Feb 282018
 

KRI Raden Eddy Martadinata-331 Patroli Sektor, 26 Februari 2018 di wilayah perbatasan dengan negara Australia, di sekitar perairan Pulau Ndana di bawah komando Gugus Tempur Laut Wilayah Timur.

Surabaya, Jakartagreater.com – KRI Raden Eddy Martadinata-331 melaksanakan Patroli pengamanan di perairan pulau terdepan, tepatnya di perairan Pulau Ndana Rote.

Dalam operasi ini KRI Raden Eddy Martadinata-331 dengan Pgs. Komandan Kolonel Laut (P) Sandharianto yang merupakan Alumni AAL angkatan 42 tahun 1996, bertujuan untuk mengamankan dan menjaga kedaulatan NKRI serta melaksanakan fungsi penegakan hukum di wilayah perairan laut Indonesia.

Saat ini KRI Raden Eddy Martadinata-331 melaksanakan Patroli Sektor pada 26 Februari 2018 di wilayah perbatasan dengan negara Australia tepatnya di sekitar perairan Pulau Ndana di bawah komando Gugus Tempur Laut Wilayah Timur dalam operasi Arung Sakti 18.

Pulau Ndana terletak pada kordinat 11 00’ 00” S 122 52’ 00” T yang merupakan sebuah pulau kecil yang termasuk dalam kabupaten Rote Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografis sebelah utara Pulau Ndana adalah Pulau Rote yang merupakan ibukota Kabupaten Rote dan sebelah Selatan adalah perairan yang perbatasan langsung dengan wilayah perairan negara Australia.

Tidak terdapatnya sumber air tawar dan kondisi tanah yang tidak subur serta pantai pasir berkarang sehingga menyulitkan pelaksanaan bercocok tanam. Faktor alam tersebut membuat tidak ada warga yang menetap di Pulau ini. Pulau Ndana memiliki nilai strategis karena terletak di wilayah pulau terdepan berbatasan dengan negara Australia.

Saat ini TNI AL sudah memiliki Pos Pengamat yang di awaki oleh 4 personel serta sebagai tambahan kekuatan, Mabes TNI juga rutin mengirim Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terdepan TNI yang bertugas menjaga kedaulatan wilayah NKRI di pulau ini. Satgas pengamanan pulau terdepan di Pulau Ndana saat ini dikomandani oleh Kapten Marinir Lukman Santoso, lulusan AAL Laut angkatan 54 tahun 2008.

Satgas ini merupakan satgas gabungan TNI yang terdiri dari 34 Prajurit Marinir TNI AL dari Pasmar 1, sedangkan Personel TNI AD berjumlah 10 orang dan bertugas selama 9 bulan. Satgas ini merupakan contoh bagaimana kerja sama antarmatra di TNI dapat memperkuat kedaulatan wilayah NKRI sampai ke pulau terdepan.

Beberapa fasilitas pendukung yang tersedia adalah jaringan telepon seluler, pembangkit listrik tenaga matahari dan tenaga angin sedangkan untuk sumber air masih menggunakan sumur yang masih berasa payau. Selain itu terdapat juga sistem tadah hujan yang menggunakan tandon untuk menampung air hujan yang sangat jarang sekali terjadi di Pulau Ndana.

Terdapat pula pembangkit listrik tenaga matahari dan angin akan tetapi hanya pembangkit listrik tenaga matahari yang masih bisa beroperasi. Kehadiran parajurit KRI RE Martadinata-331 di sambut dengan hangat dan gembira oleh personel Satgas dan Posal Pulau Ndana yang pada intinya adalah untuk menjalin silaturahmi dan memberi dukungan moril kepada rekan-rekan prajurit yang sedang bertugas melaksanakan pengamanan pulau terdepan.

Tak lupa juga para prajurit KRI Raden Eddy Martadinata-331 membawa sedikit buah tangan berupa air mineral, mie instan dan susu kemasan serta makanan tradisional buatan anggota KRI sebagai pengobat rindu kepada kampung halaman. Secara umum, keberadaan Satgas TNI pengamanan pulau terdepan ini sangat penting dan dibutuhkan sebagai ujung tombak penjaga perbatasan wilayah NKRI.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas personel TNI sangat diperlukan perhatian khusus kepada Satgas pulau terdepan NKRI agar diberikan fasilitas pendukung seperti pengolahan air minum dan fasilitas pendukung lain. (Dispen Armatim).

Berbagi

  24 Responses to “KRI RE Martadinata-331 Patroli di Pulau Terdepan”

  1.  

    INDONESIA DARURAT KAPAL PERANG TYPE DESTROYER!!

  2.  

    Semangat

  3.  

    Harusnya pulau ini dijadikan seperti natuna

  4.  

    kalo bisa rotasi tugas nya per 3 bln atau max 6 bln …

  5.  

    Ada wacana KRI pakai tenaga nuklir mini jslo ndak salah menteri yg ngomong

  6.  

    Kok destra destro frigat frigit aja nyebutnya.

    Yang dibutuhkan itu bukan destroyer ataupun fregat, yang paling dibutuhkan itu adalah Fasilitas Pengolahan Air sehingga dari air payau bisa menjadi air tawar.

    Xixixixixi

  7.  

    Jalesveva jayamahe

  8.  

    KRI Raden Eddy Martadinata-331 – Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) TNI AL

    http://militerhebatdunia.blogspot.co.id/2017/05/kri-raden-eddy-martadinata-331-kapal.html

  9.  

    Dipulau itu tidak ada warga sipil yang tinggal.. Salam hormat untuk personil TNI yang menjaga pulau terluar semoga kesejahteraan & fasilitas prajurit lebih diperhatikan lagi.

    Cuma 34 orang dari TNI, 34 Personil Marinir, 10 Personel TNI AD.
    semoga bisa ditingkatkan menjadi setara 1 Batalyon Marinir, 1 Batalyon AD. dan runway untuk pesawat….

  10.  

    Huufftt..
    Saya prihatin.. Karena KRI REM telah bertugas namun kelengkapan persenjataan masih belum lengkap. Sebut saja macam CIWS Millenium, SAM Mica, AShM Exocet dan mungkin torpedo juga belum.
    Senjata yang terpasang hanya canon oto melara 76mm.

  11.  

    9 bulan dipulau tanpa penduduk????…. dan prajuritnya laki2 semua??? Ohh Mai Gat 🙂 🙂 🙂

  12.  

    Emang KRI Eddy Martadinata dah ada rudalnya? Dah dipake utk patroli!

 Leave a Reply