May 022014
 

Panglima TNI Jenderal Moeldoko saat memberikan sambutan dalam kegiatan serah terima 24 unit panser di Markas Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian,Sentul, Jawa Barat, Jumat (14/03/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Panglima TNI Jenderal Moeldoko melanjutkan inspeksinya ke Mako Pasukan Marinir (Pasmar) Brigif 2, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (2/5/2014) siang. Sebelumnya, ia mendatangi Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur.

Saat tiba, Moeldoko langsung bergerak menuju pos penjagaan yang terletak di depan Mako Pasmar. Di pos tersebut, ia meminta salah seorang anggota marinir yang berjaga untuk menghubungi atasannya agar menyiapkan pasukan.

“Hubungi atasan kamu untuk siapkan pasukan,” perintah Moeldoko.

Anggota tersebut rupanya tampak sedikit canggung dan bingung. Pasalnya, di pos itu tidak ada alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menghubungi atasan mereka. “Siap,” kata anggota tersebut. Namun, ia tak segera menghubungi atasannya.

“Mana HT (handy talkie) kamu? Tidak ada? Handphone ada?” tanya Moeldoko.

Saat berkomunikasi lewat ponsel milik prajurit, atasan anggota itu sepertinya tidak mengetahui bahwa tengah berbicara dengan Panglima. Hal tersebut terdengar dari nada percakapan Moeldoko kepada perwira yang dihubunginya.

“Ini Panglima. Cepat siapkan anggota kamu, saya mau mengecek,” kata Moeldoko.

Setelah Moeldoko menutup telepon, ribuan pasukan marinir mulai bergerak dari barak masing-masing menuju lapangan. Pasukan itu terdiri dari Batalyon Infanteri 2 Pasopati, Batalyon Infanteri 4 Candraca, Batalyon 6 Nanggala Artileri, Denjaka, Batalyon Bantuan Tempur, dan Batalyon Kavaleri.

Selain itu, sejumlah kendaraan tempur milik marinir seperti tank amfibi BMP 3F dan LVT 7 juga diikutkan dalam apel tersebut. Persiapan tersebut membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Berdasarkan inspeksinya, Moeldoko mengakui masih ada kelemahan dalam persiapan pasukan marinir, terutama dalam komunikasi. Untuk itu, ia berjanji akan membenahi pasukan tersebut.

“Memang ada kelemahan sekarang ini. Kelemahan handphone ini menjadikan kita kurang berkomunikasi dengan radio HT, rata-rata sekarang sudah pakai handphone, padahal HT itu sebagai sarana penunjang,” ujarnya.  (kompas.com)

  53 Responses to “HP Prajurit dan Perintah Panglima”

  1. pertamax
    ijin nyimak

  2. Siap..

  3. HP strong…. mmg tidak ada pabx yach….

    • Ketigax…. pengalaman pribadi waktu berkunjung ke markas brigif wirayudha, di pos penjagaan pintu gerbang sdh ada telp extension pabx shg penjaga bisa lgs konfirmasi ke komandan 🙂

  4. sayaa dukung jd ri 1 pak moel

  5. HT itu lebih real time drpd hape..terbukti..

  6. Ijin nyimak.salam untuk para sesepuh dan warjager

  7. Top Markotop Pak Moel..

  8. ketika perang teknologi informasi.. HP itu rentan di switch off khan, dijammer signalmya… beda dengan HT

    • sama aja bung bayu,, klo analog

    • Semua yang namanya barang elektronik bisa di-jammed. Saat kunjungan Bush junior tempo hari bahkan kamera seorang wartawan mendadak tidak berfungsi (blank) saat mendekati radius tertentu dari si Bush. Saya kurang tau pakai alat apa. Mungkin energi elektromagnet yang kuat sekali.

  9. hidup panglimaa

  10. tidak ada HT, HP pun jadi
    tapiii HP tidak bsa menggantikan HT dalam medan berat kayak hutan

  11. mantabbb pak mul…. sidak trs pak disetiap markas militer diseluruh indonesia agar tahu sjauh mn ksiap siagaan para prajurit ketika terjadi perang .. dan supaya tahu kelemahan apa saja yg dimiliki tiap matra n tiap markas militer.. jd hal skecil apapun hrs diperbaiki contohnya komunikasi dan hal-hal kecil lainnya agar trcipta prajurit yg sll siap siaga, tangguh,disiplin disetiap kondisi apapun.. BRAVO TNI kawal terus NKRI dr sabang sampai merauke

  12. klo alat komonikasi dari tugas jaga ke
    komandan ga ada gmn klo ada urusan genting gmn?
    hadir ndan.tq

  13. Pak Moeldoko pun memimpin apel dan mengapresiasi kesigapan prajurit. “Kurang dari 20 menit kalian bisa berkumpul dengan baik beserta alutsista. Dengan itu saya bangga,”
    Segera lengkapi ndan, yang vital-vital, HT, perahu karet, parasut.. Sip sip Panglima emang top markotop..

  14. persiapan pasukan dalam waktu 15 menit ini bisa dibilang cepat atau kurang cepat untuk ukuran pasukan Marinir ya…

    • 15 menit sudah termasuk gelar alutsista panser dsb. Jarak dari hanggar tempat parkir hampir 100 meter sebelah barat lapangan. Waktu Jenderal datang sebagian besar masih aktivitas santai ada yang main bola, olah raga dll bukan dalam keadaan misal kumpul atau kerja atau aktivitas non relax lainnya. Jadi musti ganti baju, sepatu boot, peralatan lainnya. Yang alutsista cepet-cepet keluarin dari hanggar, jalan cepat ke lapangan, atur parkir, coba lakukan dalam grup 5 orang aja pake mobil dari hanggar dalam keadaan belum dipanasi, bisa gak?

  15. Seorang pemimpin hrs kluyuran ngecek satuan2an bawahannya, apa sdh siap alat peralatan militer atau mental dlm organisasi khusus kesiapan lengkap dan ini dijakarta biasanya sulit pengecekan anggota karena masalah klasik keluarga. Dg kesiapan kurang 20 menit, kurang siap utk pasukan khusus kedepan hrs terus dilatihkan utk kesiapan dadakan dan militer itu sdh dilatihkan apa lagi pasukan khusus yg ada di jawa. Dan pak panglima tolong di wilayah diluar jawa (sumatra/papua) masalah alat peralatan militer biasanya tambal sulam hrs segera dilengkapi, demikian juga masalah sarana/prasarana khususnya pengadaan air/pengiriman bahan makanan menggunakan transportasi utk keperluan batalyon khusnya di darat spt itu bgmn kalau dilaut spt penjaga mercusuar di Tanjung Mangkaliat/penjaga pulau terluar. Semoga lebih baik lagi, setelah pengecekan dadakan Panglima TNI. Salam…………………

  16. ah ntu karna grogi doang..
    coba kalo kagak grogi, langsung ngetwit..”@kumendan, panglima @moel dateng mari..rt rt yah ndan..”
    dgn hastag #KENASIDAKPULSASEKARAT

  17. Coba aja pake bb, iphone, samsung sebagai alat komunikasi prajurit keren kan 😀

  18. Kalo jadi Wapres, keren juga kayaknya Pak Moel..

  19. klo pake BBM kena sadap juga ga ya ?

  20. Bagus tuh hape ada pulsanya, kalo kagak… bisa runyam urusannya

  21. Ah,,bikin malu aja. Masa pasukan sekelas marinir gak punya HT di pos jaga.
    Saya aja yg cuma pecinta alam punya HT sendiri buat komunikasi, bahkan fungsinya sgt vital bagi kami untuk keadaan darurat dan lain2.

    Untuk kawan2 ketahui, kemarin wkt ada bncana kebakaran hutan (darurat asal) di sumut, saya dan temen2 dsini bntuk Tim SAR untk bntu2 pmdaman api. Swkt dilapangan alngkah trkejutnya swkt memonitor HT..komunikasi tim SAR asal TNI-AD bocor ketangkp radio HT kami yg bkn berspesifikasi militer ..

    • Itu karena main di frekuensi yang sama. Yang namanya HT ya selagi pakai frekuensi yang sama ya sambil tidur di pos ronda juga bisa dengar pembicaraan dari yang lain. Dan itu gunanya sandi dalam berkomunikasi jika yang disampaikan bersifat rahasia.

      • Betul bung Kiang Santang. Mungkin pengalaman bung Bocah Rimba waktu itu kebetulan lagi misi SAR jadi HT pakai frekuensi 1 band dan sifatnya terbuka. Kalau lagi misi militer atau latihan tempur biasanya minimal pakai yg 2 band.
        Jadi bung Bocah Rimba kemungkinan hanya akan mendengar di salah satu frekuensi saja. Karena kalau 2 band itu ngirim pakai frek A, nerima pakai frek B. Dg sistem standar begitu saja sudah pasti HT lain akan sulit mengikuti pembicaraan yg sdh diset pada band tertentu.
        Maaf kalau sotoy, maksudnya mau berbagi informasi saja. He…
        Salam kenal dan salam hormat buat bung Bocah Rimba dan bung Kian Santang.

  22. He…he…. mantap kalo menurut aku itu sih settingan….mako Marinir enggak punya ALKOM . Sebenarnya hanya untuk menunjukkan bahwa banyak sarana yg bisa dipakai oleh TNI untuk bekerja…termasuk HP pribadi.Dan terbukti dalam waktu 15 sebanyak 2000 pasukan bisa kumpul di LAPANGAN.
    Marinir memang banyak cara untuk mengumpulkan pasukannya. Di tahun 80 an sebelum ada HP dan pager, di Surabaya untuk mengumpulkan pasukan yg tersebar disekitar Surabaya dilakukan dg melalui siaran RADIO SWASTA NIAGA. Seharian keluarga marinir mendengarkan radio menunggu sandi. Sandinya biasanya lagu Mars Marinir atau berupa BERITA PANGGILAN. Biasanya berbunyi : PANGGILAN KEPADA SAUDARA MARINA HARAP SEGERA PULANG …..IBU SEDANG SAKIT.
    Lebih jelasnya Cak Satrio bisa cerita nih….maklum pd waktu itu beliau kan DANKI…..kabur

  23. Pak Moel.. I’ll be waiting for you at 2019 for The Next RI 1..

  24. Ngecek Hpnya dari BPPT yang anti sadap itu ya pak?

  25. Pak ..jam tangannya mana?? gak di pake lagi??

  26. ijin nyimak bro…

  27. darimana dia tau yang nelpon pak moel?kan nomer hp temennya yg muncul, lha kalau temennya iseng nyaru gimana?keluar semua 2000 marinir ke lapangan.. :mrgreen:

    • Saya rasa ini bagian show of force bung, ga perlu diliat detilnya tapi liat kemampuan penyiapan 2000 marinir dlm 15 menit yg bikin tetangga keder

    • Mungkin ada kalimat pada artikel di atas yang kurang lengkap ya (..Ini Panglima). Tapi yang saya baca di salah satu media, saat menelepon ben beliau menyebutkan dengan lengkap: ‘Ini Panglima TNI. bla..bla..”. Kan yang dipakai HP prajurit jaga, apa iya prajurit berani ngerjain komandan, boong bilang ada panglima TNI datang. He..he

    • tapi ini disiarkan ke seluruh dunia, sungguh riskan

  28. jangan hanya keadaan perang saja akan tetapi kalau bisa siapkan TNI membantu saudara kita yg banyak membutuhkan bantuan di daerah terpencil >> http://www.youtube.com/watch?v=gWpTw1MYUxU

  29. (y)

  30. Ini ADA oleh oleh cerita HOAX nya yaa biar rame :
    Masalah HP sebenarnya internal TNI dan Kemenhan sudah memesan sisitim HP anti Sadap dari
    the Swiss company “Qnective” yang telah menerima pesanan utama untuk solusi perangkat lunak Qtalk Pertahanan Indonesia untuk pengguna 120.000 unit
    Ini akan menggabungkan pembangunan jaringan komunikasi yang aman untuk berbagai organisasi militer dan pemerintahan di Indonesia dengan menggunakan jaringan selular publik..
    Pesanan tersebut sudah dilakukan tahun kemarin.

    Gak percaya gak papa karena sekedar Hoax 😀 nunggu penjelasan Jubir Hoax bung Nara saja
    hehehehehehe

    • bung satrio, tuh namanya nongol di koment 23 hehehehehehe :mrgreen:

      • Bung Dawala biasa tuu ngawur ngawur nebak ane 😀
        Tapi bener yang diceritain bung dawala banyak cara dan sandi jaman dahulu untuk penyampain berita karena terbatasnya ALKOM

        diantaranya ada sandi yang pernah ane denger:
        sudah lelah “para” dan “para” tidak ingin kembali menginjakkan kaki di Malahayati….
        emboh opo artine saya juga gak ngerti
        hehehehehe

 Leave a Reply