Mar 222019
 

Citra komputer peluncuran X-60A hipersonik dari pesawat NASA C-20A © Lab Riset USAF via Flight Global

JakartaGreater.com – Tidak hanya dalam bidang senjata supersonik, Amerika Serikat juga mengubah dirinya menjadi “korban perlombaan senjata” di luar angkasa bersama Rusia, seperti dilansir dari laman Bao Dat Viet.

Igor Korotchenko, Direktur Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia (TSAMTO), berkata bahwa AS telah menuduh Rusia membuat senjata anti-satelit dan senjata antariksa, untuk menyangkal tanggung jawab dan membuktikan bahwa perkembangan mereka dibidang ini hanyalah reaksi terhadap tindakan Moskow.

“Setiap tuduhan terhadap Rusia oleh pejabat AS telah dipolitisasi dan diberikan untuk mengalihkan perhatian dari rencana Washington. Jelas dalam beberapa tahun mendatang, Amerika Serikat akan sampai pada awal perlombaan senjata di ruang angkasa, mereka sedang mempersiapkan senjata serta infrastruktur yang sesuai”, kata Korotchenko.

Amerika Serikat bertindak dengan cara yang sama sebelum mengumumkan penarikannya dari perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF). Propaganda yang tak tahu malu, tidak membenarkan apa pun kecuali keinginan untuk mengarahkan panah ke Rusia, lanjut direktur itu.

Sebuah booster tingkat pertama dari roket ruang angkasa SpaceX berhasil mendarat © SpaceX via Military.com

Ini telah dibuktikan oleh Presiden AS Donald Trump yang menandatangani dekrit tentang pembentukan pasukan antariksa AS, yang akan melakukan penyebaran senjata penyerang di luar angkasa.

“Tuduhan AS terhadap Rusia hanyalah sebagai kedok, yaitu menyangkal tanggung jawab mereka sendiri, dan mengalihkannya ke Rusia dan mengekspresikan diri sebagai korban dari Rusia”, kata Korotchenko.

Sama seperti Menteri Pertahanan AS, James Mattis meminta Pentagon mengerahkan dan menggunakan senjata untuk menyerang di luar angkasa. Senjata di ruang angkasa sangat penting dalam melindungi kepentingan nasional AS, sehingga Pentagon harus siap untuk menyebarkan dan menggunakannya di luar angkasa.

Tidak hanya itu, Mattis juga menyatakan, Amerika harus siap menggunakan senjata untuk menyerang di luar angkasa, jika seseorang memutuskan untuk melakukan militerisasi dan mulai menyerang.

Ilustrasi senjata laser Uni Soviet di orbit © National War College via Wikimedia Commons

Kepala Departemen Kontrol Senjata dan Pembatasan Senjata Departemen Luar Negeri Rusia, Vladimir Ermakov memperingatkan AS untuk tidak memasukkan senjata ke ruang angkasa.

“Dalam doktrin militer AS, sangat jelas bahwa mereka berencana memobilisasi semua pasukan yang dimobilisasi untuk mendapatkan kekuatan arus utama. Semua untuk apa? Jangan bilang semua orang sudah sangat jelas. Dalam hal kebutuhan, AS akan mengatur semua senjata dan perangkat ofensif yang bisa menghancurkan negara lain yang tidak disukai AS”, kata Vladimir Ermakov.

Menurut Defense News, fakta bahwa AS menuduh Rusia mengembangkan senjata ruang angkasa sebenarnya menyembunyikan kebenaran bahwa AS pun mengembangkan senjata dalam kategori ini. Namun, Pentagon tahu bahwa teknologi mereka telah usang apabila dibandingkan dengan teknologi Rusia.

Bahkan, sejak 23 Juni 2017, Rusia telah meluncurkan satelit yang disebut Kosmos-2519 ke dalam orbit sinkron matahari dari kosmodrom Plesetsk menggunakan roket Soyuz-2-1v. Kementerian Pertahanan Rusia menggambarkan satelit tersebut sebagai “platform ruang angkasa di mana beberapa jenis muatan dapat dipasang”, menyebut muatan itu sebagai “peralatan untuk penginderaan Bumi jarak jauh dan untuk memotret objek antariksa”.

Concept art of a hypersonic weapon. © Lockheed Martin

Pada tanggal 30 Oktober 2017, Kosmos-2521 itu merilis muatan yang lebih kecil, yakni Kosmos-2523. Kemenhan Rusia pun menggambarkan itu sebagai “satelit inspektur yang mampu mendiagnosis kondisi teknis satelit Rusia dari jarak terdekat yang mungkin”, dan menambahkan bahwa data yang diperoleh akan menentukan apakah satelit targetnya dapat dikembalikan ke urutan kerja.

Dengan mempergunakan data orbital yang tersedia untuk umum yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan AS, analis antariksa Barat, Phillip Clark dan Jonathan McDowell menemukan bahwa Kosmos-2519 dan Kosmos-2521 kemudian melakukan beberapa lintasan lambat dan cepat, serta terbang dalam formasi jarak dekat pada Maret – April 2018.

Tidak hanya di bidang senjata ruang angkasa, AS juga menunjukkan bahwa pihaknya telah kalah dari Rusia pada bidang senjata supersonik. Karena Rusia telah berhasil melakukan serangkaian uji coba yang sukses dengan rudal Zircon, Kinzhal dan Avangard, sedangkan Amerika Serikat belum memiliki proyek khusus meskipun ada upayanya mengembangkan senjada dibidang ini.

  2 Responses to “Pelombaan Senjata AS-Rusia, Siapa Jadi Korban ?”

  1.  

    Yang jadi korban,semuanya secara umum.
    Secara khusus kedua belah pihak yang jadi korban bila sampai terjadi perang diantara keduanya.

  2.  

    Sangat jelas dr dulu, dikarenakan Soviet/Rusia saja yg karena komunisnya,padahal semua tentu tak menutup mata,siapa komunis sejatinya yaitu yg melakukan apa saja dng jargon”menghalalkan segala cara”(USA).