Pembangunan Kekuatan Pasukan Marinir Indonesia

12
10
BTR-4M 8x8 Marinir (Angkasa.co.id)
BTR-4M 8×8 Marinir (Angkasa.co.id)

Varian baru untuk iklim tropis dari kendaraan lapis baja BTR-4M 8×8 diterima tahun ini oleh Korps Marinir Indonesia dari Ukraina. Kendaraan ini akan menambah formasi kendaraan amfibi setelah 54 unit BMP-3F telah menjadi milik Korps Marinir TNI AL dan unit lapis baja lainnya.

Di negara kepulauan dengan lebih dari 13.000 pulau, Korps Marinir memainkan peran penting dalam membela Indonesia. Berada di bawah kekuasaan angkatan laut, korps ini terdiri dari dua kelompok (masing-masing tiga batalyon) dan satu brigade independen sebesar 20.000 personil.

Beberapa kendaraan BTR-4M baru, menggunakan remote-controlled overhead weapon station, Parus, yang dilengkapi meriam ZTM-1 30 mm, peluncur granat otomatis 30 mm dan senapan mesin 7,62 mm.

Sedangkan BTR-4M lainnya memiliki turret sederhana dengan senapan mesin 12,7 mm. Indonesia dikabarkan memesan 55 unit kendaraan amfibi, yang akan menggantikan BTR-50 dan melengkapi BTR-80A yang sudah tua, dimana sebagian besar terakhir digunakan di Lebanon untuk misi perdamaian.

Selain itu, Korps Marinir telah melakukan tes terhadap MRLS RM-70 Vampir baru pada tanggal 10 Juni 2016. Marinir Indonesia menerima delapan unit RM-70 Vampir baru dari Republik Ceko pada pertengahan tahun untuk melengkapi dua baterai MRLS.

BTR-4M 8x8 Marinir
BTR-4M 8×8 Marinir

Pada bulan Juni-Juli, Kops Marinir menerima pelatihan pengoperasian peralatan peluncur roket 122 mm baru. RM-70 Vampir merupakan upgrade dari RM-70 standar, dengan pekerjaan modernisasi dilakukan oleh perusahaan Excalibur Army Republik Ceko.

Peluncur roket dipasang pada chassis Tatra 8×8 T 815-7. Dioperasikan oleh empat orang crew, peluncur terhubung dengan sistem pengendali tembakan digital. Kendaraan siap untuk menembak dalam waktu 2,5 menit setelah tiba di titik tembak dan siap menembakan 40 roket secara tunggal atau salvo. Truk juga membawa rak kedua dari 40 roket yang dapat dapat melakukan reloaded manual dalam satu menit.

Indonesia memproduksi roket lokal R-HAN 122B, yang berhasil melakukan pengujian pada bulan Agustus 2015. Versi perbaikan jenis roket ini dikembangkan oleh konsorsium dari PT Dahana, Dirgantara dan Pindad, serta berbagai instansi pemerintah.

R-HAN 122B memiliki panjang 2,81 m, didukung oleh motor roket Hydroxylammonium nitrat dengan waktu pembakaran tiga detik. Roket ini memiliki jangkauan sejauh 30.5 km dengan hulu ledak seberat 15 kg.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi menyaksikan uji coba senjata baru Korps Marinir TNI Angkatan Laut, RM-70 Multi Launch Rocket System (MLRS) kaliber 122 MM Vampire di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, Selasa (2/8/2016).
Uji coba RM-70 Multi Launch Rocket System (MLRS) kaliber 122 MM Vampir di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur, (2/8/2016).

Bersamaan dengan MRLS, Indonesia menerima satu batalion kendaraan komando, dua kendaraan resupply amunisi, kendaraan recovery dan tanker bahan bakar. Korps Marinir juga menerima dua kendaraan lapis baja Alligator 4×4 dan APC Tatrapan 6×6 T 815 dari produsen Kerametal Slowakia. Indonesia memperoleh sembilan RM-70 second hand dari Republik Ceko pada tahun 2003, sehingga militer sudah akrab dengan sistem ini.

Korps Marinir Indonesia juga mendapatkan sistem pertahanan udara baru dari China. Sistem tunggal yang dibeli dari Norinco mencakup empat Type 90 twin 35 mm towed anti-aircraft gun, sistem pertahanan udara ini dilengkapi dengan radar AF902 dan empat unit power supply mobile.

Tes penembakan pertama dari sistem itu dilakukan terhadap UAV pada tanggal 12 Agustus setelah pengiriman diterima pada bulan Juli. Pemesanan lebih lanjut dari sistem ini bisa saja berlanjut.

Sumber : Shephardmedia.com

12 COMMENTS

LEAVE A REPLY