Sep 072018
 

doc. Pasukan Suriah. (tasnimnews.com)

Jenewa, Jakartagreater.com – Suriah bisa terhindar dari perang berdarahnya jika para persiden dari Rusia dan Turki berbicara satu sama lain dengan mengenai situasi di Idlib, wilayah yang dikuasai pemberontak, kata utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa Staffan de Mistura pada Selasa 4-9-2018 dirilis Antara.

De Mistura mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung antara Rusia dan Turki memegang kunci guna mencegah serangan atas kawasan tersebut, tetapi 6 serangan udara yang dilaporkan pada Selasa dapat menimbulkan pembicaraan Ankara tidak berlangsung dengan baik.

Laporan-laporan media mengatakan pemerintah Suriah mungkin menunggu hingga 10 September 2018 sebelum melancarkan serangan, membuat pertemuan puncak di Teheran pada Jumat “krusial”. Tetapi ia menyerukan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan untuk berbicara lewat telepon sebelum itu, dengan mengatakan “waktu adalah esensi”.

Sementara itu Jerman telah mendesak masyarakat internasional agar bertindak guna mencegah bencana kemanusiaan di Provinsi Idlib, Suriah, di tengah laporan mengenai potensi serangan militer oleh pasukan pemerintah.

“Kami akan melakukan apa saja untuk mencegah bencana kemanusiaan di Idlib,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam taklimat di Berlin pada Senin 3-9-2018 . “Ini akan menjadi salah satu topik selama kunjungan saya ke Turki pada Rabu dan Kamis (6-9-2018),” tambahnya.

Idlib, yang berada di dekat perbatasan Turki, merupakan tempat tinggal lebih dari tiga juta orang Suriah — banyak di antara mereka menyelamatkan diri dari kota lain yang diserang oleh pasukan Pemerintah Presiden Bashar al-Assad. “… Kondisinya sangat serius,” kata Maas.

Ia juga memperingatkan bahwa peningkatan aksi militer akan sangat merusak upaya yang sedang berlangsung bagi penyelesaian politik buat perang saudara 7 tahun di Suriah.

Kejar militan keluar Idlib

Dari Moskow, Reuters melaporkan Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan Pemerintah Suriah berhak mengejar para militan keluar dari kantung yang dikuasai pemberontak di Idlib. Menurut dia seperti dikutip kantor berita Interfax, Jumat (31-8-2018), pembicaraan mengenai pembuatan koridor kemanusiaan di sana juga sedang berjalan.

Provinsi Idlib di Suriah dan kawasan-kawasan di sekitarnya merupakan kantung utama terakhir yang dikuasai petempur yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu dekat Rusia. Satu sumber mengatakan kepada Reuters, Bashar sedang menyiapkan ofensif untuk merebut kembali provinsi tersebut.

Pasukan Pemerintah Suriah “mempunyai hak penuh untuk melindungi kedaulatannya dan mengusir, menghancurkan ancaman teroris atas wilayahnya”, kata Lavrov, seperti dilansir oleh Interfax.

Ketegangan antara Rusia dan Barat telah meningkat terkait Idlib, dan Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pada Kamis 30-8-2018 bahwa Rusia akan mulai melakukan latihan utama Angkatan Laut di Laut Tengah pada Sabtu di lepas pantai Suriah.

Lavrov juga mengatakan bahwa komunikasi antara Rusia dan Amerika Serikat mengenai Suriah berlangsung seketika. PBB telah menyerukan Rusia, Iran dan Turki untuk menangguhkan pertempuran yang dapat berdampak pada jutaan warga sipil, dengan menghimbau koridor kemanusiaan untuk mengevakuasi warga sipil.

Putin akan menghadiri konferensi tingkat tinggi di Teheran pada 7 September 2018 dengan para pemimpn dari Turki dan Iran, kata Jubirnya.

  2 Responses to “PBB: Putin dan Erdogan Hindari Perang Berdarah di Idlib”

  1.  

    Mau gk diserbu ya gampang…tinggal teroris dan sponsornya minggat dari idlib..tapi opo yo gelemm..xixixii

  2.  

    presiden yang sah berhak memburj para pemberontak yg mencoba merebut kekuasaan yg sah.
    turki kmrn jg hampir saja terjadi pemberontakan.kita tahu setiap ada pemberontakan di muka bumi.si amer selalu berada di balik semua itu.

 Leave a Reply