Mar 212018
 

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan © WEF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengklaim bahwa pangkalan militer AS di Suriah dapat menyebabkan perang dunia ketiga. Erdogan juga menyebut bahwa Washington sengaja menantang Ankara dan Teheran.

Dilansir dari Sputnik yang melakukan wawancara dengan para ilmuwan politik dari Turki tentang apa yang ada di balik klaim Erdogan tersebut.

Profesor Ilmu Politik dari Universitas Atalym, Hasan Unal berpendapat bahwa Ankara tidak puas dengan kebijakan Amerika Serikat yang mengancam dengan “alasan Iran”, menandakan bahwa Turki tidak akan mengikuti jejak Washington.

Pembukaan pangkalan militer AS di Suriah merupakan tanda rencana jangka panjang AS untuk memecah belah wilayah Suriah. Dengan kata lain, AS berkata bahwa “Kami meningkatkan kehadiran demi menyeimbangkan peran Iran yang makin berkembang di kawasan tersebut. Kami tidak memiliki cara lain untuk membayangi pengaruh Iran di Timur Tengah, itu mengapa kami tinggal di sini dengan Partai Uni Demokratik Kurdi”.

“AS mencoba untuk mempengaruhi Turki, menggunakan Iran sebagai ancaman. Namun pengumuman Erdogan menunjukkan bahwa dia tidak puas dengan kebijakan AS tersebut dan tidak akan mendengarkan peringatan Washington”, kata Unal kepada Sputnik.

Erdogan berseru kepada negara-negara Timur Tengah untuk Bersatu

Profesor Unal juga menunjukkan bahwa Iran akan menghargai pernyataan Erdogan, dan mengatakan bahwa “Sejumlah pertanyaan mencuat, karena tidak ada hubungan langsung antara Turki dan Suriah. Sama seperti Iran, Rusia pun terkadang mengalami kesulitan karena situasi tersebut”.

“Namun, ada sebuah pemahaman, bahwa jika hubungan Iran-Turki dan Rusia-Turki memburuk yang karena ada penolakan Turki untuk menerima Bashar Al-Assad sebagai kepala pemerintahan resmi, masih banyak lagi kekacauan yang akan terjadi. Itulah sebabnya mengapa Iran dan Rusia berusaha menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan memainkan mediator antara Suriah dan Turki. Saya anggap bahwa orang-orang Iran menghargai peringatan Erdogan”, jelas Unal.

Pada saat yang sama, profesor tersebut mengklaim, bahwa dengan bekerjasama yang erat antara negara-negara Timur Tengah, maka upaya AS akan gagal. Menurut dia, AS dapat membuat pangkalan militer di Suriah, tapi ceritanya adalah pengulangan situasi seperti di Kurdistan Irak, di mana pihak AS malah berkolusi dengan mantan pemimpin otonomi Masoud Barzani.

Mereka menggunakan fakta bahwa disana tidak ada hambatan dalam hal menyediakan persenjataan berat. Namun, hasilnya jelas tidak menguntungkan bagi Barzani, karena dia kehilangan segalanya setelah Rusia dan Iran berbicara menentang keputusan untuk mengadakan referendum kemerdekaan. Unal meramalkan skenario yang sama untuk kerjasama AS dengan Partai Uni Demokratik Kurdi.

Menggoda Iran lewat “Ranting Zaitun”

Menurut Faik Bulut, seorang analis yang mengkhususkan diri mendalami studi Timur Tengah, bahwa berdasarkan pengumuman Erdogan tersebut, “bukan hanya Turki yang berada dalam bahaya, karena, baik Kurdi dan Amerika Serikat sama-sama berada di wilayah tersebut”.

Dari sana terlihat seperti ada upaya untuk memikat Iran ke sisinya, atau di paling tidak untuk memastikan bahwa Teheran akan mempertahankan posisinya yang mendukung operasi “Ranting Zaitun” atau “Olive Branch” oleh militer Turki di Afrin.

“Iran tidak mendukung kegiatan militer Turki di Suriah. Itulah mengapa muncul kemungkinan klaim Erdogan untuk menarik Iran mendukungnya, atau setidaknya demi memastikan reaksi Teheran terhadap operasi Ranting Zaitun”, kata Bulut.

Faik Bulut juga menunjukkan ada kemungkinan bahwa Arab Saudi, Israel dan Amerika Serikat sedang berupaya mengepung Iran dan bermaksud melancarkan operasi militer,  yang telah dibahas beberapa lama.

Sekarang ini, mantan bos CIA, Mike Pompeo telah menjabat sebagai Sekretaris Negara, pertanyaan tersebut bahkan menjadi semakin relevan.

“Jika kita melihat pengumuman presiden Turki dalam hal ini, kita bisa menduga bahwa Erdogan menyarankan agar Iran dan Turki bergabung dan berdiri bersama melawan kemungkinan provokasi AS”, katanya.

Pandangan dan pendapat yang dikemukakan oleh para ahli diatas sebagai narasumber tidak mencerminkan pandangan Sputnik maupun JakartaGreater.

Bagikan: