisa lihat! , F22 pesawat canggih cuman terlalu mahal dan terlalu sedikit jumlahnya

  37.  

    Beli SU 35 untuk menjaga ibu pertiwi, agar ibu pertiwi tidak gundah. Dan sedih melihat nasib alusista TNI yang tidak jelas. Indonesia negara kaya sumber daya alam tapi lemah dari segi alusista . Maaf ngawur

    •  

      Modal dan investasi paling berharga bagi masa depan dunia militer adalah penguasaan teknologi. Walaupun kecil, sedikit demi sedikit tetapi kontinyu, maka hasilnya tidak akan mengecewakan di masa depan.

      Ayo, segera bangun pesawat Srikandi. Walaupun, masih sebatas pesawat latih, tetapi hitung2 kita telah mampu bikin jet tempur sendiri.

  38.  

    Klo mau menyeimbangkan kawasan pilihan logisnya ya su-35.sementara jika milih f-35 mau gk mau harus antri karna antrian f-35 udah panjang…negara2 nato maupun sekutu aja blum semua kebagian jatah f-35.di tambah lg masih banyak masalah yg ada di f-35 sendiri yg bikin jd tertunda blum lg milik paman sam yg sebagian msh harus di perbaiki…
    Tni harus memilah-milah mana yg bener2 cocok untuk menjaga langit nusantara…
    Belum lg adanya tawaran dari rafale,thypon dan gripen yg pastinya bikin para pengambil kebijakan di tni harus benar2 berkonsentrasi untuk memilih pengganti f-5 dan tentunya jg melihat konstelasi dan perkembangan di kawasan yg cepat berubah dan kesediaan anggaran…
    Ini hampir mirip saat tni milih changbogo sebagai pemenang tender kapal selam.
    Sudah pasti ada tarik menarik kepentingan di sini.
    Semakin lama di tunda semakin lama mengejarnya pula,terlalu buru2 pun jg tdak baik…
    Sementara undang2 menuntut adanya tot atau offset meskipun ada keringanan untuk alutsista penggetar…di sinilah yg bisa membuat tni galau mencari pengganti f-5…
    Berkaca dari proses pembelian ks changbogo ada kemungkinan pengganti f-5 adalah produsen yg mau memberikan tot atau offset dan nantinya akan di aplikasikan di ifx…bisa pula ambil dua2nya yg memberikan offset dan tot seperty thypon,raffale dan gripen dan sukhoi su-35 yg akan jd pendamping ifx ke dpannya,tp semuanya tergantung anggaran yg tersedia dan tentunya perkembangan kawasan…

  39.  

    Barang Rusia ngga lebih kayak sampah…

  40.  

    RTV lagi siaran alutsista nih….. Ayo nyimak sapa tau ada yang goib….

  41.  

    mending su 27 sm2 dan sm3 ajah di banyakin. di semprot pasir besi udah banyak ngilangnya. ngapain peli pakfa

  42.  

    siap di bungkus su 35…..siiiiiiiip

  43.  

    kira kira su35 dimari kapan ya???

  44.  

    material anti radar….

  45.  

    dah pada mundur/resain bung. klo cr mereka d fb aja.

  46.  

    So, that’s BVR combat, isn’t it?

  47.  

    Kalau mau meng-intercept pesawat siluman dan melindungai suatu wilayah yang sangat penting (jantung pemerintahan), pake saja semua yang saya sebutkan di bawah ini:
    Protivnik-GE (Three-Dimensional Radar), Baikal-1ME (Automated Control System), Triumph ADMS (Combat Control Post, Radar System, dan All-Altitude Detection Radar), Buk-M2E ADMS (Target Acquisition Radar, Command Post, Self Propelled Firing Vehicle, dan Loader-Launcher), Gazetchik-E (Radar Protection Equipment), Tor-M2E ADMS, atau Club-S (Integrated Missile System).

  48.  

    Semoga presiden baru….lebih baik dan lebih support pengembangan alutisata dan kesejateraan para pendekar….(thanks Pak SBY, PAK Pur, Dg. SS) Bangga,,,KOMANDAN

  49.  

    sekedar catatan, 2-3 hari lalu f-22 baru saja melaksanakan misi combat-nya yang pertama (baptism of fire), menyerang posisi ISIS…

  50.  

    cuman nambah cap betel prupen f22 doang hihihi..

  51.  

    widihhh ngeri2 sedap bro…

 Leave a Reply