Jul 102017
 

PLTN Jepang

Padang – Indonesia belum membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir hingga tahun 2100, karena sumber energi di Tanah Air masih mencukupi.

“Umumnya negara yang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, mereka yang tidak punya sumber energi, seperti Jepang, Prancis dan Korea, sedangkan sumber energi di Tanah Air kita masih berlimpah,” ujar Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Dr Herman Darnel Ibrahim di Padang, 7/7/2017, pada seminar Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Energi Berkelanjutan Untuk Ketahanan Nasional.

Seminar yang diselenggarakan Universitas Andalas ini, menghadirkan beberapa pembicara, termasuk mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro .

Ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir yaitu tidak ada sumber energi, jumlah penduduk banyak sehingga kebutuhan energi besar serta memiliki teknologi sendiri.

“Dari tiga kondisi itu Indonesia hanya memenuhi satu syarat yaitu penduduknya banyak, tapi sumber energi banyak dan belum punya teknologi soal pembangkit listrik nuklir,” ujar Dr Herman Darnel, dilansir ANTARA, 7/7/2017.

Dengan demikian pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi pilihan terakhir karena saat ini belum dibutuhkan, katanya.

Saat ini energi gas dan batu bara mencukupi, ditambah lagi energi terbarukan yang potensinya besar walaupun pengembangannya masih sulit.

Ia menyarankan ke depan sumber energi utama berasal dari energi terbarukan, adapun gas serta batu bara dijadikan sumber energi cadangan.

Herman menceritakan dulu ada rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Muria, Jawa Tengah yang tahapannya telah sampai studi kelayakan tapak.

Ketika itu Muria memang tempat yang masih terisolasi jadi tidak banyak penghuni, namun belakangan setelah terjadi tragedi Fukushima urung dilanjutkan, katanya.

Sebenarnya kunci pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir adalah kemantapan politik karena hal itu harus dimulai dari komitmen pemimpin tertinggi negara.

“Dewan Energi Nasional ketuanya adalah Presiden, dari 17 anggota pemangku kepentingan delapan dan sembilan orang lagi menteri, jadi kalau Presiden ingin membangun tidak bisa dihambat oleh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Pada sisi lain ia mengatakan energi nuklir berisiko tinggi. Tragedi yang terjadi di Fukushima, misalnya, membuat Jepang kehilangan potensi perekonomian setara dengan Rp 60 ribu triliun.

Belum lagi dari sisi kesehatan, nuklir membunuh orang pelan-pelan dan bisa membuat cacat sebagaimana terjadi di Chernobyl.

Untuk pertanian juga mengalami kendala karena di Fukushima dibutuhkan waktu sekitar 25 tahun untuk memulihkan tanah agar petani bisa menanam komoditas untuk dikonsumsi, lanjutnya.

Sementara Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas Insannul Kamil mengatakan sudah saatnya energi terbarukan dijadikan sumber energi utama di Indonesia dan energi fosil sebagai cadangan.

“Sudut pandang seperti ini harus mulai diterapkan dari sekarang karena energi fosil lama-kelamaan akan habis,” ujarnya.

  97 Responses to “Pakar : RI Belum Butuh Listrik Tenaga Nuklir”

  1.  

    semua ada resiko
    klu ingin penggerak yg oke ya nuklir
    ,, masa mau jd pembalap
    tp takut tabrakan

  2.  

    SEKARANG BELUM, NANTI SAJA KALAU SUDAH LISTRIK BYAR PET… WKWKWK

  3.  

    banyak SDM di indonesia yang masih bisa di gunakaan untuk memenuhi pembangkit lisstrik, tapi sampai sekarang listrik jarang tersentuh di tanah kalimantan dan papua..!!!

    Mending beneran pindah ibu kota aja !!! Ribet sama orang2 yang banyak bicara

  4.  

    Kalo ada PLTN maka harga listrik buat rakyat akan turun tapi harga batubara lokal bakal melorot, mungkin sang pakar lebih dukung pemilik PLT Batubara & pemilik tambang … khawatir bisnisnya ambruk

    •  

      kenyatannya bisnis tambang salahsatunya batubara menjadi pemasukan utama APBN selain dari Minyak dan Gas. jika {LTN di bangun kita punya waktu buat diversifikasi pendapatan, dan kenyatannya harus ada yang dikorbankan, mungkin puluhan ribu orang bakal terkena dampak langsung akibat melorotnya harga batubara, tapi saya kira ini hanya lokal saja, mengingat pasar utama batubara itu export, tujuan export juga semakin beragam, karena memang ada penjajakan B to B ke negara2 tujuan export non tradisional kaya kawasan afrika dan amerika latin.

  5.  

    Bikin aja tenaga nuklir dr oada tiap bulan naik hrga listrik ..bngunya yg jauh dr perum warga klo bisa d tengh hutan..aman josss listrik melimpah hrga murah..skrang loh listrik lbih mhal dr beras…

  6.  

    mumpung masih banyak ya mulai sekarang dipikirkan gmn nanti sumber daya itu habis dan pelajari teknologinya ….biar nanti gak kelabakan anak cucu kita bila SDA tinggal ampasnya saja …

  7.  

    Apa salahnya jika energi itu buat yang lain.

  8.  

    sebenar nya investasi awal lebih bagus dari pada nanti
    effect nya enggak minus minus kok

    kalau indonesia ganti energy supply nya dri coal ke nuclear , harga listrik kan turun terus lebih banyak (supply & demand ) toh

    ya kalau di liat pengeluaran pasti gede research , infrastructure ect tapi investasi nya worth it
    buat 10 sampai 15 tahun kedepan liat aja jepang dri awal mereka pake coal sekarang pake nuclear kehidupan disana lebih sejaterah toh :3

  9.  

    Tenaga nuklir itu penting’,mana tau Indonesia kedepannya buat kapal induk atau kapal perang besar seperti destroyer tenaga nuklir bisa digunakan sebagai penggerak nya

  10.  

    Di kampung saya listrik merem melek dan ada pemadaman bergilir pdahal bayar gak pernah menunggak harga listrik juga naik apanya yang blum perlu pake listrik tenaga nuklir

  11.  

    Sudah era nuklir masa disuruh ke era batu huahahaha …

  12.  

    INDONESIA SANGAT BUTUH .apa sih yang gak butuh.analisnya itu munafik kalo bilang gak butuh ..!!papua ..maluku
    NTB..masih butuh listrik .nah kalo ada tenaga nuklir listrik bisa semua sampi gunung sekalipon…analisnya kurang piknik nih..
    pekok!!

  13.  

    aneh.

  14.  

    Iya tgg aj kl semua sumber daya laenx dah abis baru pake nuklir

  15.  

    saya rasa bukan masalah butuh ama enggak ya, mangkannnya butuh political will karena pada dasarnya kita melimpah akan batubara yang hampir 80% dieksport. Saya rasa dengan membangun pembangkit tenaga nuklir kita akan ikut berkembang, anggeplah katalis, terutama di sisi teknologi dan SDM, kita bisa diversifikasi pegunaannya untuk tujuan lain setelah kita menguasai prinsip kerjanya kan dan tentu teknologinya. saya rasa para pengamat harus melihat itu. Jika memang direalisasikan ini akan jadi lompatan besar yang jauh melangkahi peradaban bangsa kita. ini katalis terbaik saya rasa, melihat bahayanya ya kita harus persiapkan dan wanti2 saya lebih prefer di bangun di Papua, selain minimum bencana juga ekologinya mulai ke subtropis atau tidak lebih beragam dibanding jika di bangun di Kalimantan “lungs of the world”. Di sisi lain lihat detterence effect, penguasaan teknologi harus dianggap sebagai percepatan penguasaan teknologi tinggi yang akan melampaui seluruh kawasan SEA dan Austaralia. Jika dipikirkan kebutuhan listrik kita meningkat mendekati dua digit pertahun, sangat besar perlembangannya, ini harus diakomodir. Pembangunan pembangkit listrik konvensional batubara umumnya berkapasitas 1000 an MW, minyak dan gas hampir sama, dari panas bumi dan rnewable energy lainnya sebesar 25% dari total proyek, dan kenyatannya dengan besarnya proyek tersebut maka harus dibangun banyak sekali pembangkit untuk proyek 35.000MW hingga 2019.Dalam proyek ini disebutkan bukan Nuklir secara gamblang tetapi energi alternatif lainnya kalo gak salah sebesar 10 % dari total proyek. dan menariknya kekhawatiran pencapaian proyek ini semakin besar mengingat kenyataan di lapangan terkait molornya proyek, hingga output tidak sesuai rencana, dan proses negosiasi dengan investor yang tersendat. Maka dari itu wacana untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir mulai kencang untung ngebut dibangun, walaupun kenyatannya jika di bangun sekarangpun butuh waktu sekitar 5 hingga 8 tahun untuk siap beroperasi. dan tentunya kehadiran nuklir ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat dipandang di kawasan si samping menjadi jaminan ketersediaan energu atau bahkan surplus energi untuk diperjualbelikan sebagai komoditi export.

  16.  

    Kemaren kan ada tuh yg bikin ,namanya pembangkit listrik tenaga mandiri, ajisaka jali ga salah….

  17.  

    Sumber Nuklir untuk pembangkit ada beberapa — bung — (ini forum militer, bukan forum jual beli – red), umunya Uranium (Ur) sama Plutonium (Pu). dan dari beberapa riset belakangan ini yang semakin populer, ada satu unsur radioaktif yang bisa dibilang lebih aman dan dapat dikendalikan dengan emisi yang lebih rendah yaitu Thorium. Sudang ada beberapa pembangkit dan memang proven, walau dengan output listrik yang tidak sebanya Ur dan Pu tapi lebih aman dan investasi yang lebih sedikit. Indonesia harus lihat ini. Kenyataan negara2 maju tidak menggunakannya saya rasa ada politi di balik itu, bukan berarti mereka tidak mau menggunakannya.

  18.  

    Ada solusi lain pake tenaga angin tapi bukan kincir angin, melainkan layangan

  19.  

    Hebat ya kok bisa jadi pakar ya bilang ngga perlu tenaga nuklir utk listrik kita?

  20.  

    Indonesia mah gitu selalu jumawa dg apa yg ada tanpa memikirkan langkah kedepan, apa salahnya kalau sudah diantisipasi dari sekarang.

  21.  

    Kayakx pembicara agen amerika…bukan mslh sumber energy yg msh banyak tpi ketika energy nuklir digunakan harga listrik akan jauh lebih murah otomatis hasil produksi jauh lebih murah juga ..lihat tuh cina knp bisa sangat murah harga barangx

  22.  

    listrik nya saih belon perlu2 amat,..pi rudal nya penting,.. buat gertak yang nakal2,…xixixi