Oct 222013
 

F16C Block 25 s/n 84-1281 saat masih berada di Skuadron 62nd FS [Frank Ertl collection]

F16C Block 25 s/n 84-1281 saat masih berada di Skuadron 62nd FS [Frank Ertl collection]


Jajaran TNI AU segera menambah 24 pesawat tempur jenis F-16 yang menjadi bagian dari upaya melengkapi alusista (alat utama sistem persenjataan) di skadron Sumatera, serta dalam kiat meningkatkan kekuatan pengamanan negara di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

“Penambahan 24 pesawat itu, bukan pada tahun ini, tapi tahun 2014″, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, usai meresmikan Gedong Pusaka Padepokan Sangga Langit di Wonogiri, Jawa Tengah, 21/10/2013.

Penambahan 24 pesawat F-I6 itu, akan melengkapi alusista pertahanan udara Indonesia, disamping penambahan pesawat tempur Sukhoi, Hawk dan pesawat angkut pasukan jenis Hercules. Penambahan pesawat bukan untuk tujuan ekspansi, tapi untuk meningkatkan pertahanan kedaulatan negara Indonesia, ujar Menteri Pertahanan.

Penambahan pesawat tempur tersebut merupakan bagian dari program penambahan dan modernisasi alusista Indonesia, yang dalam program lima tahun terakhir dianggarkan dana Rp 150 triliun. Anggaran itu digunakan untuk penambahan alusista di jajaran TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU. Saat ini, kekuatan militer Indonesia berada di rangking 15 sampai 19 besar di tingkat dunia. ”Di kawasan Asia Pasific, Indonesia menempati di level menengah, sebab di sana ada kekuatan tinggi yakni Amerika dan Rusia,” ujar Purnomo Yusgiantoro.

F-16C block 32 yang akan dihibahkan ke Indonesia saat masih bergabung dengan Skuadron 113th TFS parkir di pangkalannya Terre Haute IAP, Oktober 1991 [Photo by Gary Chambers]

F-16C block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia saat masih bergabung dengan Skuadron 113th TFS parkir di pangkalannya Terre Haute IAP, Oktober 1991 [Photo by Gary Chambers]

Menyinggung soal wajib militer, Menhan, menandaskan, tidak ada wajib militer di Indonesia. Yang ada, adalah tentara cadangan. Rencananya, Indonesia akan merekrut sekitar 1.000 sampai 2.000 calon tentara cadangan. Mereka akan dilatih kemiliteran, dan menandatangani kontrak. Penyiapan tentara cadangan ini, diperlukan untuk tugas-tugas saat negara membutuhkan tenaga mereka dalam penanganan bencana alam bukan perang. Inti kekuatan perang, tandas Menhan, yakni untuk mempertahankan kedaulatan negara, tetap berada di pundak TNI.

Upacara peresmian Gedong Pusaka Padepokan Songgo Langit, ditandai penandatanganan prasasti oleh Menteri Pertahan, dan diteruskan dengan pengguntingan untaian bunga melati yang dipadu dengan daun rontal, oleh Raja Surakarta, Ingkang Sinuhun Susuhunan Paku Buwono (PB) Ke 13 Hangabei.(suaramerdeka.com).

  49 Responses to “Pembentukan Skadron F-16 di Sumatera”

  1. Mantab, sayangnya tidak beli baru, andai saja membeli F16 block 60 pasti lebih mantab… Jayalah Indonesiaku..

    • Kan pemerintah sedang mengejar kuantitas dulu plus berhitung dengan anggaran, konsekuensi kualitas jadi nomor dua. Kalaupun anggarannya ada mungkin pespur yg diambil dari negara Red Bear, secara pemerintah pernah galau krn diembargo ma yg punya F-16. Dus panglima kita yg skrang juga rada-rada lebih suka angin dari negara pecahan USSR itu, nostalgila zaman presiden pertama kali.
      Kilo setrong…hahay…

  2. bung @Diego, saya baca upgrade hibah F16 ini akan jadi setara 52, tapi di sumber lain setara blok 32, yang bener yang mana ya?

  3. Yaahhh, yang datang masih blok 32 (refurbhis lagi). Padahal yang saya harapkan walaupun bekas juga tidak papa yang penting blok 52 ke atas. 🙂

  4. Dah mantaphlah itu coiy…
    Gas Teruz…

  5. cobalah minta bantu ama om Ruzky, minta jatah Su27 refurbish 1 skuadron juga boleh

  6. Menurut berita di angkasa,

    Program upgrade juga membuat usia pemakaian bertambah lebih dari 4.000 jam atau jika disepadankan dengan masa pemakaian rata-rata TNI AU kira-kira bisa mencapai 20 tahun. Sedemikian kompleksnya upgrade, sampai-sampai F-16 C/D Indonesia ini nantinya akan mendekati kemampuan dan kecanggihan F-16 C/D block 52 – tipe kedua terakhir yang dibuat Lockheed Martin. Perbedaannya praktis tinggal pada kapasitas angkut senjata dan tidak adanya conformal tank saja. “Itu sebab, kenapa F-16 hasil upgrade ini masuk kategori F-16 block 32 plus, karena sudah lebih canggih dari block 32 itu sendiri,” ujar Kol. Pnb. Agung Sasongkojati, mantan penerbang F-16 TNI AU. Ia menambahkan penempatan pesawat-pesawat ini dalam bentuk skadron atau flight-flight di lokasi-lokasi kunci di wilayah RI akan bisa mengatasi masalah jarak dan waktu operasi. “Dengan senjata modern dan daya jangkau operasi lebih dari 700 km, pesawat-pesawat ini sudah cukup memadai untuk menghadang penerbangan gelap atau menghantam sasaran di siang maupun malam, di semua tempat baik di dalam maupun di luar wilayah kedaulatan RI,” tegasnya.

    • Ibarat beli 30juta dollars/biji kualitas minimal block 32 ++ rasa block 52, gitu kira kira he he he he
      Tinggal tni au menambah armada tanker udara dan oengadaan pesawat aew&c serta pengadaan missile f16 setara dgn singapura secara kualitas.

  7. F 16 cocok buat patroli, kalau ketemu musuh yg seimbang langsung duel tapi kalau ketemu musuh yg derajatnya lebih tinggi maka F 16 nya langsung kabur, gantian sukhoi yg duel…
    pilihan cerdas untuk kondisi labil ekonomi, salut TNI

  8. Btw klo ketemu ornetnya malon sama singapure gimana yach ? semoga pilot gak grogi apalagi ngeperr he he hee. kejar lah daku dikau ku lock .

    Klo menurut pendapatku pesawat gak usah banyak banyak tp yang air superiority.. jd klo ketemu lawan di atas bisa ngejar , ngelock dan brani gertak ..

    • klo itu tergantung kemampuan pilot lagi bro, pernah kok hawk kita berhasil beradu dgn qornet singapura. tinggal jeber aja jadi kepingan itu qornet raaf, itu kejadian thn 1999 di ntt. pada latihan elang ausindo 1thn 93 kita malah pake f5e tiger,dog fight dgn qornet raaf, yg aturan f5 jadi sasaran empuk malah bisa bermanuver untuk bertahan dan survive dri ancaman. apalagi malaysia dan singapura, ini lah yg jdi pr besar melahirkan fighter2 udara yg handal dan profesional tinggi.ditambah pengadaan pespur2 yg canggih. Bung diego dan yg lain kalau salah mohon di koreksi.

  9. btw bentar lagi tmpt domisili bakalan berisik neh dgn f16 yg 2014 akan masuk skuadron lanud Roesmin Nurjadin,skrg aja ini f16 singapura breng f16 iswahyudi bikin susah tidur gara2 pesawat ini mekak2 di riau dari pagi sampe sore.ampun dah ampun

  10. Utk pespur ringan-menengah lebih suka rafale atau eurofighter daripada f16 block 52 sekalipun karena bisa lebih cepat meninggalkan landasan utk menghadang penyusup dibanding f16 atau pespur apapun yg dimiliki TNI AU

  11. kunjungan pak sby ke Inggris bukanya dapat THYpoon ya ?

  12. Bersama T-50 Glden Eagle,mudah2an F-16 hanya jadi Pesawat latih z (lapis ke-2), bagi Para Pilot baru sebelum Mengawaki Pespur utama nanti, Jika skema nya seperti ini, kita sangat berharap Jumlah Pespur Utama cukup Signifikan secara Kuantitas dam Kualitas nantinya.

  13. F16 klo masih dibawah blok 52 adalah pesawat jadul bin usang itu sebenarnya yg terjadi utk miiter saat ini oleh karena itu USA mulai pensiunkan F16 karena memang tidak mengakomodir keperluan militernya, tapi klo untuk RI sudah cukup untuk mengisi kekosongan sambil melompat ke pesawat generasi 4++

    Pilot Sukhoi dulu jebolan F16 meski pun itu blok 32 yg penting pilotya terlatih, radar dan pensilnya juga seharusnya sudah bisa meladenin perang BVR supaya bisa mengatasi pesawat” diatas kemampuan F16 RI.

    F5 Tiger RI memang didesign untuk intercept jadi meskipun musuhnya F16 ataupun F18 akan dikejar sedekat mungkin…dijulukin

  14. Sesuai dengan judulnya MEF-1, maka tugasnya adalah mengisi dulu tempat-tempat yang kosong yang dulu terbengkalai, makanya DEPHAN-TNI berusaha “Secepat-cepatnya” mengisi kekosongan tersebut, dengan uang yang cekak saya kira DEPHAN-TNI berhasil.

    Kemudian menuju MEF-2, nah inilah TNI baru akan bertaring tajam, tergantung pemimpin baru nanti

    • setuju bung/bro @melecteh, yg penting jgn barang bekas lagi .. hahahahaha…mau itu barang NATO/USA/RUSIA, beli semampu nya sesuai anggaran yg penting “BARU” salam

      • setuju bro Arta .. smogadi MEF-2 SU 35 dan PAK FA bisa masuk.. mengingat IFX semakin gak jelas dan merugikan buat indonesia , di sinyalir kolea membatalkan F 15 SE nya dan menghendaki pesawat siluman bisa jadi F 35 A.. tentu mereka butuh dana banyak .. impact nya IFX jd semakin gak jelas .. lebih baik di alihkan ke DI saja.( di buat JF baru : Airbus militery -PT DI- RUSIA )

  15. Kita harus meniru china dengan cyber army nya. CUri teknologi diam-diam.
    Kalo nunggu ote-ote, mereka (Cina, Rusia, AS, Korea, Eropa) pelit2…!!
    AMpe kiamat engga akan dikasih mah.
    Paling cuman disuruh bikin korsi, bingkai jendela, engsel pintu, pintu keluar, sama ban nya doank…

  16. Jd inget betapa kuat n handal nya f16 n pilot kita dibawean,malah saking takutnya hornet as sampe nurunin 5 pesawat buat nahan 2 f16 kita,walaupun kita akhir nya dlock bukan karna kita kalah,tp krna f16 kita ditugas kn cuman buat identifikasi aj.lo perang beneran y sudah hancur 2 hornet yg pertama

  17. biar pun burung bekas tidak menutup kemungkinan untuk bisa jadi elang nusantara,seperti yang bung “melektech ” katakan,mef 1 menutupi black hole di angkasa,dan mef slanjutnya baru bergigi dan bertaring, seperti yg pak moeld katakan ,apalagi setelah ausie,singo mmengakuisisi f-35,jd tidak mmenutup kemungkinan 1 / 2 skuadron dr sukro famili, akan dtg di mmef ke-2..

    Tapi itu semua tergantung para petinggi kita kelak,apa akan jadi ksatria bergitar / ksatria piningit,,apa pemimpin kita kelak bisa berjiwa pemimpin / cuma sekelas janji palsu,bahkan cuma omong kosong,mimpi itu perlu supaya kita bisa maju,semoga petinggi kita lebih mengerti rakyat,dan bisa eberi kenyamanan walau mahal,karena segala sesuatunya dr rakyat untuk rakyat
    bukan begitu tho sodara semmua?

    Sukur” pemimpin masa depan kita bisa menasionalisasikan freeport dan etc lah,,supaya dgn bgitu bisa menambah alutsista dgn mudah,krn kekayaan NkRI untuk rakyat NKrI,

    salam 1jiwa NkrI

  18. seru nih pembahasan tentang F16 hibah dari USA..
    ini numpang share tambahan, tentang pro kontra hibah pesawat F16 nya..semoga bermamfaat, bung @diego ijin ya

    Varian F-16

    Seperti mesin perang lainnya, F-16 terdiri dari berbagai varian, dengan kemampuan dan konfigurasi mesin, avionik, hingga persenjataan yang berbeda, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Dimulai dari seri A/B dengan versi block 1/15/15OCU/MLU, kemudian seri C/D dengan versi Block 25/30/32/40/50/52/50D/52+, serta yang termutakhir F-16 E/F Block 60.

    F-16 A/B Block 15 OCU milik TNI AU

    Dari seluruh varian F-16, TNI AU kini memiliki sepuluh unit F-16 A/B Block 15 OCU. Pada saat awal kedatangannya tahun 1989 memang perangkat persenjataannya belum lengkap di datangkan, namun pada perkembangan selanjutnya, F-16 milik TNI AU turut dilengkapi dengan Misil Sidewinder P4 All aspect, dan juga AGM-64D Maverick. Selain itu verisi Block 15 OCU juga dilengkapi dengan HUD yang lebih besar, serta memiliki perangkat radar altimeter sebagai standar, yang memungkinkan F-16 ini dapat melakukan navigasi terbang rendah mengikuti kontur bumi. Dengan demikian F-16 yang TNI AU miliki memiliki kemampuan untuk bertempur dalam cuaca dan menyerang dengan presisi yang tinggi. Oleh karena itu dalam operasi latihan militer F-16 kerap dijadikan penyerang penutup untuk menghabisi sasaran yang tersisa. Selain handal dalam operasi latihan, dalam kondisi tempur F-16 tetap dapat menunjukan taringnya. Bahkan kini F-16 masih diadikan kuda beban untuk melaksanakan berbagai tugas guna mendukung penegakan kedaulatan NKRI, contohnya adalah operasi patroli di wilayah Ambalat, hingga berbagai patroli di atas pulau-pulau terluar. Kemampuan F-16 untuk melakukan tugas-tugasnya juga di dukung oleh kemampuannya untuk dapat terbang jarak jauh, bahkan apabila membawa beban persenjataan yang sangat berat.

    Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut polemik sekitar ini.

    DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.

    Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.(tempat penyimpanan)parkir

    Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.

    Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 blok 15,25 yang terdapat di sana.

    Dalam penjelasan yang disampaikan menteri pertahanan kepada komisi 1, lebih lanjut ditengarai bahwa pemerintah Amerika ternyata tidak memberikan hibah “begitu saja”. There no ain’t such thing as a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Mereka menawarkan konsep hibah plus upgrade.

    Terjadi Dispute. Proposal yang disampaikan menteri pertahanan, diperlukan biaya sekitar us$ 450 juta – 600 juta untuk proses hibah (termasuk upgrade 24 pesawat) tersebut. Pada kesempatan yang berbeda, terjadi penjelasan Panglima TNI dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I, ada dua catatan terhadap proses hibah dan upgrade ini. Pertama, pesawat setelah diambil dari Arizona, kemudian akan diupgrade ke block 32. Hasil upgrade bisa selesai dan dikirim ke Indonesia, paling cepat pada tahun 2014 sebanyak 4 (empat) unit, setelah itu disusul dengan pengiriman lainnya. Kedua, biaya hibah dan upgrade 450 juta US dollar harus dibayar pemerintah Indonesia di awal, TUNAI ( perlu di ingat ya ..Tunai di muka) ( moga2 berharap ga di embargo, tau tau barang ga di kirim) uang anguss

    Atas persyaratan tersebut, maka terjadilah perdebatan panjang di ruang rapat Komisi I antara anggota Komisi I DPR RI dengan Pihak Kemenhan.

    Beberapa pemikiran yang dimunculkan oleh anggota Komisi I antara lain:

    Pertama; kalau waktu delivery nya lama, kenapa harus beli bekas. Kalau beli baru, kita butuh waktu sekitar 36 bulan (sekitar 3 tahun) untuk mendapatkan 6 unit saja dengan daya tahan atau pemakaian jauh lebih lama (up to 8000jam pemakaian). Resiko membeli bekas, dari segi teknologi sudah pasti ketinggalan, walau memang harus diakui dari segi jumlah pesawat lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.

    Kedua; bila membeli bekas dan kemudian akan melakukan upgrade, maka Komisi I secara bulat mempunyai pemikiran, “bagaimana jika 24 unit pesawat F-16 tersebut diupgrade ke teknologi terbaru saja?”. Berdasarkan penjelasan Kemhan dan TNI AU, block 25 dan bloc 52 memiliki 2 perbedaan mendasar yaitu Perbedaan Sistem Avionik (block 32 menggunakan teknologi Commercial Fire Control Computer – CFCC, block 52 menggunakan teknologi Modular Mission Computer – MMC), Perbedaan Engine (engine block 52 berukuran lebih besar), dan Perbedaan Airframe (mengakomodasi mesin block 52 yang lebih besar, dan penambahan ruang angkut bahan bakar). Pilihannya adalah 24 F-16 block 25 tersebut diganti sistem avionik nya (termasuk mengganti cockpit) menjadi sistem avionic block 52 (sistem persenjataan menyesuaikan), sementara airframe dan engine tetap.

    Sisi Teknologi

    Konsep Hybrid (perkawinan), yaitu F-16 block 25, dengan kekuatan mesin tetap block 25, tapi avionik serta senjatanya di upgrade ke block 52. Keunggulan terdapat di avionic block 52, yang lebih canggih dari avionic block 25 dan block 32. Catatan : Proposal Kemhan mengusulkan agar upgrade avionic dilakukan menjadi block 32.

    Pertimbangan yang mengemuka : karena Indonesia negara kepulauan, maka tidak membutuhkan mesin dengan jangkauannya lebih jauh. Untuk menjangkau Malaysia, misalnya, bisa dari kepulauan Riau, atau Pontianak untuk menjangkau wilayah Malaysia yang dekat Kalimantan. Begitu juga, untuk menjangkau Timor Leste bisa dari Kupang.
    Dasar pemikiran dari Komisi I dengan konsep Hybryd itu terkait dengan “efek getar” (deterrent effect) dan daya tangkal. Singapura memiliki F-16 block 52 sejak tahun 1998 yang lalu.. Jadi kalau Indonesia di tahun 2014 memiliki 24 unit F-16 yang diupgrade “hanya” menjadi block 32, maka dinilai tidak mempunyai efek getar di kawasan.

    Komisi 1 mempersilahkan Kemhan untuk mempersiapkan beberapa opsi, dilengkapi perkiraan biaya dan waktu, untuk menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan. Proposal Kemhan untuk meng upgrade menjadi block 32, dan butuh waktu 3 tahun, dengan ongkos us$450 juta, sementara dari segi efek getarnya juga tidak terasa, maka menurut Komisi I, adalah keputusan yang “nanggung”, perbuatan setengah-setengah. Adalah lebih baik sekalian saja beli pesawat tempur baru sebanyak 6 unit blok 52. Selain efek getarnya lebih terasa, umur pemakaian juga akan lebih lama, yaitu sekitar 30 tahun, dibanding pesawat bekas yang hanya berumur 12 tahun.

    Sisi Pembiayaan

    Polemik kedua berkaitan dengan sisi pembiayaan. Skema pembayaran FMS (Foreign Military Sale) yang ditawarkan oleh pemerintah, sangat menarik, yaitu G to G (negara dibayar oleh Negara). Namun muncul pemikiran : Hibah, kok Mbayar?

    Muncul pemikiran : (mungkin) pesawat bekas nya hibah, tetapi di “bundled” dengan membayar utk pelaksanaan program Falcon Star dan Upgrade.

    Skema pembayaran FMS, ada kelemahannya : Pemerintah Amerika minta dibayar tunai 70% dimuka. Artinya, pesawat dikirim 2014 tapi pemerintah harus bayar lebih dulu, sekarang juga. Uang sebesar itu (70% x us$450 juta) tertahan diam di kas pemerintah Amerika. Sungguh disayangkan, semestinya dana sebesar itu bisa kita manfaatkan untuk membeli keperluan TNI lainnya seperti pembangunan pesawat patroli, kapal patroli, tank tempur, dan lain-lain. Ada masukan agar melalui Pinjaman Dalam Negeri oleh Bank Pemerintah, sebagai contoh melalui Bank Mandiri cabang New York, Bank Mandiri atas nama Pemerintah membayar penuh ke pemerintah Amerika, sementara Kemhan membayar ke Bank Mandiri secara installment per tahun (dicicil).

    Komisi I sekarang ingin berbuat lebih baik dalam masa pengabdiannya. Jangan sampai hanya menjadi “tukang stempel” pemerintah. Tapi harus benar-benar menjadi mitra pemerintah dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karenanya Komisi I membahas setiap persoalan, secara detil, teliti, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara secara konsisten.

    Sisi Pengerjaan Upgrade

    Komisi 1 juga menyampaikan pemikiran : untuk memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri. Ini bagian dari komitmen Komisi 1 untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista.

    Memahami pemikiran Komisi 1, anak bangsa Indonesia akan mempunyai kesempatan untuk melakukan bongkar-pasang pesawat-pesawat F-16 tersebut. Meskipun mengerjakan barang bekas, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh anak bangsa tersebut merupakan aset yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa ke depan. Jelas itu jauh lebih berguna bila dibandingkan : beli barang bekas, diupgrade oleh produsen langsung, duit terbang ke negara lain, sementara bangsa sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk pintar.

    Jadi selain syarat teknologi dan pembiayaan, Komisi I juga memberikan penekanan pada aspek pengerjaan up-grade tersebut.

    Dalam dua kali pertemuan, yaitu Senin (19/09) dan Rabu (21/9) antara pihak Pemerintah dan DPR, kesepakatan belum dicapai. Pihak pemerintah masih akan mengkaji keinginan Komisi I, dan Komisi I juga belum bisa menyetujui kemauan pemerintah. Pihak pemerintah yang hadir dalam pertemuan antara lain Menhan, Wamenhan, Sekjenhan, Panglima TNI, Asrenum (Asisten Perencanaan Umum) didamping oleh Kasau, Wakasau, dan jajaran Angkatan Udara.

    • Bung Cinta Tanah air, trims untuk ulasan ‘insider’-nya yang sangat komprehensif, semoga info2 pencerahan yang lain menyusul 🙂

      Tentang uang 70% x USD 450 mn. yang tertahan di kas pemerintah AS, sebetulnya kan sama saja jika uang itu berasal dari pemerintah RI atau Bank Mandiri (karena kurang lebih satu ‘kantong’). Karena yang dibayarkan uang Pemerintah, maka untuk pembelian alutsista2 lain ditalangi oleh Bank Mandiri kemudian dicicil oleh Kemhan.

      Atau memang ada bedanya?

    • Oya, two thumbs up untuk memperjuangkan agar pengerjaan upgrade dilakukan di tanah air !!

  19. Info sumber dari FLIGHT Int : “The upgrade involves 24 aircraft and 28 Pratt & Whitney F100-PW-200 or F100-PW-220E engines. The aircraft and engines will be categorised as “excess defence articles”. Also included are six additional F-16s (four Block 25s and two Block 15s) for use as spares.
    The upgrades will significantly enhance the aircrafts’ capabilities. The package includes Raytheon ALR-69 radar warning receivers, Terma ALQ-213 electronic warfare management systems, and Lockheed Martin AN/AAQ-33 SNIPER and Northrop Grumman AN/AAQ-28 targeting systems.
    Other upgrades apply to aircraft radios, data links, countermeasures, test equipment, spares and technical documents.”
    Dapat ditebak bahwa upgrade dioptimasi untuk tactical strike. Ada berita bahwa kita telah membeli rudal ASM Maverick.
    Bagaimana dengan air combat? Selain rudal Sidewinder untuk WVR, suatu pertanyaan apakah upgrade sudah bisa menembakan rudal BVR AIM 120, dan kalo bisa apakah kita diperbolehkan AS utk beli.
    Kesimpulannya upgrade ini hanya cocok untuk tactical strike dan mempersiapkan pilot kita untuk maju ke Flanker.

  20. Menjadi tentara cadangan merupakan wujud cinta tanah air. Andai di butuhkan aku siap menjadi tentara cadangan demi bangsa dan negara 🙂

  21. saya kira,,kita gag perlu mempermasalahkan F16 blok 25 refurbish blok 32++… toh statement Istana sudah jelas,,Indonesia membeli alutsista demi menjaga ke seimbangan kawasan. kalo indonesia membeli alutsista gahar bin dahsyat,,artinya itu untuk menjaga ke seimbangan benua…heheheh…so,,jika tetangga kiri kanan depan belakang mo beli alutsista kaya apa pun,,Indonesia pasti akan mengimbanginya juga walau bertahap… #semoga gag ketinggalan jauh ya Pak Moel..hehehhe… maaf kl salah koment…

  22. F16 pesawat legenda yg murah….maka nya f16 jd pesawat tempur terlaris didunia,…bahkan sampe sekarang usa msh ngegunauin f16…..mski skarang ada f22,35,15 se,18 sh….tp kalo diliat dri sejarah dunia pespur cma f16 yg jm terbang n pling banyak kesuksesan misi nya

  23. Dg harapan pesawat tempur Malay tdk bisa langsung menyerang pusat, krn pesawat F-16 di tempatkan Polonia medan dan kalau memaksa malay akan terjepit dg F-16 polonia medan baru sukoi-27 akan memberikan bantuan langsung menyerang bandara militer malay. Sekarang malay tdk bisa napas, karena ada ancaman dr alutsista dr negara AS(F-16) hati2 pak cik………………………………………….

  24. Singapura sudah bereaksi terhadap rencana squadron baru F16 di Sumatra. Aksinya senilai US$2.43 billion. Hibah F16 blok 25 Vs upgrade 60 unit F16 blok 52 senilai 2.4 miyar USD 🙄

    The Government of Singapore has requested an upgrade of 60 F-16C/D/D+ aircraft. The upgrades will address reliability, supportability, and combat effectiveness concerns associated with its aging F-16 fleet. The items being procured in this proposed sale include:

    70 Active Electronically Scanned Array Radars (AESA)
    70 LN-260 Embedded Global Positioning System/Inertial Navigation Systems (GPS/INS)
    70 Joint Helmet Mounted Cueing Systems (JHMCS)
    70 APX-125 Advanced Identification Friend or Foe (IFF) Combined Interrogator Transponders
    3 AIM-9X Block II Captive Air Training Missiles
    3 TGM-65G Maverick Missiles for testing and integration
    4 GBU-50 Guided Bomb Units (GBU) for testing and integration
    5 GBU-38 Joint Direct Attack Munitions for testing and integration
    3 CBU-105 (D-4)/B Sensor Fused Weapons for testing and integration
    1 AIS Interface Test Adapters for software updates
    1 Classified Computer Program Identification Numbers (CPINs)
    4 GBU-49 Enhanced Paveways for testing and integration
    2 DSU-38 Laser Seekers for testing and integration
    6 GBU-12 Paveway II, Guidance Control Units

    Also included are Modular Mission Computers, a software maintenance facility, cockpit multifunction displays, radios, secure communications, video recorders; a Joint Mission Planning System (JMPS); maintenance, repair and return, aircraft and ground support equipment, spare and repair parts, tool and test equipment; engine support equipment, publications and technical documentation; aerial refueling support, aircraft ferry services, flight test; personnel training and training equipment, site surveys, construction, U.S. Government and contractor engineering, technical, and logistics support services, and other related elements of logistics and program support.

 Leave a Reply