Pasukan Irak Bergerak Rebut Pusat Tal Afar dari ISIS

Tal Afar (Iraq Day)

Tal Afar – Pasukan Irak terus bergerak dan berhasil mengusir ISIS dari 70 persen daerah Tal Afar yang menjadi benteng pegaris keras itu di bagian Barat Laut Irak, termasuk yang mereka jaga ketat di bagian tengahnya, kata pejabat dan panglima militer pada Sabtu 26-8-2017.

“Sekitar 70 persen dari kota itu sudah dibebaskan. Insya Allah sisanya segera dibebaskan,” ujar Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim al-Jaafari dalam jumpa pers dengan sejawatnya dari Prancis, Jean-Yves Le Drian, dan Menteri Pertahanan Florence Parly di Baghdad.

Serangan atas Tal Afar, yang terletak antara Suriah dan Mosul, dimulai pada 20 Agustus 2017. Kota itu dijadikan tempat perbekalan bagi ISIS. Dinas Kontra Terorisme membebaskan daerah yang dijaga pegaris keras dan mengibarkan bendera Irak di puncak sebuah gedung, demikian pernyataan komando operasi gabungan Irak.

Banyak bangunan yang didirikan di era Usmaniyah dihancurkan oleh para militan. Kota itu yang berlokasi sekitar 80 km dari Mosul sudah melahirkan sebagian besar panglima senior ISIS dan menegalami rangkaian kekearasan sektarian sesudah invasi pimpinan Amerika Serikat ke Irak pada taun 2003.

Tal Afar, yang berpenduduk sekitar 200.000 jiwa sebelum perang, adalah tujuan paling terbaru dalam perang dukungan AS melawan ISIS setelah Mosul direbut kembali.

Tal Afar (Iraq Day)

Kejatuhan Mosul secara efektif memberikan tanda berakhirnya kekalifahan ISIS yang diberlakukan sendiri atas sebagian wilayah Suriah dan Irak pada tahun 2014. Tal Afar terpisah dari wilayah yang dikuasai ISIS pada Juni 2017.

Sekitar 2.000 orang militan ISIS berada di Tal Afar, menurut panglima AS dan militer Irak. Jumlah warga sipil tinggal di kota itu sekarang antara 10.000 dan 20.000 orang, demikian militer AS. Seperti pertempuran untuk merebut kembali Mosul, para warga sipil yang banyak  menderita.

Gelombang warga terlihat meninggalkan kota itu selama beberapa minggu sebelum pertempuran mulai. Mereka yang masih berada di Tal Afar diancam dibunuh oleh para militan, yang sudah menguasainya dengan ketat sejak tahun 2014, menurut organisasi-organisasi bantuan dan warga yang berusaha melarikan diri.

Pada Selasa 22-8-2017, badan pengungsi PBB UNHCR melaporkan bahwa yang melarikan diri, menderita dehidarsi dan kelelahan, hidup dari air tidak bersih dan roti untuk tiga atau empat bulan. 26/8 (Antara/Reuters

Tinggalkan komentar