Jul 122015
 
Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung

Soe Hok Gie: Kegelisahan tanpa Ujung

Heriosme dan perjuangan orang china dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak yang disembunyikan dari sejarah dan pelajaran sejarah Indonesiaoleh Orde Baru. Bagi generasi yang sekolah tahun 1990 mungkin sudah tidak lagi mendapatkan hal tersebut, dalam pelajaran sejarah Indonesia. Suka atau tidak, mereka bersama-sama berjuang untuk KEMeRDEKAAN INDONESIA. ( batara kresna : July 12, 2015 ).

Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie

Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie

Pejuang Tionghoa dalam Sejarah Perjuangan Indonesia

Beberapa waktu lalu, sebagian dari saudara-saudara kita se-bangsa dan se-tanah air merayakan hari raya Imlek (Tahun baru Lunar). Walaupun saya bukan berasal dari etnis Tionghoa, namun saya pun larut dalam perayaan itu. Hal ini dikarenakan oleh kebiasaan kami saat masih tinggal di Papua.

Di Papua, perayaan Imlek sangat samai, bahkan jauh lebih ramai dari pada perayaan Imlek di Jakarta. Mengapa? Karena di kota-kota di Papua yang ukurannya jauh lebih kecil dari pada Jakarta, Imlek dirayakan diseluruh penjuru kota oleh warga etnis Tionghoa yang juga ikut diramaikan oleh warga non-Tionghoa, bahkan masyarakat pribumi Papua sehingga kesannya jauh lebih ramai dari pada kota-kota besar di Jawa.

Saya selalu tertarik mempelajari sejarah Tiongkok kuno, sehingga lama-kelamaan saya pun menjadi tertarik untuk mengetahui bagaimana orang-orang Tionghoa bisa sampai ke Indonesia. Banyak sekali versi mengenai hal itu yang selalu menarik untuk disimak.

Banyak sekali cerita mereka yang membuat saya tergakum-kagum, dan kekaguman saya semakin bertambah setelah mengetahui bahwa rupanya banyak sekali masyarakat Tionghoa yang turut berjuang bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing dan juga perjuangan mereka dalam mengisi kemerdekaan Indonesia diawal-awal republik ini berdiri sebagai negara yang berdaulat.

Inilah beberapa tokoh Tionghoa dan perjuangan mereka :

1. Soe Hok Gie

Soe Hok Gie pantas ditempatkan pada urutan atas dalam daftar tokoh-tokoh Tionghoa dalam sejarah perjuangan Indonesia. Soe Hok Gie dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 17 Desember1942. Ia adalah seorang aktivis yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia warga Tionghoa yang beragama Katolik Roma. Leluhur Soe Hok Gie berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok.

Ayahnya bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Soe Hok Gie anak keempat dari lima bersaudara di keluarganya. Kakaknya Arief Budiman yang seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia. Setelah tamat dari SMA Kolese Kanisius, Soe Hok Gie kuliah di Universitas Indonesia (1962-1969). Setelah menyelesaikan tamat, ia menjadi dosen di almamaternya hingga kematiannya.

Soe Hok Gie merupakan pejuang melalui kata-kata, pemikiran, dan tulisannya. Selama menjadi mahasiswa ia aktif memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Ia juga seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judulZaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, diterbitkan Yayasan Bentang tahun 1999 dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI diMadiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Buku hariannya diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Soe Hok Gie dalam tesis universitas-nya juga diterbitkan, dengan judul Di Bawah Lantera Merah. Soe Hok Gie juga merupakan subyek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie : Diary of a Young Indonesian Intellectual.

Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Pada tahun 1965, Soe Hok Gie membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Dia menikmati kegiatan hiking. Hobinya ini justru menghantarkannya pada kematiannya karena menghirup gas beracun saat mendaki gunungSemeru. Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969, satu hari sebelum ulang tahun ke 27.

Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, dan dimakamkan di Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Soe pernah menulis dalam buku hariannya:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Aktor yang memerankan Soe Hok Gie

Buku harian Soe Hok Gie menjadi inspirasi untuk film yang berjudul Gie (2005), yang disutradarai oleh Riri Riza. Soe Hok Gie diperankan dengan sangat baik oleh aktor fenomenal, Nicholas Saputra. Film ini menjadi salah satu film box office di Indonesia pada tahun 2005 dan menghantarkan Nicholas Saputra meraih Piala Citra sebagai aktor terbaik.

Film ini juga meraih piala Citra untuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Pengarah Sinematografi Terbaik, dan dinominasikan 8 kategori lainnya, juga dinominasikan dan meraih beberapa penghargaan di luar negeri. Film Gie juga termasuk dalam salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa. Film ini juga masuk dalam 50 besar Best Foreign Language Film yang dinominasikan di 78th Academy Award (Oscar).

2.John Lie
 Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan, atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma dilahirkan di Manado,Sulawesi Utara, 9 Maret1911. Ia lahir dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. John Lie adalah salah seorang perwira tinggi di TNI Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal dengan julukan “A Soldier with Bible”, karena dia selalu membawa Alkitab dan sangat relijius. Istri John Lie adalah Pdt.Margaretha Dharma Angkuw.

Ayahnya (Lie Kae Tae) pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transport onderneming Lie Kay Thai). John Lie kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut. Di kota ini, sembari menjadi buruh pelabuhan, ia mengikuti kursus navigasi. Setelah itu John Lie menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda. Pada 1942, John Lie bertugas di Khorramshahr, Iran, dan mendapatkan pendidikan militer.

Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, dia memutuskan bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima diAngkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap, Jawa Tengah, dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Kemudian dia memimpin misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi.

Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan.

Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti BupatiRiau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda.

Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.

Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi “penyelundupan”. Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum.

Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor keSumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap yang tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapalthe Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan AL yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku laluPRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut padaDesember1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

Menurut kesaksian Jenderal Besar AH Nasution pada 1988, prestasi John Lie tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.

Kesibukannya dalam perjuangan membuat ia baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma.

Patung John Lie di Taman Mini Indonesia Indah (Anjungan Tionghoa)

Ia meninggal dunia karena stroke diusia 77 tahun pada tanggal 27 Agustus1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. John Lie mendapat tempat yang istimewa dihati masyarakat Tionghoa Indonesia, dan juga menerima penghormatan yang tinggi dari masyarakat Tionghoa dan pemerintah Indonesia. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November2009.

Terdapat beberapa buku dan liputan mengenai John Lie, sebagai berikut:

1. “Guns—And Bibles—Are Smuggled to Indonesia”, yang terbit pada 26 Oktober 1949, oleh Roy Rowan, wartawan majalah Life.

2. “John Lie Penembus Blokade Kapal-kapal Kerajaan Belanda” yang terbit pada 1988, oleh Solichin Salam.

3. “Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya Kepada Wartawan” yang dimuat dalam buku “Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar ‘Zaman Singapura’ 1945-1950” karya Kustiniyati Mochtar terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2002. “Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie” (2008), yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, oleh M Nursam.

3.Siauw Giok Tjhan

Siauw Giok Tjhan dilahirkan di Kapasan, Simokerto, Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 23 Maret1914. Ia adalah seorang politikus, pejuang, dan tokoh gerakan kemerdekaanIndonesia. Ayahnya bernama Siauw Gwan Swie, seorang peranakan Tionghoa, dan ibunya Kwan Tjian Nio. Siauw Giok Tjhan memiliki adik bernama Siauw Giok Bie.

“Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putra-Putri Indonesia” adalah semboyan yang untuk pertama-kalinya dikumandangkan Kwee Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI di Semarang sejak tahun 1933-1934. Semboyan ini benar-benar menjadi keyakinan hidup Siauw Giok Tjhan sejak masa muda, berjuang menjadi putra ter-baik Indonesia yang tidak ada bedanya dengan putra-putra Indonesia bersuku lainnya dalam usaha dan memperjuangkan kemerdekaan dan kebahagiaan hidup bersama.

Siauw Giok Tjhan memasuki kancah politik nasional Indonesia melalui proses pembentukan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang dipelopori oleh Liem Koen Hian pada tahun 1932. Berusia 18 tahun, Siauw menjadi salah seorang pendiri PTI termuda.

PTI berkembang sebagai aliran terbaru di dalam komunitas Tionghoa di zaman Hindia Belanda. Ia mendorong semua Tionghoa di kawasan Hindia Belanda, terutama yang lahir di sana, untuk menerima Indonesia sebagai tanah airnya. Argumentasinya, menurut perspektif masa kini, sangat masuk di akal.

Orang Tionghoa pada umumnya lahir, hidup, dan meninggal di Indonesia. Setelah hidup bergenerasi, kaitan dengan Tiongkok semakin berkurang. PTI mendukung berdirinya GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) pada tanggal 18 Mei 1937, yang berdasarkan keputusan Kongres di Palembang.

Keteguhan dan kekerasan jiwa dalam memperjuangkan keadilan tumbuh dalam lingkungan hidup yang harus dihadapi. Terutama setelah kedua orang tuanya meninggal dalam usia muda, ia terpaksa melepaskan sekolah begitu selesai HBS, untuk mencari nafkah meneruskan hidupnya bersama adik tunggalnya, Siauw Giok Bie yang masih harus meneruskan sekolah itu. Siauw Giok Tjhan sejak kecil sudah mempunyai watak perlawanan atas penghinaan dan ketidakadilan yang menimpa diri dan kelompok etnisnya.

Kemahiran kung-fu yang dipelajari dari kakeknya memungkinkan Siauw Giok Tjhan untuk berkelahi melawan anak-anak Belanda, Indo, dan Ambon yang mengejek dirinya. Istilah “cina loleng” adalah salah satu penghinaan yang biasa dilontarkan untuk etnis Tionghoa. Begitu keras dan disiplinnya, ia tidak menggunakan milik umum untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya.

Ketika istrinya, Tan Gien Hwa, berada di Malang pada September 1947 dan hendak melahirkan anak ke-4. Adik satu-satunya, Siauw Giok Bie hendak menggunakan mobil Palang Biru.

Ia melarang Siauw Giok Bie untuk mengantar istrinya ke rumah sakit dengan menggunakan fasilitas umum. Palang Biru adalah organisasi Angkatan Muda Tionghoa untuk memberikan pertolongan pertama kepada prajurit-prajurit yang terluka di garis depan melawan agresi militer Belanda. Beruntung, sekalipun harus diantar dengan naik becak, istri bisa melahirkan Siauw Tiong Hian dalam keadaan selamat.

Pada saat ia dilantik menjadi menteri negara Urusan Minoritas oleh KabinetAmir Syarifudin, Siauw Giok Tjhan yang belum mendapatkan mobil menteri, hanya bisa naik andong (keretakuda) untuk ke Istana. Tapi malang, ternyata andong dilarang memasuki halaman Istana, terpaksa ia turun dari andong dan dengan jalan kaki masuk Keraton Yogyakarta.

Pada saat itu ia juga terbentur dengan masalah rumah tinggal. Ternyata tidak ada perumahan pemerintah yang bisa diberikan kepadanya sebagai menteri negara. Pada saat itu, menteri yang datang dari luar Yogyakarta, boleh tinggal di Hotel Merdeka. Tapi untuk menghemat pengeluaran uang negara, Siauw memilih tinggal di gedung kementerian negara, di Jalan Jetis, Yogya, dan harus tidur di atas meja tulis.

Kesederhanaan hidup sehari-hari, sebagaimana biasa kemana-mana hanya mengenakan baju kemeja-tangan pendek, yang lebih sering terlihat hanya berwarna putih, celana-drill pantalon dan bersepatu sandalet saja itu, ia harus berkali-kali dianggap sebagai orang kere yang tidak perlu dilayani oleh noni-noni pejabat administrasi kenegaraan Indonesian pada saat ia harus menemui Menteri-Menteri atau Presiden-DirekturBank.

Siauw Giok Tjhan pernah menjadi ketua umum Baperki, Menteri Negara, anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS,parlemen RI sementara, anggota DPR hasil pemilu 1955/anggota Majelis Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA.

Dalam menghadapi persoalan Tionghoa di Indonesia, Siauw Giok Tjhan menganut konsep Integrasi yaitu konsep menjadi Warga Negara dan menjadi bagian darimasyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya tanpa menghilangkan identitas budaya dan suku dari masing masing komponen masyarakat termasuk masyarakat Tionghoa. Konsep Integrasi yang diperjuangkan oleh Siauw Giok Tjhan ini sangat identik dengan teori “pluralisme” atau “multikulturalisme”. Menurut Siauw Giok Tjhan, Indonesian Race (Ras Indonesia) tidak ada, yang ada adalah “Nasion” Indonesia, yang terdiri dari banyak suku bangsa.

Berpijak di atas prinsip ini, Siauw mengemukakan bahwa setiap suku berhak tetap mempertahankan nama, bahasa dan kebudayaannya, dan juga bekerja sama dengan suku-suku lainnya dalam membangun Indonesia.

Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963, yang secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa adalah suku Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya, ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campuran dengan suku non-Tionghoa untuk berbakti kepada Indonesia.

Siauw Giok Tjhan menentang konsep asimilasi yang dikembangkan oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB), dibawah kepemimpinan Kristoforus Sindhunata pada awal 1960-an yang bermaksud golongan Tionghoa menghilangkan ke-Tionghoa-annya dengan menanggalkan semua kebudayaan Tionghoa, mengganti nama-nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia dan kawin campur antar ras.

Siauw tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka-rela dan wajar, yang ia tentang adalah proses pemaksaan untuk menghilangkan identitas sebuah golongan, karena menurutnya usaha ini bisa meluncur ke genosida, seperti yang dialami oleh golongan Yahudi pada masa Perang Dunia ke II.

Sejarah membuktikan bahwa akibat dari itu semua akhirnya meledak pada Kerusuhan Mei 1998, dimana terjadi pembunuhan, penjarahan dan pemerkosaan terhadap kelompok minoritas Tionghoa.

Siauw Giok Tjhan adalah ketua umum Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI). Pada tahun 1958 Jajasan Pendidikan dan Kebudajaan Baperki mulai berpikir untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi. Rektor pertama Universitas Baperki ini adalah Ferdinand Lumban Tobing, seorang dokter yang pernah menjadi menteri dalam beberapa kabinet di masa demokrasi parlementer.

Pada tahun itu dibuka Akademi Fisika dan Matematika, Kedokteran Gigi, dan Teknik. Pada 1962 dibuka Fakultas Kedokteran dan Sastra. Pada 1962, nama Universitas Baperki diubah menjadi Universitas Res Publica yang biasa disingkat sebagai URECA. Setelah peristiwa G30S, Universitas Res Publica ditutup, dan gedungnya diambil alih oleh pemerintah.

URECA di Jakarta kemudian dibuka kembali dengan kepengurusan yang baru, dengan nama Universitas Trisakti. Setelah tragedi Gerakan 30 September 1965, Baperki dibubarkan oleh pemerintah Orde Baru karena dituduh sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia. Siauw Giok Tjhan dan Oei Tjoe Tat dijebloskan ke penjara tanpa pernah diadili, namun ia lalu bebas beberapa tahun kemudian. Siauw Giok Tjhan wafat di Belanda pada tanggal 20 November 1981 pada umur 67 tahun, beberapa menit sebelum memberikan ceramah di Universitas Leiden.

4.Sie Kien Lien
Nama Ferry Sie King Lien memang tidak begitu dikenal, kisah hidupnya juga hampir tidak pernah dibahas. Namun saya ingin agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan seorang pemuda Tionghoa berusia 16 tahun yang mengorbankan dirinya hingga tewas diterjang rentetan peluru Belanda.

Sie King Lien berasal dari keluarga yang mapan, dia merupakan kemenakan pemilik pabrik gelas di Kartodipuran. Meski hidup serba berkecukupan, namun Sie King Lien bersedia turut serta membela Indonesia dari penjajahan. Ia adalah Tentara Pelajar yang ditugasi menjalani misi perang urat saraf.

Perang urat saraf ini sangat penting bagi perjuangan Indonesia, yakni menurunkan moril dan menangkis propaganda yang dilancarkan Belanda. Tak hanya itu, tindakan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa pemerintah RI masih eksis di Kota Solo. Sie Kien Lien ditugasi bersama keempat rekannya, yakni Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi. Mereka memiliki misi khusus, yakni mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran yang berisi perlawanan terhadap Belanda.

Salah satu coretan yang paling mengena saat itu adalah eens kompt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen yang berarti ‘pada suatu hari Republik Indonesia akan muncul kembali’.

Nahas, nasib anggota Tentara Pelajar Subwehrkreise 106 Arjuna ini berakhir ketika dia dan keempat temannya disergap Belanda. Meski membawa sebuah senapan mesin, namun mereka kalah jumlah. Apalagi, serdadu Belanda telah mengarahkan senjatanya ke arah mereka. Kontak tembak terjadi, sejumlah peluru mengenai tubuh Sie King Lien dan Soehandi. Keduanya tewas di tempat, namun ketiga rekannya berhasil lolos.

Berkat perjuangannya, pemerintah Indonesia memutuskan memindahkan makamnya dari pemakaman umum ke Taman Makam Pahlawan Taman Bahagia, Solo.

Kisah Ferry Sie King Lien ditulis dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia yang ditulis Iwan Sentosa dan diterbitkan Yayasan Nabil dan Kompas Gramedia terbitan 2014.

5.Djiaw Kie Siong
 Nama Djiaw Kie Siong tidak begitu dikenal, sehingga tidak banyak orang yang tidak tahu bahwa dia adalah pemilik rumah diDusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, tempat Bung Karno dan Bung Hatta disembunyikan oleh para pemuda (Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni) yang menculik mereka dan menuntut agar kemerdekaan Indonesia diproklamasikan segera. Di rumah Djiaw Kie Siong pula naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dipersiapkan dan ditulis.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia bahkan rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis,16 Agustus1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong itu.

Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka. Ketika naskah proklamasi akan dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore datanglah Ahmad Subardjo. Ia mengundang Bung Karno dkk. berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Selain kedua “Bapak Bangsa” itu, saat itu rumah itu ditinggali pula oleh Sukarni Yusuf Kunto, dr. Sutjipto, Ibu Fatmawati,Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada 14 – 16 Agustus1945.

Djiaw Kie Siong adalah seorang petani kecil keturunan Tionghoa. Ia merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan yang kelak menjadi “Bapak Bangsa”. Hingga kini rumahnya masih dihuni oleh keturunannya. Djiaw Kie Siong pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah bersejarah itu harus bersabar.

Tak dibolehkan merengek minta-minta sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari menunggui rumah mereka demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa.

Djiaw Kie Siong meninggal dunia pada 1964. Namanya praktis hampir tidak dikenal ataupun tercatat dalam sejarah. Namun, Mayjen Ibrahim Adjie pada saat masih menjabat sebagai Pangdam Siliwangi, pernah memberikan penghargaan kepada Djiaw dalam bentuk selembar piagam nomor 08/TP/DS/tahun 1961.

6.Lie Eng Hok

Lie Eng Hok dilahirkan di Balaraja, Tangerang, Banten, pada tanggal 7 Februari1893. Ia adalah seorang Perintis KemerdekaanIndonesia. Ia adalah sahabat karib Wage Rudolf Supratman, temannya di surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa. Dari W.R.Supratman, ia belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan. Semasa muda Lie aktif sebagai wartawan Surat Kabar Sin Po.

Lie Eng Hok merupakan salah seorang tokoh di balik pemberontakan 1926 di Banten. Dalam peristiwa itu, massa pribumi bergerak melakukan perusakan jalan, jembatan, rel kereta api, instalasi listrik, air minum, rumah-rumah, dan kantor milik pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pemberontakan ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang menindas. Lie Eng Hok yang berperan sebagai kurir kaum pergerakan, ditahan Pemerintah Kolonial Belanda dan dibuang keBoven Digoel (Tanah Merah), Papua, selama lima tahun (1927-1932). Selama di Boven Digoel, Lie Eng Hok menolak bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda dan lebih memilih membuka kios tambal sepatu untuk memenuhi biaya hidupnya.

Lie Eng Hok meninggal pada 27 Desember1961 di Semarang pada usia 68 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman umum diSemarang. Dua puluh lima tahun kemudian, kerangka Lie Eng Hok dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal,Semarang, melalui Surat Pangdam IV Diponegoro No.B/678/X/1986.

Atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Indonesia, Lie Eng Hok diangkat sebagai Pahlawan Perintis KemerdekaanRIberdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol. 111 PK tertanggal 22 Januari 1959.

7.Oei Tjong Hauw

Oei Tjong Hauw adalah putra dari konglomerat gula Oei Tiong Ham dan penerus usaha Kian-gwan Kongsi. Oei Tjong Hauw berhasil membawa Oei Tiong Ham Concern melewati masa-masa sulit, yaitu “malaise” atau Depresi Besar yang melanda dunia pada akhir dekade 1920-an sampai awal 1930-an, pendudukan Jepang (PD II) dan Perang Kemerdekaan (1945-1949). Berhasilnya Oei Tiong Ham Concern melewati masa-masa sulit, khususnya masa Perang Kemerdekaan/Revolusi ini, antara lain dikarenakan Oei Tjong Hauw (sebagai generasi kedua) tidak hanya berkutat di dunia bisnis saja, namun juga aktif di bidang politik.

Ia diangkat menjadi ketua partai Chung Hwa Hui (CHH), partai kaum peranakan Tionghoa yang berpendidikan Belanda, yang dibentuk tahun 1928. Oei Tjong Hauw juga menjabat sebagai anggota BPUPKI pada tahun 1945, sebagai wakil dari golongan minoritas Tionghoa.

Aktivitas Tjong Hauw di bidang politik ini membuatnya memiliki relasi yang cukup banyak dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh politik Indonesia.

Oei Tjong Hauw meninggal mendadak akibat serangan jantung pada tahun 1950.

8.Yap Tjwan Bing

Yap Tjwan Bing adalah seorang sarjana Farmasi dan apoteker yang juga dosen dan anggota Dewan Kurator ITB Bandung. Tahun 1945 terpilih menjadi salah satu anggota PPKI. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan PNI.

Namanya diabadikan menjadi salah satu ruas jalan di kota Surakarta menggantikan Jalan Jagalan yang diresmikan oleh Walikota Surakarta H. Ir Joko Widodo pada tanggal 22 Februari 2008 dalam rangka Imlek Bersama di kota Solo.

9.Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing
Ong Tjong Bing atau Daya Sabdo Kasworo adalah seorang pejuang Tionghoa yang bertugas dibidang medis. Dia merupakan salah satu dokter yang merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke Malang. Ong Tjong Bing lahir di Desa Kerebet.

Beliau mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi, ia kemudian bergabung dengan militer pada 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

Dalam operasi anti PRII-Permesta, DI-TII hingga Operasi Mandala-Trikora, dia sempat dikepung gerombolan DI-TII di Jawa Barat. Ia juga diminta untuk menggalang masyarakat Tionghoa Pekanbaru saat operasi PRII-Permesta hingga akhirnya diminta mendirikan RS militer di Soekarnopura (Jayapura) dan RS sipil di kota tersebut. Dia adalah kepala Kesehatan Kodam (Kesdam) Cendrawasih pertama.

Menpangad Jenderal Ahmad Yani beserta sejumlah asisten mengenalnya secara pribadi dan selalu mengabulkan permintaan Tjong Bing alias Kasworo. Dia pun turut dalam sejumlah patroli garis depan dan memegang senjata langsung termasuk menghadapi kelompok “Merah” (Komunis) seperti dalam tanggap bencana letusan Gunung Agung di Bali.

Dia berharap generasi muda Tionghoa tidak trauma dengan peristiwa 1965 dan berperan di masyarakat dalam beragam sendi kehidupan dan tidak hanya terlibat di dunia perdagangan belaka. Dia pensiun di tahun 1976 dengan pangkat Letnan Kolonel.

Keputusannya terjun dibidang militer tidak pernah disesali oleh pria yang kemudian menjadi ketua Kelenteng di Malang.

10.Tan Ping Djiang
Tan Ping Djiang adalah seorang dokter dan aktivis penentang Belanda, meskipun istrinya berkebangsaan Belanda. Ia dengan lantang memerintahkan seorang komandan Belanda untuk memberitahu HJ van Mook bahwa Indonesia dan Asia sudah merdeka. ”Kasih tahu Van Mook, Belanda silakan mundur dari Indonesia,” demikianlah ucapan Tan Ping Djiang. Ia tewas ditembak oleh tentara Belanda.

11.Tan Bun Yin
Tan Bun Yin adalah salah seorang pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa. Ia diperintahkan untuk membalas dendam kepada seorang mayor Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang telah menembak mati dokter Tan Ping Djiang, republiken penentang Belanda saat Clash II pada 1949. Mayor Belanda yang memerintahkan eksekusi dokter Tan tersebut, ditembak dari jarak dekat di Restoran Baru di dalam Kota Tulung Agung sebelah barat alun-alun oleh oleh Tan Bun Yin.

10.Oei Hok San
Oei Hok San adalah mantan tentara pelajar di Kediri, Jawa Timur. Ia adalah putra dari Oei Djing Swan, seorang Tionghoa yang memerintahkan pejuang Tan Bun Yin untuk membunuh seorang komandan Belanda sebagai aksi balas dendam atas ditembaknya dokter Tan Ping Djian.

Deleigeven.blogspot.com

  40 Responses to “Pejuang Tionghoa dalam Sejarah Perjuangan Indonesia”

  1. minyak lampu

  2. BHINEKA TUNGGAL IKA

  3. Siapa bilang warga Tionghoa tidak bisa menjadi jenderal? Itulah yang dibuktikan Daniel Tjen, kepala Pusat Kesehatan Mabes TNI. Dua bintang kini tersemat di pundaknya sebagai prajurit TNI-AD.

    Laporan Dian Wahyudi , Jakarta

    Empat pos pemeriksaan dan penjagaan terlebih dulu harus dilalui sebelum sampai di kantor Mayjen TNI Daniel Tjen di lantai 6 Gedung B-3, Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta. Bagi orang luar, tentu tidak cukup hanya dengan pasang wajah manis setiap melintas di masing-masing pos tersebut.

    Setiap tamu memang harus menyebutkan tujuan dan keperluan secara jelas mengapa akan menemui Daniel. Tanpa itu, sulit rasanya bisa menemui satu-satunya perwira tinggi TNI berdarah Tionghoa yang masih aktif tersebut.

    Sesampai di depan ruangan sang jenderal, dua prajurit TNI kembali akan ’’menginterogasi’’ orang yang akan bertemu komandannya. Setelah memastikan tujuan dan maksud kedatangan tamu, salah seorang prajurit masuk ke ruangan dan menyampaikan kepada atasannya tersebut.

    ’’Mohon izin, Jenderal,’’ ujar prajurit tersebut tegas melaporkan kedatangan Jawa Pos, Jumat siang (19/12).

    Membaca namanya, Daniel Tjen, orang yang belum pernah bertemu mungkin bisa menebak bahwa sang jenderal berdarah Tionghoa.

    Benar saja, kesan itu mendapat penegasan ketika Jawa Pos berhadapan langsung dengan prajurit TNI kelahiran Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, 24 Juni 1957, tersebut.

    Ya, jenderal bertinggi badan 168 cm itu memang terlahir dari orang tua berketurunan Tionghoa. Mendiang ayahnya, Tjen D. Tjoeng, adalah salah seorang karyawan di pabrik timah di Pulau Bangka.

    Di antara enam bersaudara, Daniel adalah satu-satunya yang memilih jalan hidup yang ’’out of the box’’. Yakni, menjadi tentara. Lima saudaranya, sebagaimana umumnya warga Tionghoa, menjadi pedagang atau pekerja di perusahaan swasta.

    ’’Masa kecil saya sama dengan anak-anak lain yang lahir di kampung. Kami tidak berpikir untuk menjadi tentara,’’ kenang Daniel.

    Hingga SMA, bapak dua anak itu masih tinggal di pulau yang berada di pesisir timur Sumatera Selatan tersebut. Baru ketika kuliah, dia melanjutkan pendidikan dokter di sebuah universitas di ibu kota.

    ’’Waktu kuliah itu pun masih belum terpikir (mau jadi tentara). Yang ada bagaimana saya bisa menjadi dokter,’’ tambahnya.

    Namun, seiring perjalanan waktu, dunia militer justru menarik perhatian Daniel. Tepatnya sesaat setelah dia lulus pendidikan dokter pada 1984. Ketika itu, Daniel melihat sejumlah seniornya sukses masuk menjadi tentara melalui jalur wamil (wajib militer).

    ’’Pada tahun-tahun itu, sistem di TNI sudah berjalan baik, tidak ada sekat suku atau agama.

    Mereka yang terbaik yang akan dipromosikan,’’ tuturnya.

    Daniel pun ikut mendaftar tentara lewat jalur wamil pada 1984. Setahun kemudian, dia lulus sekolah calon perwira (secapa) dan mendapat tugas pertama di Kodam IX/Udayana. Tepatnya di Batalyon 745 yang bermarkas di Lospalos, Timor Timur (sekarang Timor Leste). Dia langsung bertugas dalam operasi militer.

    Daniel bertugas selama 2,5 tahun di kota berpenduduk sekitar 28 ribu jiwa itu. Selanjutnya, dia pindah tugas ke ibu kota Timor Leste, Dili. Selama sekitar 3,5 tahun dia bertugas di wilayah yang kemudian lepas dari RI pada 1999 tersebut.

    ’’Enam tahun penugasan di daerah operasi militer itu banyak menempa saya,’’ ungkapnya. Keluar masuk hutan dengan hanya berjalan kaki sudah biasa bagi dia waktu itu. Sebagai dokter militer, Daniel tidak berbeda dengan prajurit pada umumnya.

    ’’Makan hanya dengan nasi putih dan sedikit sambal, nikmatnya sudah luar biasa. Makanan di hotel bintang lima nggak ada apa-apanya,’’ ucapnya lantas tersenyum.

    Daniel merasa pengalamannya di daerah operasi militer itu sangat berkesan. Sebab, tidak semua dokter militer pernah bertugas di daerah operasi.

    Meski juga menguasai penggunaan senjata, sebagai tenaga medis, Daniel memang lebih banyak memainkan peran soft power saat bertugas. Tidak hanya mengurusi kesehatan prajurit TNI dan keluarganya, dia juga melayani masyarakat umum.

    Misalnya, saat bertugas di Lospalos, Daniel tiba-tiba dibangunkan pada tengah malam oleh penduduk setempat. Mereka meminta tolong kepada Daniel untuk membantu persalinan seorang warga. Rumah pasien itu berlokasi di seberang hutan yang cukup jauh dari tempat tinggal Daniel.

    Tanpa pikir panjang, sebagai satu-satunya dokter di rumah sakit kabupaten, Daniel pun berangkat. Padahal, lokasi desa tempat si ibu yang akan melahirkan dikenal sebagai salah satu sarang Fretilin, kelompok pemberontak.

    ’’Saat itu, saya berpikir mau membantu karena niat baik saja, tidak melihat apakah warga yang meminta bantuan itu GPK (gerombolan pengacau keamanan) atau bukan,’’ ujarnya.

    Daniel bersama dua penduduk yang meminta bantuan itu langsung meluncur ke lokasi. Mereka menembus hutan dengan mengendarai ambulans yang lampu depannya sudah mati.

    ’’Jadi, yasatu tangan pegang setir, satu lagi pegang senter. Tapi, bersyukur, semua berjalan baik saat itu,’’ ungkapnya lantas tertawa.

    Selepas dari Timor Leste, Daniel menjalani tour of duty jabatan dan penugasan. Dia sempat bertugas di Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), di Kodam III/Siliwangi, hingga akhirnya di Direktorat Kesehatan Mabes TNI-AD. Dengan cepat, dia menjabat wakil direktur kesehatan AD, lalu promosi menjadi wakil kepala pusat kesehatan (Wakapuskes) TNI.

    Di jabatan itulah pangkat kemiliteran Daniel naik menjadi bintang satu alias brigadir jenderal (brigjen). Mulai November lalu, dia pun resmi menjabat Kapuskes TNI.

    Saat Daniel menjadi direktur kesehatan TNI-AD, prestasi membanggakan berhasil diraih Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. RS milik TNI-AD itu menjadi rumah sakit pertama di dunia yang terakreditasi secara internasional.

    Akreditasi dilakukan Join Commission International (JCI). Di Indonesia, rumah sakit pemerintah yang berstandar internasional adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS Sanglah Bali, RS Fatmawati Jakarta, dan RSUP Sardjito Jogjakarta.

    Menurut Daniel, akreditasi itu penting karena menjadi jalan bagi RS Gatot Soebroto sebagai rumah sakit berkelas internasional. Dia kemudian mengungkapkan keprihatinannya atas fakta bahwa 2 persen GDP (gross domestic product) Singapura berasal dari sektor kesehatan yang disumbang orang-orang Indonesia.

    ”Saya bersyukur memiliki teman-teman yang merupakan orang-orang hebat hingga Indonesia bisa diakui secara internasional seperti sekarang,” tandas Daniel.

    Karir militer Daniel tidak hanya cemerlang di lingkungan TNI. Di dunia internasional, dia juga mendapat pengakuan. Saat ini dia dipercaya duduk sebagai co-chairman di International Committee of Military Medicine (ICMM).

    Organisasi di bawah PBB yang berkantor pusat di Brussel, Belgia, itu menaungi satuan kesehatan militer dari 114 negara. Dia terpilih saat kongres terakhir di Riyadh, Arab Saudi.

    ”Tahun depan, jika tidak ada halangan, saya akan menjadi chairman-nya,” kata Daniel.

    Kepercayaan itu bakal diberikan seiring penunjukan Mabes TNI sebagai tuan rumah kongres ICMM. Kepercayaan tersebut tidak didapat begitu saja. Indonesia harus lebih dahulu menjalani open bidding (seleksi terbuka) dengan sejumlah negara. Saingan terberat saat itu adalah Tiongkok dan Singapura.

    ”Dua negara yang militernya relatif lebih hebat dari kita itu ternyata kalah oleh kita,” katanya dengan bangga.

    Menjadi chairman ICMM, bagi Daniel, bukan sekadar penghargaan atas sebuah jabatan berkelas internasional. Namun, dia memandang jabatan tersebut bisa menjadi peluang Indonesia untuk semakin memajukan peran militer di kancah internasional. Khususnya di lingkup kesehatan militer.

    ”Ini strategis. Jangan dibayangkan perang era sekarang tembak-tembakan dan senjata. Sesuai perkembangan, kini ada perang asimterik, ada perang proxy, di mana bidang kesehatan menjadi salah satu bagian penting,” ungkapnya.

    Selain Daniel, beberapa warga keturunan Tionghoa pernah meniti karir di bidang kemiliteran hingga berpangkat jenderal. Namun, mereka sudah memasuki masa pensiun.

    Di antaranya, Brigjen TNI (pur) Tedy Jusuf, Laksamana Pertama TNI (pur) Dr dr Harmin Sarana, dan Laksamana Muda TNI (pur) Jahja Daniel Dharma atau yang lebih dikenal sebagai John Lie.

    ”Saya tidak pernah merasa dibeda-bedakan selama bertugas di milter. Yang saya alami dan rasakan di militer selama ini hanya dua, yakni enak dan enak banget. Tidak ada yang lain,” tegas Daniel, lalu kembali tersenyum.

    ini juga harusnya diangkat admin mumpung masih aktfi bintang 2

    salam selalu damai:)

  4. nice artikel

  5. Terima kasih. Pastikan memang mereka itu merah putih tidak rasis dalam usahanya dan bukan agen ganda

    • kalo cuma etnis sipit dan putih gampang bro(bukan cewek manado.cewek dayak,cewek sunda putih2 juga)hehehehe

      1.saya lebih ngeri agen gandanya hijau(elite militan islamis)pro ke budaya arab sana,yg bisa menghancurkan khazanah budaya indonesia secara keseluruhan

      2agen pro ke amrik(sda bukan dijual elite)sampai sekarang boleh ditanya itu sipit atau golongan elite?

      3.nah gol kamu bilang biasa elite pengusaha tionghoa mempunyai koneksi international itu mungkin pro china mainland(itu ada berapa banyak dibanding dua agen saya sebutkan)?

      nasionalis itu bukan soal merah putih atau etnis atau agama diucapkan,itu semangat dan mental untuk berjuang baik dia etnis apapun(percm kalo punya mayoritas etnis menjual sda mencari kambing hitam)???

      jgn melihat perfektif masing dalam diri kita sedangkan kamu menerima ngk rasisnya?(siapa indonesia?emang itu jawa,melayu,batak,dayak,ambon,flores,bali seperti kalo dbilang dulu22 juga pendatang semua,karena sejarah jaman dulu itu kabur,kita dikaburkan oleh politik(pecah belah kyk belanda)skrg elite masih pakai politik seperti itu? wassslam

      salam selalu met malam:) mohon maaf kalo ada kata2 salah

  6. Yg harus dipastikan bukan agen ganda bukan gol mereka saja….pastikan yg hijau2 juga bukan agen ganda gihihihi

  7. No coment,,, eneg gw bacay,,, makin bangga si sipit

    • @bung elang santae aja ngk usah baca juga ngk apa2,karena sudah lama dinina bobokan oleh masa lalu,jd lupa dengan skrg(politik dan sejarah)

      itu namanya bhinneka tunggal ika berbeda2 beda menjadi satu(bahaya kalo semua org membanggakan etnis masing,aceh(melayu),medan(batak)nya,kalimantan(melayu,dayak),maluku(ambon),papua(etnis)bali(hinduya)bahaya dipakai perang proxy ntarnya hehehehe

      nah kalo kamu eneg mending lewatin aja(menambah khazanah sejarah indonesia)
      sama saja kalo eneg suku/agama kamu dihujat mau marah atau emosi??

      jgn gara2 natuna atau lcs memandang dengan kaca mata kuda(negara2 kebanyakan sipit japan,taiwan,korsel,korut,china,vietnam,hongkong,singapore)berapa diantara mereka mempunya peradaban lebih maju dr kita biarpun kita sering menyalahkan mereka dibawah ketiak amrik,bukan kita sampai sekarang belum sejahtera???mengapa tanyakan kepada rumput bergoyang

      salam met damai selalu:)

    • gagal menerima kenyataan…ciri ciri orang yg gk bisa menerima perbedaan

  8. maklum bro lha cweknya cantik,mulus,seksi,kaya,harum. nah lho item,bau,kemproh,gk punya uang,jelek,,hidup pula. gmna mau disukai cwek china hehehene

  9. mantabb

  10. @bung omkentung dunia sebelum kemerdekaan sangat luas,sebelum jaman belanda(voc)jaman islamisasi jawa,jaman kerajaan majapahit atau seriwijaya atau jaman sebelum kerajaan itu muncul(sumber sedikit loh)?????

    ditulis berdasarkan opini pribadi:

    1.penyebaran islam di indonesia khususnya ditanah jawa,mungkin disebabkan banyak sebab kemunduran politik majapahit karena intrik(politik adu domba,korupsi,perang saudara)nah disitu pedagang2 arab+ulamanya menyebarkan dipesisir2 jawa(cobe diliet islam berkembang duluan dipesisir drpd di tengah daratannya)nah disitu lah kerajaan islam berkembang pesat sehingga dengan secara otomatis kerajaan hindu atau budha secara tidak langsung memudar secara ekom maupun politik(perang budaya)peninggalan masih ada borobudur,candi prambanan.

    2.diantara wali songo itu ada etnis tionghoa cm source saya masih ragu(karena biasa kalo org udah jd mualaf biasa namanya berubah),dan pak kyai gusdur aja bilang 1/2 darahnya mengalir darah tionghoa dr neneknya ini juga berita belum pasti atau ngk(imlek dikenalkan oleh mantan pres gusdur),pak prabowo aja darahnya ada etnis tionghoa(bukan kita sering memuji matra sat gultor)

    3.dalam orba sepertinya politik sejarah kita dikaburkan(tidak bisa kita salahkan)siapa pemilik kekuasan dialah berkuasa,bukan jaman orba ekom malah dimiliki oleh etnis kalangan tertentu.itu dulu

    4.kalo soal asimilasi khusus tionghoa kyk sudah ada dr jaman dulu(etnis sunda dengan org tionghoa,etnis jawa dengan thionghoa,namanya kawincampur dll,bukan org jawa lebih suka nikah ama org jawa itu tergantung perfektic masing untuk masing2

    salam selalu met malam:)

  11. Saya terinspirasi oleh salah satu lirik lagu yg penuh ‘semangat’ karya Ismail Marzuki yg berbunyi “MARI BUNG REBUT KEMBALI”, dari lirik lagu ini lah saya ingin mengumandangkan…

    Rakyat Indonesia malu jadi pengemis, mari bersama-sama kita bangun NEGERI ini dengan ‘semangat’ PERSATUAN & KESATUAN.

  12. orang jawa ada yang nikah dg perempuan tiongkok. perumahanku byk orang tiongkok tapi rajin berbaur dengan satpam dan tetangga. Pelit itu ada juga diluar tiongkok.
    mereka sulit bergaul karena kita tidak memberi kesempatan luas pada mereka. teman2ku banyak yang tiongkok. dan ada yang jadi tim kesehatan presiden .

  13. Kalo masuk buku sejarah, dan di jadikan soal ulangan…sebutkan nama pahlawan berdarah tiongoha…pst yg saya ingat john lie…krn mudah di ingat…sperti bruce lee xixixixixi

  14. bahkan kita dilarang manggil mereka cina….satu2 nya negara di dunia ini yg ada aturan pemerintah nya gk boleh nyebut cina…harus tionghoa dan negara nya di sebut tiongkok padahal di PBB sendiri di sebut china……..selalu ingin di istimewakan cina cina itu

  15. Ketika saya sedang asyik membicarakan hal yg menarik dengan rekan saya menggunakan bahasa jawa, tiba-tiba salah satu rekan saya berkata “Indonesia bukan cuma Jawa bung” sambil berlalu, saya dan rekan pun langsung terdiam dan ternyata ada juga rekan saya yg lain rupanya sedang asyik mengobrol dengan bahasa Padang, Palembang, Makasar rekan saya yang satu ini lagi-lagi mengatakan hal yg sama “Indonesia bukan cuma Padang, Palembang, Makasar bung”. Akhirnya saya sadar BAHASA INDONESIA adalah BAHASA PERSATUAN.

    Negara kita bukan negara ‘monocultural’ melainkan ‘multicultural’, ini lah yg membuat bangsa kita unik dan bisa membuat kita bangga, tapi disisi lain ini bisa menimbulkan perpecahan yg dimana masing-masing menganggap kesenian dan budayanya lah yang paling indah bahkan ada yg meng-claim ‘benar’. Atas dasar ini lah saya dan rekan-rekan mencari solusi masalah ini, setelah berdiskusi akhirnya kami pun sepakat untuk mencoba meg-kolaborasikan antar satu budaya dengan budaya yg lainnya. eksekusi pun berlangsung, namun salah satu pemuka adat, pelaku seni & juga budayawan sangat marah kepada kami, mereka mengatakan itu sama saja anda menghina leluhur kami karena kesenian kami mengandung spritual yang sangat sakral (misi gagal komandan). Saya terdiam, beberapa menit kemudian saya pun menyadari bahwa tidak ada yang dapat mem-PERSATUKAN bangsa ini selain PANCASILA dengan BHINEKA TUNGGAL IKA-nya.
    Mengutip kata-kata Sudjewo Tedjo “INDONESIA TANPA PANCASILA AKAN KEHILANGAN ARAH”.

    Salam Persatuan

    • @bung d_ka nah disitu lah,kebanyakan hujat tidak mau melihat sisi laen,berdasarkan pendapat dia heheeheh,kita kalo kelietan disini menulis,kayak gampang untuk perang asimetri dan proxy(ini kita tidak tahu lawannya)musuhnya juga kita sendiri cm beda suku

      bukan iraq dan suriah itu adalah salah satu contoh pemerintah gagal untuk perang proxy dan asimetri(perang saudara diback up dr luar)???

      saudara d ka disangat keadaan begitu anda dimana?hajar musuh(org indonesia sendiri) atau mengungsi?

      salam damai selalu:)

      • @bung bukek siansu maaf sebelumnya br sempat bales, mendekati lebaran soalnya siap2 mudik hehehee…
        Akhirnya tidak saling percaya satu sama lain ya bung heheheeh…proxy war jgn lantas membuat kita ‘parno’, siaga ttp perlu.

        Salam damai juga bung 🙂

  16. bukan masalah tionghoa nya, tapi masalah akidahnya jaman gue sekolah dan kuliah, emang beda bro, kalau muslim kita bercanda bareng, makan bareng, shalat dzuhur dan ashar bareng, sifat stereotip cina nya udah hilang, jadi nggak ada jarak lagi, mereka benar2 membaur …

    jangan lupa pula sultan pertama kerajaan Islam tanah jawa adalah Panembahan Jin bun aka R. Hasan aka R Patah …

    cuma pengalaman pribadi semasa kuliah di UI dulu … kalau salah ya maaf … hehehe …

  17. waw barisan sakit hati ya bung?

  18. gak juga bung, saya punya temen tionghoa kalo siang makan di warteg dan makannya ngirit 12ribu aja, tp kalo malam jalan ama pacarnya baru makan di mall…..ahahahhaha jd kesimpulannya…kalo buat penghematan mereka bakal cari tuh warteg murah dan enak, kalo jalan ma pacar baru cari makan ditempat elit, tetep pake CC buy1free1…..

  19. Saya bukan Tionghoa tapi mata saya sipit karena saya dari kecil harus pakai kacamata. Sebelum pakai kacamata dulu waktu kecil mata saya belo (besar).

    Nah yang meragukan apakah orang Tionghoa ikut serta melawan kumpeni (VOC), silakan ketik di google “perjuangan orang tionghoa melawan belanda”

    Orang Tionghoa jaman Belanda dulu sebelum krakatau meletus adalah kuli dan jika mereka naik kapal, mereka harus ada di palka tidak boleh di kamar2 atas. Jadi mereka pun diperlakukan rendah oleh Belanda. Coba ketik di youtube film “The Last Day of Krakatoa” yang diproduksi oleh BBC.

    Memang banyak orang Tionghoa di Indonesia yang sukses tapi yang melarat pun juga banyak (ingat istilah Cina Benteng).

    Banyak prasangka ke atas orang Tionghoa, sepanjang umur saya ada dua kali tindak kekerasan ke atas orang Tionghoa yaitu tahun 1980 di Jawa Tengah dan tahun 1998 di Jakarta dan Solo.

    Yang patut dicurigai sekarang adalah para politikus yang mengatasnamakan berbaju hijau termasuk yang baru2 ini bikin partai baru karena mereka ada agenda disintegrasi bangsa dengan cara memanfaatkan kebencian etnis.

    Dalam pandangan Sang Pencipta semua ras itu dalam kedudukan yang sama dan sederajat.
    Jika kita berprasangka etnis maka kita secara lancang melangkahi wewenang Sang Pencipta.
    Jika salah satu etnis bertindak menjengkelkan yang lain itu bukanlah hak kita untuk membenci etnis tersebut. Biarlah Sang Pencipta yang mengurusnya karena Dia tidak tidur dan mataNya memperhatikan kita.

  20. Wkwk mulai muncul nih hatersny

  21. Tu kalian baca…jangan pada rasis kalo liat etnis cina di jalan…..

  22. saya juga enggak setuju kalau etnis tionghoa membuat kelompok eksklusif… justru di tempat saya yg mayoritas tionghoa, mereka mau berbaur dan yang muda-muda mau nongkrong di emperan.. makan di warteg,. bukan alasan berhemat atau gengsi lho ya…. yang dicari itu suasananya.. coba aja dibandingkan mana yg lebih terasa, makan di mall atau di kaki lima??

  23. When will Indonesia become a better countries if it’s people can’t appreciate each other? If it’s people’s mind still filled with Rasists thinking? Look at the other countries which appreciate it’s culture. Like japan, Singapore. If u said that Chinese people is just a rubish, let’s compare our country with singapore. Singapore which filled with so many chinese was better than Indonesia right? Their land is nothing if compared with indonesia’s land. But? U See? Or maybe let’s compare our countries With China Itself. Now many product has labelled with “made in China”. Can u easily find “made in Indonesia” labell in other country? I don’t think so.

    I’m not comparing this etnic with the other. But i mean, Come on guys. Don’t be so childish. Udah ga jaman rasis. Lebih bagus Bersatu, dan saling menghargai. Indonesia bakal maju kalau itu bs terwujud.

 Leave a Reply