Pembelot Minta Senjata dari AS Untuk Melawan Maduro – Media

JakartaGreater.com – Mantan tentara yang membelot meminta senjata dari AS, Kolombia, Brazil, Peru dan negara-negara lain, serta mengklaim bahwa militer di Venezuela siap untuk nenmberontak habis-habisan, yang pada akhirnya masih tetap diperdebatkan.

Seperti dilansir dari laman CNN.com pada hari Selasa, 29 Januari 2019, para pembelot dari Angkatan Darat Venezuela yang telah melarikan diri sekarang berpaling ke pemerintah AS, meminta persenjataan untuk digunakan melawan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Dua mantan tentara, Carlos Guillen Martinez dan Josue Hidalgo Azuaje, yang keduanya kini tinggal di luar perbatasan Venezuela, mengatakan kepada CNN bahwa mereka ingin AS agar mempersenjatai pembelot di dalam negeri untuk melawan Maduro, mendukung Presiden Sementara Juan Juanido yang memproklamirkan sendiri.

“Sebagai tentara Venezuela, kami meminta AS untuk mendukung kami, dalam hal logistik, komunikasi dan senjata, sehingga kami dapat mewujudkan kebebasan Venezuela”, menurut Martinez kepada CNN. “Kami tidak mengatakan bahwa kami hanya membutuhkan dukungan AS, tetapi juga Brasil, Kolombia, Peru, semua negara saudara yang menentang kediktatoran ini”, tambah Azuaje.

AS telah mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela, dan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton meminta militer Venezuela untuk “menerima transfer kekuasaan yang damai, demokratis dan konstitusional”, lapor AFP pada hari Selasa.

Masih belum jelas bagaimana cara Washington “mempersenjatai pemberontak” dan minta peralihan kekuasaan dilakukan secara “damai dan konstitusional”, haruskah AS memilih untuk menjawab seruan pembelot yang diasingkan?.

Pendukung Guaido yang tinggal diluar negeri mengatakan bahwa militer Venezuela sebagian besar mendukung Guaido, menambahkan bahwa tentara menyatu dengan rakyat dan bahwa militer tak boleh ikut campur dalam protes dan bentrokan di Caracas.

 

Namun, petinggi militer di Venezuela tetap loyal kepada Maduro, CNN melaporkan, dengan pernyataan kesetiaan mereka yang ditayangkan di TV nasional sepanjang hari. Baru-baru ini, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez menyatakan dia siap mati untuk pemerintahan saat ini, tidak lama setelah pengakuan Guaido oleh AS, Lopez mencuit bahwa tentara tidak akan menerima “presiden yang dipaksakan”.

“Presiden [AS] telah menjelaskan tentang masalah ini bahwa semua opsi ada di atas meja”, kata Bolton pada hari Senin mengenai intervensi militer AS disana.

Namun, bahkan para pembelot mengatakan bahwa mereka tidak ingin ini terjadi.

“Kami tidak ingin pemerintah asing menyerbu negara kami”, kata Azuaje kepada CNN. “Jika kita membutuhkan serangan, itu harus oleh tentara Venezuela yang benar-benar ingin membebaskan Venezuela”.

Pada hari Senin, AS memberlakukan sanksi ekonomi terhadap perusahaan minyak PDVSA milik negara Venezuela, untuk mencegah Maduro dari menggunakan pendapatan minyak untuk membiayai militer.

“Jalan menuju bantuan sanksi untuk PDVSA adalah melalui transfer kontrol yang cepat kepada presiden sementara atau pemerintahan terpilih yang ada secara demokratis”, kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Senin.

Maduro mengutuk sanksi dan menuduh AS memimpin “perang ekonomi”, menurut Daily Express. Dia juga berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump, dan mengatakan bahwa setiap kekerasan yang terjadi di Venezuela akan menjadi “tanggung jawab Trump”.

“Trump, Anda bertanggung jawab atas segala kekerasan yang mungkin terjadi di Venezuela, itu adalah tanggung jawab Anda. Darah yang mungkin tertumpah di Venezuela ada ditangan Anda, Presiden Donald Trump”, kata Maduro Selasa.

Pada hari Minggu, Bolton mengancam bahwa kekerasan atau intimidasi apa pun terhadap Guaido akan disambut dengan “respons signifikan”.

Tinggalkan komentar