Agu 192014
 

Helikopter serang Apache longbow buatan Amerika, melintas bersama KRI Ahmad Yani 351 dalam peringatan HUT TNI ke 69 di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Mako Armatim) Ujung, Surabaya, Selasa (7/10). (by Jiwa Bening)

PERAYAAN hari kemerdekaan merupakan refleksi terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejumlah tantangan dan ujian dalam pembangunan bangsa, telah dilalui bersama. Banyak keberhasilan pembangunan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia selama kurun waktu kemerdekaan ini. Salah satu keberhasilan itu, terlihat pada aspek pembangunan pertahanan.

“Keberhasilan ditandai dengan kebangkitan dan penguatan industri pertahanan nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista pertahanan. Peran industri pertahanan nasional harus terus didukung dan didayagunakan agar master plan-nya selalu sesuai dengan pembangunan kekuatan TNI, mulai dari pemenuhan kekuatan pokok TNI sampai pada perwujudan postur ideal,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan HUT ke-69 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, di Lapangan Setjen Kemhan, Jakarta, Minggu (17/8).

Menhan menjelaskan industri pertahanan nasional merupakan pilar utama suksesnya pertahanan dan secara umum sangat berguna bagi pembangunan Indonesia. Disamping itu, pembelian dan pengadaan alutsista untuk ketiga matra TNI terus dilakukan sebagai bagian dari moderisasi alutsista TNI.

Terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan, Brigjen TNI Sisriadi menyampaikan perkembangan modernisasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) prioritas TNI sebelum dan sesudah Oktober 2014 termasuk perkembangan industri pertahanan.
Menurut Sisriadi, modernisasi alutsista prioritas TNI khusus untuk Mabes TNI, TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.

Sisriadi menjelaskan, Mabes TNI memiliki 75 unit kendaraan taktis (Rantis) sebelum Oktober 2014 dan ditargetkan 590 unit sesudah Oktober 2014. Mabes TNI juga mengadakan Alutsista sebanyak 75 unit kendaraan angkut munisi 5 ton sebelum Oktober 2014 dan ditargetkan 225 unit sesudah Oktober 2014.

Sisriadi juga menyampaikan perkembangan alutsista TNI AD. Menurutnya, sebelum Oktober 2014, TNI AD memiliki satu unit Heli serang dan direncanakan sebanyak 11 unit. Selanjutnya, sebelum Oktober 2014, TNI AD memiliki 6 unit Heli Angkut Bell dan 16 unit Heli Serbu serta senjata dan munisi. Selain itu, untuk kendaraan tempur (Ranpur) jenis MBT Leopard sebelum Oktober 2014 sebanyak 56 unit dan 124 unit sesudah Oktober 2014.

Sementara itu, Alutsista prioritas TNI AD yakni ME Armed 155 Howitzer Caesar buat Prancis sebanyak 4 unit sebelum Oktober 2014 dan 33 unit sesudah Oktober 2014; Rudal MLRS Astros II sebanyak 13 unit sebelum Oktober 2014 dan 25 unit sesudah Oktober 2014; Rudal Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) jenis VSHORAD Mistral buatan Prancis sebanyak 9 unit sebelum Oktober 2014 dan 127 unit sesudah Oktober 2014; dan Rudal Arhanud jenis Thales, UK produk luar negeri ditargetkan 111 unit sesudah Oktober 2014.

Sementara itu, alutsista TNI AL meliputi Tank Amfibi BMP-3F Sucad sudah diserahkan 37 unit pada tanggal 28 Desember 2013; Kapal Bantu Hidro Oceanografi sebanyak 2 unit yang akan diserahkan pada 11 Oktober 2015; Panser Amfibi BTR 4 sebanyak 5 unit sesudah Oktober 2014; MLRS Kal 122 MM buatan China sebanyak satu unit dan pengadaannya sesudah Oktober 2014; demikian juga satu unit MLM KRI KLS Korvet Tahap I yang dibuat di Inggris akan diserahkan pada 30 April 2016; satu unit MLM KRI KLS Korvet Tahap II yang dibuat di PT PAL Indonesia sebanyak satu unit. Sementara itu, 2 unit CN-235 MPA akan diproduksi di PT Dirgantara Indonesia sesudah Oktober 2014; Kapal Layar Latih asal Spanyol sebanyak satu unit sesudah Oktober 2014; Multi Role Light Frigates (MRLF) saat ini sudah ada sebanyak 3 unit; dan Heli Aks+Sucad buatan PT DI sebanyak 11 unit sesudah Oktober 2014.

Untuk Alutsista TNI AU, lanjut Sisriadi, saat ini sudah ada 16 unit Pesawat Tempur T50i hasil kerja sama KAI dan Korea, 6 unit SU-30 MK2 dan DUK buatan Rusia; dan Heli Full Combat SAR Mission direncanakan 6 unit sesudah Oktober 2014.
TNI AU juga saat ini telah memiliki 7 unit Pesawat CN-295 hasil kerja sama PTDI dan Airbus Military, dan akan ditambah 2 unit sesudah Oktober 2014. Selanjutnya, saat ini telah ada 2 unit Oerlikon Contrabes AG buatan Swiss, dan ditambah 4 unit sesudah Oktober 2014.

Sisriadi menambahkan, program khusus Alutsista non bergerak direncanakan 8 unit setelah Oktober 2014 untuk jenis Heli Serang Apache AH-64E buatan Amerika Serikat. Selain itu, 6 unit hasil Up Grade pesawat F-16, saat ini berjuamlah 6 unit dan direncanakan 18 unit sesudah Oktober 2014.

Sementara itu, dua unit Restorasi C-130 Hercules yang ada saat ini, akan ditambah 2 unit yakni pada Nopember 2014 dan Maret 2015.
Kemhan, lanjut Sisriadi, 3 unit Kapal Selam Diesel Electric Klas DSME 209 buatan Korea Selatan akan diserahkan kepada TNI AL pada Maret 2017, Oktober 2017 dan Desember 2018.

Alutsista non prioritas lainnya untuk TNI AL, adalah satu unit Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) buatan Belanda yang rencananya akan didatangkan pada Juni 2016 dan satu unit lagi pada bulan Juni 2018.

Sementara itu, TNI AU juga telah memiliki 4 unit Pesawat Super Tucano buatan Brazil dan 12 unit akan diserahkan minggu kedua bulan September 2014.

Dalam Renstra 2010-2014, Kemhan juga mendorong pengadaan Alutsista dalam negeri. Sebagai contoh, alutsista untuk TNI AD saat ini dalam proses produksi di PT Pindad yakni Retrofit AMX-13 termasuk 14 unit Panser APS 2 (6×6) yang juga sedang dalam proses pembuatan di PT Pindad.

Alutsista TNI AL yang diproduksi dari dalam negeri sebanyak 3 unit untuk jenis Platform KCR Type 40 diproduksi di PT Palindo Marine dan diserahkan ke TNI AL pada 15 Januari 2014. TNI AL juga akan mendatangkan alutsista produk dalam negeri yakni 2 unit Kapal Angkut Tank yang diproduksi PT Dok Perkapalan Kodja Bahari pada 9 Spetember 2014 dan satu unit Kapal Tank produk PT Daya Radar Utama pada 2 September 2014.

Sedangkan TNI AU juga mendorong pengadaan alutsista produk dalam negeri, misalnya satu unit CN-235 produk PTDI yang ditargetkan selesai pada Desember 2015. “Kemhan terus mendorong pengadaan alutsista yang diproduksi dari dalam negeri,” kata Brigjen TNI Sisriadi. (Jurnas.com).

Bagikan:

  53 Responses to “Pembangunan Pertahanan Menuju Postur Ideal”

  1.  

    Pertamax

    •  

      pertadox alias pertama ama kodoxxx….wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwk

    •  

      Mnrt Brigjen Sisriadi ada 4 unt meriam howitzer caesar sblm oktober 2014 dan 33 unt stlhnya. Kbtln rmh sy hanya sktr 3 km dr markas yon armed, mnrt info dr anggta TNI yg tgs di sana dn kbtln istrinya sekantor dg sy, pd bln ramadhan yg lalu tlh dikirim dg konteiner sbnyk 18 unit meriam tsbt untk di tmptkn di btlyon tmptnya bertugas dan bhkn mnrt dia pd minggu yg lalu tlh dilakukan uji tembak. Info dari Brigjen Sisriadi apakh sengaja menutupi jmlh sebenarnya yg tlh ada atau hanya salah sebut sj?

  2.  

    absen dulu

  3.  

    4

  4.  

    BTR 4 jadi juga dibeli ya….kabarnya ditunda karena ukraina lagi kisruh

  5.  

    Lanjutkan ndan

  6.  

    TNI maju Indonesia Hebat

  7.  

    10 besar..:)

  8.  

    11 besar….hehehe

  9.  

    Gw masih tetap bermimimpi ada tambahan alutsista di pemerintahan mendatang, impian GW ada penambahan : 2 KRI Cruser class, 2 KRI Destroyer class, Reall Fregat 125m 4 unit, light fregat/PKR 105 tambah 6 unit, corvet sigmat class tambah 8 unit, KCR 60 tambah 16 unit, KCR 40 tambah 20 unit, LPD 150m class 2 unit, Submarine Amur class 3 unit, U216 tambah 3 unit, Cangbogo mutan 2 unit lg, AKS Panter realisasi 16 unit, Rudal Yakhont 100 unit, C 802 200 unit, C 705 akuisisi 400 unit, Exocet MMII Block 4 tambah 200 unit, Tank Ampibi BMP 3F 76 unit lg, Pesawat MP/AKS jarak jauh C 295 IND class 4 unit, C235 MP 6 unit, Torpedo Heavy class jarak jauh 120 unit, SU 35 BM 16 unit, Rafale/Gripen 16 unit, EC 725 Cougar realisasi 16 unit, Pesawat latih ringan Grobe tambah 16 unit, T50 Golden Eagle tambah 16 unit, Rudal AAMRAAM class 200 unit, Hercules/A400 tambah 8 unit, Rudal Hanud S300/400 4 batalyon, MLRS Astros II tambah 4 Batalyon, Meriam Caesar tambah 4 Batalyon, MBT Leopard II Rev Ind/A6 tambah 100 unit, Medium Tank 200 unit, Panser Anoa tambah 300 unit, Heli Tempur Realisasi 16 unit, Roket R Han 30 km tambah 1000 unit, Roket RHan 100 km produksi 200 unit.. dst ..dst..semoga mimpi ini bertahap & tdk terlalu lama menjadi kenyataan..menuju kekuatan militer ideal…tahap berikutnya jangka panjang adalah pesawat siluman IFX, Rudal jelajah 1000 km RI Rev. dst..

  10.  

    Lanjutkan….!!!

  11.  

    Selanjutnya, saat ini telah ada 2 unit Oerlikon Contrabes AG buatan Swiss, dan ditambah 4 unit sesudah Oktober 2014…

    kpn datangnya?…..

  12.  

    gmn dgn ulasan kapal selam baru rusia, : project 636,3 atau Kelas Varshavyanka, dgn penambahan fikur yang lebih canggih dari yang di pesan vietnam project 636.
    apa indonesia tidak tertarik????

  13.  

    ” 6 unit SU-30 MK2 dan DUK buatan Rusia ”

    mksdnya DUK APA YA GAN ? Maaf newbie.

  14.  

    pas 15

  15.  

    Ngarep SU 35, KS Kilo, S 400 sama kapal perang kelas Destroy..:)

  16.  

    Heli serang Dengan heli serbu bedanya apa? Yang jelas kalau punya A64 E apache block III sebanyak 80 biji dijamin kita yang nyaplok wilayah Malaysia…nyaplok wilayah Malaysia donk ..jangan Malaysia aja yang nyaplokin wilayah kita.

    •  

      Heli serang buat menyerang, menghancurkan dan heli serbu buat menyerbu, mengantarkan pasukan khusus. Heli serang ibarat tank terbang spt Apache atau Leopard kalau di darat, sementara heli serbu spt Blackhawk atau ibarat IFV Marder.

  17.  

    Buat kita Malaysia mah merem aja.
    Sekali gempur pasti mereka sudah ngibarin bendera putih,,,,wk,,wk,,,wk,,,,,,

  18.  

    Heli Aks+Sucad buatan PT DI sebanyak 11 unit sesudah Oktober 2014 …apa ini

  19.  

    yang “sembunyi” belum dikabarkan ya..atau memang ghoib ya

  20.  

    MLRS Kal 122 MM buatan China sebanyak satu unit, untuk unit yang ini tipe apakah ?

  21.  

    Affirmative 😈

  22.  

    Kok kayaknya TNI-AU tidak infonya kalo mau nambah 1 skuadron lagi Fighter jet Class macam SU-35/EuroFighter Typhoon/Rafael padahal kmaren saja KASAD baru selesai ikut demo terbang dng pesawat Sukhoi 30 menyatakan bahwa TNI perlu mengakuisisi lagi pesawat tempur baru macam SU-35 ato kita sudah secara halus dipaksa utk cukup punya F-16 Hibah dri US agar uang kita tidak mengalir ke rusia

    •  

      Betul bung Ryan,,sungguh hibah F16 25 ID tlh mengurangi/membatasi taring TNI AU, tentu AS tlah sukses menahan kaju peningkatan kekuatan TNI AU & tetap menyeimbangkan kekuatan Ri, sonora, sonotan,,secanggih2 nya F16 25ID hibah tetaplah dibawah F16 & F15 nya sonora,,,pastinya di elit pimpinan n pembuat kenputusan RI dpt etkanan dr AS,,bs dibayangkan jika RI pilih SU 35 BM ketimbang F16 25 ID meskipun jumlhnya cm 50% (12-16 unit) ,,,..sukes AS jg mengurangi kucuran dana ke Paman Beruang..salam kenal

      •  

        Salam kenal bung itto..ya semoga saja pemangku pemerintahaan Indonesia kedepan dapat membuat keputusan tanpa harus takut atas tekanan2 pihak luar khususnya utk keputusaan ttg alutsista dan pertahanan militer negara ini semoga saja bung

  23.  

    mengapa artikelnya berurutan 3X bung diego?? adakah sesuatu yg berbeda?? trus ada nama2 alat senjata yg baru dalam artikel tersebut..

  24.  

    ” satu kapal perang yg sedang d bt di inggris korvet MLM KRI KLS dan satu di bt d pt pal…”Ad yg tau gak spesifikasi KRI KLS

  25.  

    stop press :

    Airbus DS improves Air Surveillance Capabilities of Indonesian Air Force

    (Source: Airbus Defence and Space; issued Aug. 18, 2014)

    Airbus Defence and Space provides the Indonesian Air Force with the latest aircraft identification and air surveillance equipment, thus improving the air traffic control and air defence capabilities over the country’s more than 15,000 islands.

    The company has been awarded a contract by SBL Star Technology Pte Ltd., Singapore, to deliver two of its monopulse secondary surveillance radars MSSR 2000 I to equip the mobile air surveillance and tracking systems which will be operated by the Indonesian Air Force. The final delivery will be done beginning of next year.

    “Air traffic control authorities all over the world are facing continually increasing air traffic density,” said Thomas Müller, Head of the Electronics Business Line of Airbus Defence and Space. “Together with military air traffic, this situation requires a high-performance guidance system ensuring safety, comprehensive data exchange and efficient allocation of airspace. With our system in operation in around 30 countries we have proven our capability to provide a reliable solution.”

    In air surveillance and air traffic control, secondary radars such as MSSR 2000 I complement primary radars in identifying individual aircraft and establishing a comprehensive recognized air picture. Typically, a primary radar is able to measure the position of an aircraft at a point of time from reflections of the radar beam without giving a clear identification of the aircraft. The secondary radar exchanges messages with all the aircraft in its area collecting detailed information about flight number, destination, etc.

    To this end, MSSR 2000 I sends out interrogation signals according to the latest Mode S standard and collects the responses. In this way, the secondary radar in close cooperation with the primary radar provides a real-time overview of aircraft positions and additional aircraft data which results in a significant improvement in air surveillance and air traffic control.

    In the military field, MSSR 2000 I is used for automatic friend-or-foe identification (IFF), thus avoiding friendly fire, i.e. the erroneous engagement of friendly forces. Airbus Defence and Space has delivered IFF systems to several nations for ground and naval applications. Among others, MSSR 2000 I protects all German Navy ships as well as UK Royal Navy ships and the French Navy’s “Mistral” class command ships. In Germany, the company has established the air traffic control network of the German Luftwaffe covering an airspace of 1.700 x 1.500 km.

    In total, about 400 Airbus Defence and Space systems are in operation in around 30 nations, including the U.S. For civil air traffic control purposes it is in service in Austria, Portugal, and the Philippines.

    Airbus Defence and Space is a division of Airbus Group formed by combining the business activities of Cassidian, Astrium and Airbus Military. The new division is Europe’s number one defence and space enterprise, the second largest space business worldwide and among the top ten global defence enterprises. It employs some 40,000 employees generating revenues of approximately €14 billion per year

    http://www.defense-aerospace.com/article-view/release/156266/indonesia-af-orders-airbus-radars.html

  26.  

    Saya bantu sundul bung Jatayu…

    Mestinya ini tugas pemerintah, kalo gak salah bukannya sudah ada kementrian yang mengurusin perbatasan & daerah tertinggal? ada juga yang menggagas ‘gerakan Indonesia mengajar’ yang mengirim para sukarelawan untuk mengajar anak2 di daerah2 terpencil.
    Mengenai ide gerakan cinta masyarakat perbatasan saya setuju bung…memang kita selama ini kurang perhatian terhadap kawasan perbatasan, padahal banyak potensi yang bisa dikembangkan disitu sesuai karakteristik daerahnya masing-masing.

    Salah satu yang bisa lebih dioptimalkan menurut saya adalah program KKN (kuliah kerja nyata). KKN bisa diwajibkan sebagai mata kuliah yang harus diambil di universitas baik negeri maupun swasta, dan diadakan di kawasan-kawasan perbatasan. Ini sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat, sebelum mereka lulus kuliah & bekerja sesuai profesi jurusannya.

    Ada banyak universitas yang kita punya di setiap propinsi. Kalau disebarkan ke daerah2 masing2 di propinsinya saja, mahasiswa bisa menularkan ide2/pemikiran dan memberikan sumbangsih ke masyarakat setempat dimana dia ditugaskan. Tentu sebelumnya harus ada pembekalan khusus. Dengan demikian masyarakat bisa merasakan langsung peran mahasiswa dalam pembangunan daerahnya.

    Saya dulu sempet menjalani kkn di sebuah daerah yang bahkan belum ada listrik, bab harus di sungai karena di 1 dusun hanya 1 rumah yang punya wc. Bahkan temen saya di dusun sebelah lebih parah karena dusunnya agak jauh dari sungai, kalau mau bab harus gali lubang dulu di tanah, terus ntar ditutup lagi pake tanah (hehe kaya kucing deh). Ini daerah di jawa loh..gak jauh2 amat dari kota kecamatan, tapi lokasi memang di gunung.
    Karena belum ada wc, Kita bikin program pembangunan wc umum & percontohan, penerangan jalan umum, pembuatan ktp/kk dll. Dananya kita mintakan ke pemda setempat. Dan dananya juga turun dengan lancar, karena pemda setempat juga senang karena tugas mereka juga terbantu, Aparat setempat jarang menengok dusun2 tersebut karena ‘keterpencilannya’. Karena mau masuk ke desa itu saja harus jalan kaki naik turun gunung.
    Tapi itu kondisi dulu ya, gak tau sekarang.
    Pointnya adalah: manfaatkan potensi mahasiswa kita yang jumlahnya bejibun itu untuk pembangunan daerah setempat. Harusnya mahasiswa seperti tentara juga: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

    @bung Aitarak, saya rasa tni sudah punya mapping untuk potensi konflik perbatasan & juga deploy alutsista yang ada. Yang di jawa itu sering terkspos karena itu alutsista yang dipublish resmi. Mungkin saja ada alutsista lain yang dideploy di daerah2 terpencil karena memang ‘disembunyikan’..yah biarlah itu tetap jadi misteri karena memang bukan konsumsi publik… kalau melihat artikel bung PS/bung Nara/bung Satrio, sebenarnya tni sudah siap dengan segala skenario dimanapun di seluruh wilayah nkri. Sebaiknya kita positive thinking saja bung..

    piss ah 😀 …salam nkri!

  27.  

    30 besar lah

  28.  

    Salam kenal bung @aitarak..
    Bung apa sempat kembali / berkunjung ke Dili lagi. gimana khabar / sikon dili saat ini (terakhir)..

    saya juga dulu sempat di dili

 Leave a Reply