Feb 072018
 

Jenderal TNI Mulyono menegaskan, TNI AD harus memiliki kepedulian terhadap kondisi rakyat dan bangsa Indonesia agar terhindar dari krisis, apalagi sebagai tentara rakyat yang memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI.

Jakarta, Jakartagreater.com – Pangkostrad Letjen TNI Agus Kriswanto menghadiri Rapim TNI AD yang dibuka oleh Kasad Jenderal TNI Mulyono, pada Senin 5 Februari 2018 bertempat di Aula Jenderal Besar A.H Nasution, Mabesad, Jakarta.

Dalam rangka mewujudkan visi Renstra TNI AD 2015-2019 dan dihadapkan pada perkembangan situasi saat ini, tema yang diusung pada Rapim ini adalah “Dengan Dilandasi Jiwa Ksatria, Militan, Loyal, Profesional, Modern Dan Kemanunggalan Dengan Rakyat, TNI AD Siap Mendukung Tugas Pokok TNI”.

Tema ini adalah pedoman dalam pembangunan TNI AD yang sesuai jati diri TNI serta memiliki jiwa dan karakter sebagai ksatria dan patriot bangsa. Kasad dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Rapim TNI AD tahun 2018 ini merupakan tindak lanjut dari Rapim TNI yang dilaksanakan di Mabes TNI pada tanggal 23-24 Januari 2018 yang lalu.

“Tujuan dari Rapim TNI AD ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan anggaran tahun 2017, menyamakan persepsi, menyampaikan kebijakan dan garis besar Petunjuk Pelaksanaan Program dan Anggaran (P3A) tahun 2018, serta pokok-pokok kebijakan pimpinan TNI AD pada tahun 2018,”ujarnya.

Dijelaskan Kasad, beberapa sasaran yang ingin dicapai berkaitan dengan Rapim TNI AD tahun 2018 sesuai dengan Program 100 Hari Panglima TNI dan merupakan _Quick Win_ yang harus dicapai TNI AD dan merupakan penilaian utama terhadap kapabilitas dan kapasitas dari semua pejabat terkait diantaranya Bidang Organisasi, Bidang Doktrin, Bidang Personel, Bidang Pengembangan Kemampuan, Bidang Material dan Bidang Penggunaan Kekuatan untuk Perang maupun Selain Perang.

Lebih lanjut disampaikan, menghadapi perubahan paradigma pertempuran yang mengarah ke perang hibrida, TNI AD harus menyelaraskan Doktrin Kartika Eka Paksi dan doktrin-doktrin turunannya dengan Doktrin TNI Tri Dharma Eka Karma. Pusat Komando dan Pengendalian Angkatan Darat juga harus direvitalisasi sebagai fungsi strategis dalam pembinaan maupun penggunaan kekuatan TNI AD.

“Dalam Rapim TNI-Polri yang lalu, Presiden Joko Widodo mengingatkan tentang semakin berat dan kompleksnya tantangan ke depan. Lebih rinci lagi, Panglima TNI menjelaskan bahwa ancaman kesenjangan ekonomi, senjata biologi serta perang hibrida dan siber, harus diantisipasi dengan baik oleh bangsa Indonesia dan TNI AD secara bertahap melakukan penyelarasan pembangunan kekuatannya untuk menghadapi tantangan dan ancaman-ancaman tersebut,” ujar Kasad.

Jenderal TNI Mulyono menegaskan, TNI AD harus memiliki kepedulian terhadap kondisi rakyat dan bangsa Indonesia agar terhindar dari krisis, apalagi sebagai tentara rakyat yang memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI. TNI AD memiliki kewajiban untuk terlibat langsung dalam mengatasi permasalahan kebangsaan.

Untuk itu, selain untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat, kerja sama TNI dengan pemerintah juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan nasional. “Dinamika lingkungan strategis tadi tentunya tidak bisa dihadapi hanya dengan business as usual, akan tetapi harus dengan cara berpikir dan bertindak secara _extraordinary_ dan _out of the box, seperti yang ditekankan oleh Panglima TNI,” jelasnya.

Oleh sebab itu, selain terus menyiagakan kekuatan terpusat dan mengoptimalkan peran Komando Kewilayahan, TNI AD juga membangun kekuatan di Papua, Natuna, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan, untuk mengantisipasi eskalasi di kawasan regional dan di dalam negeri.

Kasad juga menyampaikan, TNI AD juga harus diperkuat dengan Alutsista dan Sistem Siber yang handal, memiliki interoperabilitas antar Angkatan dan sesuai dengan tipologi wilayah. Untuk mendukung tersebut, maka Fungsi Litbang harus diberdayakan secara optimal agar menghasilkan produk kajian yang memiliki nilai strategis, bermanfaat secara fundamental dan berkelanjutan.

Dalam hal pembangunan Postur TNI AD, dikarenakan alokasi anggaran yang terbatas dan cenderung menurun, sasaran yang ditetapkan dalam MEF Tahap I dan II di tahun lalu belum tercapai, bahkan diprediksi tahun ini pun akan mengalami hal serupa.

“TNI AD harus lebih selektif dalam menetapkan skala prioritas agar sasaran MEF II tetap dapat tercapai pada akhir tahun 2019. Hal ini tidak boleh mengabaikan prinsip transparansi dan akuntabilitas kinerja, agar opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK pada laporan keuangan Kemhan/TNI dapat diperoleh kembali tahun ini.

Hal ini juga sebagai bentuk pertanggung jawaban TNI AD kepada rakyat atas penggunaan anggaran pertahanan negara bagi pembangunan kekuatan Angkatan Darat,” tegasnya.

Rapim TNI AD tahun 2018 diikuti pejabat eselon pimpinan, Pembantu pimpinan, Panglima Komando Utama (Pangkotama), Komandan/Gubernur/Direktur dan Kepala Badan Pelaksana Pusat TNI AD serta pejabat Komandan Korem berpangkat Perwira Tinggi.(Penkostrad).

Bagikan :

  13 Responses to “Pangkostrad Hadiri Rapim TNI AD 2018 di Mabesad”

  1.  

    Rencana Indonesia untuk menerima pesawat tempur multirole pertama Sukhoi Su-35 ‘pada tahun 2019 sekarang berisiko tertunda kecuali negara tersebut dapat menyelesaikan perselisihan mengenai daftar komoditas yang ditawarkan ke Rusia sebagai bagian dari counter Indonesia -trade kewajiban.

    Berbicara kepada Jane di pameran Singapore Airshow 2018, seorang pejabat senior pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi karet sebagai komoditas yang mengundurkan diri dari perundingan antara Jakarta dan Moskow.

  2.  

    Wah MEF 1 dan MEF 2 terhambat….FPDA dan kroni2nya bersorak gembira ini…berarti operasi mereka berhasil…dari sini seharusnya kita harus banyak belajar…kalo masih ada yg ingat atau punya link..tujuan MEF 1,MEF2, dan MEF 3 siapa ya?…mari diingatkan kembali,dikawal semoga berhasil,semoga NKRI jaya selalu sampai diakhir jaman…AAMIIN!!…. ALLAHUAKBAR!!..

  3.  

    Gak usah jauh jauh Dari pemikiran. Alutsista kita itu hanya bisa omong doang. Rencana muluk2 Dan akhirnya muter2 gak karuan Dan akhirnyapun mentah. Buang2 energi dg banyak mengkhayal punya ini itu kek akhirnya gak selesai. Tetangga udah ketir2 Indo Mo punya ini atau itu, eh nggantung gak pasti. Makanya jadi negeri jangan suka onana. Ini budaya jelek. Lagian kita belum punya perisai anti rudal ICBM. Gak usah muter2 klo jadi perang mendadak kita udah ketir2 juga kan. SDM kita tak kalah. Tapi apa iya dg juara 1 terus lomba menembak bisa menang perang tanpa rudal penangkis ICBM? Mau ditembak pakai sniper?

    •  

      Masalahnya sekarang, negara ini sedang miskin, ndak punya duit cas, semua pake ngutang dan imbal dagang. Tahu sendiri kan, nilai ekspor turun drastis, nilai impor malah trendnya naik dan yg bikin pening malah defisit pendapatan negara. Guna menutupi bocor sana dan bocor sini, semua tarif tax di naikan, menghapus subsudi pokok dan melakukan kebijakan yg ndak masuk akal, seperti compare kebijakan ekonomi dengan negara tetangga yg penduduknya sedikit, harusnya comparenya apel to apel bukan njomplang seperti itu. Selain itu, ada kemudahan kebijakan impor masuk yang berdampak pada ketimpangan harga pasar nasional, hal ini akan berakibat ketergantungan impor dan akan mematikan produk nasional dan yang tertawa lebar adalah pelaku sepihak yg mendapat fulus yg di parkir, di bank asing.

      •  

        Bicara tentang ekonomi saya gak begitu paham. Klo saya kan mikirnya logis. Cuman beli penangkis ICBM berapa biji gitu. Drpd beli misal penambahan tank leopard. Nha kan disitu lowong go pertahanan kita. Tdk bisa main2 lho itu rudal klo ada yg tersesat ke Indo apa Cuman ditembak F16?

    •  

      tenang .. percayakan saja sama ahlinya ..mereka lebih tau kok kebutuhan mana yg di dahulukan.. soal icbm blm ada rudal mas yg mampu menangkalnya.. sebagai pans boy mendingan duduk manis yg tertib bacanya sambil ngopi.. jangan lupat folow aku y…qiqiqiqi..

    •  

      wah ente ternyata pengikut aliran modern juga yah……xixixi
      memang benar sih, MEF itu seperti memasang batasan, sedangkan batasannya tidak pernah dilalui atau dicapai, ibarat garis finish tapi pelarinya masih jauh dibelakang garis finish……..

      negara2 lain ga pakai MEF yg ada Minimum Forces ga pake Essential………
      jadi berapa kekuatan yg diperlukan (MF) untuk…………misal ada UFO ngetem di monas, maka TNI jika ingin mengusir UFO tersebut perlu force(kekuatan) seberapa banyak, minimum forcenya ya siapin pesawat pembom dan pesawat tempur utk supremasi udara. tank untuk supremasi darat, AL juga disiagakan siapa tahu nanti lewat tanjung priok bisa dicegat UFOnya…………

      negara maju ga pake MEF yg ada reserve (cadangan)………..
      tapi melihat kondisi indonesia yg masih belum maju,,,jadi yg memasang MEF itu memang sudah melihat grand strategy yg cukup besar,.,.,.,.
      sekian dan terima kasih.

 Leave a Reply