Mar 172015
 

image

TNI dengan program MEF I yang telah berakhir memang telah melaju kencang dan boleh dikatakan berhasil memodernisasi alutsista TNI yang telah ketinggalan jaman. TNI AD kebagian cukup banyak, namun dari sekian alutsista yang dibeli, Paspampres sebagai kesatuan yang ditugasi mengamankan Presiden RI tampaknya masih tertinggal dalam hal kebutuhan pengadaannya.

Walaupun Dronkavser (Eskadron Kavaleri Panser) sudah kedatangan ranpur buatan dalam negeri Anoa, namun kehadirannya dipandang belum memadai untuk melakukan operasi matan. Anoa dipandang hanya mampu menggantikan Commando Ranger milik Dronkavser, namun belum untuk Commando Scout. Ranpur ringan buatan Cadillac Gage ini andal karena lincah, ukurannya kecil, dan enak digeber pada kecepatan tinggi. Lalu apa kira-kira ranpur yang sanggup didapuk menggantikan Commando Scout?

Tiga tahun yang lalu untuk pertama kalinya pabrikan Panhard memamerkan CRAB, kendaraan lincah 4×4 yang didapuk untuk menggantikan Panhard VBL sesuai dengan spek program SCORPION (Synergie du Contact Renforcé par la Polyvalence et l’Infovalorisation) yang bertujuan untuk membuat sistem manajemen pertempuran yang mengarah pada sistem tempur berbasis jaringan – semuanya terhubung.

Salah satu komponen yang masih dicari oleh pemerintah Perancis adalah program VBAE (Vehicule Blindé d’Aide a l’Engagement – Kendaraan tempur pembantu pertempuran). VBAE bertujuan untuk membuka jalan, melakukan pengintaian, pengamanan, screening, dan kalau perlu, operasi penghancuran lawan.VBAE adalah program yang secara khusus memang ditujukan untuk menggantikan VBL yang dianggap sudah kehabisan ruang untuk tumbuh – mengadopsi sistem komunikasi atau persenjataan baru.

CRAB memiliki sistem gerak permanen 4×4, namun keistimewaannya terletak pada kedua sumbu roda yang dapat disetir secara independen. Artinya, gerak roda depan dan belakang bisa berbeda. Fitur ini sangat berguna saat CRAB harus berbelok, sehingga radius putarnya sangat kecil, cocok sekali untuk bermanuver di jalan-jalan sempit, sesuatu yang jamak ditemui di Indonesia khususnya Jakarta.

image

Keistimewaan lain dari CRAB terletak pada kabinnya. Desain kabin dibuat dalam bentuk sel dengan nama Citadel, yang independen dari kulit luar kendaraan. Barisan tempat duduk dibuat unik: Tiga kursi disediakan pada baris depan, dengan pengemudi di tengah. Pengemudi mengendalikan CRAB melalui setir kemudi yang tak beda dengan kemudi pada mobil sport. Seluruh cluster meter sudah ditampilkan secara digital, melalui layar LCD.Di baris belakang duduk juru tembak yang mengendalikan sistem kubah CPWS buatan CMI Defense Belgia.

Perlindungan terhadap ranjau dijamin dengan membuat sistem lantai berlapis dengan rongga di antara, sehingga ledakan ranjau tidak mampu mencapai Citadel. CRAB sendiri memiliki kemampuan menahan impak ranjau sampai STANAG level 3a/b, jadi sangat pantas untuk menggantikan Commando Scout.

Sistem kubah CPWS 20-25-30 dikontrol dengan menggunakan joystick dan membidik melalui layar LCD yang tersaji di depannya. CMI menyediakan tiga macam opsi kanon untuk CPWS: 20mm Rh202, 25mm M242 Bushmaster, atau 30mm M230 seperti milik heli serang AH-64 Apache. Peluru 20mm sama dengan milik Marder, dan 30mm tentu nantinya akan dibeli bersama dengan kedatangan AH-64E Guardian, jadi soal logistik peluru tentu bukan merupakan suatu masalah.

Selain sistem senjata kanon, tersedia beberapa opsi untuk sistem senjata di atap kendaraan dan setidaknya Panhard sudah siap dengan tiga alternatif: kubah CPWS 20-25-30, sistem rudal anti pesawat Mistral, atau kubah dengan laser designator untuk kendaraan pengarah artileri. Satu fitur ajaib yang mungkin tidak ada pada kendaraan lain adalah sistem catu daya berbasis alternator. Artinya, saat CRAB perlu mengintai di garis depan, kendaraan bisa dibuat senyap dengan mengandalkan motor listrik.

Musuh dijamin susah mendengar kedatangan CRAB sehingga unsur kejutan dapat dipertahankan. Sumber tenaga untuk alternator ini dipasok oleh panel tenaga surya dengan efisiensi tinggi yang terpasang di punggung atas CRAB. Walaupun belum ada kepastian untuk pengadaannya, ARCinC mendengar bahwa CRAB merupakan salah satu kandidat utama yang akan dievaluasi untuk menggantikan Commando Scout. Kita ikuti terus perkembangannya!. (arc.web.id).

Bagikan Artikel :

  23 Responses to “Panhard CRAB Cocok untuk Paspampres”

  1. 1

    • Jujur masih lebih sangar komodo…

      Sepaket sama anoa terus diiringi tank badak pasti yahud…

      secara itu lokal semua, tambah Nasionalis donk…

  2. Beli ??? ……………, buat dong, PINDAD juga bisa buat yg lebih keren, edisi limited !

  3. Kan ada komodo tinggal disesuaikan dg kebutuhan gunakan yg sdh bisa dibuat pindad hemat devisa dan menjaga kemamdirian alutsosta

    • Saya sepemikiran bung. Meskipun mungkin masih ada kekurangan disana sini, tapi kalau sudah ada yang pesan tentu spek bisa diatur ulang. Selain menghidupkan industri dalam negeri, kan bangga banget rasanya kalo kita bisa melindungi RI 1 dengan produk anak bangsa

      • Setuju sama istilahnya kita tiap hari belajar bahasa inggris tp tidak dipraktekan kita tdak ketahuan bisa apa gaknya. Begitu industri kita sekalian buat evaluasi.

  4. modelnya mirip banget sama kendaraan PDII

  5. Lebih bangga pakai Komodo dng modifikasi sana-sini sesuai kebutuhan. Orang Indonesia terkenal jago modif. xixixixi.ANDA PERCAYA KAMI BISA.

  6. Bentuknya ko kurang ciamik ya

  7. menurut pendapat pribadi saya kalau dari segi bentuk/rupa, nilainya 5,5 dari 10

  8. sebenarnya lebih bagus buatan dalam negeri. karena lebih berkualitas. lebih mudah suku cadangnya. lebih mudah perawatannya. murah harganya. tidak perlu ribed2. . . . .

  9. Soal kreativitas,modifikasi dan model serahkan saja pada putra terbaik INDONESIA , kalau ranpur ringan seharusnya TNI nggak usah beli dari luara negeri, Pindad sdh mampu kok tinggal kelengkapan tempurnya kita pilih sesuai dengan kebutuhan TNI kalau bisa yang lebih canggih, khan kita sdh bekerja sama dengan CMI Belgia, buat apa beli dari luar, perdayakan aja produk dari dalam negeri, kecuali alat berat yang sekiranya kita belum mampu, trims.

  10. saya rasa itu kalau di tembakkan meriamnya bikin peka kuping yang mengoperasikan yang dibawahnya….

  11. SETUJU…

  12. Salesnie…mending komodo

  13. dalam negeri aja udh bisa bikin mbok ga usah beli terus..kalo TNI beli garansi rusak ganti baru sehingga bisa dievaluasi dimana kelemahan produknya sehingga nanti jadi produk yang sempurna…

  14. Lincah?
    Ane ragu,kalo belok tajam dlm kecepatan tinggi.

  15. komodo sudah cukup gahar & mamadai

  16. Jauh lebih bagus Rantis Komodo 4×4 produksi Pindad.

    Rantis Komodo 4×4 mempunyai ukuran yang sangat ideal dan memungkinkan dikembangkan untuk semua kebutuhan, sebagai kendaraan pembawa anti udara jarak pendek (SHORAD), kendaraan pembawa Anti Tank Misil (ATGM) dan kendaraan angkut pasukan dengan kubah bersenjata.

    Daripada membeli panhard scoud (pengintai) yang imut lebih baik duitnya dipakai untuk memperbaiki kemampuan Rantis Komodo 4×4, misalnya dibuat mampu berenang, tahan ranjau di stanag level 3, kubah bisa dipasang pelontar granat CIS 40 AGL atau minimal senapan mesin remote control (RCWS)

    Panhard scoud CRAB yang begitu mungil sangat tidak efisien di medan tempur, ketika salah satu operator entah driver atau gunner/navigator terluka atau tewas, bisa dipastikan kendaraan CRAB akan kehilangan fungsinya. Lihat saja pengalaman Jordania yang termehek-mehek karena memakai panser imut Ferret/Saladin/Saracen di medan perang Arab-Israel.

    Dipakai untuk Paspampres juga kurang tepat, mau dipakai dalam kondisi apa itu kendaraan ? Bisa dilihat bahwa mayoritas kendaraan operasional Secret Service (Paspampres USA) tidak ada yang memakai panhard scout

    Pindad sudah sangat mampu memproduksi kendaraan taktis 4×4, kualitas Rantis 4×4 KOMODO cukup mampu memenuhi kebutuhan TNI dan sangat bisa untuk dikembangkan secara mandiri. Peran commando scout v100 juga tidak bisa digantikan dengan Panhard CRAB. Pengganti ideal commando scout v100 yang ideal adalah ASV M1117 atau Commando Textron.

    Daripada berputar-putar di kendaraan 4×4, mungkin TNI perlu mengusahakan agar Pindad mampu memproduksi Kendaraan Truk angkut pasukan dan Truk angkut BBM versi militer. Untuk Truk angkut pasukanTNI sudah ada kontrak dengan Isuzu Jepang dengan membeli 665 unit Truk berkapasitas 2,5 ton dengan sistem penggerak roda 4×4 dan 300 unit Truk berkapasitas 5 ton dengan sistem penggerak roda 6×4. Sayang sekali, semua Truk itu diproduksi di Jepang. Duuhh !!

    Mungkin pembuatan Truk angkut pasukan dan BBM bukan domain Pindad tetapi jika Pindad bisa memproduksinya, akan sangat luar biasa menguntungkan. Truk angkut pasukan dan Truk angkut BBM versi militer mutlak harus diperhatikan oleh TNI, sebagai perbandingan, lihat saja pergeseran pasukan Russia yang masuk ke Crimea dengan pergeseran pasukan TNI di daerah konflik. Mungkin ada yang pernah melihat gambar truk TNI di aceh dengan pelindung papan pohon kelapa atau aneka tambalan plat besi. Miris sekali bukan ??

 Leave a Reply