Panglima Belum Puas Geladi HUT TNI

42
77
TANTANGAN: Helikopter N-Bell Pusat Penerbangan TNI-AL melintas di atas Selat Madura sambil mendemonstrasikan water jump oleh personel satuan pasukan katak. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

TANTANGAN: Helikopter N-Bell Pusat Penerbangan TNI-AL melintas di atas Selat Madura sambil mendemonstrasikan water jump oleh personel satuan pasukan katak. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

SURABAYA – Mabes TNI dijadwalkan merayakan HUT Ke-63 TNI pada Selasa (7/10) secara besar-besaran. Seperti tahun sebelumnya, acara yang digeber di dermaga Ujung, Mako Armada RI Kawasan Timur (Armatim), itu akan diisi beragam aksi unjuk kekuatan militer. Namun, tahun ini bakal lebih wah.

Sebab, kekuatan militer kali ini merupakan akumulasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) selama 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski tinggal menyisakan waktu tidak sampai dua minggu, persiapan tidak bisa dilakukan asal-asalan. Sebagai bentuk keseriusan TNI menghelat HUT yang melibatkan alutsista tiga angkatan itu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun turun langsung untuk memimpin kegiatan geladi kemarin (25/9). Geladi kesiapan pasukan dan material tempur didemonstrasikan sesuai rencana pada hari H mendatang.

Seperti pada latihan-latihan sebelumnya, Moeldoko masih menunjukkan mimik kecewa. ”Saya belum puas dengan latihan di tiga media (darat, laut, dan udara) ini,” seru Moeldoko.

Dia menilai personel yang terlibat dalam defile, parade, dan demonstrasi tempur belum tampil secara maksimal. Karena itu, Moeldoko ingin prajuritnya terus membiasakan dengan cuaca kurang bersahabat.

Sedikitnya ada 11 demonstrasi yang berlangsung selama 176 menit atau 3 jam kurang 4 menit. Mulai aksi serangan udara langsung 2 menit dan Jupiter Aerobatic Team 18 menit (keduanya dari TNI-AU) hingga operasi lintas udara 9 menit oleh TNI-AD. Selain itu, bantuan tembakan kapal dan antikapal selam 4 menit, manuver tank menembak di laut 10 menit, terjun statik laut 9 menit, dan heli water jump3 menit (diperankan TNI-AL).

Pasukan khusus TNI juga kebagian mendemonstrasikan pembebasan sandera selama 20 menit. Selebihnya demonstrasi gabungan tiga matra bela diri militer modern selama 13 menit, defile pasukan dan material 64 menit, sailing pass 14 menit, dan flypass 10 menit.

Moeldoko menambahkan, dalam setiap geladi mesti dibutuhkan presisi tinggi. Jenderal bintang empat itu kemudian memerintah komandan satuan agar berlatih lebih keras.

Lantaran hendak menampilkan sesuatu yang sulit, dia meminta dalam setiap latihan demonstrasi tidak lagi mempertunjukkan sesuatu yang biasa. Mereka dituntut melakukannya dengan penuh tantangan dan terasa tidak mudah. ”Kalau demonstrasinya gampang, buat apa dipertunjukkan. Itu biasa saja, tidak ada nilainya,” tegas alumnus Akmil 1981 terbaik tersebut.

Dalam latihan sebelumnya, Moeldoko mengaku sakit perut ketika melihat kompi pamen dalam barisan defile dan parade. Dia spontan mengeluarkan ancaman bakal mencopot komandan satuan jika performa anak buahnya tidak berubah menjadi lebih kompak. Bahkan, dia juga berseloroh, prajurit yang tidak sesuai dengan ekspektasi dibuang ke laut saja. Apalagi lokasi defile dan parade di dermaga Ujung langsung berbatasan dengan Selat Madura. (www.jpnn.com)

42 KOMENTAR

      • Hahaha.. setuju bung. Kasian rakyat yg di pelosok ga bisa lihat. Tp.ada yg hrs di garis bawahi “demontrasi tank menembak di laut”. Kya nya Panglima mau menunjukan sistem ofensif dlm skala terbatas yg pesan tsb mau di tunjukan pd para tetangga agar jgn “USIL”

        • Bung PR, bukan hanya kualitas gambar saja yg buruk tapi skenario pengambilan gambar juga buruk dan terkesan tidak profesional. Masa kita yg ingin melihat dan mengikuti setiap detil atraksi TNI, harus disuguhi pemandangan lain secara berulang2, seperti film action yg terpotong saat iklan. Bedanya klu film dipotong iklan, setelah iklan selesai penonton masih bisa catch up karna dimulai lagi dimana dia terpotong, sementara klu atraksi TNI terpotong oleh gambar pak SBY atau gambar lain nya yg tidak perlu, ya detil yg terpotong ya hilang begitu saja. Padahal begitu banyak masa jeda untuk men-shooting pak Presiden, petinggi TNI dan para tamu undangan. Posisi kamera nya juga begitu, seakan2 TVRI cuma menshooting dengan satu kamera, penonton tidak mengenali lapangan, contohnya.. TVRI memberi kesan bahwa defile TNI dimulai dari sebuah titik,lalu bergerak di titik yg sama dan berakhirnya juga dititik yang sama. Wkwk..

          Beda jauh klu kita melihat military parade nya Rusia dan China, pengambilan gambar memberikan detil yg sangat akurat dan terstruktur dengan baik sehingga memberikan kesan seakan2 penonton familiar dengan segala sudut lapangan nya dan juga merasa sedang berada disana, dan ini membuat penonton secara tidak sadar berdecak kagum, bukan hanya alutsista nya, alutsista gahar juga klu yg ngambil gambarnya TVRI, ya serasa seperti lihat mobil2 berbaris macet dijalan2 ibukota atau antre di Pom Bensin.. IMHO

          Anyway bung PR, saya sangat antusias menunggu aksi tank menembak dilaut, kuantitas tank tidak begitu penting, yg penting doktrin dan penerapan nya terlihat dalam show of force kali ini. Yes, pre-emptive strike!

          Terimakasih buat dedikasi dan kerja keras para panglima dan punggawa demi menjaga kedaulatan NKRI, dirgahayu TNI ke-69. Salam