Sep 132013
 
Pasukan Elit TNI

Pasukan Elit TNI

Kopassus mengajukan pembentukan unit anti teror TNI, untuk mengantisipasi meningkatnya intensitas aksi teror. “Unit anti teror TNI sudah diajukan. Keberadaanya tinggal menunggu keputusan dari Panglima TNI dan DPR RI”, ujar Danjen Kopassus, Mayjen TNI, Agus Sutomo, usai latihan bersama penanggulangan Terorisme yang diikuti 18 negara anggota ADMM plus (ASEAN Defence Ministers Meeting) di Sentul, Bogor, Jumat 13 September 2013.

Agus menjelaskan, pembentukan unit ini gagasan dari seniornya dan telah digodok sejak tahun 2010. Gagasan ini muncul dari peningkatan aksi teror yang terus meningkat hingga saat ini. Kopassus menganggap perlunya unit khusus yang spesifik sesuai kekuatan matra.

“Dalam unit ini, Sat 81 Gultor – Kopasus ,akan bergabung dengan Denjaka dari Marinir serta Den Bravo dari Paskas TNI AU. Ini akan menjadi kekuatan luar biasa melawan teroris,” ungkapnya.

Pembentukan unit khusus ini bukan sebuah organisasi besar. Unit ini kecil, namun saat diperlukan akan menjadi besar karena pasukan khusus dari ketiga matra Darat, Laut dan Udara bergabung.  “Bila opersi selesai semua unit akan kembali ke kesatuan masing masing,” jelasnya.

Sejak 2010 semua pasukan khusus terus memperkuat kemampuan. Mereka latihan anti teror gabungan hampir tiap tahun selama tiga tahun terakhir. “Sudah saatnya semua disatukan dalam satu unit khusus anti teror,” kata Agus.

Unit ini sebagai jawaban dari keterbatasan Polri dalam menangani berbagai aksi teror yang intensitasnya terus meningkat. Pasukan khusus anti teror TNI dilibatkan bila Polri meminta bantuan. Pasukan TNI ini juga kerap beraksi saat wilayah teroris lintas negara. Opersi terakhir adalah pembebasan sandara kapal Sinar Kudus di perairan Somalia.

“Kita butuh payung hukum unutuk pembentukan unit anti teror TNI. “Kita tunggu keputusan Panglima TNI dan DPR RI.” tegasnya.

Sat Gultor 81 memecahkan kaca dalam latihan di Gedung DPR RI, Jakarta

Sat Gultor 81 memecahkan kaca dalam latihan di Gedung DPR RI, Jakarta

Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Meris Wiryadi, menegaskan Angkatan Darat akan meningkatkan kembali fungsi pengawasan wilayah hingga ke pelosok. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan penyebaran paham radikal ke desa-desa.

“Dulu, jangan kan teroris di desa, jarum jatuh dijerami saja kami bisa tahu. Pengawasan teritori akan ditingkatkan setelah BNPT meminta kepada kami,” kata Meris di Jakarta.

Meris menjelaskan, fungsi pengawasan yang sifatnya kontra teror hingga ke tingkat desa sudah lama ditinggalkan. “Itu setelah muncul undang undang dimana fungsi TNI untuk pengawasan teritori dan deradikalisasi dibatasi,” katanya. Semenjak itu, TNI AD dari pusat hingga Babinsa hanya menjalankan fungsi penjagaan teritorial sesuai kebutuhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, keterlibatan TNI dalam pengawasan ajaran radikalisme cenderung dilupakan. “Ya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali,” ucapnya. (viva.co.id)

  10 Responses to “Pembentukan Unit Anti Teror TNI”

  1. Mantap, dengan masuknya TNI, selain memberikan bantuan pd POLRI, juga menjadi penyeimbang Densus 88 dan BNPT yang selama ini banyak mendapat kritikan. Akan lebih sip bila tim ini tidak hanya harus menunggu permintaan, tapi memang dilibatkan secara aktif.

  2. I hep tu mai main, I hep tu mai spec…bahwa kita harus lakukan KERAMATISASI dan ANGKERISASI di setiap border negara kita, agar supaya musuh menkadi WORID dan tidak berani masuk wilayah kita. Juga agar supaya ECICUD teroris merasakan KONTROVERSI HATI sehingga mereka tidak berani menteror.

    atension: telah terbit buku karangan saya: “The Trah Of Lier” dan “The Art Of Deseptions”

  3. setuju, dalam operasinya Densus 88 terduga terorisnya selalu mati jadi untuk penyelidikan selanjutnya agak susah, kemudian yg mengurangi nasionalismenya adalah sponsor utama Den 88 adalah USA dan Australia, jadi mereka bisa di dikte oleh donator

  4. Muncul sebuah komentar dari seorg perwira polri :
    Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Ronny F Sompie mengklaim lembaganya masih kekurangan anggaran untuk memberdayakan anggota mereka di lapangan. dana anggaran polri 45,6T ditambah dana optimalisasi 2,21M. Dana yg besar masih bisa dikatakan kecil,melihat dari postur nya saja hanya ada BRIMOB. lalu dana ini dikatakan kurang.Alhasil kinerja nya yg lemah dan sebagainya. Apakah Perwira ini sadar dengan pernyataan ini ???? Kita bandingkan dengan TNI 81,9T 2013 dibagi dengan 3matra utama pendukung pertahanan AD,AU,AL. walau dengan dana yang masih bisa dikatakan keci, prestasi para prajurit TNI ini dipandang oleh negara2 didunia. Dari Pasukan perdamaian,ajang kompetisi para tentara di australia(tni boleh berbangga jadi juara umum),latihan gabungan. kemanakah moral perwira polisi ini dengan pd mengatakan dana segitu tdk mencukupi untuk menunjang profesionalitas,terlebih beban teror yg menghantui di masy indonesia.Apakah rasa jiwa patriot mereka itu sebatas dengan uang?
    Menyinggung judul diatas tugas teror sepenuhnya dikembalikan kepada Polri yg notabene ditugaskan menjaga keamanan dan stabilitas didalam bermasyarakat.Polri harus bisa kembali menyatu dgn masy,merangkul semua elemen masy untuk bersama menciptakan suasana yang aman dan nyaman,Dan harus dipelajari bhwa apa yg selama ini densus88 lakukan sgt2 meng kangkangi hukum yang ada di indonesia.Dimana bersalah atw tdk bersalahnya suatu tersangka/terduga itu berada PADA PALU HAKIM,bukan sebuah surat perintah dan senjata api para aparat.karena ingat sekali nyawa org tak berdosa melayang itu tdk akan bisa dikembalikan lagi jika kelak dia tdk bersalah.Dan kepada TNI fokuskan saja pada menjaga kedaulatan teritori NKRI,kenapa ? Karena tantangan TNI sebagai garda terdepan itu semakin berat semakin menguras tenaga. Terlebih kedaulatan kita di wilayah timur sedang goyah2 nya,begitu juga dengan kehadiran para US di negara kangguru sangat mengusik kenyamanan negara ini.Namun ingat semboyan kembali pada rakyat.

    • bilangnya dengan anggaran 45,6 di tammbah 22,1 MASIH KURANG,,,
      WUIIIICCCCCCHHH EDYANT POLISI,,,
      KERJANYA CUMA ASAL DAPAT GAJI,DAN TUNJANGAN,DIMANA SOSIALISME MEREKA,??

      Mereka gak pikir apa.???
      Gimmana krjanya jd petani,nelayan,pKL. . Mmereka harus peras keringat dulu,,baru dapat hasil..beda dengan mmereka duduk di pos udah dpet gji, trus bilangnya mmana surat” anda..?? (alhasil dapet 100ribu)

    • Tahun lalu teman saya di Jakarta kehilangan 2 mobil Vellfire yang dia rentalkan ke seorang dokter. Setelah dilacak pakai GPS, mobil itu ada di Lampung. Oleh polisi mobil itu bisa diambil dan kemudian dibawa ke kantor kepolisian Polda Jaya. Setelah mengikuti proses, akhirnya mobil itu bisa dia ambil kembali setelah menyerahkan uang Rp 60 juta.
      Ini riil, dia sendiri yang awalnya telp saya apakah punya kenalan petinggi di kepolisian, siapa tahu bisa membantu menurunkan biaya pengambilan dari kantor tsb. Dia nggak ngasih tahu, 60jt (utk 2 mobil) itu setelah nego atau biaya proses normal. Namun setidaknya dia sudah lega, kedua mobil itu bisa kembali.

      • Sorry saya agak lupa, 60jt atau 30jt untuk 2 mobil. Yang pasti untuk dua mobil itu totalnya tidak kurang dari 30jt.

      • jangan heran dgn fenomena demikian bung wh,oknum polisi yg demikian sudah bnyk sekali yg menjamur didlm tubuh kesatuan polri. Gaji yg kecil atw tunjangan di jadikan 1 alasan knpa mereka bnyk lari dari jalur seharusnya. Kalau ingin kaya ada baiknya mereka kemarin terjun di dunia bisnis(pengusaha) kutipan gede pasek ketua komisi III bukan di dunia kepolisian. Jend.Hoegeng yg notabene seorg kapolri di era soeharto berani jujur dalam mengemban tugas,bahkan dalam sebuah kutipan cerita istri nya berkata “jangan takut pak,kalau nasi dengan garam kita masih bisa makan”. Apakah ada jiwa seperti ini sekarang ????

        Dari pengamatan saya, baik dari pns maupun institusi polri ini jiwa rasa memiliki akan brg yg menjadi fasilitas selama ini tdk dilaksanakan dgn baik. Rusak ya sudah rusak,toh ini brg negara pakai duit negara. Nah sifat seperti ini yg membuat rusak semua nya dan berujung dgn kata2 dana operasional kurang dana insentif kurang,Beginilah moral dan nilai2 yg sudah terpancar dri institusi ini.

  5. semoga dengan dilibatkannya TNI maka kasus salah tangkap dan main tembak tidak terjadi lagi.
    semoga tidak ada lagi proses penangkapan teroris yg berlarut-larut bahkan sampai di live oleh stasiun TV..
    akan lebih berguna klu teroris bisa ditangkap hidup-hidup bukan dihabisi nyawanya

  6. bner banget kyknya sponsorshipnya bakal nolak habis2an..
    penangkapan terduga terorist bukanlah drama yang harus dipertontonkan kekhalayak umum.
    tapi efektifitas dan kualitas yg terpenting..

 Leave a Reply