Jan 092019
 

Ilustrasi prajurit menembakkan senapan mesin © National Interest

JakartaGreater.com – Dengan kecepatan 5,83 Mach atau sekitar 6.560 kaki per detik (FPS), kecepatan amunisi senapan runduk atau sniper diproyeksikan oleh perusahaan Lobaev Arms asal Rusia, tidak akan tertandingi di antara amunisi senjata genggam, seperti dilansir dari laman Ria Novosti.

Pabrikan senjata yang berasal dari Rusia, Lobaev Arms telah mengumumkan bahwa mereka dapat memproduksi amunisi senjata genggam dengan kecepatan muzzle 2.000 meter/detik.

“Kami sedang meneliti topik ini secara intens. Saya pikir, dengan tingkat tertentu dari pendanaan pemerintah, kami berada dalam posisi untuk bisa menghasilkan amunisi sniper dengan kecepatan 2.000 meter/detik dalam waktu setahun. Dan itu sudah kecepatan hipersonik”, menurut salah seorang pendiri Lobaev Arms, Vladislav Lobaev.

Penembak jitu harus memperhitungkan sejumlah faktor balistik “eksternal” termasuk nilai kecepatan angin, ketinggian, dan bahkan kepadatan udara untuk memaksimalkan akurasi. Estimasi ini harus dibuat dibawah kendala waktu yang sering sempit dan bervariasi dalam kompleksitas, tergantung kepada jarak target dan tingkat keparahan faktor lingkungan.

Penembak jitu Angkatan Darat AS dalam kontes sniper internasional di Fort Benning © US Army via Wikimedia Commons

Namun peluru hipersonik diterjemahkan menjadi keuntungan kinerja potensial di beberapa bidang. Segala sesuatunya sama, kecepatan perjalanan mereka yang lebih cepat dapat secara drastis membuat sniper lebih mudah sejajar dengan target, meminimalkan dampak faktor eksternal.

Peluru hipersonik juga akan memberikan target lebih sedikit waktu untuk keluar dari jalur perjalanan peluru. Lobaev mengatakan kepada sebuah publikasi pertahanan Rusia bahwa dengan kecepatan lebih dari 5 Mach akan memungkinkan tembakan pada jarak 1.000 meter tanpa perlu melakukan penyesuaian apa pun.

Di 5,83 Mach atau 6.560 kaki/detik (FPS) atau 2.000 meter/detik, kecepatan peluru sniper yang diproyeksikan Lobaev tidak akan tertandingi di antara amunisi senjata genggam yang lainnya.

Namun, ada “rintangan” teknis dan juga logistik untuk produksi massal peluru hipersonik. Menembakkan peluru dengan kecepatan lebih dari 6.500 FPS ketika senjata konvensional berjuang melebihi kecepatan 4.000 FPS membutuhkan “tekanan ekstrem” yang difasilitasi oleh mekanisme pengiriman yang andal.

Personel Angkatan Darat AS (US Army) membidikkan senapan runduk (sniper) © US Army via National Interest

Untuk alasan inilah Lobaev menggunakan “komponen kimia yang meledak dari komposisi unik” daripada bubuk mesiu standar. Masih harus dilihat dari apa komponen peledak itu, biaya produksinya dan sejauh mana kompatibilitasnya dengan senjata api saat ini termasuk yang ada di jajaran produk Lobaev Arms yang diberi nama penuh warna.

Selain itu ada masalah kebisingan, recoil dan berat tetap ada di tingkat operasional. Veteran pasukan khusus Rusia, Sergei Goncharov memberikan penilaian berikut tentang senapan runduk yang menggunakan amunisi hipersonik dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia, Ria Novosti.

“Kebisingan yang dihasilkan oleh senjata semacam itu akan memberi musuh kesempatan untuk melihat penembak jitu. Saya tidak tahu tingkat recoilnya dan bagaimana senjata seperti itu akan dirancang. Jika sang penembak jitu harus membawa alat yang beratnya 20 kilogram, maka tidak ada gunanya untuk itu”, kata Goncharov.

Bagaimanapun, amunisi “peledak” semacam ini hampir pasti akan menurunkan senjata api dengan kecepatan lebih cepat. Lobaev tidak menyangkal hal ini, sebaliknya mencatat bahwa keuntungan dari “efisiensi yang lebih besar” akan mengimbangi “kerugian finansial” dari degradasi komponen tambahan.

Menurutnya, masa pakai senjata api yang menggunakan amunisi ini tentu saja akan lebih rendah, tetapi efek ekonominya akan jauh lebih besar dengan mempertimbangkan pada hal penerapannya.

Lobaev sendiri tidak memposisikan peluru “hipersonik” mereka sebagai pengganti populer untuk amunisi penembak jitu tradisional sebab dalam hal biaya produksi dan pemeliharaan akan terlalu besar untuk itu.

Sebaliknya, mereka mengiklankannya sebagai opsi “hemat biaya” dalam kasus penggunaan khusus dengan lingkungan yang sangat sulit atau jarak tembak ekstrim. Lobaev Arms kini terlibat dalam beberapa proyek ambisius selain amunisi hipersonik, antara lain yaitu sistem senjata berpemandu berpemandu presisi (PGF) dan yang disebutnya sebagai senapan sniper swa-loading pertama di dunia.

Dalam konteks ini, penelitian amunisi hipersonik adalah bagian dari upaya pabrikan Lobaev Arms untuk bertaruh secara agresif pada teknologi pemula yang mereka yakini akan dapat menangkap sebagian besar pasar senjata dalam beberapa dekade mendatang.

  2 Responses to “Peluru Hipersonik, Ubah Sniper Menjadi Ultimate Weapon”

  1.  

    Apa beneran butuh peluru secepat itu?

  2.  

    tes