Pembangunan TNI AU Diarahkan Untuk Mencapai Air Supremacy

53
11
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., saat menyerahkan jabatan Kasau kepada Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., S.Sos., M.M., pada jumat 19 Januari 2018 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Jakarta, Jakrtagreater.com – Proyeksi pembangunan TNI AU diarahkan untuk dapat mencapai air supremacy dan air superiority. Sasaran yang ingin dicapai adalah kekuatan pemukul udara strategis untuk menghadapi dua trouble spots dalam bentuk komposit yang berisi pesawat-pesawat tempur multi-role dari generasi empat setengah.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., saat menyerahkan jabatan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) kepada Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., S.Sos., M.M., dalam suatu upacara militer pada jumat 19 Januari 2018 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Panglima TNI menambahkan bahwa pembangunan TNI Angkatan Udara juga diarahkan pada kemampuan mobilitas serta proyeksi kekuatan pada lingkup nasional, regional dan global. “Sistem pertahanan udara juga akan diintegrasikan dengan matra lainnya dalam suatu jaringan bertempur atau Network Centric Warfare (NCW).

Pada pembangunan kekuatan selanjutnya juga akan mengaplikasikan konsep berperang dengan Unmanned Combat Aerial Vehicles yang berbasis satelit,” ungkapnya. Selanjutnya Panglima TNI menyampaikan bahwa tantangan tugas TNI AU ke depan tidaklah semakin ringan, namun dengan kebersamaan seluruh prajurit TNI AU akan mampu melaksanakan tugas dengan baik dalam menegakkan kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa.

“Kita harus bertekad membangun tentara yang profesional, disiplin, militan dan rendah hati, melalui profesionalisme, disiplin dan militan, menjadikan TNI hebat dalam segala medan tugas,” ungkap Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa serah terima jabatan di lingkungan TNI dalam rangka upaya pembinaan organisasi, sedangkan dari sisi pembinaan personel dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kinerja sesuai dengan peran, tugas dan fungsi organisasi yang harus diembannya.

“Sertijab merupakan kebutuhan organisasi guna memelihara momentum, performance dan tingkat kesegaran organisasi dalam mengemban tugas pokoknya,” ucapnya. Di sisi lain, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengingatkan kembali kepada seluruh prajurit TNI bahwa memasuki tahun politik dan pesta demokrasi yang memberikan warna beragam dan bernuansa akan terjadinya konflik.

“Untuk itu, prajurit TNI AU harus memegang teguh netralitasnya dari tingkat atas sampai satuan paling bawah,” tegasnya. “Komitmen TNI memberikan perbantuan kepada Polri dalam pengamanan Pilkada serentak pada tahun 2018 dan Pemilu tahun 2019, senantiasa harus mengutamakan asas hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Panglima TNI mengakhiri sambutannya.

Menjawab pertanyaan wartawan terkait pengadaan pesawat pengganti F5 Tiger, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa sesuai dengan Renstra kedua tahun 2014-2019, TNI masih menunggu kedatangan pesawat pengganti F5 Tiger yang hampir satu setengah tahun sudah tidak diterbangkan lagi.

“Selain pesawat tempur, rencananya TNI juga akan menambah Pesawat Transport dan Angkut Ringan serta Helikopter untuk TNI Angkatan Udara,” ujarnya. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto juga menambahkan bahwa TNI AU akan menambah Radar Pertahanan Udara, dimana saat ini baru memiliki 20 Radar.

“Kedepan akan ditambah lagi sebanyak 12 Radar, sehingga total semuanya 32 Radar. Semuanya itu telah masuk dalam Renstra kedua tahun 2014-2019,” katanya. (Puspen TNI).

53 KOMENTAR

  1. Sasaran yang ingin dicapai adalah kekuatan pemukul udara strategis untuk menghadapi dua trouble spots dalam bentuk komposit yang berisi pesawat-pesawat tempur multi-role dari generasi empat setengah.

    ======================================================================

    pada kata ” kmpsit ” yang berisi dst ,,,,, tidak memakai tanda ( , ) kma, sehingga, menurut tata bahasa bahasa indnesia bisa diartikan pesawat pesawat tempur generasi 4,5 nantinya tidak hanya daam 1 jenis ( sukhi 35 ) saja, tetapi akan ada jenis yang lain,,,,,

    mohon maaf jika analisa saya salah ,,,,,,, jikapun ada jenis yang lain, kira kira apa ya yang akan diakuisisi mendampingi sukhoi 35 ,,??? apakah F-16 Viper ,,,,????

  2. Sebenernya untuk 11 unit Su-35 kita cuma bayar USD 170 juta aja lho. Nah, kurang murah apalagi nih? Ayo dong kalian yang becus kerjanya…. Tinggal teken aja pun banyak cengkunek

    Russia however offered to be paid in coffee, palm oil and other raw resources for half of the contract’s value ($570 million of the $1.14 billion), plus $400 million of the contract will included to an offset agreement program.

    Offset programme means that the seller (Russia) will reinvest the money included in the agreement ($400 million here) in Indonesia through a lot of projects such as ToT (Transfer of Technology) and support the local aerospace company (PT. DI) in doing the MRO (Maintenance, Repair and Operation) for the aircraft which includes helping building the infrastructure for it.

    That means effectively, Indonesia only have to pay $170 million in cash to buy 11 Su-35.

  3. maaf ikut nimbrung neh … bisa bener bisa salah

    beli pespur impor setara 1,14 milyar dollar artinya total payment ya tetep yg hrs dibayar Indonesia sejumlah 1,14 milyar dollar, tdk kurang tdk lebih, dg perincian sbb :

    1. Bayar Cash di depan 170 juta dollar ke Rusia.
    2. Kirim ke Russia palm oil senilai 570 juta dollar.
    (Pemerintah bayar cash ke pabrik palm oil domestic 570 juta dollar).
    3. PT. DI (misal nya saja) dpt job offset bikin part pswt senilai 400jt dollar,

    *** poin 3
    yg bayar ke DI 400 jt dollar nya ya tetep Pemerintah Indonesia, DI disuruh bikin part utk dikirim ke Rusia, perhitungan yg beginian luar biasa rumit dan makan waktu lama, hitungannya rinci njlimet meet met … plus jenis pekerjaan & pilihan product partnya.
    tapi DI akan dpt pengalaman berharga kolaborasi dg produsen pespur Russia + dapet ongkos kerja + dapet profit, anggap juga sekarang sbg realisasi kerjasama produksi pespur yg pernah tertunda thn 1960 an di era alm Nurtanio.