Feb 262019
 

JF-17 Thunder Pakistan (foto:Ahmed Hader)

JakartaGreater.com – Pakistan berharap untuk bisa menjual pesawat tempur JF-17 Thunder ke Malaysia, yang karena kekurangan anggaran sedang mencari pesawat tempur ringan seperti Jf-17 Thunder.

Malaysia sebenarnya menginginkan pesawat tempur yang lebih berat seperti Rafale dan Typhoon, tetapi rencana itu dibatalkan karena masalah anggaran, dan Malaysia merubah keinginannya mencari pesawat tempur ringan. Armada LCA atau pesawat tempur ringan akan menjadi pendukung misi bagi pesawat tempur F-18 dan Su-30 Malaysia.

JF-17 produksi bersama Pakistan dan China, Tejas buatan Hindustan Aeronautics Limited (India), dan FA-50 Golden Eagle buatan Korea Aerospace Industries (Korea Selatan). Dari ketiga kandidat tersebut, Pakistan mengklaim pesawat tempur produksinya adalah yang paling terjangkau harganya.

Malaysia sebelumnya pernah mempertimbangkan JF-17 sebagai opsi untuk program modernisasi Angkatan Udara, seperti pernah dinyatakan oleh Pejabat Tinggi kepada Pakistan, tulis Associated Press of Pakistan. Tetapi Menteri Pertahanan Malaysia pada saat itu membantah laporan itu.

Pakistan memperbarui upayanya untuk bisa menjual JF-17 kepada Malaysia tahun lalu, terutama di pameran pertahanan DSA di Malaysia dan konferensi pertahanan IDEAS November di Pakistan. Saat itu Pakistan menawarkan varian JF-17 Blok III terbaru.

Menurut Pakistan, JF-17 Blok III cukup menjanjikan, dilengkapi dengan radar AESA (Active Elecronically Scanned Array), helm pembidik (helmet-mounted display), sistem peperangan elektronik dan berbagai sensor elektronik tambahan yang bisa dicantelkan dibawah perut.

JF-17 telah beroperasi selama 12 tahun bersama Angkatan Udara Pakistan dan bertugas dalam enam skuadron dengan kemampuan operasional penuh, sedangkan Tejas belum beroperasi secara penuh dan harus melalui pengujian-pengujian lebih lanjut.

Ben Ho, seorang analis kekuatan udara pada Program Studi Militer di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura, mengatakan ketiga pesawat tempur ringan memiliki kemampuan yang mirip dan seimbang.

JF-17 berharga US$ 25 juta per unit, dan Tejas dan FA-50 masing-berharga sekitar US$ 28 juta dan US$ 30 juta. Dengan harga seperti itu, JF-17 Thunder paling ekonomis dan meski dengan anggaran terbatas masih bisa dibeli dalam jumlah besar.

Namun, mesin JF-17 mungkin akan memiliki masalah, terkait masalah servis yang sama dengan mesin MiG-29 Malaysia, yang nantinya akan membutuhkan “masalah suku cadang dan pemeliharaan yang sulit ,” tambah Ho.

Sedangkan Tejas menggunakan mesin General Electric F404 yang sama dengan yang digunakan di F-18 Malaysia, selain itu dapat menggunakan persenjataan yang sama dengan Su-30. Namun, avionik buatan Israel pada Tejas kemungkinan akan perlu diganti, yang membutuhkan biaya tambahan lagi, kata Ho.

FA-50 tercatat memiliki harga termahal, menggunakan mesin F404, dan dapat berbagi persenjataan yang sama dengan F-18, mungkin berarti pemeliharaan dan biaya operasional yang lebih mudah dan terjangkau.

DefenceNews

jakartagreater.com

  5 Responses to “Paling Murah, Pakistan Optimis Malaysia Pilih JF-17 Thunder”

  1.  

    Buat latihan rutin, eject kat hangar, sebelum modernisaai bilik termenung mark 4 block 9.9

    •  

      Pilihan yang menarik ..pesawat tempur JF17 ini prospect nya bagus …yang penting after sales service nya baik …
      Tapi Malaysia ini tidak Pinter Dan creative dalam merawat Alutsisa nya ..
      Mending mereka itu meng active kan armada Mig ..F18 Dan sukhoi 30 nya ..
      Sedia kan anggaran Dan Beli spare parts lalu bisa operational lagi …

  2.  

    Malaysia itu tertariknya pada F35 atau Su-57 ,masak jatuhnya ke JF 17. . .kebanting banget, sakitnya tuh disono. . .jihahahaa?

  3.  

    Mantul… penting terealisir dan punya squadron tempur dari pada tetangganya yg cuma rencana, minat, tertarik, dan ….akan….jangankan realisasi, proses pengadaan saja sepertinya bingung mau ngapain kelanjutannya padahal produsen dah kasih keleluasaan seluas luasnya…terlalu memaksakan diri dengan semboyan te ow te, cina saja ndak pernah minta te ow te langsung beli te o te sendiri dan kembangkan malah sekarang bisa buat macam2 sendiri…dan ndak ada negara lain yg berani ganggu…