Feb 222014
 
Chinese Marine Corps

Chinese Marine Corps

Jakarta. 22/02/2014. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Indonesia dengan negara tetangga dekatnya, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko dijadwalkan mengunjungi China pekan depan dan diagendakan mencakup pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.

Jenderal Moeldoko mengatakan kepada The Jakarta Post, dia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan Nasional China Jenderal Chang Wanquan dan juga Kepala Staf Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), Jenderal Fang Fenghui.

Panglima TNI menambahkan, pertemuan juga dilakukan dengan Xi Jinping, yang juga Ketua Partai Komunis China. Prosesnya sedang diatur namun belum terkonfirmasi.

“Topik besar kami adalah bagaimana mengembangkan kerjasama militer antar kedua negara,” ujar Panglima TNI.

Jenderal Moeldoko akan berangkat hari Minggu dan kembali Jumat malam. Menurutnya, Indonesia sedang mengincar industri militer China yang kuat sebagai mitra potensial di masa depan. Panglima TNI akan membahas penggunaan persenjataan dari China, untuk memenuhi arsenal TNI.

Kunjungan ini tidak luput dari agenda membahas upaya menciptakan stabilitas di Laut China Selatan. Moeldoko menekankan perlunya upaya menghadirkan situasi yang positif bagi semua pihak di wilayah Laut China Selatan.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayah mereka yang nota bene juga diklaim negara lain: Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan. China juga mengklaim bagian dari Kepulauan Natuna Indonesia.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko (photo:Kompas.com)

Panglima TNI Jenderal Moeldoko (photo:Kompas.com)

Mengomentari rencana kunjungan itu, pakar hubungan internasional Yeremia Lalisang mengatakan, Indonesia harus hati-hati dan mempertimbangkan setiap langkah yang diambil, karena Indonesia dihormati di kawasan dan telah menjalankan peran sebagai mediator yang jujur untuk kasus Laut China Selatan.

Bisa saja negara lain menafsirkan kunjungan ini sebagai upaya membentuk aliansi Jakarta Beijing.

“Dengan posisi saat ini, kunjungan seperti itu tidak akan dilihat (oleh negara lain) sebagai kunjungan biasa,” ujarnya.

“Sejak Indonesia mengijinkan kapal perang China melewati perairannya setelah latihan militer di dekat Australia, kunjungan ini akan ditafsirkan sebagai bukti lebih lanjut dari kedekatan antara Jakarta dan Beijing”.

Semakin eratnya hubungan Indonesia China bisa dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan AS dan sekutunya, seperti Australia dan Filipina. Oleh karena itu, Jakarta haruslah hati-hati dan menyadari implikasi dari kunjungan tersebut, ujar Yeremia.

Sementara, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Edy Prasetyono mengatakan, kunjungan itu tidak boleh dipandang sebagai ancaman oleh negara ASEAN lainnya.

“Sebaliknya, Indonesia justru berada dalam posisi untuk meyakinkan China, agar tidak selalu berada dalam konflik dengan negara ASEAN lain, atas isu Laut China Selatan: Hal itu tidak akan menguntungkan bagi China,” ujarnya.

“Jika China ingin menjadi negara adidaya, mereka harus menyadari kepentingannya secara global dan isu Laut China Selatan, hanyalah bagian dari itu. Tidak ada gunanya mengambil sikap konfrontatif”.

Edy Juga mengatakan, sudah saatnya Indonesia memformulasikan hubungannya dengan China, dan seharusnya kedua negara negara bisa menjadi pilar di wilayah, bersama dengan India dan Australia.

TNI juga diminta untuk menggali lebih dalam potensi kerjasama industri pertahanan dengan China.(thejakartapost.com).

  65 Responses to “Panglima TNI Berkunjung ke China”

  1. Menarik …….

  2. bung satrio@ apa benar sebagian wilayah natuna di klaim china??
    Klo memang bnr knp RI tdk protes??

    • nunggu jawaban dari para sesepuh untuk pertanyaan diatas.

    • China mengeluarkan peta Nine-dotted line atau Sembilan garis putus atau Garis U adalah garis yang digambar oleh pemerintah Republik Rakyat China mengenai klaim wilayahnya di Laut Cina Selatan, meliputi Kepulauan Paracel (diduduki Cina namun diklaim oleh Vietnam dan Taiwan) dan Kepulauan Spratly yang dipersengketakan dengan Filipina, Cina, Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam.

      Keseluruhan negara tersebut mengklaim seluruh atau sebagian Kepulauan Spratly yang diyakini kaya akan sumber daya alam. Garis-garis putus ini muncul di peta Dinasti Chi’ing dari Kekaisaran Cina[rujukan?] dan masih ada di peta-peta Republik China di Taiwan

      Kepulauan Natuna memang tidak termasuk dalam peta tersebut tetapi zee laut natuna masuk di nine dotted line tersebut..Kita sudah menanyakan secara resmi tentang klaim tersebut yang nyrempet zee tetapi belum dijawab, mungkin china menunggu sikap Indonesia apakah tetap bersifat netral atau memihak salah satu blok

      • makasih bung satrio atas pencerahannya,,,,

      • Ini koment gue yg ngelantur z ya @bung satrio,

        Melihat 9 Garis ini, hal yg paling ideal bagi kita adalah tetap menerapkan zona 200 mill laut tapi dari garis pantai pulau kalimantan utara

        * Konsep tidak ada perbatasan Negara di darat + 200 Mil laut dari garis Pantai,
        cukup masuk akal untuk dirembugkan dgn pihak China

        Negara kepulauan qo ada pulau dibagi2, kan begitu..?
        Juga di bagian timur Indonesia, Nanggung

        😀

  3. Telat postingnya, bung. Keduluan warung sebelah…

    • Ga apa-apa Bung Wedus, karna disni ga ikut lomba 😀

      Disni lebih mengedepankan diskusi cerdas untuk saling bertukar pendapat dan menambah wawasan

      Slam kenal ya, ane masih baru dimari hehehe 😀

      • bung@wedus
        benar sekali postingan di sini sering kali terlambat, namun terlepas dari itu, saya setuju dengan bung@arjuna,n kenapa saya bisa nangkring di sini karena diskusi para penghuni di sini dlm share ttg militer yg menurut saya penghuninya tdk sprt di sini(cmiiw)

        bung@diego kalau bisa nanti article kedepanya lbh aktif ditambahin artikel sumber + analisa/pendapat dari para puh di sini.

        maaf oot
        cuma pendapat

      • gpp telat, daripada harus mampir dan celingukan di warung sebelah 🙂

  4. Setelah dapat ijin numpang lewat buat main air, di sekitar christmas island,lalu berlibur ke pantai kuta dan blusukan ke ALKI indonesia, maka Koko Panda gantian ingin membalas budi baik Indonesia

    China: Mas Moeldoko, haiya telima kasih koe olang udah kasih ijin oe punya kapal blusukan ke situ olang punya laut dan pulau yang indahdan ketmu situ punya latu pantai selatan yang cantik sekali, oe undang Mas Moeldoko gantian jalan jalan liat panda di oe punya negara..bisa ya, ntal oe kasih oleh pensil C705 yg special edition sekalian DF21 dan HQ6

    Indonesia : Sama sama Koko Panda, saya pasti datang, tapi jangan bilang saya datang mau beli koko panda punya barang mainan nanti takut ada yg pusink tujuh keliling

    China : Mas Moel jgn kawatil, haiya semua bisa diatul, bilang saja ke sini mau liat oe punya tembok cina yang terkenal itu, bial olang bule itu tau kita ini teman deket dan akrab, apa yang diinginkan mas moel, koko panda paham betul, yang penting di LCS kita berteman.

    Indonesia : Sekali lagi kamsia koko panda, saya pasti datang, btw koko panda jadi buka lapak di Timor timur kan?

    Cina: Haiya, tentu jadi, oe mau bikin panas dingin kepala si abbot, biar dia gak bisa tidur nyenyak

    Indonesia : “Moeldoko”sip, silahkan, saya dukung

    China : Kamsia, kamsia, pokok nya masalah si usa, abbot, singaper dan FDA, biar koko yg urus, Mas Moel duduk manis aja sambil minum teh dan belajar privat C705 di rumah yg rajin, biar cepat lulus

    Indonesia : Wah Koko Panda bisa aja, kamsia juga koko

  5. melintasnya 3 kapal JIN, 2 destroyer dan 1 amfibi besar kemarin, bisa saja membawa “kado spesial rahasia” buat YU. Biar tetangga gak curiga bisa saja berkedok izin melintas ke samudera hindia..

  6. Langkah gagah dan taktik yang cantik sekali. Seperti telah ada pendelegasian peran power balancing diplomacy antara jajaran dephan, TNI dan Menlu. Sementara sang Presiden tampak sedang berperan seperti sang Ayah yang selalu ingin melihat kebahagiaan pada anak-anaknya. Hal ini sangat mencerminkan gaya dari sebuah bangsa yang besar. Sangat jarang terjadi di Indonesia pada era kepemimpinan sebelumnya.

    Dulu hampir kesemua peran ini diemban oleh seorang presiden, sendiri. Di mata internasional, apa yang sedang dilakukan Indonesia adalah ibarat sebuah gerakan kombinasi, dengan koreografi yang cerdas, memadukan unsur tarian dan aksi bela diri. Sesungguhnya, inilah citra eksekutif sejati, yang merasa selalu dituntut untuk mampu menciptakan prestasi dan keuntungan bagi bangsanya.

    Peran Eksekutif yang selama ini menjadi domain Presiden, kelihatan sudah mendapatkan ruang-ruang yang semestinya. Efek yang kemudian akan segera dirasakan adalah adanya bargaining power yang besar di mata internasional, yang dimiliki oleh pemimpin Indonesia.

    Ciri pemimpin yang besar adalah memiliki staf atau anak buah yang memiliki kecakapan tinggi dan mampu menjalankan misi-misi besar. Kelak setiap kata dan tingkah sang pemimpin, akan menjadi sebuah titah yang didengar dan dipegang oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Cara diplomasi seperti ini sudah lumrah dilakukan oleh negara-negara maju.

    Lihatlah, bahkan sekelas wakil menteri saja bisa menjadi wakil atau utusan sebuah negara untuk menemui pemimpin negara lainnya. Semoga hal ini akan merembes ke tingkat yang lebih bawah. Suatu saat tidak mustahil, kita akan melihat seorang lurah atau kepala desa di Indonesia yang bermitra langsung dengan negara-negara bagian yang ada di belahan dunia lain.

    Bukankah hal ini pulalah yang telah membawa China mampu mengecapi kemajuan yang dialaminya sekarang. Ada iklim kompetisi yang menarik antara provinsi di negeri China. Bahkan diantaranya ada yang mendirikan kantor misi perdagangannya di Eropa yang terpisah dari kantor Kedutaan Besarnya. Luar biasa, stingkat provinsi bisa menjalankan misi yang biasanya diemban oleh sebuah negara. Semoga hal inilah yang sedang terjadi di tubuh Eksekutif kita. Andaikan sudah terwujud, maka bangsa lain tidak akan lagi memandang remeh orang Indonesia. Mereka akan melihat warga Indonesia sebagai individu yang besar dari sebuah bangsa yang besar. Amien..!

  7. Apakah ini juga taktik mengulur-ulur waktu datangnya alutsista modern (2017) dari paman sam,sedangkan si paman baru saja merespon akan membantu sepenuh hati(apapun keinginan dan keperluan RI alutsista dari paman sam akan diberikan)kepada NKRI untuk memodernisasi alutsistanya biar gahar dan solid didalam menjalin hubungan antara us army dan TNI tanpa melihat tetangganya yg masih ingin menjahilin,akankah pak lik moel datang sowan ke koko panda…?

  8. non blok yg cenderung lebih ke timur,semua karena sebab ketulusan yg dikhianati,intrik dan penuh konspirasi….
    salah satunya adalah ketegasan pemerintah yg melarang exspor bahan tambang mentah keluar negeri…

    tetaplah pada pendirian sudah saatnya hasil limpahan kekayaan alam,kita dan anak cucu yg menikmati… ….

    INDONESIA UNTUK SELURUH RAKYAT INDONESIA..

  9. pulangnya bungkusin jg DF21 nya ya pak lek moel

  10. Ada sesuatu yg besar di balik ini.
    Mbah bowo ditunggu penerawanganya sama warjager..B-).

  11. Ada 3 kemungkinan yg terjadi dengan si Abbot pemimpin negeri bromocorah :
    – Kalau Panglima TNI berkunjung ke Cina, si Abbot meriang panas dingin.
    – Kalau Menteri Pertahanan RI melawat ke Rusia, si Abbot terserang gagal jantung
    – Jika Presiden RI melakukan kunjung ke Rusia lalu dilanjutkan ke Cina, si Abbot akan ……? 🙂

  12. Bagaimanapun kunjungan ini membuat David Hurley bertanya-tanya :
    Sadap..sadap…sadap..
    😀

  13. Geopolitik TNI harus kembali ke Roh Era 60an.

  14. Poros DJAKARTA-PEKING-MOSKWO . HanYa itu yang bisa Menbendung peraN Asu dan antek anteknya di asia tenggara dan ausse . MEF 2 sebagai sarana penguatan alutsista pemukul kelas wahid !!! Buat pak moel selamat bermain cantik di beijing dengan diplomasinya dan oleh oleh untuk TNI yang gahar jangan lupa di bungkus .

  15. Kunjungan ini hrs bisa merealisasikan kerjasama baik yg akan berjalan maupun yg sedang berjalan spt TOT rudal. Negara sekelas indonesia seharusnya sdh bisa berbuat rudal. Jgn terlalu mengeluarkan banyak uang utk pembelian alusista tanpa T0T, kalau tdk kapan kita bisa mandiri. Pelajaran masa lalu dimana embargo thd kita disaat kita lg krisis dan butuh alusista utk timtim hrs mjd pelajaran berharga kemandirian kita.

    Menarik pada gambar pembuka di atas adlh latihan bela diri militer china, walau secanggih apapun peralatan perang mereka, pelatihan bela diri tetap dilakukan.

    Bila saya melihat yg terjadi pd peristiwa ambalat dimana korps kopaska berhasil menyuruh mundur kapal militer malaysia tanpa dukungan kapal fregat atau kapal selam utk menyuruh mundur mereka. Menjadi pelajaran berharga bagi kita secanggih apapun peralatan militer, kita juga hrs mempunyai prajurit yg tangguh pula. Perlu dibekali tdk hanya pengetahuan militer yg tercanggih tapi juga kemampuan bela diri dan taktik militer jg. Apalagi utk prajurit khusus kita, perlu dibekali pula seni beladiri leluhur kita krn kemungkinan sewaktu2 pasti dibutuhkan. Spt ilmu silat dari banten, dayak, dsbnya.

  16. silahkan menjalankan tugas negara bung moeldoko,silahkan bermain cantik,selalu teguh dln GNB n Bebas aktif
    cari kawan(timur-barat) sebanyak mungki demi bangsa n negara.
    jangan cari musuh,kalau ketemu musuh jangan lari.
    cari n ambil peluang,perkuat strategi, n jalankan diplomasi militer sesuai uud 45 n amanah rakyat.

    cuma pendapat
    maaf cucu lancang

  17. gmn klo china pengin menyewa kepulauan natuna untuk dijadikan pangkalan militer bagi angkatan laut china dengan harga sewa per tahunnya dgn iming2 kira2 1-2 milyar dollar + bonus sekolah rudal jarak jauh/menengah DF21 dan HQ-16. Berdampingan dgn pangkalan militer punya Indonesia, Kira2 tanggapan indonesia gimana ya??
    Gmn tanggapan temen2….. krn mungkin aja ada perjanjian rahasia misal china memberikan keahlian dan tehnologi militer tapi minta akses menanami alur alki 1 dan 2 dgn radar maritimnya yg hanya bisa diakses oleh indonesia dan china misalnya.

  18. Tak dipungkiri lagi pergeseran sentral Geopolitik Internasional dari Heartland ke Asia Pasifik,membuat RI berbenah untuk membentengi diri,sekarang ini terlihat perbedaan cara (how to manage) antara Indonesia dan Cina,hal satu lagi si panda untuk kebijakan keluar (eksternal)-nya menggunakan(simpati, tebar uang, investasi, dll) sehingga melalui cara tersebut menuai banyak simpati negara*. Tak dapat dipungkiri memang Cina lebih populer,kemungkinan karena faktor “panda” daripada kelompok negara Barat yang usil dengan pendekatan ideologis via paket DHL (demokrasi, HAM dan lingkungan).

    Maka pantaslah bila jauh-jauh hari saudara sepupu, Timor Leste bersikap welcome kepada Cina di wilayahnya. Tak kurang, Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Timor Leste, Xanana Gusmao menyatakan, pihaknya terbuka bagi kehadiran armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Cina.
    hal ini bisa dirasakan rakyat TL bila mana dulu ada Anekdotnya: jika bergabung dengan Indonesia masih fifty-fifty, sepiring berdua; dengan Portugis diambil sak piringnya; dengan Aussie lebih parah lagi, diambil semua sak rak* piringnya…!!

  19. Kebangkitan China adalah kenyataan yang harus disikapi demi keuntungan kita, tapi juga harus diwaspadai dan dikondisikan agar tidak mengancam kepentingan kita sendiri nantinya. Saya rasa ada “sesuatu” yang diketahui pemerintah namun belum kita fahami mengenai kekuatan2 di sekeliling kita saat ini. Apa TNI memandang kekuatan US lewat Aus dan Sg adalah ancaman yang nyata dan dekat? obviously ada ‘something big’ jika Panglima ujug-ujug mementingkan datang langsung ke China, IMHO ini bisa jadi politik keamanan tingkat tinggi akibat kedatangan 3 kapal PLAN belum lama ini atau sesuatu yang berkaitan dengan alutsista strategis made in China atau bahkan keduanya

    Kedatangan Panglima ke China belum bisa diartikan aliansi Jakarta-Beijing tapi merupakan gayung bersambut dari kedatangan pemimpin China sebelumnya ke Indonesia, jelas merupakan alarm bagi kekuatan2 lain di kawasan terutama bagi blok US (Australia, Singapura) dan India. Saya harap kedatangan Panglima ke China adalah tindakan yang sudah benar2 dipertimbangkan dan terukur. “HASIL” kunjungan ini harus signifikan bagi Indonesia karena pandangan miring pihak lain sudah kadung terjadi akibat rencana kunjungan Panglima TNI ke China ini

    Kecondongan Indonesia pada pihak tertentu akan merusak keseimbangan kekuatan. berpihak ke US China akan terkurung di Asia Pasific, berpihak ke China strategi US yang manapun untuk menahan China akan amburadul, dan tidak hanya menjadi ancaman bagi Australia tapi juga bagi India dan sebagian negara Asean.

  20. Kunjungan kenegaraan biasa, tidak ada maksud apa-apa. Tenang saja indonesia tetap Non Blok.

    • Laaaa iki manungsane metuuu

    • mbah bawok’ mbah bawok (bawok mentol)

      • Saya sbenernya jga jenggel sama Mbah Bowo sepeti kata bpk/ibu guru waktu kita sekolah dulu(bersikaplah lebih sopan terhadap orang yg lebih tua), tetapi saya jga harus menghormati beliau yg tentunya lebih tua umurnya dari pada saya.

        Cara efektif berdialog dg cerdas menghadapi Mbah Bowo adalah, gunakan debat cerdas(sajikan terus info gesekan LCS) sehingga dia pasti akan bisa tidur nyenyak

        • Tidurnya nyenyak dan ga bangun lagi 😀

          • belum tentu mbah bowo lebih tua dari situ..
            mbah bowo kan membawa misi yg harus disampaikan ke masyarakat Indonesia..makanya slalu melawan arus.

            Kalau gak gitu gak gajian mbah bowo 😀

          • yaa kita lihat saja, apakah mbah bowo tetap komit dng janjinya yg akan hengkang ke ausie jika PLA hadir di Timor Leste.
            Kalo si mbah masih bercokol disini jg nanti biar ta’ kamplengi lambene nganti nyonyor…. 🙂 …dos pundi mbah..?

        • Mbah cuma pesen satu hal, Jangan menangis dan meratapi nasib jika kita sudah melihat tentara PLA yang bengis sudah berbaris melewati depan-depan rumah kita.

          Mau bangsa sehebat apapun, se militan apapun akan hancur mentalnya saat melihat kenyataan bahwa negaranya sudah diduduki pelan-pelan.

          Adek-adek yang mengaku militan dan berani mati membela bangsa mbah juga salut, mbah bangga dengan adek-adek yang mempunyai jiwa patriotisme tinggi, tapi mbah tidak yakin dengan semua itu, adek-adek kan belum pernah terkena serpihan peluru, atau melihat mayat yang berpelimpangan di masa perang.

          Menurut pengalaman mbah masa lalu, kalau sudah seperti itu kabur adalah jalan yang terbaik, Hidup adalah sekali, Ngapain juga adek-adek membela kepentingan negara, toh kemakmuran yang didengungkan hanya semu dan yang menikmati hanyalah pejabat yang rajin korupsi setelah bangsa ini aman.

          Mbah ini pake logika, mbah tidak masalah yang memimpin bangsa indonesia dari mana saja tidak masalah, yang penting Rakyat Makmur dan penghasilannya dijamin negara seperi Malaysia. Makmur dek orang-orang melayu disana, padahal mereka bekas jajahan inggris yang diberi kemerdekaan, Lha kita apa ? apa yang di dapat setelah berdarah2 ?

    • Beda pendapat boleh kan. Jangan pada hujat simbah bowo ah..

  21. Menurut ramalan pirmbom joyo boyo
    INDONESIA akan kedatangan musuh dari arah timur ( lorek lorek teko wetan bagaimana menurut anda mas mas
    tentang ramalan joyo boyo
    maaf nyimpang dr topic

  22. bung@gatotkaca
    pertama, tidak ada keuntungan apapun untuk indonesia jangka panjang maupun jangka pendek + kekuatan ekonomi n politik/diplomatik indonesia saat ini (daya tawar) dikancah intl n melihat situasi (isu) internasional skrg ini.(lcs khususnya)

    jangka pendek:keuntungan tdk hanya dilihat bantuan baik hibah,sewa, ato utang. Kekuatan pun tdk dilihat scr militer, tentunya indonesia akan goncang secara ekonomi (mata uang down, ekonomi-dagang down) tentunya imbas anggaran militer, mgkn seandainya militer kita dr barat diembargo, kita bs kiblat timur, tapi kalau ekonomi down? bagaimana militer kuat?

    jangka panjang:indonesia akan blunder bila lcs tjadi, bisa jg indonesia yg akan jadi efek base pertempuran, dilema tentu indonesia dlm asean.

    pointnya mau kiblat manapun (tot ato apalah) tp jgn pnh gunakan daratan, lautan, udara “disewakan”. cukup pengalaman singap saja,itu yg terakhr.

    cuma pendapat
    maaf cucu lancang

  23. Menurut saya kunjungan pimpinan TNI ke china adalah penting bagi diplomasi militer..sekaligus bargaining position yang baik bagi diplomasi Indonesia..Hal yang penting lagi kedepan adalah bagai mana Indonesia mampu memainkan kartu diplomasi dengan mengundang Rusia untuk lebih banyak memainkan kepentingan strategisnya di Asia Tenggara, kehadiran rusia di Asia tenggara adalah ancaman strategis bagi dominasi US dan sekutunya sekaligus merubah road map asia pasifik..bagi US dan sekutunya tentunya akan menjadi ancaman bipolar dimana peta kekuatan musuh terkonsentrasi di dua kutub..namun bagi Indonesia yang non blok adalah berkah sekaligus jaminan bagi presure berlebih dan provokasi dari kubu US dan sekutunya maupun tekanan dari kubu China..
    Menjaga keseimbangan kawasan dengan mengandalkan kekuatan Indonesia seorang di tengah himpitan dua raksasa adalah strategi polos, overconfidence nan berbahaya. Indonesia butuh kehadiran raksasa ketiga sebagai penyeimbang..Rusia memiliki profile yang menarik saat ini..rusia adalah penghalang yang kuat bagi dominasi US dan sekutunya namun juga bukanlah sahabat karib bagi China (*ingat cinta segitiga Rusia-India-China yg penuh persaingan).
    Kondisi demikian akan mematahkan skenario “dua gajah bertarung pelanduk mati di tengah2” sekaligus memastikan tidak akan terjadi “senjata makan tuan” (strategi china menguasai sahabatnya sendiri)..
    IMHO…

  24. Udh beberapa episode iklan pembuat sabun nongol dimari. Gk papa seh asal jgn kebanyakan n sedikit dananya sumbangin buat lapan. Kalo ada tawaran sponsor dr jf sulfur jgn diterima yah bung diego? NNtar bs mempengaruhi kedatangan su-35 he. He…

  25. Maaf ikutan nimbrung bro..gimana kabar lontong Russia,apakah dah deal

  26. DIPLOMASI “BADMINTON” CHINA UNTUK LAUT INDONESIA
    http://www.dephan.go.id/kemhan/?pg=73&id=453

  27. Artikel yang menarik mengenai kerjasama 3 negara besar (emerging markets) yang diperkirakan akan menjadi pemain utama dan penentu atau jangkar kestabilan sosial, politik, ekonomi, dan keamanan wilayah Asia ….
    ————–
    China, India and Indonesia–Building Trust Amidst Hostility
    By Vibhanshu Shekher

    Amidst the prevailing atmospherics of aggression, hostility and uncertainty, rising powers of the Indo-Pacific are also making efforts towards building trust and exhibiting their willingness to come to terms with each other’s rise. Three such efforts were made in October 2013 by China, India and Indonesia during the high-level visits of Chinese President Xi Jinping to Jakarta, October 3; Indian Prime Minister Manmohan Singh to Jakarta, October 10-12; and again by Prime Minister Singh to Beijing, October 22-24. The significance of these visits lies in the introduction of a somewhat calibrated approach towards dealing with each other’s rise, strengthening relations as major powers, and opening up of new channels of communication in their troubled areas of relations. No matter how small these efforts for collaboration are, their significance should not be lost amidst the cacophony of doom and gloom that some reports claim are prevalent throughout the region.

    The official statements from these visits offer a glimpse into how these three states are acknowledging the significance of each other in the evolving regional order. Though the United States remains the paramount power in the region, mutual acknowledgement of each other’s interests and stakes between these three second-tier rising powers could create conditions for stability in an otherwise unstable multipolar Indo-Pacific. The visits produced commitments in three major areas of diplomacy: assertion of strategic partnerships including defense cooperation, deepening of cooperation in economic and other softer areas of relations, and introduction of Confidence Building Measures (CBMs) to diffuse tension. First, while consolidating their relations, these Asian powers laid out road maps for cementing ties, and acknowledged each other’s role and importance in the region. The first signal came from Jakarta where Indonesia and China decided to elevate their bilateral cooperation to the level of a comprehensive strategic partnership. While Beijing acknowledged Jakarta as an emerging market with global and regional influence, the latter characterized their partnership as an epochal moment in the history of their bilateral relations. Defense and security cooperation–specifically in the areas of maritime security, military exercises, defense industry–figured prominently in their joint statement.

    India and Indonesia, bereft of any major sore point in their relations in comparison to either Sino-Indian or Sino-Indonesian relations, attempted to add more substance and speed to their otherwise thin and slow-paced strategic partnership. The two countries identified five focus areas to strengthen their bilateral ties: strategic engagement, defense and security cooperation, comprehensive economic partnership, cultural and people-to-people linkages, and cooperation in responding to common challenges. The content of their joint statement highlighted the intent of the two rising powers to go beyond the bilateral context of cooperation towards a pan-Indo-Pacific orientation. Both the Indian Ocean and the G-20 were added as important regional and global agendas for bilateral cooperation.

    On the other hand, the Sino-Indian joint statement, entitled “A Vision for Future Development of India-China Strategic and Cooperative Partnership” aimed to project broad-based consensus between the two powers over issues of regional and global concern. The two countries signed nine agreements/Memorandums of Understanding (MoU) with the two-pronged focus of developing confidence-building measures to address areas of bilateral dispute and deepening cooperation in areas of mutual benefit.

    Second, these visits reflected an infusion of substantive economic cooperation into their partnerships and an emphasis on strengthening cooperation in other less contentious areas, such as education and culture. In addition to the signing of a currency swap agreement worth $16 billion, China and Indonesia agreed to implement the commitments of the China-Indonesia Five Year Development Program for Trade and Economic Cooperation to reach a bilateral trade target of $80 billion by 2015. The Chinese leadership tried to allay Indonesian misgivings in the economic sector by agreeing to enhance direct investment in the infrastructure and development sectors and to promote balanced trade. At the 2013 Bali summit of APEC, both China and Indonesia pushed for greater economic integration, better connectivity and greater market access within the region.

    India and Indonesia signed six MoUs, which entailed greater collaboration between institutions of the two countries in the areas of health, natural disasters, drug-trafficking, intelligence training, and research. In a similar fashion, the Sino-Indian joint statement focused on linkages in the softer areas of cooperation. They signed an MoU on reviving the ancient Nalanda University and also agreed to celebrate the six decades of the Nehruvian doctrine of Panchsheel–Five Principles of Peaceful Coexistence–as a symbol of post-colonial Sino-Indian friendship. The ASEAN Regional Comprehensive Economic Partnership initiative figured for the first time as a potential agenda of bilateral economic cooperation. Both India and China are not part of the Trans-Pacific Partnership negotiations. These agendas of cooperation reflect on decisions of the two countries to widen the audience and stakeholders of their relationship by strengthening people-to-people relations.

    Experts on Sino-Indian relations would have found it unpalatable to imagine a few years ago that Myanmar, which has remained a source of Sino-Indian rivalries, would figure as a connecting link in their efforts towards building ties. This welcome trend was evident from the joint statement of India and China that mentioned Myanmar as a likely participant in their celebration of six decades of Panchsheel.

    Finally, these visits saw attempts to build confidence over long-standing bilateral disputes by introducing these sensitive issues into the official agenda of negotiation. Major strides came from the most troubled equation of this strategic triangle–Sino-Indian relations. New Delhi and Beijing signed a border defense cooperation agreement that underscored the necessity of maintaining peace along the border through information sharing and laid out elaborate mechanisms for both periodic meetings as well as emergency communications. Moreover, India and China, for the first time, brought trans-border river management into the official agenda of negotiation with the signing of an MoU on strengthening cooperation on trans-border rivers and the Chinese consent for data sharing.

    The predominant culture of strategic autonomy in India and Indonesia seems to be dictating their economically beneficial and tension-reducing exercises of cooperation with China. Jakarta as an autonomous actor, once again, holds the key in this new-evolving triangle of relationships. Nevertheless, it is yet to be seen whether these three powers are able to shoulder the responsibility of building a stable regional order or if they will inevitably push the region towards greater instability as their individual power and ambitions grow.

    http://dinmerican.wordpress.com/2014/02/21/china-india-and-indonesia-building-trust-amidst-hostility-2/

    • awalnya ada teori justru trilogi :
      India – Jepang – Australia,
      jika pada akhirnya bisa menggiring India – Indonesia – China itu menjadi Anomali bagi AS si penggagas konsep 3 kaki diatas.

  28. Ditunggu undangan dari AS untuk Jend Muldoko, untuk menyetujui pembelian alutsista fresh brand new yang high tech, serta ToT Nosel Roket….., untuk menarik keseimbangan kembali ke tengah….. 🙂

  29. Pendapat saya kedatangan panglima TNI ke Cina, adalah utk melakukan pendekatan kpd Cina, spy seluruh pejabat Cina yg berpengaruh dlm pengambilan keputusan dan kebijakan atas Cina setuju utk memberikan ToT atas rudal C 705, dan juga utk berkenan memberikan kpd Indonesia rudal pertahanan jarak menengah HQ 9, dan jg utk pengadaan pesawat tempur generasi kelima serta heli serang dlm jumlah besar, juga belasan simulator SU,simulator pesawat generasi kelima, dan jg MBT,tank medium,panser,tank amphibi milik Cina.

  30. @makrov…indikasi akan di gagalkannya pemilu minimal chaos tingkat lokal caleg gagal akan bawa massanys…dan gagalnya capres pesanan asing november nanti…mulai april sampai pres baru dilantik tni siap siaga…gak mau kecolongan oleh pihak asing….

  31. Membingungkan ya? Panglima mau berkunjung ke China dan Dubes US mengatakan US akan mendukung Indonesia ‘mengadapi agresifitas’ China di LCS

    The United States plans to help modernize Indonesia’s military, including provisions for training and equipment, amid heightened tensions in the South China Sea, where China is laying claims to disputed waters.

    US Ambassador to Indonesia Robert O. Blake Jr., at a press conference hosted by the Jakarta Foreign Correspondents Club on Thursday, said that the US government would continue to assist the Indonesian Military (TNI) with bilateral exercises and supply it with modern equipment.

    “We’ve had a growing scope of bilateral exercise with the Indonesian military, and we’re very pleased with that,” Blake said, in response to a question about what the US is doing to help Indonesia’s security. “We have excellent security cooperation now between our two countries. We’re working to help Indonesia modernize its military, helping Indonesia with all kinds of training and other equipment needs, and we’re excited about the prospects.” -tthejakartaglobe.com

  32. sptnya kunjungan panglima tni ada hubungannya dengan rencana cina menerapkan adiz di laut cina selatan, setelah waktu lalu ‘sukses’ dengan penerapan di laut cina timur.

    pemerintah ri sudah menyatakan dengan jelas ketidaksetujuan kita thd adiz di laut cina timur.
    ditambah kemarin konvoi unjuk kekuatan kapal cina yg melewati alki dan mengitari laut selatan jawa keluar kembali ke utara lewat alki 2 dan 3, dapat menjadi preseden untuk kejadian serupa diulang kembali dan menaikkan tensi di laut cina selatan terutama bila adiz lcs jadi diumumkan.

    sangat mungkin panglima tni akan mendesakkan persetujuan cina untuk code of conduct di lcs, sebelum cina mendahului dengan pengumuman adiz di lcs.
    kalau memang ini jadi salah satu agenda, sangat besar kemungkinan diplomasi deplu kita untuk coc di lcs benar2 sudah mentok sampai tni harus turut dilibatkan.

 Leave a Reply