Nov 292014
 
LSU  - 05 LAPAN

LSU – 05 LAPAN

Bogor -Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengembangkan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Program bernama LAPAN Surveillance UAV (LSU) sudah menghasilkan 5 jenis pesawat tanpa awak yakni LSU 01, 02, 03, 04, dan 05.

Pesawat tanpa awak ini bisa dipakai untuk pemantauan daerah perbatasan, daerah bencana, daerah berbahaya, serta misi terbang jarak jauh.

“Fungsi bisa dipakai pemantauan atau surveillance seperti lahan pertanian, mitigasi bencana, maritim, tepi pantai,” kata Kepala Bidang Teknologi Prokusi Puslitbang LAPAN, Bayu Utama kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/11/2014).

Varian terbaru pesawat tanpa awak atau drone ini ialah LSU 05. Pesawat ini memiliki daya jelajah hingga 240 km dengan lama terbang 8 jam dan mampu membawa beban 30 kg. Pesawat ini memakai bahan bakar tipe Pertamax.

“Ini LSU 05 bisa bawa beban lebih besar. Berat yang dibawa bisa 30 kg,” jelasnya.

Tidak hanya pesawat tanpa awak, LAPAN juga mengembangkan pesawat mata-mata berawak. Program ini bernama LAPAN Surveillance Aircraft (LSA).

Program ini memanfaatkan pesawat kecil berkapasitas 2 orang dan bermesin tunggal. Pesawat yang memiliki bentang sayap 18 meter ini didatangkan langsung dari Jerman, namun LAPAN memiliki kesempatan mempelajari pengembangan LSA untuk tahap berikutnya. LAPAN mengirim 6 insinyurnya untuk belajar ke Berlin sesuai perjanjian transfer of technology.

“Kita kirim 6 insinyur ke Berlin, berlanjut tahun depan. Ada instrumentasi diuji. LSA nanti bisa otomatis tanpa pilot, tapi pilot harus naik dulu. Setelah naik, dia tinggal pakai pilot autonomous sesuai program,” terangnya.

Pemanfaatan pesawat UAV, kata Bayu, bisa dipakai untuk keperluan damai hingga militer. Pesawat UAV bisa dilengkapi persenjataan. Tipe pesawat UAV dinilai sangat aman untuk melakukan misi berbahaya karena tidak khawatir ada korban luka karena tertembak. Sebab pesawat UAV dikendalikan dari jarak jauh.

“Ke depan bisa dilengkapi senjata. Semua teknologi bisa dipakai untuk perang atau damai,” ujarnya. (finance.detik.com)

Bagikan :
 Posted by on November 29, 2014

  20 Responses to “Pantau Maling Ikan Hingga Daerah Berbahaya, LAPAN Bikin Pesawat Tanpa Awak”

  1.  

    horeeee

  2.  

    mantab lapan :mrgreen:

  3.  

    Solar

  4.  

    Mantap……Semoga lbh canggih dan lbh lama di udara dan lbh jauh jangkauannya……

  5.  

    Petramax buat pesawat – buat motor ane tar terbang dung

  6.  

    UAV Prof . Josephat Tetuko gimana Kabar Tuh???

  7.  

    mantap….

  8.  

    Mantap… Maju terus LAPAN… Pemerintah harus terus mendukung penelitian dari LAPAN..
    NKRI Harga mati….

  9.  

    es cendol ijo aja dah minum di tajur bogor sambil ngerayain milad lapan, he he .. bungkus 3 skadron di supadio buat patroli perbatasan dan natuna di lcs …

  10.  

    Spesifikasi

    Dimensi luar
    Span (rentang sayap) : 5.5 m
    Lenght (panjang) : 4.1 m
    Height (tinggi) : 1.13 m

    Berat dan payload
    MTOW : 77 kg
    Berat kosong : 31 kg
    Berat payload : 30 kg
    Berat fuel : 16 kg

    Prestasi terbang
    TOG (take off ground run) : 60 m
    RoC (climb rate) : 600 ft/min
    Range : 240 km
    Endurance : 8 h
    LG (landing ground run) : 83 m
    Ceiling : 12000 ft
    Cruise altitude : 3000 ft
    Cruise speed : 100 km/h

    Tipe
    Pesawat ringan tanpa awak multiguna (SAR, Surveillance daerah perbatasan dll)

    Fitur desain
    Pesawat tanpa awak ringan dengan fokus misi pada observasi, sayap high wing memberikan kestabilan yang lebih baik ditambah dengan penambahan hedral. Sayap memiliki sweep sebesar 0 deg dan bentuk taper memberikan distribusi lift yang baik. Penempatan engine dengan konfigurasi pusher memberikan bagian depan pesawat ruang yang bebas untuk meletakkan payload dan sensor tanpa interferensi dan getaran dari sistem propulsi. Ekor yang terpasang pada dua boom

    memberikan kestabilan. Payload diletakkan pada bagian dalam fuselage dengan pintu bukaan pada bagian atas dengan tambahan untuk dibawa pada bagian bawah fuselage.

    Kendali
    Pesawat dikendalikan dengan sistem kendali jarak jauh dengan sinyal radio dari ground station. Pesawat dapat dikendalikan secara autonomous dengan menggunakan sistem autonomous.

    Struktur
    Stuktur utama terbuat dari GFRP dengan menggunakan ply-wood sebagai penguat dengan konsep semi monocoque.

    Landing gear
    Landing gear utama dibuat dengan menggunakan bahan GFRP diperkuat plywood dengan sistem rem dan roda karet.

    Landing gear depan dibuat dengan menggunakan konfigurasi strut dengan shock absorber dan ban karet.

    Sumber daya
    Sumber daya pesawat berasal dari mesin piston dengan 15 hp dan propeller 28 inch. Untuk keperluan listrik berasal dari baterai yang terdapat dipesawat.

 Leave a Reply